Minggu, 26 Oktober 2014

Keroncong. Dulu, Sekarang, dan Nanti

Bukan sesuatu yang berlebihan jika mengatakan bahwa musik adalah bidang kesenian yang paling banyak peminatnya. Dibandingkan kesenian lain seperti seni lukis, seni peran, dan sastra, seni musik lebih luas pemintanya karena pengembangannya dapat relatif lebih luas. Variasi dan alirannya lebih mudah dipadu-padankan untuk menghasilkan sebuah musik yang baru. Musik dengan nada-nada yang dihasilkan cenderung lebih dapat melekat dalam rasa orang-orang dibandingkan kesenian lain yang setidaknya mengharuskan untuk sedikit mengerti teorinya.

Pameran Oganologi

Disamping keragaman musik etniknya, Indonesia menyimpan warisan musik yang merupakan hasil dari akulturasi beragam budaya. Hasil evolusi musik Portugis asal bangsa Moor, Cina, dan tak lepas dari peran Jakarta tempo dulu sebagai pusat perdagangan laut Nusantara. Musik inilah yang kemudian disebut musik keroncong.

Melihat kebesaran nama dan sejarah musik keroncong, Dewan Kesenian Jakarta melalui Komite Musik-nya mengangkat judul “Keroncong : Riwayatmu, Kini..” pada acara Pekan Komponis 2014 yang berlangsung dari 21-26 Oktober 2014.


Ajang tahunan ini secara umum mempertemukan para komponis muda dan komponis senior dalam menggarap dan memperkaya satu komposisi musik yaitu keroncong. Mereka berbagi panggung dalam menghidupkan kembali roh keroncong dengan genre mereka masing-masing. Dengan gaya bermusik berbeda, mereka mencoba mengeksplorasi, mengemas dan menampilkan keroncong menjadi sebuah bunyi baru. Menciptakan harmoni keroncong dan menjadikan warna musik keroncong dalam konteks kekinian. Disamping pertunjukan, acara lain yaitu diskusi, pameran, dan pemutaran film bertema keroncong juga dihadirkan.

Kamis, 23 Oktober 2014

Oase Budaya di Pusat Kota

Usia satu tahun bagi manusia adalah saat mulai lucu-lucunya. Pada usia itu manusia biasanya mulai bisa berjalan tertatih. Kadang terjatuh, lalu menangis, atau tertawa-tawa. Manusia juga sudah lebih intensif dan responsif merespon panggilan orang-orang sekitar.

Usia satu tahun pula merupakan sebuah peralihan (bisa jadi disebut puber) yang paling pertama. Yaitu dari status sebagai bayi, menjadi balita. Walaupun bersinggungan karena sama-sama masih di bawah 5 tahun, namun balita lebih bisa menjelaskan bahwa saat itu manusia sudah memulai aktivitas pertamanya dalam masa orientasi pada lingkungan sekitar dan dunianya.

Begitu juga dengan sebuah galeri yang tahun 2014 ini berulang tahun yang pertama. Sebuah galeri yang mengangkat seni dan kebudayaan Nusantara ini bernama Galeri Indonesia Kaya (GIK). Letaknya sangat kontras yaitu di Mall Grand Indonesia, dimana kompleksnya termasuk kawasan perbelanjaan modern di Ibu Kota. Barang-barang mewah dan tak sedikit juga yang import begitu kontras dengan keris, angklung, dan wayang yang menjadi “produk” GIK. Ditambah lagi, GIK tepatnya berada di depan Blitzmegaplex. Sebuah bioskop yang menjadi tujuan favorit muda-mudi Jakarta.

Teknologi
Penggunaan Teknologi Augmented Reality
Namun siapa sangka yang disuguhkan di GIK ini begitu di luar dugaan. Ternyata GIK ini tahu diri dimana tempatnya berada. Ketradisionalan budaya Nusantara yang sudah sangat miris popularitasnya di kalangan remaja, terutama yang memang tidak bergelut di bidang itu, dikemas dengan mengedepankan teknologi modern menggunakan peralatan-peralatan yang sudah menjadi “pegangan” rata-rata remaja sekarang. Teknologi seperti touchscreen, akselerometer, augmented reality, hingga video mapping digunakan demi memberikan wadah baru bagi kebudayaan Nusantara yang usianya menuju keudzuran dan terlupakan. Peremajaan yang  begitu baik ini menjadi sarana yang tepat dalam mengangkat kembali kebudayaan Nusantara di mata remaja-remaja generasi pewaris.

Selasa, 07 Oktober 2014

Jendela di Sudut Kota Tua

Sebuah buku dengan hardcover berwarna coklat berjudul “Tokoh Wayang Terkemuka” begitu menarik perhatian untuk ditelusuri. Buku itu berbahan kertas seperti majalah, lengkap dengan gambar tokoh-tokoh pewayangan dari epos besar Ramayana dan Mahabarata. Selain menjelaskan profil-profil tokoh wayang, dalam buku itu dijelaskan juga tentang pesan moral dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kedua cerita agung tersebut. Ada juga bagian tetang bagaimana wayang seharusnya senantiasa dapat menjadi salah satu falsafah dalam menjalani kehidupan. Buku yang cukup menarik tersebut ditulis oleh Drs. H. Solichin. Penulis beberapa buku tentang perwayangan.

Perpustakaan Taman Fatahillah
Buku tentang salah satu budaya Indonesia itu adalah salah satu dari sederetan buku yang dipajang pada papan kayu di bawah tenda sederhana di sudut Kota Tua Jakarta. Perpustakaan Taman Fatahillah, begitulah namanya. Sebuah taman baca mini di tengah salah satu ikon wisata Kota Jakarta. Taman baca dengan sekitar 8 kursi dan 2 rak buku serta sebuah papan dengan sederetan buku, dapat menjadi tempat singgah para pengunjung Kota Tua sambil menambah ilmu atau meretas imajinasi.

Inovasi sudut kota ini sudah 6 bulan berdiri. Hasil dari kepedulian berbagai elemen masyarakat bernama Local Working Group (LWG). Mereka adalah bagian dari DMO (Destination Management Organization) bentukan Kementrian Pariwisata. Mereka menjadikannya semacam fitur tambahan bagi wisata Kota Tua selain bangunan tua, museum, dan penjual pernak-pernik.

Beragam Pustaka

Walaupun mini dan sederhana, namun koleksi bukunya cukup variatif sebagai referensi umum tentang sejarah, budaya, dan pariwisata Indonesia. Buku yang dideretkan pada papan dan dibuat paling menarik perhatian adalah buku tentang ke-Indonesia-an. Beberapa judul yang ada seperti Tokoh Wayang Terkemuka, Sejarah Perang-perang Nusantara, dan tentang sejarah Jakarta serta beberapa sejarah Kota Tua itu sendiri. Seperti buku berjudul Toko Merah.

Koleksi Buku Ke-Indonesia-an
Selain melengkapi nilai sejarah dari Kota Jakarta dan Indonesia, beragam buku lain juga ada disana. Mengakomidir semua umur. Buku bergambar untuk anak seperti Bernard Bear, kisah-kisah Nabi dan Rasul, dan komik Tintin juga ada pada salah satu rak.

Ragam pustakanya juga termasuk novel-novel dan buku-buku pengetahuan umum. Buku Andrea Hirata berjudul Padang Bulan juga ada disana. Semua buku tersebut dapat dibaca secara gratis. Namun tidak boleh dibawa keluar area perpustakaan. Dengan aturan seperti itu pun masih ada beberapa buku-buku yang hilang, terutama yang ukurannya kecil. Kata salah seorang penjaga yang memang menyambi sebagai penjaja sepeda onthel.

Perpustakaan ini buka setiap hari Sabtu, Minggu dan Hari Libur Nasional dari pukul 09.00 – 17.00. Rata-rata pengunjung memang tidak dengan sengaja datang kesini untuk mengunjungi taman baca ini. Pengunjung lebih berminat untuk berfoto dengan latar bangunan-bangunan tua. Namun tidak ada salahnya, sambil melepas lelah dan meredam teriknya matahari, memanfaatkan ruang kecil beraura pengetahuan ini untuk sedikit membuka jendela melihat Indonesia dan dunia.

Koleksi Buku Lain

IndraRama
Jakarta, 7 Oktober 2014

Senin, 06 Oktober 2014

Karya Sastra Tuhan

Tuhan memang sastrawan,
Dia tulis cerita ini
Dia jadikan kau sumber yang hanya dapat kurelakan
Dalam setiap kata, dalam setiap tanda baca, meski kau tetap saja alpa
Dibuatnya sandiwara utuh bagiku, bukan bagimu
Karena hingga kini, aku hanya mampu menemuimu mengawang di angan

Tak kutemukan puisi terindah untukmu
Pun cerpen manapun tuk mewakili rasaku
Novel setebal apapun tak juga mampu menjelaskannya padamu
Drama Tuhan tetap membuatmu merupa rindu tanpa tuju
Menjelma kata tanpa makna

Tuhan memang sastrawan,
Dia rangkum tiap jengkal senyummu
Dalam catatan tanpa aksara
Menyalin tatapmu dalam sajak-sajak yang lesap, lindap
Membuatmu serupa diksi dalam tiap-tiap puisi meski tetap saja nisbi
Menjelmakan kau sebagai nafas cerita
Bekelindan harap dan khayalku

Bukan,
Tuhan tak hanya bersastra padamu
Aku pun adalah karya-Nya

Aku mengerti sekarang,
Tubuhku sendiri menjelma puisi
Tiap organnya merupa bait dan inti selnya adalah huruf-huruf yang menyusun fonem
Bersekutu mengeja rasaku dalam cerpen
Sedang perjalananku padamu tertulis seperti novel
Tiap babnya menjadi cerita, tersusun menuju cinta

Pada akhirnya aku menyadari,
Tak perlu kucari karya sastra terbaik untukmu
Bahkan jika itu seindah karya Shakespeare
Atau sepilu kisah Tristan dan Isolde di Jerman
Akulah karya sastra itu, yang ditulis sendiri oleh Tuhan
Dan kan kupersembahkan diriku untukmu
Sebagai karya sastra milik Tuhan

Bersama
Jakarta-Indramayu, 06 Oktober 2014

Sabtu, 20 September 2014

Lampu Jalan

Apakah malam di dunia ini selalu sama? Kata orang-orang begitu. Malam adalah penunjuk separuh hari dengan gelap sebagai cirinya. Bertolak belakang dengan siang yang terang. Malam adalah sisi baik cahaya matahari yang masih mau membagi cahayanya untuk mendandani bulan. Walaupun cahaya bulan entah masih dianggap sebagai cahaya atau tidak. Karena bagi banyak orang bulan hanya benda alam yang fungsinya sudah tidak diperhitungkan lagi. Malam bagi orang kebanyakan adalah saat yang dimana kesunyian dan keheningan meluluhkan semua kelelahan bekerja di siang hari. Menjadikan malam yang selalu sama yaitu malam adalah tentang lelap.

Bagiku malam tak ada bedanya dengan siang. Malam dan gelapnya bukan hanya soal waktu. Malam hanya sebuah kata, dan gelapnya adalah misteri. Misteri hidupku sendiri yang tak pernah dapat aku jelaskan. Kegelapan menjadi kehidupan. Dan kehidupanku adalah kegelapan itu sendiri.

Di kota ini, dari balik kardus di samping kali yang penuh polusi, aku dilahirkan. Bukan dari rahim seorang ibu di rumah sakit bersalin dengan bidan atau dokter kandungan yang sudah mengenalku sebelum aku lahir. Aku lahir dari gelap, aku lahir dari denyut jantung kota yang sedikit kejutan saja akan membuatnya mati kena serangan jantung, orang tuaku adalah debu yang mengusap kegelisahan kota ini, dan kardus ini adalah rahim ibuku.

Senin, 15 September 2014

Budaya Bali tak Pernah Minder

Siapa yang tidak kenal Bali? Ikon pariwisata Indonesia yang bahkan terkadang namanya lebih terkenal daripada Indonesia sendiri. Wisatanya memang menjadi daya tarik kelas satu bagi turis asing yang pergi Indonesia. Wisata alam dan terutama budaya, kesenian dan kearifan lokal yang mistis dan spiritualistik yang melekat erat pada Pulau Bali ini membuktikan perkataan Aristoteles, yaitu Art completes what nature cannot bring to finish. Artinya, Bali memadukan kesenian dan budaya dengan keindahan alamnya untuk menjelma menjadi sempurna untuk menyematkan julukan The Last Paradise. “Bali… Gooooddd..” Begitulah salah satu dialog dari Roman, seorang turis Canada yang diperankan Cak Lontong saat melihat keindahan Pulau Bali.


Roman (Cak Lontong) dan Tour Guide (Akbar)

Tanggal 12-13 September 2014, Indonesia Kita kembali mementaskan pertunjukan budaya bertajuk Roman Made in Bali. Ini merupakan pementasan kedua setelah pada bulan April lalu sukses mementaskan Matinya Sang Maestro. Bahkan pementasan tersebut sampai ditayangkan kembali. Pada lakon Matinya Sang Maestro, cerita yang disuguhkan sangat satir. Dengan balutan kesenian Jawa seperti tari dwimuka oleh Didik Ninik Thowok, kendangan oleh Djaduk Ferianto, dan lawakan khas ludruk Jawa Timur oleh Cak Kartolo, ceritanya berusaha mengkritik perhatian pemerintah pada kehidupan seniman yang idealis mempertahankan tradisi bangsa namun terasa sangat kontradiktif dengan kehidupannya yang miskin dan banyak hutang. Potret seniman-seniman sepeti yang dikatakan salah satu seniman ludruk Jawa Timur: “seniman itu berkesenian karena rasa, kalau berkesenian karena uang namanya penjual seni.”

Rabu, 03 September 2014

Jazz Atas Awan, Medengar Musik Menikmati Suasana

Jazz Atas Awan (Twitter : @FestivalDieng)
Dentuman bass yang kental, suara melengking dari tiupan saksofon, suara vokal yang berat, serta suara gitar yang slow mengalun di atas panggung musik bertajuk Jazz Diatas Awan. Lagu Juwita Malam yang dibawakan oleh para musisi dari Bank BPD Jateng mewarnai salah satu rangkaian acara Dieng Culture Festival 2014. Acara yang berlangsung pada malam hari hingga dini hari ini menyuguhkan sebuah acara modern dalam serangkaian acara budaya tradisional. Membuktikan bahwa dalam seni, pembauran antar generasi sangat mungkin terjadi.

Dieng Culture Festival (DCF) merupakan acara tahunan yang diadakan di kawasan Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau). Acara ini berlangsung dua hari yaitu 30-31 Agustus 2014. Acara puncaknya adalah upacara pencukuran rambut gimbal anak-anak Dieng. Di luar dari itu, acara pendukungnya sangat beragam, mulai dari acara budaya tradisional, musik dangdut, musik jazz (Jazz Atas Awan), kompetisi film dan acara-acara yang menyuguhkan suasana kebersamaan seperti menerbangkan lampion dan bakar jagung bersama. Ditambah lokasi yang sangat dingin dan tenda-tenda pengunjung yang berkumpul di camping groud yang telah disediakan, acara yang sudah berlangsung kelima kalinya ini menarik ribuan wisatawan untuk mengikuti rangkaian acaranya atau sekedar menikmati suasana riuh dan indahnya kebersamaan.

Senin, 25 Agustus 2014

Tentang Teratai

Hancur sudah niatku untuk menyudahi perasaan cinta ini. Melebur lagi menjadi udara, yang hanya bisa dirasakan tanpa pernah bisa aku sentuh. Cinta yang ideal dari buku-buku filsafat yang sudah hampir lima tahun fisiknya berserakan di kamarku dan isinya berserakan di otakku. Menjejali otak dengan segala hal tentang cinta ideal yang tidak kunjung berani kusampaikan pada siapapun. Bahkan pada tokoh yang aku jadikan sebagai pembangun cinta ideal itu di otakku. Buku-buku itu menyebutnya sebagai cinta platonis. 

Plato menyatakan gagasannya bahwa kehidupan paling indah adalah khayalan. Dalam pikiran, itulah tempat paling ideal untuk menumbuhkan sebuah hidup yang ideal pula untuk menuju kehidupan utopis. Begitu pula dengan cinta, baginya cinta yang sudah dinyatakan adalah cinta yang tidak ideal. Karena dengan cinta melebur ke dunia nyata, maka aturan main tentang cinta harus kita patuhi. Tak akan bisa lagi kita merancang segala kisah cinta kita sesuai semua yang kita kehendaki. Kenyataan, itulah batasannya.

Benar sekali apa yang dia katakan, aku menjalaninya hingga saat ini. Sekarang, saat aku mencoba meninggalkan konsepnya, aku harus menghadapi kenyataan melihatmu benar-benar telah menjadi sebuah bunga teratai.

Selasa, 19 Agustus 2014

Evolusi atau Revolusi

Dirgahayu Indonesia.

Masih dalam suasana hari kemerdekaan. Tahun ini adalah ke-69 kalinya Indonesia merayakan ulang tahunnya. Tahun ke-69 pula pembacaan teks proklamasi di Istana Negara dikumandangkan dalam upacara bendera yang sakral. Dan ke-69 tahun pula segala masalah, prestasi, serta semua langkah perjalan bangsa sudah berlangsung. Setidaknya secara matematis angka 69 itulah kita sebut sebagai usia bangsa ini.

google.com
Namun, bangsa Indonesia sebenarnya telah terbentuk jauh sebelum itu. Pada abad ke-13 di dalam kitab Negarakertagama pada masa kerajaan Majapahit, kata “Nusantara” pertama kali muncul. Nusantara tersebut meliputi pulau-pulau yang sekarang menjadi wilayah Indonseia dari Sabang sampai Merauke. Pulau yang sekarang bernama Sumatra, Kalimantan, Kepulauan Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi dan Maluku, serta Papua Barat disebut dalam kitab itu sebagai daerah yang berhasi dikuasai kerajaan Hindu-Budha itu. Kitab itu membuktikan bahwa sejatinya sistem negara Indonesia lengkap dengan kulturnya, atau pada zaman dulu adalah kerajaan, sudah terbentuk jauh sebelum angka yang kita peringati.

Melalui gerakan-gerakan revolusioner, akhirnya bangsa Indonesia berhasil menyatakan dirinya sebagai negara merdeka melalui teks pernyataan yang dibacakan oleh Bung Karno. Hal tersebut adalah pengertian kecil dari konsep kemerdekaan. Dan peringatan HUT-RI pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah tanda bahwa bangsa Indonesia telah memiliki kedaulatan sendiri untuk mengatur negaranya tanpa ada campur tangan bangsa lain.

Jumat, 15 Agustus 2014

Peluru dan Sahabat

Aku tahu itu kau. Aku juga tahu kalau ini akan tiba. Hari saat kau akan datang lagi menemuiku. Setelah berita tentang aku dan kelompoku, kelompokmu juga tentunya dulu, tersiar di berbagai media, aku sudah merasa kalau kita akan bertemu lagi. Tak sekedar meramalkan pertemuan, bahkan aku sudah bisa menebak sorot mata seperti apa yang akan menyertaimu saat menemuiku. Dan hari ini, aku tahu itu kau, yang berjalan melewati pintu depan rumah yang baru aku beli tiga bulan lalu dan sekarang menjadi markas baru kami. Ah, firasat sahabatmu ini benar. Aku lihat kau memang membawa serta sorot mata itu, yang aku namai sorot mata harimau.

Entah kau sengaja atau tidak. Tapi hari ini adalah hari saat pertama kau menemuiku. Enam belas tahun lalu. Saat itu aku pertama kali menemukan sorot mata yang mengerikan seperti itu. Penuh dendam, darah, kegelapan namun sekaligus cahaya kebenaran. Jujur saja, aku sedikit percaya bahwa Tuhan itu memang ada setelah menatap matamu lebih dalam. 

Sejak ayahku pamit ke tempat ibadah dan hingga kini tak pernah kembali, aku hanya menganggap rumah ibadah hanyalah bangunan yang lebih luas dari rumahku. Dan Tuhan, ah, hanya dongeng rekaan sama halnya dengan keadilan.

Sabtu, 26 Juli 2014

Berkepribadian di Bidang Kebudayaan

google.com
Indonesia adalah negara yang berdiri melalui berbagai macam fase perjuangan. Perjuangan itu masih dan akan selalu ada dalam setiap kehidupan negeri ini. Itu akan baik selama didasari oleh sesuatu yang baik untuk menuju sebuah kebaikan. Dalam mencapai Indonesia yang utuh, berbagai bentuk perjuangan baik otot maupun otak, baik angkat senjata maupun angkat bicara terjadi. Yang berada di sektor otot akan berakhir sebagai “pahlawan tak dikenal”, tapi yang menggunakan ilmunya akan mewariskan konsep-konsep sebagai karya pemikiran untuk seluruh generasi mendatang.

Salah satu yang banyak melahirkan karya pemikiran adalah Ir. Soekarno. Namanya sudah tidak asing baik di dalam maupun di luar negeri dalam menggetarkan semangat perjuangan pada bangsa-bangsa tertindas (Asia dan Afrika) melalui karya pemikirannya. Ditambah kemampuannya berpidato, beliau dengan segala kontroversi dalam pemerintahannya, menjadi sosok pembangun Tanah Air lewat karya pemikiran yang relevan bagi generasi sekarang.

Trisakti

Selain pencetus Pancasila yang menjadi “kiblat” bangsa Indonesia dan membacakan teks proklamasi yang menjadi titik awal Indonesia sebagai bangsa merdeka secara de facto, banyak karya pemikiran lain yang dicetuskan beliau. Secara khusus berlaku sebagai bahan bakar perjalanan bangsa dan secara umum menginspirasi dunia internasional.

Dalam pidato beliau tahun 1964 yang isinya tentang “Ganyang Malaysia” beliau dengan tegas berkata: “… Republik Indonesia tegas mengeluarkan konsepsi. Pancasila, Manipol Usdek, Berdikari, Trisakti, Nasakom…”.

Kamis, 24 Juli 2014

Keroncong Untuk Istriku

“Es teh manis wae sek, Mas,” kataku saat masuk ke warung ini. Sayang kalau aku harus memesan menu utama tapi kamu belum juga datang. Sampai hari dan detik ini, kamu masih belum berubah. Kamu selalu saja datang terlambat. Membuatku selalu menunggu, sampai aku menganggap menunggu adalah salah satu agenda pada setiap kita ketemuan.


Di warung dan meja yang sama, aku selalu menunggumu. Jika mejanya sedang dipakai orang, aku akan duduk di meja sembarang sampai orang itu pergi kemudian aku pindah. Jika kamu sudah datang dan kita sudah mulai makan, kita tidak pernah menghabiskannya sebelum pindah ke meja itu. Meja nomer 4, meja pertama kali aku menunggumu.

Setelah itu selalu saja aku yang datang duluan. Walau aku pernah juga terlambat, tapi tak ada apa-apanya dibandingkan kamu. Terkadang aku merasa lucu, kenapa aku rela menunggu demi bertemu kamu. Padahal sering sekali hanya untuk ngobrol hal-hal yang tidak begitu penting. Walaupun tak jarang juga jadi sesi curhat. Semua emosi di meja itu selalu bisa menghapuskan rasa kesal karena menunggu. Menunggu kamu adalah kegiatan tanpa alasan dan tujuan –bahkan tidak menyenangkan– yang selalu aku lakukan tanpa memikirkan semua itu.

Alasan aku selalu rela menunggu adalah kali pertama aku bertemu kamu. Dan saat itu juga kamu membuatku seolah sedang menunggu seseorang. Padahal saat itu aku tidak kenal bahkan aku tidak tahu ada manusia seindah kamu di bumi ini.

Senin, 23 Juni 2014

Mudik untuk Salman

Langit dan cuaca mulai berulah memainkan anomalinya. Hujan sore itu begitu lebat jatuh dari balik angin muson timur yang seharusnya kering karena berhembus melewati gurun-gurun pasir di utara Australia. Pada sore hari Jum’at dimana pada saat salat Jumat tadi matahari masih terik bersinar, tubuh Salman dibiarkannya dirundung kuyup dalam perjalanan pulang. Pertanda apakah hujan? Salman tidak mempermasalahkannya. Hujan sore itu baginya hanya tentang satu hal. Basah. Namun, jalanan yang biasanya macet dan akan bertambah parah saat hujan, sore itu hanya sedikit padat di saat lampu merah.

Salman tiba di rumah setengah jam sebelum adzan Maghrib. Adzan Maghrib ini adalah yang ke-29 yang paling ia tunggu di bulan ini. Bulan Ramadhan. Itulah sebabnya jalanan agak lengang di Jakarta. Banyak warga Jakarta yang memang sebagian besar pendatang sudah mudik ke kampung halaman masing-masing. Karena alasan pekerjaan, Salman dan keluarga yang hanya ada istrinya baru akan mudik esok hari pada H-1 atau saat malam takbiran.

Kumandang adzan Maghrib terdengar sayup di tengah gemericik hujan yang beranjak mereda meninggalkan gerimis. Semburat senja yang samar mulai meredup digantikan malam. Salman duduk di meja makan dengan teh manis hangat, nasi, sayur sop, dan ayam goreng mentega di depannya. Tak ketinggalan bakwan dan tahu bakso sebagai makanan pembuka. Semua menggugah selera kecuali wajah orang yang memasak itu semua. Istrinya duduk di depannya dengan dengan muka yang ditekuk berantakan. Sudah dari kemarin, dan selalu sama sejak satu tahun lalu, kalau istrinya akan cemberut setiap mereka akan mudik ke rumah orang tua Salman di kampungnya di Semarang.

Kamis, 19 Juni 2014

Pekerja Terminal

Robi yang masih kelas tiga SD sedang menunggu kapan ayahnya akan pulang. Pulang kampung tepatnya karena ini musim mudik. Berbeda dengan mudik pada umumnya, ayahnya baru akan mudik pada H+3 lebaran yang seharusnya sudah masuk arus balik.

Ayahnya bekerja di terminal antar provinsi di Jakarta, dia menjadi pelayan untuk para pemudik. Menyediakan tiket bagi mereka. Setidaknya itu yang selalu dijelaskan ibunya pada Robi, saat bertanya tentang pekerjaan ayahnya.

“Bapak lama, Bu.”

“Sabar Robi, bapak masih kerja.” Jelas ibunya.

“Tapi yang lain sudah pakai baju baru, Bu. Aku belum.”

Ibunya hanya mengelus kepala Robi.

“Bapakmu pasti sedang membantu orang-orang yang mau ketemu anaknya. Bapakmu mengalah, yang penting orang lain bisa memberikan baju buat anaknya dulu.”

“Jadi Bapak orang baik, Bu?”

“Tentu.”

***
Ayah Robi duduk di kursi dengan komputer dan polisi di depannya. Razia mendadak calo-calo tiket di terminal itu menjaring banyak calo tiket, termasuk ayah Robi. Ayahnya mengaku menjual tiket dengan harga sampai tiga kali lipat dari harga normal. Dia terpaksa tertahan di sana. Bayangan Robi dan istrinya menambah pilu keadaannya.

***

Hari sudah larut. Robi mulai menyerah menunggu ayahnya. Robi pun tidur di depan pintu. Sangat nyenyak sampai-sampai tidak dengar ayahnya mengetuk pintu dan bilang: Maafkan aku anakku. Lalu pergi lagi untuk waktu yang entah berapa lama.


IndraRama
Kamar kos, 19 Juni 2014 11:27

Senin, 16 Juni 2014

Kupu-kupu Ungu di Atap Sulawesi

Aku masih takjub pada ceritanya. Walaupun kejadian itu sudah lebih dari seminggu sebelum aku berangkat mendaki ke gunung tertinggi di Pulau Sulawesi. Lelaki di warung kopi lesehan pinggir jalanan Jakarta –yang aku taksir umurnya hampir 70 tahun– itu banyak bercerita tentang Gunung Latimojong. Gayanya urakan dan santai walaupun kerutan pada wajahnya sudah mulai nampak.

Mungkin karena gayanya yang seperti itu, keringkihan manula sama sekali tidak terlihat pada gerak tubuhnya. Semangat dan gairah hidup juga terlihat jelas dari sorot mata dan nada bicaranya saat bercerita tentang gunung itu.

“Mau ke Latimojong, Dik?” Sambarnya tanpa memperkenalkan diri setelah mencuri pandang pada ponselku saat aku menerima pesan whatsapp dari grup “H-8 Latimojong Mei 2014”.

“Eh iya, Pak,” jawabku seketika menengok padanya.

“Bagus sekali itu, Dik, gunungnya.” Dia begitu antusias seperti sedang mempromosikan dagangan.

“Bapak pernah kesana?”

“Pernah, Dik. Enam tahun lalu. Saya sama mantan teman-teman Mapala kampus dulu. Sekarang ya sudah pada ‘senior’. Hehehe.” Katanya sambil menyalakan rokok kereteknya.

Kamis, 12 Juni 2014

Pilot atau Seorang Ayah

Pelampung dan parasut sudah ada di tangan pilot Andreas dan co-pilot Garin.

“Ayo lompat, kita tidak mungkin selamat. Kita sudah menukik sangat tajam.” Ajak Garin. Namun, Andreas masih sibuk mengatasi kecelakaan yang hampir tidak bisa dihindari lagi.

“Aku akan berusaha. Selamatkan lah dirimu sendiri.” Jawab Andreas putus asa. “Sial, mesin utamanya mati,” umpatnya.

“Ayolah… kita memang diberi fasilitas keselamatan khusus ini. Agar maskapai kita tidak perlu mencari banyak pilot-pilot senior seperti kita.”

Hening. Andreas berpikir sejenak.

“Kemarin aku membelikan anakku, Rino, remote control helikopter, ia bilang ingin jadi sepertiku. Katanya aku hebat karena bisa terbang,” katanya tiba-tiba memecah kepanikan.

Garin hanya mengernyitkan dahi, heran.

“Dulu ayahku pernah membelikanku juga. Saat itu beliau bilang kalau pilot itu tidak hanya harus pintar dan jago “terbang”. Tapi, pilot juga harus bertanggung jawab pada semua nyawa penumpang di kabin. Di udara, keluarga seorang pilot adalah penumpang di kabin. Sejak saat itu aku bertekad menjadi pilot yang baik dan hebat.” Andreas menerawang.

Garin tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya memandang temannya yang raut wajahnya memancarkan semburat cahaya kebaikan.

“Rin, aku memang bukan ayah yang baik. Ini pilihan yang sulit. Jika aku mati, aku tidak bisa membesarkan Rino. Tapi jika aku selamat dengan meninggalkan penumpang, maka aku akan membesarkannya dengan kebohongan besar. Aku bingung, Rin, harus memilih menjadi pilot atau seorang ayah.” Air mata Andreas menetes, dia memeluk parasut seperti memeluk anaknya. Dilema akan sosok yang akan dia pilih masih bercokol di kepalanya. Andreas hanya diam dan berdo’a.

***
Di rumah Andreas, Rino berlari menghampiri ibunya.

“Ibu, mainan dari ayah jatuh ke jalan di luar pagar.” Katanya sambil merengek.


Ibunya hanya menangis lalu memeluknya erat-erat sambil menyaksikan berita kecelakaan pesawat di TV.


IndraRama
Kamar Kos, 12 Juni 2014 02:12

Jumat, 23 Mei 2014

Koran yang Terbit Setelah Senja

Kalau kalian bertanya dua hal yang paling aku sukai, aku akan menjawab: balkon dan hari Minggu. Di balkon biasanya aku menyendiri memandangi langit dengan sejuta misterinya. Dan hari Minggu adalah hari yang pas untuk melakukan hal itu. Seperti hari Minggu ini, bersama kopi, rokok, dan koran terbitan perusahanku.

Genap sebulan sudah koranku terbit setiap hari. Aku anak muda pimpinan perusahaan media cetak warisan ayahku yang aku ambil alih dan aku obrak-abrik. Aku ganti konsep korannya sesuai tujuanku. Menyesuaikan dengan konsepku, kematian, koran baruku ini aku beri nama “Koran Obituari”. Menarik bukan? Ini bukan koran pagi, ini aku sebut koran senja. Karena terbit setelah jam enam sore.

Apa? Kalian takut? Kasihan. Kalian yang takut membeli koranku aku anggap berpemikiran sempit. Kalian hanya menganggap kematian berarti tubuh yang kaku, dingin, jantung tak berdenyut, dan tidak bernafas. Padahal yang lebih menakutkan itu mati sak jroning urip, mati dalam keadaan hidup. Jasadnya bernafas tapi jiwa, nurani, akal sehat, dan kewarasannya mati. Pernah dengar itu?

Minggu itu cuaca tidak cerah. Matahari hanya bersinar sekenanya, hanya menandakan kalau saat ini bukanlah malam. Aku sedang menunggu pesawat yang akan menjemputku untuk berlibur. Pesawat itu akan menjemputku di depan rumah. Sambil membolak-balik halaman koranku dan menertawakan beberapa kisah kematian, udara siang itu menghembuskan ingatan-ingatan masa laluku. Di tengah ibu-ibu yang mengutuki langit karena cuciannya susah kering, aku hanyut dalam penjelajahan waktu.

Semangkok Bakmie

Siang itu, orang-orang datang dan pergi dari tempat itu. Mereka datang dengan muka lapar serta penasaran dan mereka yang pergi tampak puas dengan seringai di wajah mereka. Sambil bergosip menuju kendaraan mereka, rasa itu masih mengecap di mulut mereka. Menghasilkan cerita-cerita untuk dibagikan ke teman-teman mereka tentang warung kecil itu.

Warung bercat hijau. Tempatku lahir sekaligus mati. Aku lebih suka menyebutnya: tempat singgah menuju surga. Karena setelah aku dinyatakan mati, aku langsung berada di surga seperti sekarang. Belum tentu tempat lain bisa seperti itu. Warung itu sekarang sudah berumur hampir setengah abad. Dari situ, sudah jutaan “aku” yang sekarang sedang menikmati surga. Lihat mereka di belakangku, bagai raja mereka sekarang disini. Bak artis kawakan, warung itu masih saja jadi sorotan internet, televisi, dan media-media lain. Mungkin itulah yang disebut tempat legendaris.

Disini, inilah kegiatanku. Setiap hari, entah dengan perhitungan waktu seperti apa, aku hanya diam. Hanya senyum-senyum sambil mengingat kenangan di warung itu. Tak ada kewajiban yang harus dikerjakan dan dituntaskan disini. Yang ada hanya hak yang selalu terpenuhi setiap hari, sampai ke setiap satuan terkecil waktu.

Di setiap kegiatanku, aku selalu ditemani dia. Pasangan hidupku. Aku selalu setia padanya, begitu pun sebaliknya. Empat puluh bidadari yang dijanjikan Tuhan aku tolak demi memilih dia seorang. Kami adalah manunggal yang tak akan pernah terpisahkan. Aku masih tidak bisa terima penceramah yang mengatakan: saat di surga nanti akan diberi empat puluh bidadari atau bidadara untuk bercinta. Mereka yang seperti itu hanya menginginkan kenikmatan surga tanpa menghiraukan kekuatan cinta sejati.

Kamis, 22 Mei 2014

Sang Pemanah

Iki sih,  wis pasti Raden Arjuna yang menang.”

Iyo, mana ada yang sanggup tanding panahan sama Raden Janaka alias Arjuna. Nek bukan Begawan Durna, gurunya sendiri, ya enggak ada yang bisa.” Entahlah siapa yang berbicara.

“Mak, aku kepingin punya suami kayak Kang Mas Parta. Wis guanteng, keluarga raja, jago memanah lagi. Lengkap lah, Mak. Cariin ya, Mak.” Kata satu dari sejuta perempuan yang mendambakan sosok seperti Arjuna.

“Halah, kamu itu cocoknya sama yang seperti Rahwana di zaman Ramayana.” Jawab ibunya yang diam-diam sedang berkhayal saat di ranjang bersama suaminya, tiba-tiba suaminya berubah jadi Arjuna.

Rak popo, Rahwana itu setianya ke Dewi Widowati tiada duanya, Mak. Tapi tetep yang gantengnya kayak Kang Mas Parta.” Mata perempuan itu berbinar bersama jutaan pasang mata perempuan lainnya.

Gunjingan penonton riuh terdengar pada pertandingan memanah tingkat sekolah di Hastinapura atau Astina ini. Suaranya lebih mirip dengungan yang menggema ke seluruh gelanggang. Hampir semuanya mengelu-elukan Arjuna dengan segala kesempurnaanya sebagai manusia.

Di deretan kursi kehormatan duduk berjajar petinggi-petinggi keraton Astina. Resi Bisma, Prabu Destarasta didampingi istrinya Dewi Gendari, Mahapatih Sengkuni, Dewi Kunti, dan Mahaguru Begawan Durna serta Widura yang saat ini berperan sebagai pengatur acara.

Sabtu, 17 Mei 2014

Joang

Sedikit-sedikit kesadaran mulai tereja penuh oleh Maeda. Bercak-bercak warna perlahan mengkudeta cahaya putih yang dari tadi memenuhi syaraf optiknya hingga habis. Kaget, kata sifat pertama yang muncul setelah semua indera dan kesadarannya pulih.

Kapal-kapal dengan layar besar ada di depannya. Dengan bendera merah-putih-biru dan lambang huruf yang tersusun pada warna putihnya. VOC, ia membaca lambang itu. Orang-orang bebadan kurus dan berkulit gelap terlihat memanggul karung-karung besar menuju kapal. Orang-orang berkulit putih dan berbadan tegap dengan tinggi lebih seperempat dari mereka, berdiri mengawasi. Suasana asing itu disambut pertanyaan: dimana aku?

Seorang pemanggul tiba-tiba terjatuh tepat di depan Maeda. Refleks, ia mencoba membantunya berdiri. Tapi kejadian itu malah menimbulkan kebingungan baru. Saat ia mencoba menyetuh, tangannya hanya menembus tubuh padat orang itu. Dicobanya lagi, tetap sama.

Mata Maeda mengedar panik. Benar, selain dia bisa nembus, ternyata tidak ada yang peduli dengan kehadirannya. Padahal Maeda seharusnya begitu nyentrik diantara kedua ras itu. Dengan kemeja dan celana jeans, ditambah headset yang menggantung, ia harusnya menjadi alien. Atau paling tidak ditertawakan karena salah kostum di sebuah pesta bertema klasik.

Kamis, 15 Mei 2014

Bocah yang Tak Pernah Sekolah

Sekolahmu dimana? Anaknya siapa? Rumahmu dimana? Paling tidak itulah tiga pertanyaan yang paling sering diajukan oleh orang tua temannya sewaktu kecil. Sekarang, saat dia sudah jadi seperti ini, dia baru bisa menjawabnya.

“Adi, kita main yuk!” Ajak bocah itu pada temannya sepulang ia sekolah.

“Ayo, kita main petak umpet lagi,” jawab Adi yang selalu jadi teman main bocah itu.

Setiap hari, bocah itu dan anak-anak lain akan bermain sampai sore. Hanya bermain, tidak ikut sekolah. Orang tua temannya hanya berfikir dia anak kampung sebelah yang tidak disekolahkan orang tuanya.

Setelah sore, saat anak-anak lain yang disuruh ibunya, dia juga pulang. Tapi tidak ada yang tahu rumahnya. Dia berjalan ke arah hutan dan akan menghilang disana. Tanpa jejak.

Hutan itulah rumah sekaligus sekolahnya. Tidak ada manusia, hanya ada hewan dan tumbuhan yang mengajarinya kehidupan.

Dia belajar ketidakserakahan dari singa yang akan berhenti makan setelah kenyang. Keadilan pada pepohonan yang tidak pandang bulu membagikan udara. Perjuangan hidup dari ulat yang akan menjadi kupu-kupu. Kepedulian dari seekor semut. Keluwesan dari air sungai. Perenungan mendalam dari gunung. Dan masih banyak yang lain.

Mereka semua adalah makhluk yang dianggap tak berakal. Tapi dengan rendah hati dia belajar dan sangat menghormati mereka.


Sekarang, di usia dewasanya, saat teman-temannya sibuk di kantor. Dia adalah satu-satunya manusia yang bisa terbang. Melayang di atas semua manusia dan menjadi sumber segalanya. Ia memang tidak pernah sekolah, tapi ilmunya adalah ilmu yang nyata bagi umat manusia. Ilmunya menuntun manusia pada kesufian hidup. Dia, bocah itu, adalah titisan Batara Wisnu.

Rabu, 14 Mei 2014

Ekalaya

Kalian tahu tentang lakon Ekalaya di pewayangan?

Itu adalah lakon dimana Arjuna merasa iri pada seorang pemburu yang bernama Bambang Ekalaya. Ceritanya, Arjuna bertemu Ekalaya di hutan. Sebelumnya dia melihat ada tujuh anak panah yang mengenai babi hutan pada titik yang sama, yaitu mulutnya saat sedang mangap. Arjuna yang melihat itu langsung gusar. Dicarilah orang itu.

Setelah ditelusuri, akhirnya Arjuna bertemu dengan Ekalaya. Orangnya gagah dan istrinya cantik. Namanya Dewi Anggraeni.

“Dari mana kau belajar memanah?”

“Oalah ini penengah Pandawa, Arjuna? Saya belajar sendiri, Tuan.” Ekalaya sangat sopan. Arjuna pun sebenarnya tidak mempermasalahkan ia belajar dimana. Yang dipermasalahkannya adalah karena dia harus membayar uang sekolah sangat mahal pada Mahaguru Durna untuk ilmu itu.

Ora mungkin, yang bisa memanah sehebat itu cuma Begawan Durna.”

Setelah dipaksa akhirnya Ekalaya mengakui. “Nggih Tuan, saya belajar dari Begawan Durna. Patung yang saya buat itu bisa membawa beliau kesini dengan teleportasi.”

“Berapa bayarnya?” Arjuna ketus.

“Saya cuma pemburu yang kebetulan punya bakat, jadi saya digratiskan semua biayanya oleh beliau.”


Saat tahu fakta itulah Arjuna meminta pertandingan memanah yang diwasiti Durna diadakan. Akhirnya Durna pun berat sebelah pada Arjuna karena takut kehilangan gajinya. Arjuna pun bisa mengalahkan Ekalaya dengan memintanya memotong jempolnya sebelum memanah.

Senin, 12 Mei 2014

Metode Pencabut Nyawa dan Skenario Hidup Abadi

Kurt

1 April 1994, skenario April mopku sukses. Hanya sehari aku berada di Exodus Recovert Center di Los Angeles yang membosankan untuk rehabilitasi. Aku berhasil menipu penjaga. Dengan alasan ingin merokok, pagar setinggi enam meter berhasil kulewati. Dan aku kembali menjadi Kurt yang bebas. Apa menyenangkannya hidup di sana, tidak bisa memakai heroin.

Di sepanjang jalan menuju Seattle pikiran itu semakin deras menghantam otakku. Di dalam taksi aku hanya memandangi jalanan Los Angeles. Kosong. Aku mengingat semua orang yang aku cintai sebelum aku memutuskan untuk melakukannya atau tidak. Courtney istriku, Frances yang sebentar lagi berusia dua tahun, Krist, Dave dan Nirvana. Aku akan merindukan kalian, dan kalian juga pasti begitu padaku nanti.

Ada satu nama yang tiba-tiba muncul, Boddah. Teman khayalanku. Aku baru mengingatmu lagi. Apa kau baik-baik saja? Musik dan semua ini telah membuatku lupa padamu. Maafkan aku Boddah, sebentar lagi kita akan bertemu. Di alam tanpa batas ruang dan waktu.

Aku sangat sangat stress saat masuk ke ruangan ini. Aku langsung membuka laci mejaku. Masih tersimpan rapi disitu. Remington si senapan penghancur angsa. Di laci sebelahnya heroin dan valiumku juga masih ada. Kuambil kedua benda itu dan duduk di tengah ruangan untuk menulis pesan terakhirku.

Kamis, 08 Mei 2014

Laut Disana

Cokelat, biru, putih, hijau.
Wajah laut berbagai warna memantulkan keindahan.

Dudukku terpaku.
Mataku tak beranjak.
Dari jendela kereta api,
kusapu pandanganku
menuju laut dan mengitarinya.
Luas, hanya terbatas bumi yang bulat
dan laju kereta yang semakin menjauh.

Laut, disana.
Petani garam menantang matahari,
mengasini masakan dicampur keringat.
Pemancing ikan murung tak dapat ikan.
Terang saja, karena kail mereka tak berumpan.
Sejoli pacaran di bawah pohon rindang,
sementara pohon gersang menanti kekasih

Laut, disana.
Kuli rel kereta api beradu dengan kerasnya baja dan batu.
Memunggungi laut di balik bukit gundul rawan longsor.
Malamnya, jerit nelayan memecah karang.
Stok solar mereka tak mampu lagi menghalau ombak.
Kekeh camar pun terdengar sarkas di atas kepala.

Laut, disana.
Aku hanya bisa melihat
tanpa bisa menjamah.
Seperti aku yang belum bisa menjamah-Mu.
Dan Anda yang masih enggan menjamah mereka.


IndraRama
K.A. Menoreh, 1 Mei 2014

Rabu, 07 Mei 2014

Frase Jantung

Jantung Hati

‘Kamu adalah jantung hatiku.’ Hanya itu kalimat yang struktur bahasanya utuh yang bisa dia ingat. Kalimat itu sisa-sisa kewarasan yang sudah tinggal setengah persen ada di pikiran perempuan itu. Sisanya adalah ceracau, terkadang jeritan, memilukan dari dalam gubuk lusuh dengan kaki, tangan, dan jiwa yang terpasung atau lebih tepatnya dipasung.

Lelaki itu, yang mengaku jantung hatinya, bersama teman-temannya memperkosa dan membuangnya telanjang di hutan jati pinggir kampungnya dua hari lalu.

Jantung Pisang

“Pak, bagaimana cara mengambil jantung itu?” Tanya seorang anak saat bersama ayahnya memanen pisang di kebun.

“Gampang Nak, pakai golok itu dan tebas jantungnya.” Ayahnya mencontohkan dengan mengambil jantung pisang.

Keesokan harinya ayahnya pingsan saat anak itu datang dan berkata, “Bapak, aku berhasil mendapatkan jantungnya dengan golok ini,” sambil menunjukan jantung manusia berlumur darah. Kata anak itu, itu adalah jantung lelaki yang memperkosa kakak perempuannya dua minggu lalu.

Transplantasi Jantung

Ayah anak itu mendadak mati kena serangan jantung setelah semua keluarganya hancur. Istrinya selingkuh dan minggat satu tahun lalu, anak perempuannya diperkosa dan sekarang dipasung karena gila, dan terakhir, baru saja bungsunya sukses memamerkan jantung manusia yang bahkan masih berdenyut.

Anak itu resmi hidup sebatang kara setelah ayahnya kaku dan dingin sambil meremas dada di hadapannya. Ia ingin menolong ayahnya.

Ia bakar jantung di tangannya. Kemudian ia robek dada ayahnya dan mengambil jantungnya, lalu merobek dada dan mencongkel jantungnya sendiri. Ditangannya sekarang sudah ada dua jantung segar. Ia bungkus dengan plastik berbeda dan menamainya masing-masing, ‘Jantung Bapak’ dan ‘Jantungku’, agar nanti tidak tertukar. Dimasukan keduanya ke dalam tas dan dibawanya beserta mayat ayahnya menuju dokter ahli transplantasi jantung.


IndraRama
Kamar Kos dan lagu-lagu A7X, 6 Mei 2014 19:43

Selasa, 29 April 2014

Detektif Pilu

Sebuah laporan mengenai pemilu sampai ke meja Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Laporan itu membuat geger mereka sehingga divisi khusus paling rahasia yang bertugas menginvestigasi kasus-kasus pemilu tingkat super harus turun gunung untuk kasus ini.

Laporan awal yang datang adalah suara dari TPS 666 yang masuk hanya sepuluh persen dari warga yang terdaftar. Sisanya tidak hadir saat hari pencoblosan.

Beberapa jam setelah divisi yang menamai dirinya “Detektif Pilu” itu menerima kasus ini, mereka langsung bekerja mengerahkan orang-orang terbaiknya. Mereka menganalisis data dan TPS. Kemudian mereka menarik kesimpulan bahwa TPS itu fiktif. Tapi laporan itu tidak fiktif karena resmi disampaikan KPPS setempat.

Detektif Pilu yang terdiri dari orang-orang hebat itu pun meluncur ke TKP. Dari kejauhan ternyata benar ada TPS tersebut. Tapi letaknya tepat di tengah-tengah kuburan.

Mereka langsung menuju TPS yang tampak sepi itu. Di sepanjang jalan melewati nisan-nisan, mereka mulai curiga ada yang tidak beres. Nama yang ada di nisan-nisan itu cocok semua dengan daftar pemilih yang terdaftar disana. Ternyata berdasarkan hasil penyelidikan, yang terdaftar di TPS itu memang sudah meninggal semua.

“Kalau semua meninggal termasuk KPPS-nya, terus suara sepuluh persen dan yang melaporkan kasus ini siapa?” Tanya salah satu anggota dengan ketakutan di wajahnya.


******

(Menang Lomba Cerita Mini (CERMIN) Bentang Pustaka dengan tema Politik-Golput edisi Sabtu, 26 April 2014)

Minggu, 27 April 2014

Pinokito

Di sebuah negeri bernama Negeri Fantasinesia hiduplah Pinokito. Tinggal seorang remaja pengangguran tapi suka melucu di depan orang-orang.

Negeri itu saat ini sedang mengadakan pemilu. Berbeda dengan di negeri biasa, di negeri itu TPS-nya tidak dijaga dari awal sampai hasil suara diumumkan. Semuanya menggunakan sihir bernama “Sihir Pemilu”. Ada mantra rumit yang sudah dirumuskan para ahli untuk mengamankan pemilu dari kecurangan.

Tapi caleg selalu lebih maju curangnya. Dan salah satunya dilakukan Pinokito. Dia menemukan siasat jitu menambah suara.

“Kita manfaatkan orang-orang buta, nanti akan aku antar mencoblos dan aku yang mencobloskan, tentu sesuai kehendakku. Bagaimana?” Pinokito menjelaskan pada si caleg.

“Cerdas, kita tidak perlu merusak mantra.” Kata si caleg senang.

Singkat cerita Pino berhasil mengumpulkan sebelas orang buta. Dia antar ke TPS. Dan menjalankan rencana. Mantra itu tidak mendeteksi kecurangan, dia berhasil.

Tapi beberapa hari setelah si caleg menang di TPS itu, Pino tidak pernah keluar rumah. Bahkan di acara perayaan kemenangan sekalipun. Si caleg pun mengunjungi rumahnya.

“Pino, kamu keman sa… ja?” Tanya si caleg kaget melihat Pinokito.

Ternyata karena kecurangan itu jari Pinokito berubah warna jadi ungu semua. Dan yang lebih parah, karena dia mencoblos sebelas kali ditambah coblosan asli dia, jarinya bertambah menjadi dua belas.

Kamis, 24 April 2014

Caleg dan Satu Slop Rokok

Di suatu pagi. Matahari begitu sombong memandangi para caleg yang harap-harap cemas menjelang waktu pencoblosan. Tak terkecuali Pak Umar, caleg dari sebuah partai yang baru saja mengeluarkan uangnya lagi. Uang hasil menggadaikan sertifikat rumahnya yang sudah ia tetapkan sebagai modal investasi untuk turun jabatan dari rakyat menjadi wakil rakyat.

Dua juta rupiah untuk dua puluh remaja teman sepermainan anaknya. Dengan syarat sangat mudah, tinggal coblos saja Partai Maju dan caleg nomor urut empat pada surat suara berwarna biru atau DPRD Provinsi.

Salah satu penerima politik uang itu adalah Erwin. Remaja yang baru pertama kali ini mencoblos karena baru cukup umur. Di rumah Pak Umar, Erwin dan teman-teman serombongannya menerima uang itu.

Setelah pencoblosan beres. Erwin langsung pergi ke warung dan membeli satu slop rokok untuk stoknya nongkrong dari uang itu.

Beberapa hari kemudian, saat ia sedang asik menikmati rokoknya. Sebuah kabar datang dari temannya.

“Pak Umar stress, dia gagal jadi caleg katanya. Tadi aku habis dari rumahnya.” Kata temannya.

“Memang pada nyoblos Pak Umar enggak ?” Tanya anak lain.

Erwin dengan santai menjawab.

“Sudahlah, salah sendiri curang, bagi-bagi duit. Aku mah nyoblosnya merem.” Dihisapnya lagi rokok amal dari Pak Umar itu.