Senin, 31 Maret 2014

Pelangi

Bersumber dari cahaya putih
Terbias oleh prisma kehidupan
Dan dicetak kedalam tujuh rupa warna
Pelangi, cerminan jiwa yang bersih
Yang tercipta setelah kelabu

Jumat, 21 Maret 2014

Dieng's "Tatto"

“Art completes what nature cannot bring to finish. The artist give us knowledge of nature’s unrealized ends.”


Tenang Merangsang, Telaga Cebong
Aristoteles, filsuf terkenal Yunani yang namanya dipakai sebagai salah satu kawah di Bulan (Lunar Crater), mengingatkan kita bahwa kita harus adil dalam menikmati alam. Alam memang diciptakan oleh Sang Maha Artistik. Namun, karya-Nya juga tidak sebatas pada benda mati, bumi dan semesta. 

Dia juga mencipatakan manusia dan sedikit banyak menurunkan keartistikan-Nya. Alam akan lebih terlihat keindahannya jika ditambah seni dari seorang Artist atau Seniman, yaitu manusia. Lebih global, manusia tentu berperan banyak sehingga kita bisa tahu bahwa alam itu indah, dengan atau tanpa memodifikasinya. Tentu saja dengan mengesampingkan manusia-manusia perusak, yang merupakan kutukan bagi bumi.

Itulah yang ada di dataran tinggi Dieng. Paket lengkap wisata yang masuk wilayah Wonosobo dan Banjarnegara. Wisata alam yang manis dengan taburan seni dari orang-orang dulu maupun sekarang. 

Seni itu luas, karena aku bukan orang seni jadi aku gambarkan seni secara awam. Di Dieng, dengan modal keindahan alamnya, manusia membuat “tato-tato” artistik. Seni cerita, dengan banyaknya legenda, budaya, agama dan mitos. Seni bangunan dengan candi-candinya. Dan tentu saja agar kita bisa menikmati semua itu butuh manajemen. Jangan salah, manajemen dalam bahasa Prancis kuno, menagement, itu artinya seni melaksanakan dan mengatur. Seni juga.

Telaga Warna
Selama dua hari aku menikmati segala keindahan dan keramahan masyarakat desa dengan ketinggian diatas 2000 mdpl itu. Dieng Plateau Theatre adalah yang terakhir aku datangi. Bioskop seharga 4000 dengan durasi 23 menit. Bioskop mini ini cukup oke sebagai penutup. Filmya all about Dieng. Termasuk tragedi Kawah Sinila tahun 1979 yang menewaskan 149 warga desa karena monster gas CO2. Seni video.

Gagahnya puncak Gunung Sindoro. Tebing curam puncak Gunung Pakuwaja. Goresan-goresan hijau anomali namun harmonis. Kurang lebihnya itulah pemandangan dari puncak Bukit Sikunir yang sunrisenya dikenal dengan “Golden Sunrise”.

Aku ingat kalimat grup band Oasis saat live di Manchaster, “Lazy is being free to do anything”. Maka, saat yang lain mengejar sunrise aku masih saja ngekep sleeping bag. Malas bangun. Apalagi setelah ketar-ketir tidak bisa tidur nyenyak karena angin kencang dan hujan lebat semalaman. Dan, sukses mematahkan satu frame tendaku.

Malam itu memang ironis. Di tepi Telaga Cebong yang tenang, mendadak gerimis tipis romantis berubah menjadi hujan yang makin merapat dengan angin kencang. Tapi mungkin saja itu skenario Sang Maha untuk melengkapi kesendirianku. Karena paginya, telaga yang tenang pun bersenandung, nyiur melambai, angin sepoi dan kesabaran para pemancing bisa kunikmati. Bahkan matahari pun harus rela hanya melihat dari balik punggungku.

Rabu, 12 Maret 2014

Gara-gara Cokelat

Brum. Suara gas terakhir mobil terdengar memasuki garasi di rumah keluarga kecil Pak Bimo.

“Ayah pulang!” Sambut anaknya saat Pak Bimo masuk. Ibunya hanya menoleh sambil mengganti-ganti saluran tivi.

“Ayah bawa cokelat banyak, nih.” Kata Pak Bimo.

“Asik, cokelat!” Sang anak girang dengan air muka yang tiba-tiba “mencokelat”.

Meraka bertiga duduk bersama. Saluran tivi sudah nyasar ke acara yang membahas fakta unik tentang cokelat. Sambil makan cokelat dari sang ayah, mereka bertiga bercengkrama.

“Ini hari Valentine namanya. Kata orang bule hari kasih sayang, jadi ayah bawa cokelat, simbol kasih sayang.” Jelas Pak Bimo pada sang anak.

“Tapi hati-hati jangan banyak-banyak, nak, bahaya.” Nasihat Bu Bimo.

“Kenapa bahaya bu?”

Pertanyaan sang anak terpotong oleh suara ribut tiba-tiba dari rumah depan. Rumah Pak Andri “Cokelat”. Pemilik cafĂ© bertema cokelat yang tema rumahnya pun cokelat. Dikenal sekali sebagai penggemar cokelat dari buyutnya.

“Jadi itu perempuan yang bikin Ayah nggak pulang?!” Hardik Bu Andri.

“Makannya jangan tiap hari makan cokelat, jadi sayangnya sama banyak orang, terus selingkuh!” diikuti suara UFO tabrakan, alias piring terbang pecah.

“Itu bahayanya.” Kata Bu Bimo ke sang anak, yang acuh karena cokelat, tapi pandangannya ke Pak Bimo. Pasangan itu otomatis saling pandang.


“Itu cokelat beneran beli kan, Yah ?”