Selasa, 13 Januari 2015

Jogja (5) - Main Air di Pantai Siung

Pantai Jogan
14 Desember 2014. Hari kedua kita di Jogja. Bangun pagi, dan rencananya kita akan main air di pantai di daerah Gunung Kidul. Tapi namanya setan, bangun tidur pun langsung muncul. Setan malas. Rasanya malas untuk bangun, duduk, lalu mandi. Jadilah kita rebutan. Rebutan siapa yang mandi belakangan dengan saling menyuruh mandi duluan. Plus, streaming acara “Jalan-jalan, Men” di youtube, setan malas semakin senang. Dari jadwal jam 7 pagi, baru pergi jam 8. Itupun harus mampir dulu ke tempat teman saya.

Pagi itu matahari bersinar cerah. Secerah tujuan kita mengunjungi rumah Nyi Roro Kidul di pantai selatan. Jalanan lancar, tidak macet. Rute ke Gunung Kidul pun kita sudah hafal. Jadi nyaris tanpa hambatan untuk sampai kesana. Hanya saat ditengah jalan menuju pantai Siung, tiba-tiba ada ular yang saya kira retakan jalan. Untung saja ular tersebut tidak berlari ke arah motor kita. Bisa repot.

Jogja (4) - Ayo, Makan Mercon

Wisata alam di Kalibiru, wisata perjalanan dan wisata seni di museum De Mata Trick Eye sudah selesai. Artinya, agenda wisata pada hari itu, 13 Desember 2014, sudah selesai semua. Terakhir yang belum adalah mengisi perut. Wisata kuliner. Belum lengkap kalau ke Jogja tanpa wisata kuliner. Seharian hanya makan cheezy sandwich saja, perut pun mulai berulah.

Makan Mercon
Rencana awal kita mau makan di tempat bernama Telap 12 yang ternyata tak jauh dari De Mata Trick Eye. Tempat itu menjual Indomie yang mirip dengan bungkusnya. Ah, Indomie. Lelah saya akan hilang kalau saya sudah menikmati indomie rebus rasa ayam bawang. Kalau suka nonton serial Ipin dan Upin, maka saat saya melihat indomie, saya akan bertingkah seperti Ipin saat melihat ayam goreng. Tapi ternyata tempatnya tutup. Gagal sudah menikmati indomie malam itu.

Minggu, 11 Januari 2015

Jogja (3) - Tipuan-tipuan yang Menyenangkan

Malam Minggu. Kata orang malam yang menyenangkan. Dan kita juga orang, jadi  kita merasakan hal yang sama. Walaupun lelah setelah perjalanan jauh Semarang-Kalibiru, ditambah hujan sepanjang jalan menuju kota Jogja. Namun, semua tetap menyenangkan karena ini malam Minggu, dan karena kita masih punya agenda di Jogja.

Tembok Cina
Tujuan kita adalah Museum De Mata Trick Eye. Secara harfiah dari nama museumnya, museum itu berarti tipuan mata. Benar, karena disana berisi tipuan-tipuan visual. Museum ini terletak di area basement XT Square, Jalan Veteran Jogjakarta.

Saat tiba di lokasi, sekitar pukul 8 malam, saya agak canggung karena areanya sepi. Jadi seperti tempat hiburan dengan mainan anak-anak dan stand-stand baju serta makanan, namun hampir semuanya tutup. Ditambah disana tidak ada parkir resmi. Tapi di jadwal buka musemumnya memang sampai jam 10 malam. Di belakang area sepi itulah ternyata museum itu tampak sepi juga, mungkin karena sudah malam dan hujan. Tapi karena sepi jadi lebih bisa puas untuk berfoto karena tidak perlu mengantri dan terganggu oleh pengunjung lain.

Jogja (2) - Semua Mata Tertuju pada Kita

Kalibiru. Akhirnya kita tiba juga. Sebuah wisata terpadu yang terletak di daerah Kulonprogo. Atau kalau orang-orang bilang Jogja coret. Karena wilayahnya tidak masuk kota Jogja.

Foto di Pohon
Disana ada danau buatan yang sepertinya dimanfaatkan untuk irigasi dan PDAM. Dari danau itu harus naik melalui kampung-kampung lagi untuk menuju wisata Kalibiru-nya. Ada plang penunjuk jarak yang ngaco disana. Pertama tertulis “Kalibiru 2,5 km”, setelah jalan agak lama ada lagi plang bertuliskan “Kalibiru 2,5 km”. Masih 2,5 km. Perlu dipertanyakan mahasiswa KKN yang melakukan papanisasi disana.

Tiba juga di area parkir Kalibiru. Kalian tahu rasanya? Lelah. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan disana, karena informasinya hanya ada outbound dan berfoto di pohon. Untuk sampai ke sana dari area parkir harus berjalan kaki. Menanjak. Ya menanjak. Masalah? Iya, masalah.

Kita istirahat sejenak di warung. Makan siang sambil menyandarkan punggung. Karena di motor, saya tidak bisa bersandar pada Winda. Belum berani.

Sabtu, 10 Januari 2015

Jogja (1) - Hanya Salah Jalan, Bukan Salah Tujuan

Winda : “Besok jadinya bisa berangkat jam berapa?”
Saya : “Ya, aku usahain pagi deh. Jam 8 semoga bisa.”
Winda : “Iya, jangan kesiangan nanti sampe Jogja kesorean.”

Begitulah penggalan percakapan mengenai rencana kita ke Jogja. Karena saya tidak enak langsung pergi pagi-pagi dari rumah nenek, jadi saya tidak bisa menjanjikan untuk pergi terlalu pagi. Padahal memang enak kalau pergi pagi-pagi, karena bisa punya waktu lebih banyak di Jogja.


Salah Jalan

Tapi akhirnya saya bisa menepati janji untuk sampai Banyumanik (start point kita) jam 8 pagi. Saya sudah dalam perjalanan menuju kesana pada jam setengah delapan. Dengan bus jurusan Solo yang langsung lewat jalan tol, maka maksimal jam 8 sudah sampai Banyumanik. Saya pun menelpon dia, memberi kabar kalau saya sudah di jalan. Tapi, jawaban dia adalah “Loh? Aku belum apa-apa, kamu nunggu dulu aja ya. Pokoknya masih lama.” Tut-tut-tut, suara telpon kemudian ditutup.

Jumat, 09 Januari 2015

Tentang Perjalanan

Perjalanan atau trip atau travelling sejatinya bukan hanya soal tujuan. Banyak faktor yang membangun keseruan perjalanan itu. Seperti dengan siapa kita jalan dan yang paling penting adalah perjalanan itu sendiri. Bukankah orang bijak berkata bahwa tujuan bukanlah utama, namun proseslah yang paling utama. Saya setuju dengan itu. Proses adalah sebuah hal yang perlu dinikmati. Namun, apakah proses itu hanya dinikmati lalu menguap, dan jadi cerita seperti dongeng mulut ke mulut? Bagi saya tidak untuk itu, kita perlu merekam dan mecatatnya sebagai cerita, sejarah, kenangan atau apapun penamaan yang pantas. Dan untuk merekam itu semua, tulisan adalah media yang tepat.


Travel Quotes

Tiap momen yang tidak terekam kamera, handycam atau alat apapun, bagi yang senang bercerita akan terekam dalam imjinasinya. Lalu akan tersimpan. Dan menuliskan nikmatnya perjalanan, dari mulai merencanakan hingga pulang lagi, akan menghasilkan sebuah rekaman untuk kemudian dibaca kembali dan dikenang.