Rabu, 01 Januari 2014

Dilema Situs Gunung Padang

“Salah satu tempat terkenal di kota lumbung padi, Cianjur adalah sebuah situs sejarah purbakala, Gunung Padang.”


Fajar, Sawah, dan Embun
Adzan subuh terdengar namun diskip sampai setengah enam. Selepas solat subuh dan masih memakai sarung, saya ditarik oleh aroma padi yang menghijau dengan kilauan embun.

Sawah, sesuatu yang tabu di kota saya tinggal sekarang, Jakarta. Padahal semua roda kehidupan berawal dari sini, kecuali karena adanya import beras. Pagi yang cerah itu mengawali hari kedua saya di Cianjur.

Di pematang sawah, menatap ke timur pada hamparan pegunungan yang menerawang, saya menyaksikan sang fajar perlahan mengintip dari baliknya. Sinarnya menghatam bumi dan padi-padi, menambah kilau embun yang perlahan mengering. Warna hijau sekarang berhias cahaya orange matahari.

Agenda hari itu yaitu menuju Situs Gunung Padang, situs peniggalan zaman batu besar atau Megalitikum yang terkenal di Cianjur.

Judulnya Ikut Mudik Keluarga Orang

“Libur Natal 2013 teman-teman pada mudik ke keluarganya masing-masing. Karena saya agak nyeleneh, saya malah mudik ke keluarga teman saya”


Jamur
Karena ingin menambah daerah jajahan di Jawa Barat, saya ikut teman kos saya Hilmi ke kampungnya di Cianjur. Pulang kerja langsung kami menuju pool Primajasa di Cililitan untuk ke Bandung dulu. Paginya baru ke Cianjur pakai motor.

Kami naik bus jurusan Jakarta – Tasik dan turun di tengah Tol Cipularang yaitu di Cimareme. Saya tidak tahu itu daerah Bandung bagian mana. Ada satu lagi teman saya, Tanzah, yang bareng di bus karena dia mau mudik ke Tasik. Ke keluarganya sendiri, lho, bukan keluarga orang lain.

Yang lucu adalah saat naik bus. Tanzah yang seorang Milanisti (fans AC Milan) dan sudah lengkap dengan syal AC Milan, tiba-tiba saat naik bus mengumpat “Anjir Inter !”. Baru sadar kami ternyata bangku busnya pakai sarung berlambang Inter Milan. Hahaha! Mungkin rasanya sudah pingin dibakar itu bus sama dia.

Sampai jam 11 malam di rumah Hilmi, saya sempatkan makan dan blogging sedikit kemudian tepar.

Paginya kami berangkat menuju Cianjur. Saya baru tahu kalau keluarga si Hilmi juga menuju Cianjur dengan bus. Jalan menuju Cianjur dari Bandung yaitu lewat Padalarang yang jalurnya sama seperti jalur Bandung – Purwakarta tanpa lewat tol.

Perjalanan 3 jam kami jeda dengan istirahat di deretan penjual cincau di perbatasan Kabupaten Cianjur. Nikmatnya minum cincau lesehan di trotoar. Katanya, disana tadinya hanya satu penjual, tapi seperti orang Indonesia pada umumnya, terus bertambah dan jadilah deretan penjual cincau. Hanya 4000 satu gelas sudah cukup mengurai kelelahan duduk di motor.

Jalan Dalam Janji

“Alasan jalan-jalan itu bisa beragam, ada yang berlibur, bekerja, kunjungan, dan lain-lain tergantung kita memaknainya.”


Kampung Baduy
Sebenarnya saya mau bercerita tentang trip ke Suku Baduy, Banten. Tapi karena saya hanya berada tiga rumah dari pintu masuk Baduy dan mandi di WC umum seharga 4000, apa yang mau diceritakan?

Rencana ke Baduy ini sudah cukup matang sebenarnya. Sudah browsing angkutan kesana, tentang Suku Baduy, dan minta kontak orang Baduy Luar bernama Pak Syarif dari teman kantor saya, Mbak Aruna namanya. Dari dia saya dapat info berguna dan karena dia juga judul tulisan ini seperti judul cerpen.

Ceritanya, beberapa waktu lalu anak XL termasuk Mbak Aruna berkunjung ke Baduy dan bermalam di tempat Pak Syarif. Karena tahu saya mau kesana, dia memberi titipan buat Pak Syarif. Sepertinya dia tidak memperhitungkan saya sebagai cowo, yang males ribet, saat memberi titipan. Tak terbayang titipannya adalah foto berfigura berukuran sekitar 60 x 50 cm. Saya bakal oper-oper angkot dengan nenteng-nenteng ini?

Tapi sudah terlanjur dia bawa, ya sudah saya sanggupi saja. Pulang kantor masih semangat, Didot pun masih memberi kabar siap berangkat. Tapi, lha kok, pas saya sudah packing dan siap berangkat, tiba-tiba Didot cancel karena ada masalah kerjaan. Glek! Berasa beneran jum'at keramat pas di hari Bu Atut, Gubernur Banten ditahan KPK.