Rabu, 01 Januari 2014

Judulnya Ikut Mudik Keluarga Orang

“Libur Natal 2013 teman-teman pada mudik ke keluarganya masing-masing. Karena saya agak nyeleneh, saya malah mudik ke keluarga teman saya”


Jamur
Karena ingin menambah daerah jajahan di Jawa Barat, saya ikut teman kos saya Hilmi ke kampungnya di Cianjur. Pulang kerja langsung kami menuju pool Primajasa di Cililitan untuk ke Bandung dulu. Paginya baru ke Cianjur pakai motor.

Kami naik bus jurusan Jakarta – Tasik dan turun di tengah Tol Cipularang yaitu di Cimareme. Saya tidak tahu itu daerah Bandung bagian mana. Ada satu lagi teman saya, Tanzah, yang bareng di bus karena dia mau mudik ke Tasik. Ke keluarganya sendiri, lho, bukan keluarga orang lain.

Yang lucu adalah saat naik bus. Tanzah yang seorang Milanisti (fans AC Milan) dan sudah lengkap dengan syal AC Milan, tiba-tiba saat naik bus mengumpat “Anjir Inter !”. Baru sadar kami ternyata bangku busnya pakai sarung berlambang Inter Milan. Hahaha! Mungkin rasanya sudah pingin dibakar itu bus sama dia.

Sampai jam 11 malam di rumah Hilmi, saya sempatkan makan dan blogging sedikit kemudian tepar.

Paginya kami berangkat menuju Cianjur. Saya baru tahu kalau keluarga si Hilmi juga menuju Cianjur dengan bus. Jalan menuju Cianjur dari Bandung yaitu lewat Padalarang yang jalurnya sama seperti jalur Bandung – Purwakarta tanpa lewat tol.

Perjalanan 3 jam kami jeda dengan istirahat di deretan penjual cincau di perbatasan Kabupaten Cianjur. Nikmatnya minum cincau lesehan di trotoar. Katanya, disana tadinya hanya satu penjual, tapi seperti orang Indonesia pada umumnya, terus bertambah dan jadilah deretan penjual cincau. Hanya 4000 satu gelas sudah cukup mengurai kelelahan duduk di motor.

Jalan Dalam Janji

“Alasan jalan-jalan itu bisa beragam, ada yang berlibur, bekerja, kunjungan, dan lain-lain tergantung kita memaknainya.”


Kampung Baduy
Sebenarnya saya mau bercerita tentang trip ke Suku Baduy, Banten. Tapi karena saya hanya berada tiga rumah dari pintu masuk Baduy dan mandi di WC umum seharga 4000, apa yang mau diceritakan?

Rencana ke Baduy ini sudah cukup matang sebenarnya. Sudah browsing angkutan kesana, tentang Suku Baduy, dan minta kontak orang Baduy Luar bernama Pak Syarif dari teman kantor saya, Mbak Aruna namanya. Dari dia saya dapat info berguna dan karena dia juga judul tulisan ini seperti judul cerpen.

Ceritanya, beberapa waktu lalu anak XL termasuk Mbak Aruna berkunjung ke Baduy dan bermalam di tempat Pak Syarif. Karena tahu saya mau kesana, dia memberi titipan buat Pak Syarif. Sepertinya dia tidak memperhitungkan saya sebagai cowo, yang males ribet, saat memberi titipan. Tak terbayang titipannya adalah foto berfigura berukuran sekitar 60 x 50 cm. Saya bakal oper-oper angkot dengan nenteng-nenteng ini?

Tapi sudah terlanjur dia bawa, ya sudah saya sanggupi saja. Pulang kantor masih semangat, Didot pun masih memberi kabar siap berangkat. Tapi, lha kok, pas saya sudah packing dan siap berangkat, tiba-tiba Didot cancel karena ada masalah kerjaan. Glek! Berasa beneran jum'at keramat pas di hari Bu Atut, Gubernur Banten ditahan KPK.

Selasa, 31 Desember 2013

Terbayarlah Semua Perjuangan, Gunung Gede

“Setelah perjuangan urus mengurus yang panjang, akhirnya semua terbayar manis di puncak Gunung Gede.”


Gunung Gede adalah gunung di Jawa Barat bertipe yang memliki ketinggian 2958 mdpl dengan puncaknya ditandai oleh plang bertuliskan “Puncak Gede 2958 mdpl”. Gunung Gede ini gagah berdiri di tiga kota yaitu Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Terakhir meletus tahun 1957 dan masih tertidur sampai sekarang.

We Are
Bersama Gunung Pangrango, Gunung Gede berada dibawah naungan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) yang berperan sebagai pionir sejarah konservasi Indonesia. Bersama 5 Taman Nasional pertama yang ada di Indonesia, TNGP terus menjaga titipan tuhan yang tak ternilai, alam.

Hutan hujan tropis pegununagn yang ciamik, vegetasi yang beragam dan unik (bahkan katanya ada tanaman yang belum dikenal secara ilmiah), dan satwa-satwa yang diantaranya hampir punah menjadi harta karun milik TNGP. Itulah mengapa izin pendakiannya ketat. Bahkan dari Januari – Maret 2014, pendakian ditutup untuk penyeimbangan ekosistem.

Jam menujukan pukul 2.00, alarm kami masing-masing berdering bersahutan memberi tanda petualangan akan dimulai kembali. Ya, kami memang berniat memburu fajar dari Kandang Badak. Dengan hanya membawa perbekalan secukupnya, kami mulai menuju titik tertinggi Gunung Gede.

“Mini Market” di Atas Gunung

“Fasilitas Gunung Gede tidak hanya untuk pelancong, pendaki yang sudah sampai puncak pun masih diberi failitas itu”


Karena akses yang mudah dari Jakarta ditambah trek yang tidak terlalu sulit dan pengelolaan serta fasiltas yang baik, Gunung Gede Pangrango menjadi gunung foavorit pendaki Jakarta. Tak kurang dari 500 orang biasanya naik kesini saat weekend. banyak juga yang datang sekeluarga (ayah, ibu, anak, kakek, nenek). Bahkan anak perempuan 5 tahun pun turun bareng kami dari puncak. Penerus tongkat estafet pendaki, nih!

Pop Mie dan Fajar
Di tengah perjalanan menuju Kandang Badak, terkadang ada bapak-bapak menawarkan nasi udak dan gorengan. Kami bertanya-tanya juga, apa itu betulan? Dan ternyata setelah sampai Kandang Badak kami baru percaya. Di antara tenda-tenda warna-warni, ada tenda sederhana dari terpal dan kayu yang memajang rentengan kopi, susu, dan tumpukan pop-mie.

Mereka adalah pedagang yang memfasilitasi pendaki sampai puncak. Hmm, sampai segini kah fasilitas Gunung Gede ? “Kopi – kopi, pop-mie, mas !”, kata mereka menjajakan dagangannya.

Pedagang tidak hanya ada di Kandang Badak, di puncak pun banyak pedagang yang menjajakan juga nasi uduk, roti dan gorengan bakwan.

Mall dan Pasar Kaget di Gunung Gede

“Dari Mas Fazri, katanya trek Gunung Gede itu seperti di mall.”


Setelah semua beres dan ijin naik sudah clear. Langkah pertama saya, Didot dan Agung pun dimulai. Jalan cukup ramai, bercampur antara pendaki dan pelancong biasa yang hanya bertujuan ke Curug Cibeureum.

Karena ada tempat wisata itu juga lah yang menyebabkan fasilitas disana lengkap. Ternyata benar kata Mas Fazri, trekknya seperi di “mall”. Jalan batu berundak tersusun sangat rapi. Tanpa usaha keras kecuali mental dan fisik kami hanya mengikuti jalur yang sudah disediakan. Dari pintu masuk sampai Kandang Badak, jalurnya terus seperti itu dipayungi pohon-pohon besar. Dimanja sekali para pendaki.

Telaga Biru dan Orangnya Sama Kerennya :p
Jalur Cibodas memang terkenal karena banyak checkpoint-checkpoint yang bisa dinikmati. Setidaknya ada Telaga Biru, Curug Cibeureum, dan Sungai Air Panas yang bisa disinggahi.

Telaga Biru. Telaga yang selalu berwarna biru karena adanya ganggang biru ini jadi titik pertama yang kami nikmati. Sekitar setengah jam berjalan dengan jarak 1,5 km dari pintu masuk Cibodas, kami membasuh badan di parit kecil yang airnya cukup jernih dan berfoto di Telaga Biru yang terlihat ada ikan berwarna orange berenang bebas.

Senin, 30 Desember 2013

Warung Rock ‘n Roll, Cibodas

“Diantara warung-warung yang pernah saya singgahi sebelum mendaki, ini warung yang paling gaul men!”

Cita Rasa Amrik
Kawasan Cibodas, Puncak merupakan tempat wisata yang cukup digemari warga Jakarta. Disana ada Kebun Raya Cibodas, Air Terjun Cibeureum, dan bagi yang suka trekking tentu saja Gunung Gede-Pangrango bisa jadi tujuan.

Hawanya yang sejuk kontras dengan asap hitam dan udara gersang di Jakarta. Karena merupakan tempat wisata itulah, jadi fasilitasnya cukup lengkap. WC umum, warung oleh-oleh, terminal, dan warung makan berjejer disana. Bahkan ada toko Outdoor Gear bagi yang kurang peralatannya saat mau mendaki.

Karena datang pada dini hari, kami memutuskan mengisi energi sampai pagi sebelum mendaki Gunung Gede. Tanah lapang parkiran wisatawan yang akan ke Curug Cibeureum jadi lapak kami. Sambil menahan dingin, kami memaksakan tidur walau seperti biasa, hanya berganti-ganti posisi tidur saja.

Pagi-paginya, entah karena lelah atau memang baru dibangun semalam saat kami tidur, ternyata di belakang tempat tidur kami adalah warung kopi. Di ujung parkiran tepatnya, nama warungnya “Cave Rhino” yang bergambar Badak. Kami kesana untuk sarapan. Saat pertama masuk, kesan pertama adalah “Rock ‘n Roll, men!”. Bagaimana tidak, denting piano lagu Aerosmith – Crazy mengalun menyambut matahari pagi. Sambil memesan bandrek susu hangat, sambil bersenandung menirukan suara Steve Tyler, vokalis Aerosmith. “I go crazy, crazy, baby, I go crazy”.