Senin, 16 Juni 2014

Kupu-kupu Ungu di Atap Sulawesi

Aku masih takjub pada ceritanya. Walaupun kejadian itu sudah lebih dari seminggu sebelum aku berangkat mendaki ke gunung tertinggi di Pulau Sulawesi. Lelaki di warung kopi lesehan pinggir jalanan Jakarta –yang aku taksir umurnya hampir 70 tahun– itu banyak bercerita tentang Gunung Latimojong. Gayanya urakan dan santai walaupun kerutan pada wajahnya sudah mulai nampak.

Mungkin karena gayanya yang seperti itu, keringkihan manula sama sekali tidak terlihat pada gerak tubuhnya. Semangat dan gairah hidup juga terlihat jelas dari sorot mata dan nada bicaranya saat bercerita tentang gunung itu.

“Mau ke Latimojong, Dik?” Sambarnya tanpa memperkenalkan diri setelah mencuri pandang pada ponselku saat aku menerima pesan whatsapp dari grup “H-8 Latimojong Mei 2014”.

“Eh iya, Pak,” jawabku seketika menengok padanya.

“Bagus sekali itu, Dik, gunungnya.” Dia begitu antusias seperti sedang mempromosikan dagangan.

“Bapak pernah kesana?”

“Pernah, Dik. Enam tahun lalu. Saya sama mantan teman-teman Mapala kampus dulu. Sekarang ya sudah pada ‘senior’. Hehehe.” Katanya sambil menyalakan rokok kereteknya.


“Waktu itu mau perpisahan sama teman yang mau pindah ke Jerman. Katanya mendaki terakhir kalau-kalau sudah tidak sempat.” Sambil meniupkan asap rokoknya yang sepertinya berisi pengalaman-pengalaman petualangannya.

Dia masih saja tidak memperkenalkan diri sambil terus bercerita. Banyak sekali. Dari jalurnya, kondisi cuaca, cara ke sana, kondisi hutannya, petuah-petuah saat mendaki, tempat-tempat yang cocok untuk beristirahat, hingga puncak tertingginya yang baginya lebih dari sekedar tanah dan batu pijakan. Puncak bernama Rante Mario di titik 3478 meter diatas permukaan laut baginya adalah surga.

Aku hanya mendengarkan. Terkadang memberi tanggapan dengan pertanyaan tidak penting yang jawabannya hanya ‘ya’ dan ‘tidak’ atau hanya dengan gerak tubuh dan raut wajah.

“Rencanamu bagaimana, Dik?”

“Kata teman saya, sih, kita akan carter jeep dari Desa Baraka sampai Desa Karangan.”

“Wah enak itu, bisa sampai titik terjauh mobil. Kalau kita dulu harus jalan dari pasar sampai Desa Karangan. Apalaigi kita sudah aki-aki.” Katanya dengan nada bercanda kali ini.

“Hahaha. Tapi hebat, kok, Pak.” Jawabku.

Ia melanjutkan cerita pengalamannya. Diam-diam aku mulai bosan mendengarkan ceritanya yang biasa-biasa saja. Sampai topik pendakian normal sudah habis, dia bercerita sesuatu yang membuatku takjub dan penasaran sampai sekarang.

Dia bercerita tentang sebuah bunga yang bisa menjadi kupu-kupu berwarna ungu saat diterbangkan dengan cara memutar tangkainya. Dia menamainya “Bunga Ungu”. Katanya hanya akan ada satu tangkai berwarna ungu yang bersinar di tengah gelap malam. Dan, tidak semua orang bisa melihat bunga itu. Mungkin saja hanya dia yang melihat bunga ajaib itu. Atau mungkin hanya dia yang mengigau tentang hal yang tidak masuk akal itu.

“Saya tidak bohong, Dik. Tapi terserah kamu mau percaya atau tidak.”

Aku mengangguk tapi entah mengisyaratkan ‘iya’ atau ‘tidak’.

“Kalau beruntung mungkin kamu bisa juga ketemu bunga itu.”

Kami diam sebentar. Otakku seperti terangsang sesuatu yang disebut penasaran. Padahal sudah jelas-jelas hal itu tidak masuk akal di zaman GPS seperti sekarang. Apalagi dia bilang kupu-kupu ungu dan bercahaya itu akan menuntun kita sampai pada tempat paling indah di gunung itu. Surga.

“Wah sudah malam, enggak kuat angin malam saya. Saya pulang dulu ya, Dik. Kalau kamu percaya tentang bunga itu, mungkin kamu bisa ketemu seperti saya. Keindahannya tidak tertandingi pokoknya.” Setelah membayar kopinya, beserta kopiku juga, dia berjalan dan belok ke arah sebuah gang tanpa sempat memperkenalkan namanya.

Aku masih duduk dan menghabiskan separuh batang rokokku sambil mencerna kata-katanya. Hanya pertanyaan yang ada: apakah aku percaya atau tidak? Dan aku memilih tidak percaya tapi ingin mencari tahu.
***
Harinya datang juga. Kita berenam, dengan anggota lima laki-laki dan satu perempuan, siap mendaki dengan lama perjalanan pulang pergi kira-kira tiga hari dua malam. Kita sudah bersiap di Desa Karangan di kaki gunung Latimojong.

Dari kaki gunung ini, rasa penasaran akan bunga ungu semakin menjadi. Aku bahkan sudah berkhayal menerbangkannya dan berubah menjadi kupu-kupu ungu bercahaya yang cantik. Kemudian terbang dan hinggap di jari telunjukku. Aku ajak dia berbicara dan dia banyak bercerita tentang keindahan surga di gunung ini.

“Bedoa dulu yuk sebelum jalan.” Ajak temanku.

Kita membuat lingkaran dan mulai berdoa.

Pasti hanya aku yang tidak berdoa dengan ‘benar’. Aku tidak meminta apapun kecuali bisa menemukan bunga ungu itu. Resmi, penasaranku sudah naik kelas menjadi obsesi.

Kami pun mulai jalan. Saat itu tengah hari. Matahari masih bertengger sombong mengencingi kepala kami. Gunung ini memang tidak punya sopan santun. Baru berjalan beberapa meter, kami sudah disuguhi tanjakan.
Total ada tujuh pos sebelum sampai puncak. Semua menanjak tanpa ampun. Tantangan yang berat yaitu dari pos satu menuju pos dua, kita berjalan melipir dan hanya cukup untuk satu orang. Kita bermalam di pos dua. Pos dua ini adalah batu besar yang membentuk seperti goa. Ada sungai jernih bisa untuk minum dan memasak. Kita bermalam di bawah batu besar itu. Beralas matras dan sleeping bag.

Aku tidak bisa tidur malam itu. Obsesiku pada bunga itu tak bisa diajak kompromi. Saat teman-temanku sudah tidur aku duduk dan memandang gelapnya hutan sambil merokok. Aku arahkan senterku berharap menemukan bunga itu, tapi hanya ada daun-daun. Hanya khayalan yang tadi sempat terputus yang datang.

“Surga.” Bisik kupu-kupu itu di titik terdalam imajinasiku.

Esoknya perjalanan berlanjut. Aku cukup kuat untuk selalu berjalan paling depan dan meninggalkan teman-temanku. Sampai pos enam hari sudah gelap. Aku masih melanjutkan dengan sisa-sisa kalori yang terus berkurang dan asam laktat yang meningkat terus. Dari sini, lereng gunung membentuk sudut lancip nyaris delapan puluh derajat terlihat saat aku istirahat dan membuka susu kotak sejenak. Aku memandang ke bawah sejauh kemampuan mataku berakomodasi.

Saat itulah aku melihat cahaya itu. Cahaya ungu di tengah lereng. Awalnya, aku mengira hanya halusinasi. Tapi kemudian aku yakin itu nyata. Itulah bunga ungu itu. Cahyanya terang, indah, dan menyejukaan. Seolah terhipnotis, aku berjalan perlahan sampai ujung pijakan menuju ke sana. Betapa bodohnya aku, tentu saja aku pasti jatuh. Aku berguling, merusak ranting-ranting rapuh, menghantam batang pohon, dan menyeret humus belukar. Sampai semuanya menjadi gelap. Total.

Terjaga atau terpejam sama saja gelap. Hanya ada satu cahaya: Bunga ungu, beberapa langkah di sampingkku. Aneh, aku tidak merasa sakit sama sekali setelah terjatuh seperti itu. Aku berdiri dan berjalan memetiknya. Kuterbangkan dengan memutar tangkainya. Bunga itu berputar beberapa kali dan kemudian menjadi kupu-kupu ungu yang cantik.

***
Kupu-kupu itu terbang mengitari kepalaku. Aku takjub menyaksikan kepakan sayapnya yang lembut. Aku sekarang tahu mengapa saat ada kupu-kupu di rumah artinya akan ada tamu datang, mereka pasti sedang mengejar kupu-kupu itu. Seperti aku sekarang, semburat warna ungu bergaris hitam pada sayapnya seperti tali yang menarikku kemanapun. Dia terbang menerobos kegelapan. Dan aku mengikutinya.

Surga. Saat cahaya muncul, itulah kata yang pertama terlintas. Tanah lapang yang luas, ada telaga kecil dan pepohonan hijau yang menyaring cahaya matahari masuk ke dalamnya. Lumut-lumut membentuk koloni di dua sisi jalan setapak. Beberapa menempel pada batang pohon, mewarnai batangnya yang kusam.

Ikutilah aku. Kata kupu-kupu itu. Aku hanya menurut.

Dia terbang lagi, mengajakku berkeliling. Semua makhluk menari, seperti ada karnaval disini. Nyamuk, agas, lintah, burung, bahkan matahari pun menari. Kupu-kupu itu terbang keluar hutan lalu hinggap diatas batu. Ada tulisan di sana: Selamat Jalan, Akbar Mangkona. 10 April 2008. Hipotermia akan Membawamu ke Surga.

Ini yang diceritakan teman-teman tentang pendaki yang mati karena hipotermia. Kupu-kupu itu terbang lagi melewati hutan kecil dan sampai pada sebidang tanah dengan tugu di tengahnya. Inilah puncak Latimojong, Rante Mario. Indah sekali. Awan putih dan biru bergradasi melukis langit. Seperti sekumpulan malaikat sedang berpesta. Menakjubkan.

“Sampai juga ya di puncak.” Sebuah suara menegurku. “Terima kasih sudah percaya.” Aku langsung menoleh. Dia lelaki di kedai kopi yang bercerita tentang bunga ungu.

“Bapak?”

“Ya, saya pemilik kupu-kupu ini.” Kupu-kupu itu hinggap di pundaknya.

“Aku akan wariskan kupu-kupu ini padamu. Karena kamu masih percaya pada keindahan surga. Mana tanganmu.”

Aku tengadahakan tanganku. Ditaruhlah kupu-kupu ungu itu. Kupu-kupu itu tersenyum padaku. Manis sekali. Kubalas senyumnya. Aku rasa aku mencintainya. Aneh tapi nyata, aku lalu bersenggama dengannya.

***
Aku dengar suara tangisan. Lalu aku terjaga dan berusaha mengenali tempatku. Serba putih. Aku lihat ibuku menangis di lenganku.

“Bu…” kataku lirih.

“Alhamdulillah, Le, kamu sadar juga.” Suara ibuku bercampur isak tangis.

“Aku kenapa Bu, tadi kan aku masih di gunung.”

“Kamu jatuh ke jurang, Le, dan baru ketemu dua hari setelahlahnya.” Kata ibuku sambil memeluk erat tanganku. “Syukur kamu masih selamat. Kamu sudah koma lima hari.”

Aku kaget. Bagaimana bisa. Baru saja aku merasakan puncak Latimojong. Walau aku memang tak pernah merasa turun dari sana.

“Bu, apa ada kupu-kupu warna ungu?” Pertama yang kuingat adalah dia.

“Oh ada Le, ini ditemukan di tanganmu.” Ibuku mengeluarkannya dari sakunya.


Kupu-kupu itu sudah mengeras. Aku amati. Dan aku menemukan tulisan sangat kecil di balik sayapnya: Dari Puncak Rante Mario Latimojong. Akbar Mangkona.


IndraRama
Kamar Kos. 10 Juni 2014 00:54

Tidak ada komentar :

Posting Komentar