Senin, 15 Agustus 2011

Rendra Si Burung Merak


WS Rendra, Ia Tak Pernah Pergi . Buku yang baru saja menjadi santapan saya. Buku tentang satu dari banyak orang-orang besar di-Indonesia dalam bidangnya masing-masing. WS Rendra salha satu seniman besar Indonesia memang secara keseluruhan memberikan banyak inspirasi hidup baik untuk para seniman sendiri, maupun kepada kita. Inspirasi tersebut tidak lain adalah sifat-sifat Rendra dalam menjalani hidupnya.
Mungkin dalam visi hidup saya pribadi, orientasi Rendra yang merupakan pekerja seni berbeda dengan orientasi saya yang telah memilih jalur teknologi sebagai masa depan. Dia yang berhadapan dengan kehidupan sosial-politik, berbeda dengan saya yang harus menghadapi alat-alat elektronik dalam dunia profesi saya kelak. Namun terlepas dari itu semua, dalam buku tersebut saya menarik 3 sifat Rendra yang sangat menarik untuk sedikit dikupas di blog ini.

1. Totalitas
Totalitas mungkin kata yang tepat bagi seorang Rendra di dunia seni Indonesia. Ia benar-benar menghidupi kehidupannya dari seni. Ia memulai dengan pendidikannya di dunia seni, pementasan-pementasan drama dan pembacaan puisi, dan pembentukan Bengkel Teater dimana ia dan anggota teaternya hidup disana dan bisa dikatakan “miskin” . Mereka hidup mempelajari seni disana, baik drama maupun syair.
Rendra tadinya dilarang oleh Mbak Narti (istri pertamanya) untuk menjadi seniman dengan alasan kehidupan yang tak terjamin namun dia malah membuat Mbak Narti turut “menikmati” kehidupan di Bengkel Teater Rendra.
Rendra pun menggratiskan semua pendidikan seni bagi yang ingin belajar di Bengkel Teaternya. Karena totalitasnya inilah, ia sering mendapatkan hadiah di bidang seni, yang digunakan sebagai biaya hidup di Bengkel Teaternya bersama anggota-anggotanya, keliling Eropa, melahirkan banyak seniman-seniman (drama dan syair khususnya) seperti hasil didikannya, dan dianggap menjadi salah satu seniman besar di Indonesia yang karyanya tak akan pernah mati.

2. Kepedulian
Kepedulian Rendra terutama pada bangsa dan negara Indonesia telah banyak tertuang pada karya-karyanya. Rendra berani terjun ke masyarakat dan menerapkan kepeduliannya. Selain terhadap masyarakat, ia pun telah banyak melahirkan karya-karya yang merupakan kritik tajam terhadap pemerintah. Saking pedulinya terhadap bangsanya, ketika Rendra di Amerika pun ia meminta Mbak Narti untuk selalu mengirimkan surat kabar lokal dan nasional dari Indonesia, dan lahirlah syair Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta.
Tentu saja kepedulian Rendra yang besar itu tidak datang tiba-tiba, manjing ing kahanan nggayuh karsaning hyang widhi (masuk dalam konteks kehidupan untuk mendapat rahmat Tuhan) adalah kalimat yang diajarkan guru pribadi Rendra, Mas Junadi, yang tak lain adalah pembantu Rendra sendiri, dia mengajarkan bahwa kepedulian berawal dari hal kecil seperti baju-bajunya, lemarinya, kamarnya dan meluas hingga bangsa dan negaranya (Indonesia).

3. Berani dan Lugas
Berani mengkritik, berani hidup miskin, berani masuk penjara itulah Rendra. Karya-karyanya memang dinilai sangat berani dalam mengkritik pemerintah bahkan bahasa yang digunakannyapun banyak dibilang “vulgar”.
Tapi itulah Rendra, walaupun karyanya banyak dicekal oleh pemerintah ia tetap dengan berani melahirkan karya karya yang secara gamblang mengkritik pemerintah atas nama menegakkan martabat manusia (rakyat).
Tidak hanya dicekal, Rendrapun pernah masuk penjara pada masa pemerintahan orde baru dan bahkan ketika menggelar pertunjukan karyanya, ia pernah dilempari oleh amoniak. Namun, hal tersebut tak dapat meghentikannya untuk melahirkan karya-karya besar yang penuh keberanian, lugas dan tentu saja menggambarkan kepeduliannya terhadap Tanah Airnya.

Itulah sedikit uraian saya tentang sifat tokoh besar yang memiliki jiwa yang sangat besar yang layak untuk sekedar dibaca dan dipahami. Dan semoga menjadi sedikit inspirasi bagi anda semua.


Sajak Sebatang Lisong
.........
.........
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat
Apakah artinya kesenian
Bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir
Bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA
(ITB Bandung – 19 Agustus 1978)