Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2013

Museum dan Mesum

“Mirip-mirip sih kedua kata itu, tapi bukan kemiripan katanya yang disoroti, melainkan bagaimana bisa museum menyediakan “fasilitas” mesum ?”


Miniatur GedungTidak ada niat untuk menjatuhkan sama sekali, tapi memang ini yang saya lihat ketika saya berkunjung ke Museum Bank Mandiri, masih di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat dan masih dalam misi keliling museum di Jakarta. Museum ini berisi sejarah dari salah satu Bank Swasta yang terkenal di Indonesia saat ini, yaitu Bank Mandiri. Saya juga pernah jadi nasabah disini karena ATM-nya ting telecek (ada dimana-mana).

Karena hanya bermaksud berkeliling dan sekedar melihat-lihat, jadi saya tidak terlalu membaca penjelasan dari tiap-tiap yang dipajang. Untuk dapat akses masuk, saya cukup membayar 5000 rupiah (harga normal museum di Jakarta). Kalau nasabahnya gratis, lho, dengan menunjukan kartu ATM.

Di belakang loket adalah ruangan luas tanpa sekat dimana terpajang peralatan perbankan dari masa ke masa. Mulai dari sebelah kiri, ada mesin hitung manual (sempoa), mesin potong, mesin ketik, dan foto copy. Terus bergeser ke arah kanan, semakin modern peralatannya karena sudah dipajang peralatan bebasis komputer. Yang saya heran kenapa dipajang juga motherboard, hardisk, RAM dan lain-lain.

Selain peralatan ada juga pegawai-pegawai yang dikutuk menjadi patung lilin. Hehehe. Dengan berbagai pose dan mimik wajah, mereka seakan melayani pengunjung. Ada juga foto-foto dan maket gedung ini serta patung Dewa Hermes. Dewa perdagangan dalam mitologi Yunani.

Minggu, 10 November 2013

Sejarah Perkembangan Sang Ibu Kota

“Bangunan sentral di kawasan Kota Tua, Jakarta yang letaknya di areal Taman Fatahillah ini mencatat perkembangan kota pelabuhan yang sekarang menjelma menjadi kota metropolitan, Jakarta”


Bangunan Museum Sejarah JakartaJelajah museum kali ini saya menyambangi museum yang banyak orang salah dalam menyebutkan namanya. Seperti halnya Museum Gajah yang sebenarnya adalah Museum Nasional, museum ini pun nama aslinya adalah Museum Sejarah Jakarta. Tapi, museum yang terletak di Jalan Fatahillah ini lebih dikenal dengan nama Museum Fatahillah. Ternyata disamping karena letaknya, penamaan tersebut untuk mengenang pemberi nama Jayakarta yang tadinya Sunda Kelapa yaitu Pangeran Fatahillah dari kerajaan Demak tahun 1526.

Museum yang menempati bangunan bergaya neo-klasik ini dulunya adalah kantor balai kota Batavia pada masa kolonial Belanda lengkap dengan penjara bawah tanahnya. Dari luar, tampak kesan bangunan klasik khas Belanda yang pembangunannya dimulai tahun 1620, dengan kubah yang ada arah mata angin di ujung atapnya dan serambi di kedua sisinya. Sekarang bangunan ini diperuntukan sebagai ruang pamer pada lantai 1 dan 2, dan ada taman, kantor administrasi, dan kantin di bagian belakangnya.

Melewati gerbang sejarah (baca : pintu masuk), kita langsung disambut penjaga loket. Dengan membayar tidak lebih dari 5000 rupiah kita sudah mendapat ijin menembus zaman -zaman perkembangan Jakarta.Untuk mendapatkan informasi yang lebih efisien sebaiknya kita mengikuti peta yang sudah menujukan nomor ruangan yang diurutkan berdasarkan zaman. Di lantai 1, kita bisa mulai dengan memasuki ruangan sebelah kanan dari loket. Disana ada informasi mengenai Jakarta, foto gubernur (baru sampai Bang Yos) dan ada warung rokok pinggir jalan. Tapi sayang, tidak dijelaskan mengapa warung pojok dan becak dipajang disana.

Rabu, 09 Oktober 2013

Isinya Kuno Kemasannya pun Kuno

“Sebenarnya ini karena memang konsep museumnya yang kuno atau karena tidak ada perhatian buat pembenahan”


BimaSaya tidak tahu padahal wayang merupakan warisan budaya (walaupun bukan asli) yang penuh dengan falsafah hidup. Tapi kenapa wadahnya tidak dibuat menyatu dengan perkembangan zaman. Padahal budaya itu kan sesuatu yang bergerak, jadi terus berkembang tanpa mengurangi nilai historis dan kekhasannya. Ya, Museum Wayang (MW) di kawasan Kota Tua Jakarta Barat yang mamajang (hanya memajang) berbagai wayang (boneka). Selain wayang-wayang dari Indonesia, MW juga memajang boneka-boneka India, Cina, Eropa dan ada ondel-ondel juga. Boneka-boneka disini hanya ditaruh di dalam etalase kaca dengan sedikit penjelasan yang tidak terarah dan tidak tertata rapi.

MW terdiri dari 2 lantai dimana lantai pertama adalah ticketing dengan beberapa wayang golek. Di lantai satu hanya ada satu lorong dan di ujung lorong ada tangga kayu menuju lantai 2. Di pengujung tangga ada lukisan kaca bergambar perang Baratayuda namun tanpa penjelasan apa-apa. Jadi hanya sedikit yang menyimpulkan itu.

Lantai 2 memajang beragam wayang. Ada cerita singkat yang menggambarkan kelahiran Gatotkaca yang merupakan putra Bima dengan Ratu Raksasa, Dewi Arimbi. Ceritanya bersambung pada masing-masing etalase tapi hanya diurutkan berdasarkan nomer dan kita tidak dibawa hanyut merasakannya karena etalasenya pun tidak disusun berurutan. Selain itu ada cerita lepas dengan adegan-adegannya, tapi sayangnya tidak dijelaskan dimana posisi tokoh. Jadi kita tidak tahu mana Arjuna, mana Durna, dan mana Abimanyu pada cerita pembunuhan Abimanyu yang menyulut kemarahan sang ayah Arjuna. Dan pada ujung lantai 2 ada beragam boneka dari luar negeri, kaligrafi bergambar, dan topeng-topeng dari beragam daerah di Indonesia. Ada juga satu set gamelan.

Padahal wayang jika digali maknanya dan disajikan dengan apik bisa menambah pengetahuan tentang kearifan, budi pekerti dan sifat satria para tokoh wayang seperti yang digambarkan oleh tokoh-tokoh pandawa 6 (Pandawa 5 plus 1 sulung Pandawa Adipati Karna). Sayangnya belum tersaji baik di Museum Wayang ini, sehingga keluar dari sana tidak ada sesuatu yang benar-benar menempel selain kusamnya lantai Museum.

Pertunjukan Wayang Kulit

Tapi 1 hal yang menarik, disana rutin ada pertunjukan wayang setiap hari Minggu di ruang pertunjukan dekat souvenir shop dan pintu keluar. Tentu itu wajib adanya karena wayang sejatinya adalah seni pentas. Tapi yang menjadi pertanyaan kenapa tidak ada wayang orang yang dipajang disana ya ? Hehehe






Rabu, 02 Oktober 2013

Yang Bagus Ternyata Malah Gratis

“Mungkin karena sokongan dana langsung dari satu-satunya lembaga yang berwenang mencetak uang di Indonesia, ya, jadinya gratis”


Logo BI dari masa ke masaMuseum Bank Indonesia. Pertama masuk museum ini saya pikir suasana museumnya sama seperti museum lain yang hanya memajang, ya, hanya memajang. Apalagi tiket masuknya gratis, saya jadi makin underestimate. Tapi perasaan itu berubah seketika setelah melewati pintu keluar dan kunjungan usai. Jadi semakin merasa beruntung telah di “apung-apungkan” dalam sejarah perbankan dan perdagangan Tanah Air.

Museum yang tidak hanya memajang salah satunya ya disini. Pertama, dari segi fasilitas, bagi yang benar-benar ingin mencari info tentang isi museum. Pengunjung tidak perlu cape-cape membaca karena ada APE (Alat Pemandu Elektronik) yang bisa digunakan untuk mendengarkan informasi lebih lengkap dari benda pajangan sesuai kode yang ada. Ada juga ruangan bioskop kecil berkapasitas sekitar 50an orang. Tapi saya tidak tahu kapan saja movie itu berfungsi selayaknya bioskop di mall-mall.

Ruang pamer pertama berisi timeline perkembangan perdagangan dan perbankan Indonesia dan pembentukan De Javache Bank yang belakangan melahirkan satu-satunya Bank pencetak Rupiah yaitu Bank Indonesia. Kemasannya begitu apik di setiap periode. Ada 6 periode yang dimulai dari penjualan rempah-rempah yang konon harganya setara emas pada zaman dulu, sampai setelah reformasi.

Sabtu, 28 September 2013

Harta Karun di Belakang Pantat Gajah

“Berkunjung ke museum pasti kita akan disuguhi ‘harta karun’, tak terkecuali ke Museum Nasional Republik Indonesia.”


Bagian Dalam Museum NasionalMuseum ini letaknya di dekat Monas, terlihat jelas dengan patung gajahnya di halaman depan. Karena patung gajah yang mencolok itu maka museum ini dikenal juga dengan Museum Gajah. Patung gajah itu adalah pemberian Raja Chulalongkorn dari Thailand pada tahun 1871 dan terbuat dari perunggu. Gampang sekali sebenarnya buat sampai ke museum ini. Cukup naik busway dan turun di depan hatle Monas sudah sampai di depan museum ini.

Dulu waktu SMP (2004) saya pernah kesini saat study tour. Tapi dulu selain belum suka jalan-jalan yang ‘belajar-belajar’, bangunan yang tua dan gelap pun bikin kesan tidak nyaman, dan dulu, sih, pikirannya bangunannya angker. Tapi sekarang ternyata sama saja. Di hall utama depan pintu masuk ternyata masih seperti dulu. Tapi sekarang rasanya lain kalau melihat bangunan tua seperti itu, rasanya berasa flashback ke tempo dulu dengan bangunan Eropa kuno yang klasik. Tapi kontras dengan bangunan tua di hall utama, di sebelah utara ternyata ada ruang pamer yang modern. Saya cukup terkejut juga pas masuk. Gedungnya pakai keramik berkesan mewah, dindingnya kaca, tidak gelap, dan ada eskalator dan lift untuk lantai Ground sampai lantai 4, jauh dari kesan tua dan kuno. Serambi ini mulai dibangun pada 1996.

Museum tentunya adalah tempat menyimpan barang-barang yang bernilai tinggi. Disini juga tentunya. Berbagai benda kuno baik warisan asli atau yang ditemukan di seluruh wilayah Nusantara terpajang sejumlah sekitar 141.000 buah di museum yang merupakan museum terbesar se-Asia Tenggara ini.

Wayang Kulit (Ruang Etnografi Jawa)Di ruang utama yang klasik ketika masuk, patung-patung arca dan prasati peninggalan masa Hindu-Budha yang akan menyambut kita. Arca-arca ini ada patung Budha, dewa Wisnu dan yang mencolok adalah patung Bhairawa setinggi 414 cm yang merupakan manifestasi Awalokiteswara (Tuan yang melihat ke bawah). Namun, sebagian arca ini menjadi hanya berharga seperti batu biasa karena tidak ada penjelasan yang lengkap. Masuk lebih dalam ada etnografi (masyarakat dan budaya) seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Nah, ke serambi kanan kita akan beralih dari kesan kuno ke kesan mall (modern). Disini terdapat 4 lantai yang berisi koleksi yang berbeda pengelompokannya di setiap lantai. Berturut-turut dari lantai dasar adalah Manusia dan Lingkungan yang terdiri dari kehidupan manusia Indonesia dari zaman prasejarah dengan diorama-diorama yang apik. Naik ke atas yaitu Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang terdiri dari peralatan zaman batu hingga Perahu Pinisi dan pesawat terbangnya Pak Habibie (semua miniatur, ya). Di lantai berikutnya yaitu Organisasi Sosial yang berisi rumah adat, budaya-budaya masyarakat, dan kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat Indonesia seperti kelompok Bahari dan Petani.

Mewahnya Ruang PamerDi lantai 4 berisi kramik-kramik yang ditemukan di Indonesia. Ada kramik yang merupakan hadiah dan ada kramik yang ditemukan di perairan Indonesia dari kapal-kapal dagang (terutama Cina) yang apes dan karam di Indonesia. Disini mungkin salah satu letak harta karun. Karena pastinya kramik-kramik ini tak ternilai harganya. Satu pesan, disini dilarang memotret, mungkin karena kalau terpublikasi bisa menarik para “bajak laut” semacam Jack Sparrow untuk kesini. Tapi besar dan lengkapnya Museum Nasional kurang dibarengi dengan fasilitas audio visual yang interaktif, jadi tidak ada sesuatu yang bisa menuntun kita merasakan “Day at the Museum” selain kita harus melihat dan membaca sendiri.

~ Salam Dolan ~

Kamis, 22 Agustus 2013

Si Manis dari Kemayoran

“Pertama dengar, sih, pasti heran, ada ketan kukus pakai kelapa disiram susu kental manis tapi cocoknya dimakan sama tempe goreng yang gurih”


Gunungan GorenganItulah menu andalan sebuah warung di Kemayoran, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Garuda Ujung No. 5 yang sudah ada sejak tahun antara 1958 atau 1960. Sudah lama memang karena pemilik warung ini yang sekarang sudah generasi ketiga. Letaknya cukup mudah dijangkau karena terletak di ujung gang (Jalan Garuda Ujung tertulis di gapura gang itu) yang lagnsung menghadap ke Jalan.

Warungnya tidak sebesar namanya ternyata. Hanya sebuah kedai kecil dengan dapur dan tempat sajinya numplek jadi satu. Ada bangku panjang 2 buah untuk masing-masing 5 orang mengelilingi tempat saji gorengan yang siap santap. Lalu ada 2 kelompok kursi dan meja untuk masing-masing 6 dan 4 orang yang berbentuk seperti pos ronda. Dan 2 bangku tanpa meja untuk masing-masing 5 orang di pinggir jalan masuk gang. Dapur tempat pengukusan si ketan dan penggorengan gorengan terlihat disana. Tungku besar yang selalu menyala untukmengukus ketan terlihat disana.


Tansu Dan Teh PociMenu andalan tentu saja Tansu (Ketan Susu), yaitu ketan kukus dengan parutan kelapa yang disiram susu kental manis yang legit dan manis. Untuk yang tidak suka manis bisa request tanpa susu, kok, jadi tenang saja. Pelengkap tansu ini tentunya gorengan yang ada pisang goreng, tempe goreng garing, dan ubi goreng. Entah tersugesti atau memang enak, paling nikmat justru dimakan dengan tempe goreng yang gurih. Legitnya ketan campur susu meleleh di lidah bersama gurihnya tempe. Semua rasanya memberikan sensasi baru bagi lidah saya. Yummy. Untuk minuman ada teh poci, teh manis biasa dan ada pula kopi tubruk. Saya mencoba teh pocinya nikmat sekali. Bagi sayan makan 2 porsi tansu sudah cukup karena eneg juga jika makannya terlalu banyak karena manisnya susu.

Tidak perlu khawatir soal harga, cukup 3.000 rupiah untuk seporsi tansu, 1.000 rupiah untuk masing-masing gorengan dan 4.000 rupiah untuk teh poci yang bisa untuk 3 orang. Kebersamaan bersama teman-teman nongkrong bisa lebih berasa jika ditemani si manis gurih Tansu Kemayoran yang bisa didatangi 24 jam sehari.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ramadhan Jalan : Berbuka Nomaden 1

“Buka gratis alias takjilan di masjid itu kita jadi ngasi pahala ke orang lain, lho”

Ramadhan kali ini saya benar-benar menjalankan dengan cara agak berbeda. Saya meminimalisir berbuka di kos dengan membeli jajanan sendiri. Saat berbuka saya  ikut berbuka bersama di masjid-masjid yang berbeda. Menu berbukanya pasti berbeda-beda. Dari yang cuma takjil alias jajanan sampai yang makan nasi pun ada.

Saya mulai berbuka keliling pada tanggal 15 Juli 2013. Dari tanggal itu beberapa masjid dengan menu berbukanya sudah saya kunjungi. Satu lagi dan mungkin dampak utama dari berbuka keliling adalah “Hemat”. Hehehe.

15 Juli 2013 - Masjid As-Salam (Gedung Graha XL - Mega Kuningan)

Hari pertama saya buka dengan berbuka di kantor. Tepatnya di masjid Graha XL. Disana dapat gorengan, beng-beng, lontong, kurma dan air putih. Takjilan saja, sih. Tapi yang unik adalah keganasan karyawan yang ikut berbuka. Waktu makanan keluar, bet-bet-bet langsung habis. Makanan disini keluar secara bertahap tapi tidak sampai 3 menit langsung ludes. Sepertinya workload di XL bikin karyawan-karyawan mengganas.

16 Juli 2013 - Masjid Departemen Pendidikan (JL. Gatoto Subroto)

Di sini sama dapat takjil juga, tapi relatif cukup mewah sih. Ada risoles yang isinya paperoni kecil dan mayonaise, ada lontong, gorengannya tahu telor, dan pencuci mulutnya agar-agar. Setelah berjalan jauh dan naik tangga untuk solat di lantai 3 –karena hall utama ada di lantai 3, takjilnya lumayan me-recover energi.

17 Juli 2013 - Masjid Jami As-Salafiah (Warung Buncit)

as-salafiahIni masjid besar dan letaknya di pinggi jalan raya Buncit Indah. Di masjid ini saya pertama dapat makan nasi. Saat masuk di serambi utara sudah disediakan nasi, ayam, dan sayur di atas nampan plastik besar yang diperuntukan untuk 4 orang masing-masing nampannya. Tak lupa air the dan kurmanay. Kesan saya langsunglah senang ­–nggak perlu beli nasi .Hehehe

Disana formatnya makan bareng berempat dalam satu nampan. Tapi namanya saat berpuasa walaupun harus bercampur dengan tangan orang lain tetap saja nikmatnya berbuka itu tiada tara (apalagi gratis).

18 Juli 2013 - Mushola AL - Barkah (Warung Jati Timur)

Mushola Al-BarkahKalau yang ini mushola kecil di dalam gang kecil. Untuk pertama kalinya saya merasa malu ikut berbuka bersama. Karena mushola jadi sepertinya hanya diperuntukan untuk warga sekitar. Pesertanyapun saling mengenal semua dan memakai baju muslim putih-putih dan ada beberapa dengan sorban. Sedangakan saya dan teman saya memakai kaos dan celana jeans. Tapi sudah terlanjur basah, kita singkirkan rasa malu dan ikut menikmati hidangan yang tergolong mewah.

Disana dapat nasi satu piring satu orang dengan lauk yang bermacam-macam. Ada sate ayam, capcay dengan udang dan baso, dan telur bumbu padang. Belum lagi jajanan dan buahnya. Berbuka termewah di masjid ya saat itu. Walaupun malu, tapi toh tidak bakal ketemu lagi kalau tidak dengan sengaja kesana lagi.

19 Juli 2013 - Masjid Raihanul Hamim (Mampang, Tendean)

Masjid Raihanul Hamim
Nah, kalau yang ini yang pertama seru. Dapat nasi, lele, gudangan atau urab dan samabal lengkap dengan teh manis hangat. Yang bikin seru soalnya saya bertiga bersama teman-teman saya dan tempatnya pun tidak membuat sungkan. Walupun agak masuk gang tapi masjidnya besar. Format mayoran berempat dalam satu nampan juga diberlakukan disini. Yang bikin berkesan adalah teh manisnya yang rasanya mantep tenan.







Kamis, 23 Mei 2013

Jakarta On the Way


“Jakarta memang memiliki fasilitas umum paling beragam di banding kota-kota lain di Indonesia. Termasuk transportasi umumnya.”

Kemacetan di Jakarta memang belum juga bisa  terpecahkan. Kendaraan pribadi yang mem-bludak, terutama motor-motor yang jumlahnya banyak plus tidak taat aturan lalu lintas, bikin jalanan jadi semerawut terutama saat rush hour. Tapi sebenarnya di Jakarta banyak kendaraan-kendaraan umum yang, dengan kesadaran masyarakat dan perhatian pemerintah, saya yakin bisa mengurangi kemacetan.
Dan bagi saya pribadi naik kendaraan umum itu memberikan “rasa dan warna” tersendiri. Seperti beberapa cerita angkutan umum berikut ini.

Transjakarta Busway
Busway (biasa disebut begitu) adalah transportasi yang mulai beroperasi –koridor 1 Kota - BlokM– pada 25 Januari 2004 di era Pak Sutiyoso yang memiliki jalur dan halte pemberhentian sendiri. Angkutan andalan warga Jakarta ini saya gunakan setiap berangkat ke kantor dan jalan-jalan. Busway “cukup” efektif untuk menghindari kemacetan dan nyaman untuk jalan-jalan di Jakarta. Ongkosnya cukup sekali bayar asalkan tidak keluar dari halte.
Walaupun bisa menghindari kemacetan, saat rush our masalah utamanya yaitu penuh –apalagi jika tidak dari halte pemberangkatan pertama. Selain di bus-nya, di haltenya pun penuh jadi saat ada busway berhenti dan pintu terbuka dorong-dorongan bukan hal yang aneh. Saking penuhnya kadang pintu (belakang) ada yang ditahan penumpangnya jadi tidak terbuka.
Di dalam kepenuhan busway itu, kejadian terjepit pintu saat membuka walaupun menutup pernah saya lihat dan alami sendiri terutama penumpang yang di belakang. Pernah juga ada yang pingsan dan berteriak “astagfirullah astagfirullah” saking sesaknya. Ada lagi kejadian yang teman saya alami, karena saking penuhnya dia tidak bisa keluar di halte tujuan sampai buswaynya jalan lagi dan hampir terjepit pintu, tapi karena marah akhirnya dia ,memaksa dan diturunkan di tengan jalan.
Jalur busway yang masih “kotor” jadi membuat busway sama-sama ikutan macet. Busway yang sudah usang juga kadang menyebabkan masalah saat mogok di tengah-tengah jalur. Saat seperti itu busway lain di belakangnya terpaksa keluar jalur dan nyebur deh, ke lautan kendaraan. Yang paling menyebalkan kalau mogoknya saat jam kantor dan bukannya busway tapi malah kendaraan non-busway yang mogok.

Duo Kopaja dan Metromini

Kedua nama ini sebenarnya adalah nama perusahaan penyedia angkutan –Kopaja (Koperasi Angkutan Jakarta) dan MetroMini. Keduanya hanya berbeda provider, trayek dan warnanya –Kopaja berwarna putih hijau sedangkan MetroMini berwarna orange. Di luar itu semuanya hampir kembar.
Persamaan pertama yaitu ukuran dan kapasitas. Angkutan ini sebenarnya berkapasitas 25 tempat duduk dan beberapa yang berdiri. Tapi saat rush hour apa yang terjadi ? Penumpang sampai bergelatungan di pintu dan itu pun masih saja ditambah oleh kernetnya. “Geser lagi ya geser lagi !” katanya. Tapi selain salah kernetnya, penumpang juga banyak yang memang memaksa masuk. Ada juga kopaja yang sengaja mengurangi jumlah kursi agar kapasitasnya lebih besar. Supirnya yang brutal juga sama. Sering ugal-ugalan, masuk jalur busway, balapan kejar setoran, berhenti sembarangan dan nyetel musik keras-keras. Kalau salah satu atau salah semua hal di atas terjadi dijamin penumpang yang mau turun bakal susah dan tentu membahayakan dan bikin kesal pengemudi lain. Supir juga kadang suka seenaknya mengoper penumpang ke mobil lain. Sudah enak-enak duduk, karena di oper, jadinya berdiri juga.

Tapi, kejadian lucu juga kadang terjadi. “kernet ketinggalan” yang paling sering. Pernah saya naik metromini saat sedang ngetem, lalu setelah jalan beberapa meter si supir memanggil-manggil kernetnya. Menyadari kernetnya tertinggal si supir berhenti dan beberapa saat kemudian datang si kernet sambil ngos-ngosan lalu marah-marah pada si supir. Penumpang sih ketawa-ketawa saja, lumayan sedikit hiburan di suramnya Metromini dan Kopaja. 
Namun selain hal-hal diatas ada juga Kopaja dan Metromini yang baik-baik, contohnya untuk kopaja P-20 ada yang AC dan sudah terintegrasi koridor 6 Busway. Supirnya lebih “berpendidikan” juga.

Bajaj
Pertama kali saya naik bajaj yaitu saat melamar kerja pada bulan puasa 2012. Saya naik bajaj yang berwarna orange yang masih berbahan bakar solar. Naik bajaj sebenarnya sama seperti naik motor berknalpot racing yang asal pasang. Suaranya bising. Tapi saat itu sangat menolong karena membantu saya cari alamat.

Taksi
Naik taksi saat rush our dan macet, parah sekali buat saya. Saya sebelumnya pernah naik taksi dari Warung Jati ke Mega Kuningan saat tidak rush hour dan argonya Rp 28.000. Tapi saat macet jadi Rp 50.000 untuk jarak yang sama. Dan yang lebih parah saat itu saya naik taksi karena buswaynya ada trouble, tapi saat busway sudah benar lewatlah beberapa busway tanpa hambatan, sedangkan saya masih terjebak di tengah-tengah lautan kendaraan. Haduh, naik taksi rasanya tidak lebih nyaman dari naik Kopaja karena sama-sama macet tapi harganya 20 kali lipat lebih mahal.


Namun kesimpulan saya, sekurang apapun transportasi masal di Jakarta, masih lebih baik daripada harus naik kendaraan pribadi dan menambah lagi jumlah kendaraan di Jakarta. Yuk, kita sama-sama sadar dan beralih ke moda transportasi umum yang ada buat mengurangi macetnya Jakarta! J