“Salah satu tempat terkenal di kota lumbung padi, Cianjur adalah sebuah situs sejarah purbakala, Gunung Padang.”
Fajar, Sawah, dan Embun |
Adzan subuh terdengar namun diskip sampai setengah enam. Selepas solat
subuh dan masih memakai sarung, saya ditarik oleh aroma padi yang menghijau
dengan kilauan embun.
Sawah, sesuatu yang tabu di kota saya tinggal sekarang, Jakarta. Padahal
semua roda kehidupan berawal dari sini, kecuali karena adanya import beras.
Pagi yang cerah itu mengawali hari kedua saya di Cianjur.
Di pematang sawah, menatap ke timur pada hamparan pegunungan yang
menerawang, saya menyaksikan sang fajar perlahan mengintip dari baliknya.
Sinarnya menghatam bumi dan padi-padi, menambah kilau embun yang perlahan
mengering. Warna hijau sekarang berhias cahaya orange matahari.
Agenda hari itu yaitu menuju Situs Gunung Padang, situs peniggalan zaman
batu besar atau Megalitikum yang terkenal di Cianjur.
Paling tidak menyenangkan di sana adalah saat panggilan alam pagi-pagi (kebelet).
Di kamar mandinya tidak ada benda berbentuk kloset ataupun mirip kloset. Hanya
ada bak mandi, mesin cuci, dan jalan air yang langsung mengarah ke kolam ikan.
Saya yakin, itulah klosetnya. Terus ikannya yang di kolam kalau dimasak dan
kita makan? Hiii! Benar-benar tidak sampai hati saya hajatan disitu. Sebisa
mungkin saya tahan.
Setelah sarapan, lauknya telur dadar bukan ikan kolam, kami berempat
siap berangkat. Mau ke Gunung Padang tidak terlalu sulit rutenya karena ada di
jalan utama Sukabumi-Cianjur di daerah Warung Kondang. Disana ada gang dengan
plang “Situs Gunung Padang 20 Km”. Petunjuk aranya pun lengkap.
Gunung Padang |
Pertama jalannya masih mulus-mulus saja, tapi kemudian mendadak jalannya
ancur (banget). Bisa repot kalau 20 Km begini terus. Tapi hanya sekitar 3 Km
saja jalannya rusak. Setelah itu mulus lagi dengan pemandangan alam yang
lumayan bagus. Jalan kembali jelek tapi bukan karena memang jalan batu satelah
dekat dengan lokasi.
Situs Gunung Padang merupakan situs yang konon lebih tua dari Piramida
di Mesir, Machu Pichu lagunya The Strokes (maksudnya di Peru), dan lebih megah
dari Candi Borobudur. Berusia sekitar 2000 tahun sebelum masehi, walaupun masih
diteliti oleh berbagai lembaga.
Situs Gunung Padang merupakan situs yang konon lebih tua dari Piramida
di Mesir dan Machu Pichu lagunya The Strokes (maksudnya di Peru) dan lebih
megah dari Candi Borobudur. Berusia sekitar 2000 tahun sebelum masehi, walaupun
masih diteliti oleh berbagai lembaga.
Harga tiket 2000 per orang. Dengan naik tangga yang kemiringannya
sekitar 70 -75 derajat sekitar 10 menit, kita sudah sampai di tempat dimana
hanya ada batu-batu berserakan.
Ya, hanya batu berserakan. Sama sekali tidak ada informasi disana
kecuali dari guide. Hanya ada larangan-larangan yang umum. Sayang sekali jadi
serasa tidak bernilai bagi orang awam. Tak lebih dari wisata saja.
Gunung Padang, Lagi |
Yang ironis adalah larangan berjualan. Ini dilema pertama, di lokasi
ternyata ada orang jualan rujak dan rokok. Kata pengelola itu warga sekitar
yang ingin ikut kecipratan nama besar situs ini. Tapi yang khawatir jika dibiarkan
liar yaitu ada yang ikut-ikutan. Berawal dari satu orang mungkin setahun lagi
sudah jadi pasar.
Dilema lagi yaitu antara peneliti dan warga. Metode penelitian ruang
kosong dengan menggunakan suara dari dinamit membuat warga terganggu. Padahal
penelitian itu bertujuan mencari ruang-ruang yang diduga masih terkubur.
Dari pengelolaan juga dilema. Dari cerita tantenya Hilmi yang pernah
ikut seminar Gunung Padang, katanya UNESCO ingin mengelola situs itu, tapi
Pemda tidak mau karena takut “terjajah”. Tapi seharusnya Pemda juga membuktikan
bahwa mereka layak mengelola situs warisan sejarah yang sangat berharga itu.
Well, paling tidak rasa penasaran sudah hilang, tapi tidak cukup worth it karena mungkin belum dikelola
dengan baik oleh siapapun yang bertanggung jawab.
~Salam Dolan, Cuk~
Tidak ada komentar :
Posting Komentar