Minggu, 27 Januari 2013

Ketupat Sayur Mandala (Jakarta)


google.com
Kerja di Jakarta rasanya tidak etis jika tidak menikmati kuliner yang banyak tersebar di pinggiran jalanan Ibu Kota. Awal tahun 2013 ini saya membuka petualangan kuliner dengan mendatangi sebuah warung tenda di kawasan Mampang Jakarta Selatan. Warung ini dikenal dengan nama Ketupat Sayur Mandala.

Rasa penasaran saya pada warung ini bermula karena saya tiap hari melewati jalan ini saat berangkat dan pulang kerja. Karena letaknya di dekat lampu merah jadi tidak jarang angkutan umum yang saya gunakan berhenti tepat di depan warung ini dan saya sering melihat keramaian warung ini yang tentunya membuat saya penasaran ingin mencobanya. Hal yang unik adalah ketupat sayur yang umumnya ada pagi hari untuk sarapan, di warung ini buka pada malam hari selepas Maghrib.

Untuk mengobati penasaran saya, pada hari jumat selepas pulang kerja dan bingung cari makan malam dimana secara kebetulan Kopaja P20 yang saya tumpangi terkena lampu merah disitu. Dan tanpa pikir panjang saya dan teman sayapun memutuskan menjajal Ketupat Sayur Mandala untuk menu makan malam kami.

Sampai disana sebenarnya sedang tidak terlalu ramai seperti biasanya saya lihat namun cukup penuh. Kemudian setelah mendapat tempat duduk kamipun memesan. Puluhan atau mungkin ratusan ketupat tampak bergelantungan di sebuah gerobak saji dan ada panci besar yang berisi kuah sayur dengan irisan labu siam dan beberapa panci untuk lauknya berupa telor, sate jeroan, empal, dan ayam opor kering. Penyajinya pun menggunakan seragam berwarna abu-abu bertuliskan “Ketupat Sayur Mandala” lengkap dengan nomor teleponnya. Saya memesan dengan lauk sate jeroan sedangkan teman saya ayam opor.

Tak berapa lama pesanan pun datang. Dua piring ketupat sayur yang ternyata porsinya cukup banyak dan sepiring kerupuk sebagai pelengkap. Tamabahan sambal pun dapat ditambahkan bagi para pecinta pedas walaupun sebenarnya sambalnya tidak terlalu pedas hehe. Setelah selesai meracik dengan sambal dan kecap, dengan cepat dan pasti saya menyantap sepiring ketupat sayur itu karena selain penasaran saya juga kelaparan karena pulang kerja hehe.

google.com
Setelah semua habis kamipun membayar dan ternyata harganya standar dan di luar dugaan kami. Satu porsi ketupat sayur dengan lauk sate jeroan harganya 8.000 rupiah dan yang ayam harganya 9.000 rupiah.  Relatif terjangkau untuk alternatif menu makan malam kan ?

Setelah selesai semua saya secara pribadi menyimpulkan kalau menurut saya belum ada yang special dari ketupat sayur tersebut, lauk sate jeroannya pun biasa saja. Tapi mungkin ayam dan lauk lainnya memiliki cita rasa yang berbeda dan yang paling penting bisa menjadi alternatif makan malam anda selain makanan malam pada umumnya seperti nasi goreng dan pecel lele, dan harganya yang relatif murah pun bisa jadi faktor yang menarik lainnya.


Ketupat Sayur Mandala
Jl. Mampang Raya (Setelah halte busway duren tiga dari arah Kuningan)
Buka setelah Maghrib

Rabu, 14 November 2012

Potret Kehidupan di Rangkaian KA-281


Jalur 3 KA-281 tujuan akhir stasiun Jakarta Kota segera diberangkatkan kembali ...

Itulah sepenggal kalimat petugas stasiun kereta api (KA) yang menginstruksikan bahwa kereta segera berangkat. Kalimat-kalimat sejenis itu menjadi sering saya dengar sebulan terakhir ini. Ya, selama sebulan saya bermain (masih tetap istilah untuk bekerja) di Ibu Kota, seminggu sekali saya pulang pergi Jakarta-Purwakarta dan seringnya menggunakan KA-281 atau KA lokal Jakarta Kota - Purwakarta.


KA-281
KA-281 ini saya sebut “kereta rakyat” karena harganya yang relatif murah, hanya 3.000 rupiah, jika dibandingkan dengan bus jurusan Purwakarta yang harganya sekitar 5 kali lipatnya. Namun, tentu harga tidak pernah bohong (kecuali ketipu orang), fasilitas dan lama perjalanannya setimpal dengan harganya. Kereta ini berhenti hampir di semua stasiun yang dilewati yaitu Jakarta Kota - Kemayoran - Ps. Senin - Jatinegara - Bekasi - Tambun - Cikarang -Lemah Abang - Kedung Gedeh - Karawang - Klari - Kosambi - Dawuan - Cikampek - Cibungur - Sadang - Purwakarta  dan itu berdampak pada waktu tempuh yang jadi relatif lama sekitar 2,5 - 4 jam, belum lagi karena kereta ‘kasta bawah’ maka kereta ini harus mengalah jika ada kereta-kereta lain yang mau menyusul. Selain jarak tempuh, fasilitasnya pun begitu, tidak ada batasan penumpang dan nomor tempat duduk membuat penumpang penuh sesak, kotor, pedagang berlalu lalang tanpa henti, dan hawa menjadi panas apalagi untuk bayi pasti tidak betah. Seperti lagunya Alm. Franky and Jane “penumpang penuh bayi-bayi menangis, penjual makanan selalu berteriak .... “ ditambah banyaknya yang merokok menambah kesumpekan suasana. Dari segi fisik kereta sendiri tidak jauh beda dengan kereta ekonomi biasa, namun ada beberapa gerbong dengan bangku plastik, dan fasilitas seperti meja, kamar mandi, blower, bahkan kursi ada beberapa yang rusak.

Tetapi, dibalik semua itu ada segelintir orang yang menggantungkan hidupnya dari kesemrawutan tersebut. Disinilah saya tertarik untuk melihat hal-hal menarik terutama pedagang dan ‘pengusaha’ lainnya yang ada di KA-281. Mulai dari orang-orang kreatif, sotoy, hard worker, dan lain-lain ada di KA-281 yang mungkin tidak ditemui di sarana transportasi lain yang kastanya tinggi.

Pedagang Kreatif dengan Pengeras Suara
Di KA-281 ini ada sekelompok anak muda musisi kereta yang menurut saya kreatif, mereka beranggotakan 5 atau 6 orang dengan alat musik gitar, ketipung, calung, dan yang menarik mereka menggunakan keyboard. Mereka juga tidak asal nyanyi tapi sudah cukup bisa dibilang ‘oke’ dengan adanya paduan backing vocal. Selain mereka ada juga penjual rokok, tissue, permen yang tak kalah kreatif. Dia tidak pernah teriak-teriak menjajakan dagangannya tapi dia menggunakan pengeras suara yang berisi rekaman suara dalam menjajakan dagangannya. Jadi, dia hanya jalan sambil menenteng pengeras suara itu. Keren. hehe. Tapi ada juga musisi-musisi yang sotoy, mereka sepertinya preman-preman yang asal meminta uang saja padahal tidak tahu mereka menyajikan apa.

Pedagang Buah
Dari sisi kreatif, kita beralih ke orang-orang yang memiliki semangat juang tinggi dalam menyambung hidup. Ada seorang kakek-kakek tunanetra yang rela berjalan mondar-mandir di sesaknya kereta demi uang-uang recehan. Beberapa musisi juga ada yang menderita kekurangan fisik, mereka bermodalkan tape dan microphone seperti karaoke. Ada juga penjual buah-buahan dan minuman yang harus membawa beban berat di tengah kereta yang sesak demi menjemput rizki yang yang di telah tetapkan Tuhannya dan tak jarang mereka jadi bulan-bulanan mulut ibu-ibu. Dan terakhir, ada anak-anak usia bermain yang sudah harus bertanggung jawab akan hidupnya sendiri bahkan mungkin hidup keluarganya. Mereka ada yang memberi amplop kosong berharap pada penumpang untuk mengisinya, menemani orang tuanya, dan menjadi tukang sapu demi hidupnya hari itu.

Selain hal-hal diatas, yang lainnya ada juga pedagang mainan yang kadang bikin anak-anak kecil menangis. Karena biasanya dia promosi di depan anak-anak namun disisi lain orang tua si anak itu tidak berminat membelikan, yah, terjadilah pertumpahan air mata disertai teriakan si anak. hehe. Lainnya lagi yaitu para smoker. Diantara para smoker yang ada di dalam KA, ada satu smoker yang ingin saya sorot, dia adalah kondektur KA-281 yang asik-asik merokok di tengah-tengah penumpang usai memeriksa tiket padahal tulisan dilarang merokok jelas sekali di tiap gerbong. Jadi, wajar saja kalau penumpang lain juga ikut-ikutan.hehe

Well, Itulah sepenggal pengamatan saya pada orang-orang dan fasilitas dalam setiap perjalanan mudik saya menggunakan KA Lokal Jakarta - Purwakarta. Dalam setiap alat transportasi pasti ada cerita-cerita tersendiri hanya tinggal bagaimana kita menikmati cerita-cerita tersebut. Selamat Membaca.

Fasilitas Meja Kereta yang Rusak

"Israel" - Istana Sisi Rel Jakarta Ps. Senen

From Train's Window

Sabtu, 13 Oktober 2012

Pasir Putih di Bumi Kartini


Hari minggu 30 September 2012, satu hari setelah saya wisuda dan kebetulan karena masih berada di kota Semarang, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan kembali dalam membangun kekuatan hubungan saya dengan pasangan. Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, perjalanan kali ini adalah perjalanan yang mendadak bahkan sampai keluar dari rumah pukul 10.30 pagipun kami belum tahu mau kemana. Tadinya saya ingin mencoba ke kota Ambarawa dan mengunjungi Rawa Pening, tapi karena pacar saya yang ingin pergi ke arah timur kota Semarang jadi kami pindah haluan dan memutuskan berjalan ke timur (arah Demak, Kudus, Surabaya). Setelah mulai berjalan ke arah timur kota Semarang akhirnya kami memutuskan ke Utara dan mengunjungi kota kelahiran Pahlawan Nasional Ibu Kartini, Jepara. Jepara adalah kota di sisi Utara Kota Demak yang terkenal dengan seni ukir, pantai, dan Kepulauan Karimun Jawanya. Rutenya seperti biasa mengikuti penunjuk arah yang ada di jalan.


Pintu Berukiran Khas Jepara
Untuk menuju Kota Jepara menggunakan sepeda motor kita bisa mengikuti penunjuk arah Kota Demak dari Kota Semarang, mengambil arah Kota Kudus dan nanti akan ada penujuk arah Jepara. Sepanjang perjalanan dihiasi oleh kota-kota dan beberapa sawah-sawah dan memakan waktu sekitar 2- 3 jam. Memasuki Kota Jepara kami memutuskan untuk mengunjungi alah satu pantainya, Pantai Bandengan. Sepanjang perjalanan di dalam Kota Jepara banyak dijumpai bangunan dengan pintu dan kusen berupa ukiran khas Jepara. Berbeda dengan Kota Semarang yang merupakan kota besar yang selalu ramai, Kota Jepara terasa sepi, jarang ada mobil yang berlalu-lalang namun hal itu malah memberikan suasana jalanan yang damai dan asri. Untuk menuju Pantai Bandengan kita bisa mengambil arah jalan R.A. Kartini dari monumen R.A. Kartini, terus saja sekitar 2-3 km maka kita akan memasuki kawasan desa wisata Pantai Bandengan. Dari situ kita tinggal mengikuti jalan sekitar 3-5 km dan akan memasuki pintu masuk Pantai Bandengan.


Objek Perahu Pantai Bandengan
Ironis dengan suasana di Kota Jepara yang sepi, di Pantai Bandengan yang memiliki nama lain Pantai Tirta Samudera malah ramai sekali oleh pengunjung. Berbagai aktifitas liburan dan mencari nafkah yang berhubungan dengan kepantaian ada disana. Suasana Pantai Bandengan sendiri menurut saya menarik, karena walaupun pantai tapi disana terasa sejuk karena ditumbuhi pohon-pohon yang relatif rimbun, sehingga untuk bersantai menggelar tikar disana sangat cocok. Pantai Utara yang tenang menjadikan Pantai Bandengan memiliki banyak permainan air seperti perahu, banana split, jek ski dan lain-lain termasuk menuju Pulau Panjang yang kaya akan flora dan fauna. Pasir putihnya masih cukup bersih untuk dilalui menyusuri bibir pantai. Disana kami  hanya mengabadikan momen-momen liburan dan saya sendiri menyempatkan untuk berenang di pantai yang tenang setenang Kota Jepara itu. Salah satu momen taak terlupakan adalah saya yang saat itu tidak membawa pakaian ganti namun nekat untuk berenang, jadi sepanjang perjalan pulang saya memakai pakaian (terutama bawahan) yang basah. Hehe


Sisi Lain Kawasan Bandengan
Selesai berenang dan berbilas, sebelum pulang kami sempat menuju “sisi lain” pantai yang cukup menarik untuk diabadikan lewat kamera. Tidak tahu ke arah mana, namun tempatnya cukup tenang dari keramaian, tidak ada pasir namun hanya batu-batu laut. Namun, spot lautnya untuk berfoto disana sangat bagus. Setelah puas kami memutuskan pulang dan menyempatkan Solat Ashar di Masjid Agung Demak yang kaya akan sejarah. Layaknya situs bersejarah lainnya, disana banyak juga wisatawan dengan bis-bis yang melakukan kunjungan wisata sejarah ataupun wisata religi di Masjid yang diperkirakan mulai dibangun oleh Raja Kesultanan Demak pertama, Raden Patah pada abad ke-15 Masehi dan pernah menjadi tempat berkumpulnya Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Tanah Air.

Menara Mesjid Agung Demak
Pasir Putih Pantai Bandengan
Sisi Lain Pantai Bandengan



Mungkin Berguna :

Tiket Masuk : Rp 5000/orang menggunakan Motor


Jumat, 05 Oktober 2012

Perjalanan Menuju Pekerjaan Impian

google.com

Kali ini saya akan berkicau sedikit mengenai bagaimana langkah-langkah saya dalam mencari kerja. Sebagai seorang mahasiswa vokasi di sebuah institusi yang menjunjung tinggi moto “cepat mendapat kerja”, pekerjaan adalah tujuan utama setelah dinyatakan lulus. Begitu pula lingkungan keluarga yang secara langsung mendorong saya untuk segera mendapat pekerjaan setelah lulus. Namun, pekerjaan seperti apa yang saya inginkan tidak bisa saya pendam. Itulah yang kemudian cukup mempengaruhi saya untuk berprinsip tidak mencari pekerjaan sembarangan.

Ketika teman-teman saya sudah mulai mencari lowongan pekerjaan di industri-industri, saya yang berstatus mahasiswa tingkat akhir mencoba fokus pada Tugas Akhir saya. Saya mengambil Tugas Akhir memang sesuai dengan passion saya. Programming. Ya, entah kenapa ada ketertarikan yang kuat pada bidang tersebut, walaupun saya mengakui skill saya memang belum memadai. Bekerja hingga larut malam untuk membuat sebuah fungsi menjadi rutinitas tiap hari saya. Tugas akhir bagi saya adalah tugas awal dimana saya mengawali langkah nyata saya dalam dunia programming. Dorongan dan target untuk dapat menyelesaikan tugas akhir tanpa banyak bantuan dari orang lain pun mendorong saya untuk tidak dulu mengambil kesempatan berbagai lowongan kerja yang ada. Itulah yang membuat saya sedikit “tertinggal” dalam mendapat pekerjaan.

Saat ditanya, saya hanya menjawab “Saya pengen kerja di Jakarta”. Namun saya merasa saya berkeinginan kuat untuk mengejar impian saya walaupun harus lebih lama dari orang lain. Saya hanya berusaha berbeda dari orang lain. Saya ingin bekerja karena mimpi buka karena gaji.

Namun dorongan fokus pada TA (Tugas Akhir) membuat waktu sidang saya relatif cepat. Saya dapat sidang sebelum puasa. Setelah itu saya mulai mencari kerja, berbagai posisi saya lamar melalui e-mail dan banyak pula yang berhubungan dengan bidang IT. Namun seperti belum rejeki, saya tak kunjung dapat panggilan. Sampai akhirnya saya mendapat panggilan test kerja di Jakarta di bidang telekomunikasi. Sekalian pulang ke Jawa Barat sayapun menjalani test yang hanya interview, saya merasa ada yang aneh dalam test tersebut dan benar saja pada akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya tidak mengambil pekerjaan itu walaupun diterima . Pulang ke rumah saya masih sering mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, bahkan lewat referensi teman bapak saya, saya mendapat panggilan kerja di pabrik. Namun jiwa saya berkata lain dan saya menolak pekerjaan itu.

Tidak adanya panggilan dari pekerjaan yang saya inginkan membuat prinsip saya perlahan memudar. Saya menurunkan target saya untuk hanya bekerja dimana saja. Sampai sebelum wisuda saya coba mengikuti acara Job Fair dan melamar beberapa. Melihat teman-teman “sepermainan” saya yang sudah bekerja membuat saya makin menurunkan prinsip saya. Tapi jauh dalam hati dan doa saya saya masih berharap pada pekerjaan yang saya impikan. Doa untuk selalu ikhlas menerima pemberian-Nya selalu saya panjatkan. Berusaha selalu berfikir positif tentang apapun yang nantinya saya dapat. Walau sekecil apapun api tekad di hati saya memberikan keyakinan kuat pada tiap doa dan usaha saya bahwa keajaiban bersama orang-orang yang berani.

Dan benar saja, Allah selalu mudah berkehendak. Sebelum wisuda, dengan impian yang hanya tinggal saya yakinkan pada doa saya, saya mendapat rejeki yang tak terduga. Sebuah perusahaan yang saya sendiri sempat lupa kapan melamarnya menelepon saya untuk test untuk bagian PHP Programmer. Betapa senangnya saya saat itu, betapa api tekad yang tadinya hanya sebesar api lilin seolah menjelma menjadi obor olimpiade. Saya berusaha dan belajar untuk menghadapi test tersebut, terus berdoa dan tetap berharap dapat ikhlas untuk segala hasilnya nanti. Pada hari Selasa 2 oktober 2012, dua hari setelah saya menerima ijazah, saya mengikuti test dengan penuh kebahagiaan karena Allah kembali memberi kesempatan pada saya. Seusai test saya berusaha menyerahkan hasilnya kepada-Nya dan hanya berdoa. Dan, segala rasa syukur saya tercurah saat hari Rabu 3 Oktober 2012 saya di telpon dan dikabarkan bahwa saya diterima disana untuk program pelatihan Java Programmer. Sebuah impian yang hadir dari keinginan kuat dan doa yang kuat. Saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa Allah memerintahkan saya untuk mendekatkan diri pada-Nya agar menjadi kebiasaan bagi saya kelak sebelum kemudian Dia menjawab doa saya.

Kamis, 04 Oktober 2012

Solo, The Spirit of Us



Membangkitkan kembali gairah dalam menjalin hubungan adalah hal yang penting demi keawetan suatu hubungan. Apalagi saat sedang dalam masa-masa LDR (Long Distance Relationship), memanfaatkan peluang ketemuan untuk membangun spirit menjadi hal yang wajib. Spirit bisa dibangun dengan melakukan hal-hal yang tidak dapat setiap hari dilakukan. Bagi kami, kami memilih untuk travelling suatu tempat, agar dapat merasakan cinta di setiap jengkal jarak dan waktu yang kami lalui dan mendapat pengalaman baru akan wisata-wisata di bumi pertiwi. Kali ini tujuan kami yaitu Kota Surakarta (Solo), salah satu kota dengan daya tarik berupa warisan budaya yang kental berupa Keraton dan Kain Batik. Setelah browsing dan mencari reverensi nama-nama tempat wisata, kamipun siap menuju Kota Solo dangan tema “The Spirit of Us”. Dengan menggunakan motor kamipun bertolak dari Semarang pukul 06.30 pada Minggu pagi yang cerah, 9 September 2012.


Pom Bensin Jalan Raya Boyolali-Solo
Untuk mencapai Solo kami berjalan ke arah selatan dari Semarang mengikuti plang “Solo/Yogya”. Perjalanan dengan kecepatan relatif sedang memakan waktu sekitar 3 jam melewati beberapa kota yaitu Ungaran, Salatiga, dan Boyolali. Sepanjang perjalanan menurut saya tidak ada pemandangan yang cukup berarti hanya kota dan sawah-sawah. Di Kota Salatiga kami sempat khawatir karena matahari di kota kaki Gunung Merbabu itu tiba-tiba tertutup awan hitam. Kami khawatir karena tidak membawa jas hujan, tapi untung saja memasuki Kota Boyolali matahari kembali menyapa kami. Kami sempat rehat cukup lama di pom bensin jalan raya Boyolali-Solo yang memiliki mushola dan tempat istirahat yang asri sebelum melanjutkan perjalanan.


Kereta Uap Jalan Slamet Riyadi
Setelah rehat kami langsung menuju Solo tanpa ada rehat lagi. Kami memasuki jalan protokol Solo (Jl. Slamet Riyadi) sekitar pukul 09.30. Kesan pertama saya yaitu “Beda”, karena memang saya belum pernah kesana. Jl. Slamet Riyadi merupaka jalan satu arah yang cukup lebar dengan trotoar yang rapi dengan taman-taman kecil nan asri dan tempat duduk bagi para pelancong yang semuanya baru saya temui di Solo The Spirit of Java ini. Di sana juga ada rel kereta di pinggir jalan yang merupakan jalur railbus salah satu transportasi kebanggaan Kota Solo. Saat disana kebetulan sedang ada rombongan yang menyewa kereta api uap yang menjadi bonus pemandangan bagi kami. Sepanjang perjalan kami mulai memilih tujuan wisata kami, dan yang pertama kami putuskan menuju Keraton Surakarta Hadiningrat.


Keraton

Salah satu Kereta Kencana Sultan
Dengan kepercayaan penuh pada plang kamipun masuk ke kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat yang hanya belok kanan dari Monumen Slamet Riyadi. Keraton Surakata sendiri merupakan istana Kesunanan Surakarta yang didirikan oleh Sultan Pakubuwono II pada tahun 1744. Ini merupakan istana terakhir Kerajaan Mataram dan saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram kepada VOC (Belanda). Sebelum memutuskan untuk parkir di Komplek Kemandungan (komplek wisata utama Keraton) kami berkeliling dulu dan ternyata kawasan keraton isinya hanya tembok-tembok tinggi dengan ornamen khas dan patung-patung. Di balik tembok-tembok itu baru berisi rumah-rumah yang menurut saya serumpun (RT atau RW). Kami melewati Alun-alun Lor (Utara) dengan yang terdapat 2 pohon beringin yang dipagari di tengahnya (Dewodaru dan Joyodaru). Setelah berkeliling kami memutuskan untuk parkir dan memasuki kawasan Kemandungan. Sebelumnya kami sempat berfoto di garasi kendaraan Sultan Pakubuwono berupa Kereta Kencana dan mobil-mobil tua. Namun ada satu mobil Suzuki APV yang katanya kendaraan cucu sultan. Disana juga ada 2 orang penjaga yang dapat pula diajak berfoto bersama.

Pekarangan Ruang Utama Keraton
Selesai foto, kami masuk ke museum Keraton. Layaknya museum biasa isinya yaitu peninggalan-peninggalan Keraton kuno seperti senjata, kendaraan, kebudayaan, perkakas, dan surat-surat perjanjian. Kami masuk ke bangunan utama Keraton dengan pekarangan beralas pasir hitam pantai selatan dan deretan pohon sawo kecik yang melambangkan sesuatu yang serba bagus yang jumlahnya 76 buah. Disana pengunjung dilarang menggunkan alas kaki terbuka (sandal). Jika memakai sandal maka harus dilepas. Bangunan utama disana juga dihiasi beberapa patung khas Eropa kuno berupa patung malaikat bersayap dan ornamennya berupa tiang putih bergerigi seperti kuil-kuil yunani kuno. Setelah cukup puas kami bertolak dari Keraton dan mencari suasana alam dengan memutuskan menuju lereng Gunung Lawu (Wisata Tawangmangu).


Tawangmangu

Grojogan Sewu
Untuk mencapai Tawangmangu dari kota Solo kita mengambil jalan dengan arah Surabaya menuju kota Karanganyar. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Menuju gunung merupakan sensasi tersendiri bagi saya, saat Gunung Lawu mulai terlihat, hasrat mendaki saya semakin besar. Setelah melewati medan menanjak dan berkelok kamipun tiba di objek wisata Air Terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu. Tanpa basa basi kami langsung membeli tiket masuk. Kamipun turun menuju lokasi air terjun melalui anak tangga yang banyak dengan beberapa kera di sekitarnya. Disana merupakan tempat bersantai bersama keluarga dan pasangan, hawa gunung yang dingin seolah menjadi kehangatan ditengah canda tawa. Selain air terjun setinggi 81 meter disana terdapat area outbound, arung jeram kecil, dan kolam renang bagi anak-anak. Disana kami berfoto, makan dan mengobrol sambil menikmati gemericik air di bebatuan sungai di bawah air terjun. Selepas solat ashar kami memutuskan pulang dan melewati anak tangga lagi untuk naik. Ternyata jumlah anak tangga dari pintu masuk hingga keluar adalah 1.250 buah (lumayan tinggi juga ya). Kamipun bertolak langsung dari Tawangmangu menuju Semarang dan tiba di Semarang sekitar pukul 08.00 dengan selamat.



Bonus Picture

Alun-alun Lor (Utara)
Menu Makan Siang

Ornamen Yunani Kuno di Keraton Surakarta

Aset Museum (Seni Gamelan Jawa)

Mungkin Berguna

Foto di garasi Keraton : 3.000/orang
Foto dengan penjaga : seikhlasnya
Masuk Museum Keraton : 10.000/orang
Masuk Grojogan Sewu : 6.000/orang



Selasa, 21 Agustus 2012

Tempat Tertinggi Ke 8 di Pulau Jawa


Ini sudah lama ingin saya tulis , tapi karena kesibukan Tugas Akhir jadi saya baru sempet nulis pengalaman saya “muncak” ini.
Kali ini yang saya coba adalah Gunung Sindoro di Wonosobo, Jawa Tengah yang merupakan gunung tertinggi ke-8 di pulau Jawa diatas Gunung Merbabu yang pernah saya taklukan dengan ketinggian 3154 meter diatas permukaan laut (kata penjaga basecamp).
Banyak sekali pengalaman berbeda dan momem-momen menarik selama perjalan, jadi sayang jika tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Pengalaman pertama adalah teman baru, kali ini saya mendaki bersama Adit, Alim (lagi-lagi), dan teman yang baru saya kenal Lilik.

Sedikit info mengenai Gunung Sindoro.

Gunung Sindara, biasa disebut Sindoro, atau juga Sundoro (altitudo 3.150 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung vulkano aktif yang terletak di Jawa TengahIndonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindara terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing.
Kawah yang disertai jurang dapat ditemukan di sisi barat laut ke selatan gunung, dan yang terbesar disebut Kembang. Sebuah kubah lava kecil menempati puncak gunung berapi. Sejarah letusan Gunung Sindara yang telah terjadi sebagian besar berjenis ringan sampai sedang (letusan freatik).
Hutan di kawasan Gunung Sundoro mempunyai bertipe hutan Dipterokarp Bukithutan Dipterokarp Atashutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Antara November 2011 - 30 Maret 2012. Terjadi semburan asap solfatara di beberapa tempat pada dinding dan dasar kawah utama. Aktivitas kegempaan juga mengalami peningkatan sejak bulan November 2011. (Wikipedia)

Perjalan dimulai jam 16.30 dari Banyumanik, kita menunggu bis jurusan purwokerto via wonosobo di depan terminal dan melakukan hal bodoh dengan menolak bis tersebut dan itu membuat kita harus menunggu kira-kira satu jam lagi untuk bis berikutnya. Tapi, dibalik kesulitan pasti ada keindahan, dan itu kita rasakan saat melihat sunset dari pinggir jalan di terminal Banyumanik.
Perjalanan dilanjutkan dengan memakai bus menuju desa Kledung awal jalur pendakian Kledung, di bus isinya hanya tidur karena lelah menunggu sampai ada pengamen yang berisik sekali dengan suara lantang menyanyi yang liriknya “kami mengamen tidak untuk mabuk-mabukan” tapi aromanya ciu (miras khas Solo) ironis sekali.
Tiba di desa kledung sekitar pukul 22.00, dan suasananya sepi sekali tidak ada orang diluar satupun dan yang membuat tambah mencekam adalah ada suara musik gamelan jawa ditengah keheningan desa kaki gunung. Dengan sedikit usaha mencari akhirnya kami menemukan basecamp pendakian. Seperti biasa kami mendaftar dan kami tidak langsung naik , tapi menikmati santap malam di pinggir jalan raya dan ditengah-tengah Gunung Sumbing dan Sindoro, rasanya sungguh nikmat, percayalah.
Selepas solat Isya demi keselamatan, kita mulai pendakian pada pukul 23.30. Trek pertama berupa perkebunan tembakau milik dinas perhutani baru sekitar 1 jam kita mulai memasuki hutan. Vegetasi awal yang kami temui adalah pinus, tanaman khas gunung. Tidak ada kesulitan sebenarnya, namun ada sedikit gangguan mistik yang sempat membuat merinding dan setelah dibahas ternyata hanya suara gesekan ranting pohon. Sampai sekitar pukul 4 pagi kita sudah mencapai titik lelah dan lapar jadi kita memutuskan sejenak melepas lelah sambil menikmati kopi-roti (wedang ora nggenah) dan solat subuh.
Kami lanjutkan jalan dan sepertinya sudah summit attack, dan yang membuat kesal adalah puncak bayangan yang banyak. Karena tertipu dua kali jadi kami memutuskan istirahat, makan dan tidur karena memang ngantuk dan lapar sudah mendera. Sangat terasa sekali berjalan selama 9 jam, belum sampai, dan tertipu. Menu makan kami adalah indomie dicampur sarden dan nasi. Alim mencoba membawa makan baru berserat yaitu agar-agar, namun sayang sekali agar-agarnya tumpah dan hanya tersisa sedikit dan tentu saja jadi bahan lelucon (lelucon agar-agar). Selepas tidur sekitar 45 menit kami lanjut jalan dan ditipu puncak bayangan lagi dua kali dan seharusnya di bagian ini adalah padang edelweis namun sayang sedang tidak mekar. Baru sekitar pukul 10 kita tiba di puncak Sindoro.
Bagi saya pemandangan puncaknya baru karena disana ada kawahnya tidak seperti gunung-gunung yang pernah saya naiki sebelumnya ada kawah mati disana dan juga ada sebuah tanah lapang yang luas dan datar dan saya kira merupakan tempat ngecamp. Pemandangan yang paling jelas adalah Gunung Sumbing, terlihat juga Gunung Merbabu dan Gunung Merapi dibelkangnya. Kami istirahat sejenak di tanah lapang tersebut. Disana ada pendaki warga sekitar Sindoro dan dua orang pendaki yang sedang berfoto-foto. Walaupun tengah hari tapi di puncak rasanya tetap saja dingin.
Sekitar pukul 12 kami memutuskan untuk turun dan berpisah dengan Puncak Sindoro. Untuk turun gunung dirasa tidak terlalu berat, hanya ada insiden sandal adit sebelah kiri masuk ke lubang dan tidak bisa diambil. Lalu dia memutuskan untuk menggunakan sebelah sandal saja sampai akhirnya menemukan sepatu bekas, walau sayang itu sebelah kanan juga tapi tak apalah daripada nyeker. Jadi bisa dibayangkan seorang pendaki dengan alas kaki setengah sandal setengah sepatu dan semuanya kanan. Haha
Selama diperjalan yang kami pikirkan hanya “sego endog” karena memang kami sangat lapar sampai akhirnya sekitar pukul 6 sore kami tiba di basecamp dan benar saja langsung memesan “sego endog” sambil minum teh hangat di rumah warga. Tapi disana ada teror dari anak si penjual, anaknya perempuan masih TK dan ampun nakalnya minta maaf. Kami berempat hampir kalah menghadapi teror anak itu. Tapi kami mengerti kenakalan anak itu hanya karena dia tidak punya teman, ibunya menyiapkan makan bagi pendaki dan ayahnya melakukan pendataan para pendaki, kasian dia.
Selepas isya kami pulang, sambil menunggu bis kami sempat menikmati kopi panas di warung pinggir jalan seperti malam sebelumnya. Kami menunggu bus cukup lama dan sempat tidur di pinggir jalan hingga akhirnya pukul 10an bis Semarang baru lewat dan langsung back to Semarang. Kamipun touchdown pukul 1.00 di terminal Banyumanik.

Mungkin Berguna 
Ongkos : 
Bus Semarang - Wonosobo dan sebaliknya : Rp 18.000,- / orang
Bayar Pendakian : Rp 3.000,- /orang



Peta Jalur Pendakian Gunung Sindoro

Menunggu Bus di Depan Terminal Banyumanik, Semarang

Menu Sarapan (mie-sarden-nasi)

Gunung Sumbing dari Puncak Sindoro

Tanah Lapang di Puncak Sindoro

Berpose di Puncak

Pelaku Teror di Warung "Sego-Endog"

Tidur Saat Menunggu Bus