Puncak Ungaran untuk kedua kalinya dalam
3 bulan ?
Tidak masalah karena tentu saja keduanya
punya cerita yang jauh berbeda. Kali ini saya mendaki Ungaran bertepatan dengan
Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April. Saya ditemani 2 orang teman saya
yang “gila-gila” - sebut saja Mualim (nama asli) dan Wahyu Aditya alias Konde
alias Didot (nama asli)- dan kami bertiga menyebut diri kami sebagai anak
“GAUL” .
Sebelum saya bercerita lebih jauh,
saya akan memberi sedikit info mengenai Gunung Ungaran dan bagaimana untuk
dapat ‘menaklukannya’.
Gunung Ungaran merupakan sebuah
gunung yang terdapat di pulau Jawa tepatnya Jawa Tengah, Indonesia. Sesuai namanya,
gunung ini teretak di Kabupaten Semarang yaitu Ungaran. Gunung Ungaran merupakan
gunung api tipe strato dengan puncak tertinggi memiliki ketinggian 2.050 mdpl
dan dipuncak ditandai dengan adanya “patok” TNI yang sayangnya banyak tulisan-tulisan rakyat tidak bertanggung jawabnya. Namun tetap keindahan sebuah puncak gunung
sangat layak untuk dinikmati, dengan awan terhampar dan puncak gunung-gunung tetangga
seperti Si Kesatria kembar Sumbing- Sindoro, Gn. Merbabu dengan Gn. Merapi yang
mengintip di baliknya yang “menyihir” penikmatnya.
Di lereng gunung ungaran terdapat situs
arkeologi berupa Candi Gedongsongo (gedong = gedung, songo = sembilan), beberapa
curug (air terjun) seperti Curug Semirang dan Curug Lawe. Juga terdapat gua,
yang terkenal adalah Gua Jepang. Gua ini terletak 200 m sebelum puncak, tepatnya
di sekitar Desa Promasan (desa para pemetik teh).
Untuk dapat mencapai puncaknya
terdapat 3 jalur yakni jalur Mawar, jalur Boja, dan jalur Gedong Songo. Kami
memilih lewat jalur Mawar. Untuk menuju kesana yaitu melewati jalur yang sama
dengan jalur menuju Umbul Sidomukti – Bandungan. Dengan membayar Rp 2000/motor
untuk masuk kawasan Sidomukti dan membayar Rp 4000/orang plus Rp 2000/motor
untuk parkir di Mawar kita sudah bisa memulai getting the summit. Sepanjang jalan dari Mawar kita disuguhkan
dengan hamparan pohon pinus dan seskali memasuki hutan namun treknya masih
bersahabat. Kita juga bisa menemukan kunang-kunang disana. Lalu setelah
melewati Desa Promasan pemandangan berubah menjadi kebun teh, dan summit attack dimulai disana dengan trek
yang tidak lagi “baik hati” dengan batu-batuan yang terkadang cukup terjal.
Kami tiba dipuncak sekitar pukul
22.00 dan langsung mendirikan tenda dan membuat wedang ora nggenah. Minuman hangat campuran energen kacang hijau,
indocafe coffeemix, dan dicampur roti coklat dengan sedikit ada rumputnya
karena memasak di dekat rumput menjadi menu makan malam kami. Tapi entah kenapa
rasamanisnya enak sekali, namanya juga
laper hahaha
Sepanjang malam kami mengobrol yang
tidak jelas dari membahas film tuyul dan mbak yul sampai “menggarap” saya dan
pacar saya, tapi itulah yang sedikit melupakan the cold of summit. Kami tidur entah jam berapa dan bangun sekitar
pukul 5.00 dan kaget ketika keluar karena puncak Ungaran seperti pasar , ramai
sekali. Dan belakangan diketahui bahwa hari itu adalah Hari Bumi.
Kehangatan mulai tercipta saat menunggu
sang surya bangun, kalau ini keinndahannya tidak bisa digambarkan dengan
kata-kata pokoknya sunrise terindah yang pernah saya lihat. Setelah mulai
terasa lapar kamipun memasak mie campur, campuran rasa soto, rasa ayam, dan
rasa rendang tapi rasanya menjadi unik dan cenderung tidak karuan enaknya. Baru
sekitar jam 8.30 kami beres-beres dan meluncur kembali ke kota Semarang
menyongsong tugas-tugas kuliah yang telah menanti esok hari.
Gunung Merbabu dari Puncak Ungaran
Kebun Teh Desa Promasan (sumber foto)
Wedang Ora Nggenah
Earth Day 22 April 2012 - Let's Save Earth (Sumber Foto)
Gunung Ungaran 21 - 22 April 2012
referensi :