Jumat, 08 Juni 2012

Sendiri di Ibu Kota


Ini adalah kisah perjalan wisata saya sendirian di Kota Jakarta pada tanggal 16 Mei 2012. Tadinya saya hanya bermaksud pulang kampung, namun karena bosan dan berniat mencari ongkos termurah sampai Purwakarta saya memilih naik kereta Tawang Jaya dari Stasiun Semarang Poncol hingga Stasiun Jakarta Pasar Senen. Harga tiketnya relatif murah hanya Rp 33.500,- sudah sampai Jakarta. Keretanya berangkat dari St. Poncol pada pukul 19.00 dan sampai di St. Pasar Senen sekitar pukul 3.00 dini hari.

Sampai di St. Pasar Senen masih sepi karena memang belum subuh, jadi saya memutuskan untuk diam di stasiun sambil men-charge hp karena kebetulan memang low-bat. Saya menunggu sampai subuh lumayan dapat setengah penuh, lalu saya Solat Subuh dulu di masjid Al-Syarif depan St. Pasar Senen plus tidur dulu hingga sekitar pukul 6.30 pagi. Saya mulai berjalan ke destinasi pertama yaitu Kota Tua Jakarta dengan naik metro mini dari terminal dan membayar Rp 2.000,-. Saya turun di depan Museum Bank Indonesia dan mulai berkeliling, ternyata masih sepi dan belum ada kios yang buka apalagi museumnya. Jadi saya putuskan sarapan dulu di bubur ayam Jakarta di dekat Museum Bank Indonesia. Kemudian saya kembali ke Kawasan Taman Fatahillah dan duduk-duduk sambil membaca buku. Baru setelah Museum Sejarah Jakarta buka saya memutuskan untuk masuk, dan saya bareng dengan anak-anak SD.

Museum ini biasa disebut Museum Fatahillah, disini berisi tentang sejarah Kota Jakarta dan benda-benda antik peninggalan sejarah. Yang menarik pertama adalah terdapat Patung Dewa Yunani Hermes yang merupakan dewa pengantar pesan pada mitologi Yunani, dan bentuknya mirip seperti yang digambarkan di Novel Percy Jackon. Yang menarik berikutnya adalah Meriam Si Jagur dengan ‘Jempol Kejepit’ di bagian belakangnya yang merupakan lambang kesuburan, kejayaan, dan kekuatan. Meriam ini merupakan peninggalan Portugis yang digunakan sebagai senjata merebut Selat Malaka. Cukup membayar Rp 2.000,- kita bisa sedikit belajar sejarah Kota Jakarta.

Acara Alone Adventure saya lanjutkan ke Museum Wayang di dekat Museum Fatahillah dengan tiket masuk Rp 2.000,- . Museum Wayang ini isinya yaitu wayang-wayang dari berbagai daerah, seperti Wayang Gatotkaca, Ponokawan, Si Pitung dan lain-lain. Suasananya memang sepi sebagaimana museum di Indonesia pada umumnya dan yang membuat ill feel adalah saat menuju bagian belakang Museum, disana tercium bau masakan yang menyengat dan ternyata memang dapur dari kantin Kota Tua bergabung dengan bangunan Museum, menyedihkan sekali.

Saya pun lanjut ke destinasi selanjutnya, Pelabuhan Sunda Kelapa. Dengan berjalan kaki menuju Utara saya melewati Jembatan Kota Intan yaitu jembatan berusia 4 abad yang dibangun pada tahun 1628 dan dulunya berfungsi menghubungkan Benteng Belanda dan Benteng Inggris. Setelah berjalan sekitar 2 km sayapun sampai di Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan Pelabuhan tertua di Kota Jakarta. Saya tidak masuk ke Pelabuhan karena isinya truk-truk besar pengangkut barang. Di sana saya sempat mengunjungi Galangan VOC karena namanya menarik yang ternyata adalah cafe and resto dan Menara Syahbandar yang merupakan bagian dari Museum Bahari yang dulunya merupakan menara pemantau keluar-masuk kapal di Sunda Kelapa.

Puas di kawasan wisata Kota Tua, saya berniat lanjut ke Monas dan sebelumnya saya makan siang di Alfamart di Kota Tua yang ada corner-nya, harganya wajar seperti Alfamart pada umumnya dan bisa seduh pop-mie. Jadi, bisa jadi rekomendasi untuk wisatawan ‘pas-pasan’. Saya naik busway dari Halte Stasiun Kota dengan tarif Rp. 3.500,- (kemanapun asal tidak keluar dari halte). Saat itu pertama kalinya saya naik Busway *cheers*. Saya turun di Halte Monas, tapi sayang sekali disana hujan deras lalu saya memutuskan tidak jadi ke Monas dan langsung menuju ke Masjid Istiqlal naik Busway lagi.

Saya menuju Halte Harmoni, transit dan naik lagi ke Halte Juanda tepat di depan Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal memiliki bangunan yang bagus dengan tiang-tiang entah stainless atau apa saya tidak tahu, dan arsiteknya adalah seorang Kristen. Selesai Solat Dzuhur kira-kira pukul 14.00 saya kembali menuju St. Pasar Senen untuk menuju Purwakarta via kereta api Ekonomi pukul 17.30. Naik Busway lagi menuju Halte Harmoni dan transit lalu naik ke jurusan Pulo Gadung turun di Halte Senen. Kira-kira pukul 21.00 saya baru touchdown di rumah. Full Lonely Fun Day at Capital City of Jakarta.

Kesimpulannya ongkos murni Semarang Purwakarta saya hanya Rp 38.500, lebih murah dibanding bus Ekonomi Rp 60.000 dan kereta Harina Rp 115.000,- – Rp 140.000,-.

Mungkin Berguna :

Ongkos (dari Semarang)
1.       Kereta Ekonomi Tawang Jaya                   : Rp 33.500,-
2.       Metro mini Pasar Senen – Kota Tua          : Rp 2.000,-
3.       Busway (asal tidak keluar koridor)             : @Rp 3.500,-
4.       Kereta Ekonomi Jakarta -Purwakarta        : Rp 3.000,-
Wisata
1.       Museum Sejarah Jakarta                             : Rp 2.000,-
2.       Museum Wayang                                        : Rp 2.000,-


Cafe Batavia Kota Tua Jakarta

Meriam Si Jagur ('Jempol Kejepit')

7000 pon berat Meriam Si Jagur

Jembatan Kota Intan

Corner Alfamart Kota Tua

Minggu, 03 Juni 2012

Kritik pada ATM B*N


Kritik saya pada mesin ATM sebuah Bank tempat saya menabung (Bank B*N) yaitu pada penyediaan resi transaksi. Mungkin banyak yang tidak peduli atau memperhatikan, tetapi saya melihat ada yang tidak benar dalam penyediaan resi. Di bank tersebut setiap kita menarik uang kita akan diberikan resi yang langsung tercetak secara otomatis pada kertas. Bagitu juga jika kita hanya akan menge-cek saldo. Mungkin hal itu biasa saja, tapi hal itu menjadi salah karena di dalam ruang ATM itu tempat sampah yang disediakan menjadi penuh oleh resi yang oleh beberapa orang lebih memilih untuk membuangnya setelah melihat berapa sisa saldo mereka, contohnya saya. Lalu bagaimana jika ada orang yang mengecek saldo lalu menarik uang sebanyak 2 kali karena keterbatasan jumlah penarikan, maka akan ada 3 resi yang dibuang oleh orang tersebut dalam sekali transaksi. Dan itu hanya akan membuang-buang kertas dan mengotori ruang ATM.

Sebelum menabung di bank tersebut saya memiliki rekening di Bank Ma*d*ri dan menggunkan fasilitas ATM-nya. Di Bank ini seusai mengambil uang atau cek saldo akan diberikan opsi untuk hanya mencetak sisa saldo di layar atau di-print di kertas. Sehingga bagi yang hanya ingin tahu berapa sisanya tidak perlu mengotori ruang ATM tersebut dengan resi yang kemudian dibuang setelah tahu sisa saldonya.