Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2013

Gaulpala di Gunung Burangrang

 “Saya dan teman saya Didot memutuskan menghidupkan lagi Gaulpala di Puncak Burangrang, Bandung. Tentu saja kata gaul disini bermakna cenderung negatif alias bodoh”

Tugu di Puncak BurangrangBerangkat dengan bus Primajasa menuju terminal Leuwi Panjang, kita masih harus melanjutkan perjalanan ke terminal Ledeng dengan bus Damri. Busnya super penuh plus jalanan macet. Jadilah sebelum mendaki kita pemanasan dulu berdiri sekitar 2 jam di bus. Dari Terminal Ledeng naik ke terminal Parongpong dan dilanjut angkot kuning ke Gapura Komando yang menjadi titik awal pendakian. Dari Gapura Komando kita berjalan melawati rumah-rumah penduduk ke Pos Perhutani. Tak terduga di sebuah rumah yang cukup tinggi, tiba-tiba 2 ekor anjing menggonggong tepat di depan muka saat kita lewat. Sepertinya si anjing tahu kalau kita kurus-kurus dan mencium bau tulang.

Kita tiba di pos Perhutani pukul 18.30. Kita bermaksud solat dan meminta izin naik malam ini. Namun karena kita berdua newbie di gunung dengan ketinggian 2.050 mdpl itu, kita tidak diizinkan naik malam itu dan hanya diizinkan buka tenda di pos 1 baru kemudian naik saat subuh. Ya sudah, kita memutuskan ngobrol-ngobrol sebentar dengan bapak-bapak penjaga sebelum ke pos 1. Perlu dicatat fasilitas pos Perhutani ini cukup lengkap. Ada warung kopi, kamar mandi, colokan listrik, mushola dan lahan parkir yang memadai.

Habis isya kita berangkat menuju pos 1 diantar oleh bapak-bapak penjaga pos Perhutani dan 3 mahasiswa yang sedang mencari temannya. Di pos 1 kita memutuskan membuka tenda baru kita. Maksudnya merawanin. Tapi dasar teman saya yang sok pro, waktu dia beli dan disuruh mencoba di tokonya, dia malah bilang ke penjaga tokonya “bisa mas, udah biasa !”. Dia baru mengakuinya sesaat sebelum tenda dikeluarkan dan benar saja saat tenda digelar, cuma diputer-puter tidak tahu mau mulai darimana memasangnya. Hahaha. sampai ahkirnya senter kita satu-satunya mati dan semakin bodohlah kita –ada senter aja tidak bisa apalagi gelap. Tapi untung ketiga mahasiswa tadi melihat kita kesulitan dan akhirnya dibantulah kita. Kalau tidak, mungkin kita tidur saja di pos Perhutani sambil lihat final Liga Champion Dortmund vs Bayern Munchen.

Matahari Pagi di Burangang
Akhirnya tenda baru kita berdiri tapi setelah di lihat-lihat, ternyata pintunya menghadap ke hutan yang sepi. Lah ini maksudnya mau lihat pohon atau gimana ? Setelah semua clear, kita masuk dan mulai memandangi rumah baru kita sambil bertanya-tanya “iki kanggo opo yo ndes ? iki piye carane yo ndes ?”

Masak-masak pun dimulai setelah merapikan barang-barang. Malam itu kita berdua berhasil menghabiskan 9 sachet kopi. Pertama kita masak 3 sachet dengan rantang tanpa pegangan dan kompor parafin. Setelah matang, dan akan diambil, kopipun tumpah kesenggol. Belum putus asa, kita masak lagi 3 sachet. Tapi ternyata posisi kompornya miring jadi cukup kita lihat saja kopinya tumpah sendiri. Dan yang terakhir kita berhasil membawa kopi itu turun dari kompor dan menikmatinya. Kita lalu ambil kesimpulan kalau ini bukan kebodohan, tapi kita bermaksud mengurangi beban tas dari logistik. Ngeles sajalah yang penting.

Acara pendakian baru di mulai jam 3 pagi. Saat bangun dan melihat ke langit, sumpah bulannya bagus sekali di malam waisak itu. Purnama penuh dengan pelangi di sekelilingnya. Perjalanan ke puncak cukup cepat yaitu 2,5 jam dengan trek yang terkadang terjal dan ada jalur sempit dengan jurang di kiri dan kanan ditambah hanya membawa 1 senter. Nyaris tersesat tapi untung segera sadar dan kemudian sampai di puncak jam 5.30. Foto-foto, mengobrol dengan pendaki lain, dan sarapan kita lalukan di puncak yang ditandai oleh tugu setinggi 2 meter itu. Pemandangan di puncak cukup bagus dengan pegunungan yang terhampar di sekelilingnya walau sunrise-nya tidak terlihat karena terhalang Gn. Tangkuban Perahu.

Situ Lembang dari Puncak BurangrangSekitar jam 9 kita turun dan memberi salam “duluan” ke pendaki lain. Tapi saat percabangan terakhir menuju pos Kopasus dan Perhutani kita salah mengambil jalan. Walau sedikit curiga tapi kita lanjut saja dan sampai di sebuah mesjid. Kita bertanya kepada bapak-bapak, ternyata pos Kopasus jauh sekali. 1 jam kita mencari jalan tidak normal dan dirasa terdekat sampai ke pos Kopasus. Sampai disana ternyata sebagian pendaki yang sempat kita salami tadi sudah sampai lebih dulu di pos –jadi merasa bodoh kita. Hahaha. Karena semua kejadian itu kita memutuskan mengubah nama Gaulpala menjadi Pekokpala.

Tapi akhirnya pendakian kali ini ditutup dengan sebuah kepuasan setelah setahun tidak merasakan sunyinya hutan, dinginnya udara dan indahnya puncak.




Kamis, 20 Juni 2013

Beragam Corak di Kota Batik

“Batik (Bersih, Aman, Tentram, Indah dan Komunikatif) adalah moto Kota Pekalongan, Jawa Tengah yang menjadi sebab disebut sebagai Kota Batik”

Kota Pekalongan (selanjutnya disebut Pekalongan) adalah kota di Pantura Jawa Tengah yang merupakan jalur utama Jakarta-Semarang-Surabaya. Pekalongan berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Batang di Timur dan Kabupaten Pekalongan di Barat dan Selatan. Pekalongan terkenal dengan industri batik yang memiliki corak dan warna yang beragam yang disebut batik pesisiran. Batik Pekalongan juga banyak dijual di daerah-daerah yang masih menganut pakem batik keraton seperti Jogja dan Surakarta.

Banyak tempat-tempat yang menjadi “rumah” bagi kain batik pesisir khas Pekalongan. Kampung batik Pesindon dan Kauman –salah dua kampung industri batik di Pekalongan, pasar grosir Sentono –pasar grosir penjualan batik, Museum Batik Nasional dengan koleksi kain batik se-Indonesia-nya, dan yang baru diresmikan tanggal 2 Oktober 2012 yaitu IBC (International Batik Center) yang merupakan pusat penjualan batik bergaya modern tapi tetap ada tawar-menawar.

Saya pastinya mengunjungi Museum Batik Nasional. Letaknya di Jl. Jetayu No. 10 di belakang taman dengan tulisan B-A-T-I-K yang bermotif batik pada masing-masing hurufnya. Disana kita bisa melihat 1.089 koleksi kain batik dari seluruh Indonesia dan alat-alat untuk membatik. Kita juga dapat mengikuti kursus singkat disana, dimana ada yang gratis dan ada yang harus membayar lagi. Selain itu, karena pengunjungnya cukup sepi maka setiap rombongan akan dipandu oleh seorang guide yang akan menjelaskan secara umum isi dari museum. Harga tiket masuk cukup Rp 5.000,-

Museum Batik memiliki 3 ruang pamer dan 1 ruang workshop. Ruang pamer 1 berisi batik-batik pesisiran (Pekalongan, Cirebon dan Lasem) dan beragam alat untuk membuat batik seperti canting, kompor, dan berbagai zat pewarna alami dan sintetis. Batik Pekalongan sendiri menurut mbak-mbak guide-nya memiliki warna dan motif yang paling variatif dibanding yang lain, tetapi motif yang umum adalah yang bernuansa pesisir seperti hewan dan tumbuhan laut. Ragam motif dan warna batik Pekalongan tak lepas dari pengaruh pedagang-pedagang dari Cina, Arab, dan Belanda yang datang ke Indonesia melalui pelabuhan Pekalongan. Motif Batik Pekalongan juga selalu mengikuti zaman, seperti saat zaman pendudukan Jepang di buat batik ‘Jawa Hokokai’ yang motifnya mirip kimono-kimono Jepang. Tapi di ruangan ini yang menarik perhatian saya adalah Batik Khas Cirebon yaitu Mega Mendung yang bermotif awan-awan yang mengisi seluruh kain.

Ruang pamer 2 berisi batik-batik dari luar Jawa Tengah seperti batik dari Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Beragam warna dan motif benar-benar memperkaya kebudayaan Indonesia yang telah diakui UNESCO ini. Batik yang menurut saya menarik adalah batik dari Kalimantan dengan warna kuning-hitam khas dayak

Ruang pamer selanjutnya berisi batik-batik dari Yogya dan Solo. Batik-batik ini merupakan batik original keraton dengan warna yang didominasi coklat, putih dan hitam. Batik-batik yang biasanya hanya dipakai pada acara keraton dan punya makna serta waktu penggunaan masing-masing. Beragam motif terkenal seperti sidomukti, garuda, parang rusak barong dan kawung ada di ruangan ini. Selain itu ada juga batik-batik sumbangan dari tokoh-tokoh nasional seperti batik Pak Habibie dan Bu Ainun serta Pak Mantan Walikota Pekalongan yang saya lupa namanya. Sayangnya di semua ruang pamer tidak boleh memotret sembarangan, walaupun saya boleh masuk tanpa guide tapi tentu saja saya tidak melanggar aturan ini.

Di ruangan workshop kita bisa mencoba membatik, untuk pelatihan dari awal sampai jadi batik kita dikenakan biaya sesuai ukuran kain. Paling mahal Rp 65.000,- dengan durasi waktu 2-3 jam. Tapi yang gratisan juga ada, yaitu hanya membuat pola lalu menempelkan lilin atau malam di garis pinggir pola tersebut dengan canting tentunya.

Setelah “sekolah” singkat batik di Museum Batik Nasional, saya mengunjungi IBC yang terletak di Daerah Wiradesa. Gapuranya berhias canting berukuran 6m dan wajan berdiameter 6m dengan tulisan IBC. Disana berisi kios-kios batik dengan berbagai kualitas dan harga. Kita tinggal pilih saja sesuai selera dan kantong. Batik-batik motif lama sampai batik gaul dan pernak-pernik bermotif batik ada disana. Pokoknya tempatnya batik banget dah! Disana ada pendopo untuk berbagai pagelaran. Dan ketika saya kesana, ada sekelompok ibu-ibu sedang latihan akting. Kadang ada yang tanpa ekspresi aktingnya dan bahkan ada yang meledak-ledak. Lumayan sambil istirahat menonton artis-artis lokal.

Untuk kampung batik Pesindon dan Kauman letaknya tak jauh dari alun-alun kota. Tapi saya tidak sempat kesana karena memang tidak ada niat untuk belanja batik.

Kota Pekalongan memang menjadi salah satu surga pecinta batik di Indonesia. Di sepanjang jalanan kota tersebar toko-toko dan tempat pengrajin batik karena memang industri batik disini banyak dipegang oleh UKM. Keragaman dan kemodernan batiknya juga menjadi ciri khas tersendiri bagi kekayaan budaya Indonesia di mata dunia mewakili batik bergaya pesisiran.


-- Salam Dolan --


Kamis, 23 Mei 2013

Jakarta On the Way


“Jakarta memang memiliki fasilitas umum paling beragam di banding kota-kota lain di Indonesia. Termasuk transportasi umumnya.”

Kemacetan di Jakarta memang belum juga bisa  terpecahkan. Kendaraan pribadi yang mem-bludak, terutama motor-motor yang jumlahnya banyak plus tidak taat aturan lalu lintas, bikin jalanan jadi semerawut terutama saat rush hour. Tapi sebenarnya di Jakarta banyak kendaraan-kendaraan umum yang, dengan kesadaran masyarakat dan perhatian pemerintah, saya yakin bisa mengurangi kemacetan.
Dan bagi saya pribadi naik kendaraan umum itu memberikan “rasa dan warna” tersendiri. Seperti beberapa cerita angkutan umum berikut ini.

Transjakarta Busway
Busway (biasa disebut begitu) adalah transportasi yang mulai beroperasi –koridor 1 Kota - BlokM– pada 25 Januari 2004 di era Pak Sutiyoso yang memiliki jalur dan halte pemberhentian sendiri. Angkutan andalan warga Jakarta ini saya gunakan setiap berangkat ke kantor dan jalan-jalan. Busway “cukup” efektif untuk menghindari kemacetan dan nyaman untuk jalan-jalan di Jakarta. Ongkosnya cukup sekali bayar asalkan tidak keluar dari halte.
Walaupun bisa menghindari kemacetan, saat rush our masalah utamanya yaitu penuh –apalagi jika tidak dari halte pemberangkatan pertama. Selain di bus-nya, di haltenya pun penuh jadi saat ada busway berhenti dan pintu terbuka dorong-dorongan bukan hal yang aneh. Saking penuhnya kadang pintu (belakang) ada yang ditahan penumpangnya jadi tidak terbuka.
Di dalam kepenuhan busway itu, kejadian terjepit pintu saat membuka walaupun menutup pernah saya lihat dan alami sendiri terutama penumpang yang di belakang. Pernah juga ada yang pingsan dan berteriak “astagfirullah astagfirullah” saking sesaknya. Ada lagi kejadian yang teman saya alami, karena saking penuhnya dia tidak bisa keluar di halte tujuan sampai buswaynya jalan lagi dan hampir terjepit pintu, tapi karena marah akhirnya dia ,memaksa dan diturunkan di tengan jalan.
Jalur busway yang masih “kotor” jadi membuat busway sama-sama ikutan macet. Busway yang sudah usang juga kadang menyebabkan masalah saat mogok di tengah-tengah jalur. Saat seperti itu busway lain di belakangnya terpaksa keluar jalur dan nyebur deh, ke lautan kendaraan. Yang paling menyebalkan kalau mogoknya saat jam kantor dan bukannya busway tapi malah kendaraan non-busway yang mogok.

Duo Kopaja dan Metromini

Kedua nama ini sebenarnya adalah nama perusahaan penyedia angkutan –Kopaja (Koperasi Angkutan Jakarta) dan MetroMini. Keduanya hanya berbeda provider, trayek dan warnanya –Kopaja berwarna putih hijau sedangkan MetroMini berwarna orange. Di luar itu semuanya hampir kembar.
Persamaan pertama yaitu ukuran dan kapasitas. Angkutan ini sebenarnya berkapasitas 25 tempat duduk dan beberapa yang berdiri. Tapi saat rush hour apa yang terjadi ? Penumpang sampai bergelatungan di pintu dan itu pun masih saja ditambah oleh kernetnya. “Geser lagi ya geser lagi !” katanya. Tapi selain salah kernetnya, penumpang juga banyak yang memang memaksa masuk. Ada juga kopaja yang sengaja mengurangi jumlah kursi agar kapasitasnya lebih besar. Supirnya yang brutal juga sama. Sering ugal-ugalan, masuk jalur busway, balapan kejar setoran, berhenti sembarangan dan nyetel musik keras-keras. Kalau salah satu atau salah semua hal di atas terjadi dijamin penumpang yang mau turun bakal susah dan tentu membahayakan dan bikin kesal pengemudi lain. Supir juga kadang suka seenaknya mengoper penumpang ke mobil lain. Sudah enak-enak duduk, karena di oper, jadinya berdiri juga.

Tapi, kejadian lucu juga kadang terjadi. “kernet ketinggalan” yang paling sering. Pernah saya naik metromini saat sedang ngetem, lalu setelah jalan beberapa meter si supir memanggil-manggil kernetnya. Menyadari kernetnya tertinggal si supir berhenti dan beberapa saat kemudian datang si kernet sambil ngos-ngosan lalu marah-marah pada si supir. Penumpang sih ketawa-ketawa saja, lumayan sedikit hiburan di suramnya Metromini dan Kopaja. 
Namun selain hal-hal diatas ada juga Kopaja dan Metromini yang baik-baik, contohnya untuk kopaja P-20 ada yang AC dan sudah terintegrasi koridor 6 Busway. Supirnya lebih “berpendidikan” juga.

Bajaj
Pertama kali saya naik bajaj yaitu saat melamar kerja pada bulan puasa 2012. Saya naik bajaj yang berwarna orange yang masih berbahan bakar solar. Naik bajaj sebenarnya sama seperti naik motor berknalpot racing yang asal pasang. Suaranya bising. Tapi saat itu sangat menolong karena membantu saya cari alamat.

Taksi
Naik taksi saat rush our dan macet, parah sekali buat saya. Saya sebelumnya pernah naik taksi dari Warung Jati ke Mega Kuningan saat tidak rush hour dan argonya Rp 28.000. Tapi saat macet jadi Rp 50.000 untuk jarak yang sama. Dan yang lebih parah saat itu saya naik taksi karena buswaynya ada trouble, tapi saat busway sudah benar lewatlah beberapa busway tanpa hambatan, sedangkan saya masih terjebak di tengah-tengah lautan kendaraan. Haduh, naik taksi rasanya tidak lebih nyaman dari naik Kopaja karena sama-sama macet tapi harganya 20 kali lipat lebih mahal.


Namun kesimpulan saya, sekurang apapun transportasi masal di Jakarta, masih lebih baik daripada harus naik kendaraan pribadi dan menambah lagi jumlah kendaraan di Jakarta. Yuk, kita sama-sama sadar dan beralih ke moda transportasi umum yang ada buat mengurangi macetnya Jakarta! J






Senin, 06 Mei 2013

Legend Beach and Java Hidden Paradise (2)

“Alasan saya menunda pulang dari Pel. Ratu sebenarnya karena penasaran akan pantai yang kata Kang Adi bagus dan tak jauh dari Pel. Ratu.”

Pantai Ciantir dari Atas Bukit
Sambil menunggu charging HP dan baterai kamera, saya duduk di warung Kang Adi menunggu kendaraan yang akan membawa saya ke “Java Hidden Paradise” alias Pantai Sawarna yang terletak di Provinsi Banten. Kata penduduk di Pel. Ratu, ini adalah pantai baru dan masih bagus yang belakangan saya ketahui dari pedagang di pantai Sawarna bahwa pantai ini baru ramai pada tahun 2010. Walaupun sebenarnya saya tidak tahu kriteria pantai yang bagus, tapi karena rekomendasi orang-orang pantai maka saya tidak ragu mendatanginya.

Sekitar pukul 12.00 kendaraan yang akan membawa saya datang juga. Kendaraan itu bernama ELF – padahal ELF itu merk mobilnya (Isuzu ELF). ELF yaitu angkutan yang biasanya melayani jalur antar desa yang ukurannya seperti mobil-mobil travel. ELF bisa memuat lebih banyak dari angkot biasa dan seringnya lebih banyak pula dari kapasitasnya. Saat itu saya kira akan suram karena di atas ELF sudah bertengger karung-karung sayuran yang dibawa dari pasar Pel. Ratu, tapi ternyata ELF-nya masih bagus, tidak over capacity dan duduk pun nyaman. Saya pun siap menuju Sawarna yang katanya menempuh 2 jam perjalanan menuju terminal Cisolok dan terus menuju terminal Bayah di Banten.

Perjalanannya seperti naik halilintar di Dufan berjam-jam. Karena jalur yang ditempuh adalah jalur gunung yaitu Gunung Batu maka sudah pasti treknya naik-turun dan berliku. Tapi dibalik itu semua ada sesuatu yang indah juga. Di sisi kiri sering terlihat pemandangan pantai dan laut selatan yang kalau di lihat dari atas terlihat kecil namun luas dan baru kali ini saya lihat alam dengan pakaian seindah itu. Keren... Sekitar pukul 14.00 akhirnya saya diturunkan di jalur menuju Sawarna yaitu pertigaan Cibayawak. Ini adalah satu dari dua jalur menuju Desa Sawarna, yang lainnya adalah jalur Ciawi yang jaraknya lebih dekat dari Pel. Ratu tapi masuk ke Desa Sawarnanya lebih jauh. Dari situ dengan menggunakan ojek saya sampai di Desa Sawarna. Ternyata pantainya terletak di belakang pemukiman penduduk yang disulap menjadi homestay, dan ternyata juga nama pantainya bukan Pantai Sawarna tapi Pantai Ciantir yang letaknya di Desa Sawarna. Setelah lanjut dengan berjalan kaki akhirnya saya sampai di pantainya.

Kesan pertama saya saat tiba di pantainya adalah “panas”, karena saat itu masih sekitar jam 2 siang. Akhirnya saya memutuskan duduk-duduk di warung di sekitar pantai. Di sini warungnya semua terbuat dari bambu dan beratap injuk sehingga menimbulkan kesan alami. Sambil istirahat saya memperhatikan sekeliling, memang dari beberapa pantai yang saya datangi –di Jawa Tengah dan Bali– ini yang paling bagus. Pasirnya putih, sekelilingnya perkebunan, sawah, dan bukit-bukit nan hijau yang kontras dengan pantai yang saat itu gersang ditambah dengan lingkungan yang masih bersih. Ombak khas laut selatan pun tak lupa selalu setia beriringan membasahi pasir yang gersang. Katanya saat ombaknya tinggi yaitu antara bulan Mei sampai Agustus, Pantai Ciantir menjadi salah satu spot surfing bule-bule.

Karang Kembar Tanjung Layar
Matahari pun akhirnya condong dan kegersangan pantai mulai berkurang. Saya pun memutuskan berjalan di pinggir pantai merasakan pasir putihnya dengan buih-buih sisa ombak yang merayap. Sore itu saya berniat menuju Tanjung Layar, salah satu “spot” di Sawarna dan pada pagi harinya saya akan ke Lagoon Pari. Dengan menyusuri pantai ke arah barat saya pun sampai ke Tanjung Layar. Tanjung Layar adalah adalah kumpulan karang-karang yang cukup luas dengan 2 buah karang besar di tengahnya membentuk seperti bukit. Di sana ombak-ombak yang menghantam karang lebih “wah” daripada di Pel. Ratu. Karang-karang membentuk tembok mengelilingi Tanjung Layar sehingga membentuk laguna yang tenang. Saat surut kita bisa melihat beberapa biota laut seperti bintang laut, bulu babi, dan ikan warna-warni yang terjebak di sana.

Karang Kokoh Lagoon Pari
Selain Tanjung Layar, Lagoon Pari adalah tempat berikutnya yang saya datangi keesokan paginya. Tapi sayang, karena tidak tahu jadi kami tidak sampai ke pantainya. Kami hanya sampai di laguna kecil dengan karang-karang yang tak sebesar di Tanjung Layar. Namun saat keindahan terletak di langitnya yang mendung namun ada pelangi sehingga menjadikan pemandangan dengan kontras yang indah.

Bagi saya Sawarna bisa jadi tempat menarik jika ingin dapat pantai bagus dengan laguna-laguna cantik. Penginapan disana pun banyak dan bervariasi, banyak homestay-homestay disana dengan harga bervariasi pula. Tapi untuk yang ber-budget minim dan tidak berombongan banyak, saung-saung di pinggiran pantai milik penjaga warung bisa menjadi alternatif tampat menginap yang murah –saya pastinya memilih yang kedua– atau bikin tenda di pinggir pantai juga tidak dilarang. Namun sayangnya menu makanan laut di pinggir pantainya belum banyak ada, rata-rata hanya ada mie instan dan telor saja. Untuk ikan harus request dan penjualnya akan membelikannya dulu. Ironis juga di laut tapi tidak ada ikan bakar.

Selesai dari Lagoon Pari saya pun kembali menuju Jakarta dengan sebelumnya ke Kota Sukabumi untuk membeli Mochi Lampion di JL. Bhayangkara, Gang Kasuari. Saya kembali naik ELF ke Pel. Ratu. Benar saja yang saya katakan tentang ELF yang over capacity. Ada sekitar 2 kali lipat dari kapasitas penumpang yang diangkut saat itu. Bahkan sampai ada 4 orang yang harus naik di atap mobil. Tapi dari kepenuhan itu ada sedikit rejeki karena saya jadi harus memangku seorang cewe selama perjalanan :p.


Mungkin Berguna :

Rute Pel. Ratu - Sawarna : Jakarta - Bogor - Pel. Ratu - Sawarna

Ongkos-ongkos :
1. Bis Jakarta Bogor : Rp 7.000,-
2. Bis Bogor - Pel. Ratu : Rp 30.000,- (saat itu sedang macet jadi lebih mahal)
3. Angkot Pel. Ratu - Karang Hawu : Rp 5.000,- (jangan naik ojek yang ditawarkan di terminal Pel. Ratu)
4. Elf Karang Hawu - Cibayawak : Rp 20.000,- (kalau turun di Ciawi Rp 15.000 tapi ojeknya tidak tahu)
5. Ojek Cibayawak - Sawarna : Rp 25.000,- (kalau bisa ditawar, pasarannya Rp 20.000,-)
6. Masuk Pantai Ciantir : Rp 5.000,-
7. Penginapan di Ciantir (saung pinggir pantai) : Rp 20.000,-/orang (kalau rombongan beda dan lebih murah)


Semoga Bisa Jadi Referensi, Salam Dolan :)

Minggu, 27 Januari 2013

Ketupat Sayur Mandala (Jakarta)


google.com
Kerja di Jakarta rasanya tidak etis jika tidak menikmati kuliner yang banyak tersebar di pinggiran jalanan Ibu Kota. Awal tahun 2013 ini saya membuka petualangan kuliner dengan mendatangi sebuah warung tenda di kawasan Mampang Jakarta Selatan. Warung ini dikenal dengan nama Ketupat Sayur Mandala.

Rasa penasaran saya pada warung ini bermula karena saya tiap hari melewati jalan ini saat berangkat dan pulang kerja. Karena letaknya di dekat lampu merah jadi tidak jarang angkutan umum yang saya gunakan berhenti tepat di depan warung ini dan saya sering melihat keramaian warung ini yang tentunya membuat saya penasaran ingin mencobanya. Hal yang unik adalah ketupat sayur yang umumnya ada pagi hari untuk sarapan, di warung ini buka pada malam hari selepas Maghrib.

Untuk mengobati penasaran saya, pada hari jumat selepas pulang kerja dan bingung cari makan malam dimana secara kebetulan Kopaja P20 yang saya tumpangi terkena lampu merah disitu. Dan tanpa pikir panjang saya dan teman sayapun memutuskan menjajal Ketupat Sayur Mandala untuk menu makan malam kami.

Sampai disana sebenarnya sedang tidak terlalu ramai seperti biasanya saya lihat namun cukup penuh. Kemudian setelah mendapat tempat duduk kamipun memesan. Puluhan atau mungkin ratusan ketupat tampak bergelantungan di sebuah gerobak saji dan ada panci besar yang berisi kuah sayur dengan irisan labu siam dan beberapa panci untuk lauknya berupa telor, sate jeroan, empal, dan ayam opor kering. Penyajinya pun menggunakan seragam berwarna abu-abu bertuliskan “Ketupat Sayur Mandala” lengkap dengan nomor teleponnya. Saya memesan dengan lauk sate jeroan sedangkan teman saya ayam opor.

Tak berapa lama pesanan pun datang. Dua piring ketupat sayur yang ternyata porsinya cukup banyak dan sepiring kerupuk sebagai pelengkap. Tamabahan sambal pun dapat ditambahkan bagi para pecinta pedas walaupun sebenarnya sambalnya tidak terlalu pedas hehe. Setelah selesai meracik dengan sambal dan kecap, dengan cepat dan pasti saya menyantap sepiring ketupat sayur itu karena selain penasaran saya juga kelaparan karena pulang kerja hehe.

google.com
Setelah semua habis kamipun membayar dan ternyata harganya standar dan di luar dugaan kami. Satu porsi ketupat sayur dengan lauk sate jeroan harganya 8.000 rupiah dan yang ayam harganya 9.000 rupiah.  Relatif terjangkau untuk alternatif menu makan malam kan ?

Setelah selesai semua saya secara pribadi menyimpulkan kalau menurut saya belum ada yang special dari ketupat sayur tersebut, lauk sate jeroannya pun biasa saja. Tapi mungkin ayam dan lauk lainnya memiliki cita rasa yang berbeda dan yang paling penting bisa menjadi alternatif makan malam anda selain makanan malam pada umumnya seperti nasi goreng dan pecel lele, dan harganya yang relatif murah pun bisa jadi faktor yang menarik lainnya.


Ketupat Sayur Mandala
Jl. Mampang Raya (Setelah halte busway duren tiga dari arah Kuningan)
Buka setelah Maghrib

Kamis, 04 Oktober 2012

Solo, The Spirit of Us



Membangkitkan kembali gairah dalam menjalin hubungan adalah hal yang penting demi keawetan suatu hubungan. Apalagi saat sedang dalam masa-masa LDR (Long Distance Relationship), memanfaatkan peluang ketemuan untuk membangun spirit menjadi hal yang wajib. Spirit bisa dibangun dengan melakukan hal-hal yang tidak dapat setiap hari dilakukan. Bagi kami, kami memilih untuk travelling suatu tempat, agar dapat merasakan cinta di setiap jengkal jarak dan waktu yang kami lalui dan mendapat pengalaman baru akan wisata-wisata di bumi pertiwi. Kali ini tujuan kami yaitu Kota Surakarta (Solo), salah satu kota dengan daya tarik berupa warisan budaya yang kental berupa Keraton dan Kain Batik. Setelah browsing dan mencari reverensi nama-nama tempat wisata, kamipun siap menuju Kota Solo dangan tema “The Spirit of Us”. Dengan menggunakan motor kamipun bertolak dari Semarang pukul 06.30 pada Minggu pagi yang cerah, 9 September 2012.


Pom Bensin Jalan Raya Boyolali-Solo
Untuk mencapai Solo kami berjalan ke arah selatan dari Semarang mengikuti plang “Solo/Yogya”. Perjalanan dengan kecepatan relatif sedang memakan waktu sekitar 3 jam melewati beberapa kota yaitu Ungaran, Salatiga, dan Boyolali. Sepanjang perjalanan menurut saya tidak ada pemandangan yang cukup berarti hanya kota dan sawah-sawah. Di Kota Salatiga kami sempat khawatir karena matahari di kota kaki Gunung Merbabu itu tiba-tiba tertutup awan hitam. Kami khawatir karena tidak membawa jas hujan, tapi untung saja memasuki Kota Boyolali matahari kembali menyapa kami. Kami sempat rehat cukup lama di pom bensin jalan raya Boyolali-Solo yang memiliki mushola dan tempat istirahat yang asri sebelum melanjutkan perjalanan.


Kereta Uap Jalan Slamet Riyadi
Setelah rehat kami langsung menuju Solo tanpa ada rehat lagi. Kami memasuki jalan protokol Solo (Jl. Slamet Riyadi) sekitar pukul 09.30. Kesan pertama saya yaitu “Beda”, karena memang saya belum pernah kesana. Jl. Slamet Riyadi merupaka jalan satu arah yang cukup lebar dengan trotoar yang rapi dengan taman-taman kecil nan asri dan tempat duduk bagi para pelancong yang semuanya baru saya temui di Solo The Spirit of Java ini. Di sana juga ada rel kereta di pinggir jalan yang merupakan jalur railbus salah satu transportasi kebanggaan Kota Solo. Saat disana kebetulan sedang ada rombongan yang menyewa kereta api uap yang menjadi bonus pemandangan bagi kami. Sepanjang perjalan kami mulai memilih tujuan wisata kami, dan yang pertama kami putuskan menuju Keraton Surakarta Hadiningrat.


Keraton

Salah satu Kereta Kencana Sultan
Dengan kepercayaan penuh pada plang kamipun masuk ke kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat yang hanya belok kanan dari Monumen Slamet Riyadi. Keraton Surakata sendiri merupakan istana Kesunanan Surakarta yang didirikan oleh Sultan Pakubuwono II pada tahun 1744. Ini merupakan istana terakhir Kerajaan Mataram dan saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram kepada VOC (Belanda). Sebelum memutuskan untuk parkir di Komplek Kemandungan (komplek wisata utama Keraton) kami berkeliling dulu dan ternyata kawasan keraton isinya hanya tembok-tembok tinggi dengan ornamen khas dan patung-patung. Di balik tembok-tembok itu baru berisi rumah-rumah yang menurut saya serumpun (RT atau RW). Kami melewati Alun-alun Lor (Utara) dengan yang terdapat 2 pohon beringin yang dipagari di tengahnya (Dewodaru dan Joyodaru). Setelah berkeliling kami memutuskan untuk parkir dan memasuki kawasan Kemandungan. Sebelumnya kami sempat berfoto di garasi kendaraan Sultan Pakubuwono berupa Kereta Kencana dan mobil-mobil tua. Namun ada satu mobil Suzuki APV yang katanya kendaraan cucu sultan. Disana juga ada 2 orang penjaga yang dapat pula diajak berfoto bersama.

Pekarangan Ruang Utama Keraton
Selesai foto, kami masuk ke museum Keraton. Layaknya museum biasa isinya yaitu peninggalan-peninggalan Keraton kuno seperti senjata, kendaraan, kebudayaan, perkakas, dan surat-surat perjanjian. Kami masuk ke bangunan utama Keraton dengan pekarangan beralas pasir hitam pantai selatan dan deretan pohon sawo kecik yang melambangkan sesuatu yang serba bagus yang jumlahnya 76 buah. Disana pengunjung dilarang menggunkan alas kaki terbuka (sandal). Jika memakai sandal maka harus dilepas. Bangunan utama disana juga dihiasi beberapa patung khas Eropa kuno berupa patung malaikat bersayap dan ornamennya berupa tiang putih bergerigi seperti kuil-kuil yunani kuno. Setelah cukup puas kami bertolak dari Keraton dan mencari suasana alam dengan memutuskan menuju lereng Gunung Lawu (Wisata Tawangmangu).


Tawangmangu

Grojogan Sewu
Untuk mencapai Tawangmangu dari kota Solo kita mengambil jalan dengan arah Surabaya menuju kota Karanganyar. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Menuju gunung merupakan sensasi tersendiri bagi saya, saat Gunung Lawu mulai terlihat, hasrat mendaki saya semakin besar. Setelah melewati medan menanjak dan berkelok kamipun tiba di objek wisata Air Terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu. Tanpa basa basi kami langsung membeli tiket masuk. Kamipun turun menuju lokasi air terjun melalui anak tangga yang banyak dengan beberapa kera di sekitarnya. Disana merupakan tempat bersantai bersama keluarga dan pasangan, hawa gunung yang dingin seolah menjadi kehangatan ditengah canda tawa. Selain air terjun setinggi 81 meter disana terdapat area outbound, arung jeram kecil, dan kolam renang bagi anak-anak. Disana kami berfoto, makan dan mengobrol sambil menikmati gemericik air di bebatuan sungai di bawah air terjun. Selepas solat ashar kami memutuskan pulang dan melewati anak tangga lagi untuk naik. Ternyata jumlah anak tangga dari pintu masuk hingga keluar adalah 1.250 buah (lumayan tinggi juga ya). Kamipun bertolak langsung dari Tawangmangu menuju Semarang dan tiba di Semarang sekitar pukul 08.00 dengan selamat.



Bonus Picture

Alun-alun Lor (Utara)
Menu Makan Siang

Ornamen Yunani Kuno di Keraton Surakarta

Aset Museum (Seni Gamelan Jawa)

Mungkin Berguna

Foto di garasi Keraton : 3.000/orang
Foto dengan penjaga : seikhlasnya
Masuk Museum Keraton : 10.000/orang
Masuk Grojogan Sewu : 6.000/orang



Selasa, 21 Agustus 2012

Tempat Tertinggi Ke 8 di Pulau Jawa


Ini sudah lama ingin saya tulis , tapi karena kesibukan Tugas Akhir jadi saya baru sempet nulis pengalaman saya “muncak” ini.
Kali ini yang saya coba adalah Gunung Sindoro di Wonosobo, Jawa Tengah yang merupakan gunung tertinggi ke-8 di pulau Jawa diatas Gunung Merbabu yang pernah saya taklukan dengan ketinggian 3154 meter diatas permukaan laut (kata penjaga basecamp).
Banyak sekali pengalaman berbeda dan momem-momen menarik selama perjalan, jadi sayang jika tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Pengalaman pertama adalah teman baru, kali ini saya mendaki bersama Adit, Alim (lagi-lagi), dan teman yang baru saya kenal Lilik.

Sedikit info mengenai Gunung Sindoro.

Gunung Sindara, biasa disebut Sindoro, atau juga Sundoro (altitudo 3.150 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung vulkano aktif yang terletak di Jawa TengahIndonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindara terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing.
Kawah yang disertai jurang dapat ditemukan di sisi barat laut ke selatan gunung, dan yang terbesar disebut Kembang. Sebuah kubah lava kecil menempati puncak gunung berapi. Sejarah letusan Gunung Sindara yang telah terjadi sebagian besar berjenis ringan sampai sedang (letusan freatik).
Hutan di kawasan Gunung Sundoro mempunyai bertipe hutan Dipterokarp Bukithutan Dipterokarp Atashutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Antara November 2011 - 30 Maret 2012. Terjadi semburan asap solfatara di beberapa tempat pada dinding dan dasar kawah utama. Aktivitas kegempaan juga mengalami peningkatan sejak bulan November 2011. (Wikipedia)

Perjalan dimulai jam 16.30 dari Banyumanik, kita menunggu bis jurusan purwokerto via wonosobo di depan terminal dan melakukan hal bodoh dengan menolak bis tersebut dan itu membuat kita harus menunggu kira-kira satu jam lagi untuk bis berikutnya. Tapi, dibalik kesulitan pasti ada keindahan, dan itu kita rasakan saat melihat sunset dari pinggir jalan di terminal Banyumanik.
Perjalanan dilanjutkan dengan memakai bus menuju desa Kledung awal jalur pendakian Kledung, di bus isinya hanya tidur karena lelah menunggu sampai ada pengamen yang berisik sekali dengan suara lantang menyanyi yang liriknya “kami mengamen tidak untuk mabuk-mabukan” tapi aromanya ciu (miras khas Solo) ironis sekali.
Tiba di desa kledung sekitar pukul 22.00, dan suasananya sepi sekali tidak ada orang diluar satupun dan yang membuat tambah mencekam adalah ada suara musik gamelan jawa ditengah keheningan desa kaki gunung. Dengan sedikit usaha mencari akhirnya kami menemukan basecamp pendakian. Seperti biasa kami mendaftar dan kami tidak langsung naik , tapi menikmati santap malam di pinggir jalan raya dan ditengah-tengah Gunung Sumbing dan Sindoro, rasanya sungguh nikmat, percayalah.
Selepas solat Isya demi keselamatan, kita mulai pendakian pada pukul 23.30. Trek pertama berupa perkebunan tembakau milik dinas perhutani baru sekitar 1 jam kita mulai memasuki hutan. Vegetasi awal yang kami temui adalah pinus, tanaman khas gunung. Tidak ada kesulitan sebenarnya, namun ada sedikit gangguan mistik yang sempat membuat merinding dan setelah dibahas ternyata hanya suara gesekan ranting pohon. Sampai sekitar pukul 4 pagi kita sudah mencapai titik lelah dan lapar jadi kita memutuskan sejenak melepas lelah sambil menikmati kopi-roti (wedang ora nggenah) dan solat subuh.
Kami lanjutkan jalan dan sepertinya sudah summit attack, dan yang membuat kesal adalah puncak bayangan yang banyak. Karena tertipu dua kali jadi kami memutuskan istirahat, makan dan tidur karena memang ngantuk dan lapar sudah mendera. Sangat terasa sekali berjalan selama 9 jam, belum sampai, dan tertipu. Menu makan kami adalah indomie dicampur sarden dan nasi. Alim mencoba membawa makan baru berserat yaitu agar-agar, namun sayang sekali agar-agarnya tumpah dan hanya tersisa sedikit dan tentu saja jadi bahan lelucon (lelucon agar-agar). Selepas tidur sekitar 45 menit kami lanjut jalan dan ditipu puncak bayangan lagi dua kali dan seharusnya di bagian ini adalah padang edelweis namun sayang sedang tidak mekar. Baru sekitar pukul 10 kita tiba di puncak Sindoro.
Bagi saya pemandangan puncaknya baru karena disana ada kawahnya tidak seperti gunung-gunung yang pernah saya naiki sebelumnya ada kawah mati disana dan juga ada sebuah tanah lapang yang luas dan datar dan saya kira merupakan tempat ngecamp. Pemandangan yang paling jelas adalah Gunung Sumbing, terlihat juga Gunung Merbabu dan Gunung Merapi dibelkangnya. Kami istirahat sejenak di tanah lapang tersebut. Disana ada pendaki warga sekitar Sindoro dan dua orang pendaki yang sedang berfoto-foto. Walaupun tengah hari tapi di puncak rasanya tetap saja dingin.
Sekitar pukul 12 kami memutuskan untuk turun dan berpisah dengan Puncak Sindoro. Untuk turun gunung dirasa tidak terlalu berat, hanya ada insiden sandal adit sebelah kiri masuk ke lubang dan tidak bisa diambil. Lalu dia memutuskan untuk menggunakan sebelah sandal saja sampai akhirnya menemukan sepatu bekas, walau sayang itu sebelah kanan juga tapi tak apalah daripada nyeker. Jadi bisa dibayangkan seorang pendaki dengan alas kaki setengah sandal setengah sepatu dan semuanya kanan. Haha
Selama diperjalan yang kami pikirkan hanya “sego endog” karena memang kami sangat lapar sampai akhirnya sekitar pukul 6 sore kami tiba di basecamp dan benar saja langsung memesan “sego endog” sambil minum teh hangat di rumah warga. Tapi disana ada teror dari anak si penjual, anaknya perempuan masih TK dan ampun nakalnya minta maaf. Kami berempat hampir kalah menghadapi teror anak itu. Tapi kami mengerti kenakalan anak itu hanya karena dia tidak punya teman, ibunya menyiapkan makan bagi pendaki dan ayahnya melakukan pendataan para pendaki, kasian dia.
Selepas isya kami pulang, sambil menunggu bis kami sempat menikmati kopi panas di warung pinggir jalan seperti malam sebelumnya. Kami menunggu bus cukup lama dan sempat tidur di pinggir jalan hingga akhirnya pukul 10an bis Semarang baru lewat dan langsung back to Semarang. Kamipun touchdown pukul 1.00 di terminal Banyumanik.

Mungkin Berguna 
Ongkos : 
Bus Semarang - Wonosobo dan sebaliknya : Rp 18.000,- / orang
Bayar Pendakian : Rp 3.000,- /orang



Peta Jalur Pendakian Gunung Sindoro

Menunggu Bus di Depan Terminal Banyumanik, Semarang

Menu Sarapan (mie-sarden-nasi)

Gunung Sumbing dari Puncak Sindoro

Tanah Lapang di Puncak Sindoro

Berpose di Puncak

Pelaku Teror di Warung "Sego-Endog"

Tidur Saat Menunggu Bus

Jumat, 08 Juni 2012

Sendiri di Ibu Kota


Ini adalah kisah perjalan wisata saya sendirian di Kota Jakarta pada tanggal 16 Mei 2012. Tadinya saya hanya bermaksud pulang kampung, namun karena bosan dan berniat mencari ongkos termurah sampai Purwakarta saya memilih naik kereta Tawang Jaya dari Stasiun Semarang Poncol hingga Stasiun Jakarta Pasar Senen. Harga tiketnya relatif murah hanya Rp 33.500,- sudah sampai Jakarta. Keretanya berangkat dari St. Poncol pada pukul 19.00 dan sampai di St. Pasar Senen sekitar pukul 3.00 dini hari.

Sampai di St. Pasar Senen masih sepi karena memang belum subuh, jadi saya memutuskan untuk diam di stasiun sambil men-charge hp karena kebetulan memang low-bat. Saya menunggu sampai subuh lumayan dapat setengah penuh, lalu saya Solat Subuh dulu di masjid Al-Syarif depan St. Pasar Senen plus tidur dulu hingga sekitar pukul 6.30 pagi. Saya mulai berjalan ke destinasi pertama yaitu Kota Tua Jakarta dengan naik metro mini dari terminal dan membayar Rp 2.000,-. Saya turun di depan Museum Bank Indonesia dan mulai berkeliling, ternyata masih sepi dan belum ada kios yang buka apalagi museumnya. Jadi saya putuskan sarapan dulu di bubur ayam Jakarta di dekat Museum Bank Indonesia. Kemudian saya kembali ke Kawasan Taman Fatahillah dan duduk-duduk sambil membaca buku. Baru setelah Museum Sejarah Jakarta buka saya memutuskan untuk masuk, dan saya bareng dengan anak-anak SD.

Museum ini biasa disebut Museum Fatahillah, disini berisi tentang sejarah Kota Jakarta dan benda-benda antik peninggalan sejarah. Yang menarik pertama adalah terdapat Patung Dewa Yunani Hermes yang merupakan dewa pengantar pesan pada mitologi Yunani, dan bentuknya mirip seperti yang digambarkan di Novel Percy Jackon. Yang menarik berikutnya adalah Meriam Si Jagur dengan ‘Jempol Kejepit’ di bagian belakangnya yang merupakan lambang kesuburan, kejayaan, dan kekuatan. Meriam ini merupakan peninggalan Portugis yang digunakan sebagai senjata merebut Selat Malaka. Cukup membayar Rp 2.000,- kita bisa sedikit belajar sejarah Kota Jakarta.

Acara Alone Adventure saya lanjutkan ke Museum Wayang di dekat Museum Fatahillah dengan tiket masuk Rp 2.000,- . Museum Wayang ini isinya yaitu wayang-wayang dari berbagai daerah, seperti Wayang Gatotkaca, Ponokawan, Si Pitung dan lain-lain. Suasananya memang sepi sebagaimana museum di Indonesia pada umumnya dan yang membuat ill feel adalah saat menuju bagian belakang Museum, disana tercium bau masakan yang menyengat dan ternyata memang dapur dari kantin Kota Tua bergabung dengan bangunan Museum, menyedihkan sekali.

Saya pun lanjut ke destinasi selanjutnya, Pelabuhan Sunda Kelapa. Dengan berjalan kaki menuju Utara saya melewati Jembatan Kota Intan yaitu jembatan berusia 4 abad yang dibangun pada tahun 1628 dan dulunya berfungsi menghubungkan Benteng Belanda dan Benteng Inggris. Setelah berjalan sekitar 2 km sayapun sampai di Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan Pelabuhan tertua di Kota Jakarta. Saya tidak masuk ke Pelabuhan karena isinya truk-truk besar pengangkut barang. Di sana saya sempat mengunjungi Galangan VOC karena namanya menarik yang ternyata adalah cafe and resto dan Menara Syahbandar yang merupakan bagian dari Museum Bahari yang dulunya merupakan menara pemantau keluar-masuk kapal di Sunda Kelapa.

Puas di kawasan wisata Kota Tua, saya berniat lanjut ke Monas dan sebelumnya saya makan siang di Alfamart di Kota Tua yang ada corner-nya, harganya wajar seperti Alfamart pada umumnya dan bisa seduh pop-mie. Jadi, bisa jadi rekomendasi untuk wisatawan ‘pas-pasan’. Saya naik busway dari Halte Stasiun Kota dengan tarif Rp. 3.500,- (kemanapun asal tidak keluar dari halte). Saat itu pertama kalinya saya naik Busway *cheers*. Saya turun di Halte Monas, tapi sayang sekali disana hujan deras lalu saya memutuskan tidak jadi ke Monas dan langsung menuju ke Masjid Istiqlal naik Busway lagi.

Saya menuju Halte Harmoni, transit dan naik lagi ke Halte Juanda tepat di depan Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal memiliki bangunan yang bagus dengan tiang-tiang entah stainless atau apa saya tidak tahu, dan arsiteknya adalah seorang Kristen. Selesai Solat Dzuhur kira-kira pukul 14.00 saya kembali menuju St. Pasar Senen untuk menuju Purwakarta via kereta api Ekonomi pukul 17.30. Naik Busway lagi menuju Halte Harmoni dan transit lalu naik ke jurusan Pulo Gadung turun di Halte Senen. Kira-kira pukul 21.00 saya baru touchdown di rumah. Full Lonely Fun Day at Capital City of Jakarta.

Kesimpulannya ongkos murni Semarang Purwakarta saya hanya Rp 38.500, lebih murah dibanding bus Ekonomi Rp 60.000 dan kereta Harina Rp 115.000,- – Rp 140.000,-.

Mungkin Berguna :

Ongkos (dari Semarang)
1.       Kereta Ekonomi Tawang Jaya                   : Rp 33.500,-
2.       Metro mini Pasar Senen – Kota Tua          : Rp 2.000,-
3.       Busway (asal tidak keluar koridor)             : @Rp 3.500,-
4.       Kereta Ekonomi Jakarta -Purwakarta        : Rp 3.000,-
Wisata
1.       Museum Sejarah Jakarta                             : Rp 2.000,-
2.       Museum Wayang                                        : Rp 2.000,-


Cafe Batavia Kota Tua Jakarta

Meriam Si Jagur ('Jempol Kejepit')

7000 pon berat Meriam Si Jagur

Jembatan Kota Intan

Corner Alfamart Kota Tua