Sabtu, 28 September 2013

Harta Karun di Belakang Pantat Gajah

“Berkunjung ke museum pasti kita akan disuguhi ‘harta karun’, tak terkecuali ke Museum Nasional Republik Indonesia.”


Bagian Dalam Museum NasionalMuseum ini letaknya di dekat Monas, terlihat jelas dengan patung gajahnya di halaman depan. Karena patung gajah yang mencolok itu maka museum ini dikenal juga dengan Museum Gajah. Patung gajah itu adalah pemberian Raja Chulalongkorn dari Thailand pada tahun 1871 dan terbuat dari perunggu. Gampang sekali sebenarnya buat sampai ke museum ini. Cukup naik busway dan turun di depan hatle Monas sudah sampai di depan museum ini.

Dulu waktu SMP (2004) saya pernah kesini saat study tour. Tapi dulu selain belum suka jalan-jalan yang ‘belajar-belajar’, bangunan yang tua dan gelap pun bikin kesan tidak nyaman, dan dulu, sih, pikirannya bangunannya angker. Tapi sekarang ternyata sama saja. Di hall utama depan pintu masuk ternyata masih seperti dulu. Tapi sekarang rasanya lain kalau melihat bangunan tua seperti itu, rasanya berasa flashback ke tempo dulu dengan bangunan Eropa kuno yang klasik. Tapi kontras dengan bangunan tua di hall utama, di sebelah utara ternyata ada ruang pamer yang modern. Saya cukup terkejut juga pas masuk. Gedungnya pakai keramik berkesan mewah, dindingnya kaca, tidak gelap, dan ada eskalator dan lift untuk lantai Ground sampai lantai 4, jauh dari kesan tua dan kuno. Serambi ini mulai dibangun pada 1996.

Museum tentunya adalah tempat menyimpan barang-barang yang bernilai tinggi. Disini juga tentunya. Berbagai benda kuno baik warisan asli atau yang ditemukan di seluruh wilayah Nusantara terpajang sejumlah sekitar 141.000 buah di museum yang merupakan museum terbesar se-Asia Tenggara ini.

Wayang Kulit (Ruang Etnografi Jawa)Di ruang utama yang klasik ketika masuk, patung-patung arca dan prasati peninggalan masa Hindu-Budha yang akan menyambut kita. Arca-arca ini ada patung Budha, dewa Wisnu dan yang mencolok adalah patung Bhairawa setinggi 414 cm yang merupakan manifestasi Awalokiteswara (Tuan yang melihat ke bawah). Namun, sebagian arca ini menjadi hanya berharga seperti batu biasa karena tidak ada penjelasan yang lengkap. Masuk lebih dalam ada etnografi (masyarakat dan budaya) seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Nah, ke serambi kanan kita akan beralih dari kesan kuno ke kesan mall (modern). Disini terdapat 4 lantai yang berisi koleksi yang berbeda pengelompokannya di setiap lantai. Berturut-turut dari lantai dasar adalah Manusia dan Lingkungan yang terdiri dari kehidupan manusia Indonesia dari zaman prasejarah dengan diorama-diorama yang apik. Naik ke atas yaitu Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang terdiri dari peralatan zaman batu hingga Perahu Pinisi dan pesawat terbangnya Pak Habibie (semua miniatur, ya). Di lantai berikutnya yaitu Organisasi Sosial yang berisi rumah adat, budaya-budaya masyarakat, dan kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat Indonesia seperti kelompok Bahari dan Petani.

Mewahnya Ruang PamerDi lantai 4 berisi kramik-kramik yang ditemukan di Indonesia. Ada kramik yang merupakan hadiah dan ada kramik yang ditemukan di perairan Indonesia dari kapal-kapal dagang (terutama Cina) yang apes dan karam di Indonesia. Disini mungkin salah satu letak harta karun. Karena pastinya kramik-kramik ini tak ternilai harganya. Satu pesan, disini dilarang memotret, mungkin karena kalau terpublikasi bisa menarik para “bajak laut” semacam Jack Sparrow untuk kesini. Tapi besar dan lengkapnya Museum Nasional kurang dibarengi dengan fasilitas audio visual yang interaktif, jadi tidak ada sesuatu yang bisa menuntun kita merasakan “Day at the Museum” selain kita harus melihat dan membaca sendiri.

~ Salam Dolan ~