Kamis, 04 April 2013

Legend Beach and Java Hidden Paradise (1)


Pantai Pelabuhan Ratu ,The Legend Beach, tempat itulah yang kali ini membuat lingkar pengalaman dan pengetahuan akan negeri yang indah ini bertambah. Bermodal adanya long weekend tepat setelah gajian, saya langsung membuat planning bersantai di pinggiran Samudera Hindia di selatan Kota Sukabumi. Sebenarnya saya mengharapkan ada teman yang ikut gabung supaya lebih seru, tapi berhubung tidak ada yang mau dengan alasan mereka masing-masing jadi saya memutuskan pergi sendiri. Sepulang kerja terakhir di minggu terakhir bulan Maret, saya mempersiapkan bawaan. Peralatan tidur di hutan saya bawa untuk jaga-jaga kalau harus tidur di pinggir pantai. Paginya langsung saya cus menuju “Pantainya Nyi Roro Kidul”.

Saya menempuh rute Jakarta-Bogor-Pel. Ratu dengan bus. Walaupun bus Bogor-Pelabuhan Ratu penuh, tanpa AC, dan macet hingga memakan waktu hampir 5 jam dari normalnya yaitu 3 jam tapi semangat saya untuk mengukir cerita tetap teguh walaupun akhirnya kalah juga sama capkenya berdiri di bus yang penuh. Tidurlah saya di lantai bus tanpa memperdulikan sekitar. Sampai di terminal Pel. Ratu rasanya sudah tidak mau saya melanjutkan perjalanan saking bete-nya di dalam bus ditambah ditawari ongkos ojek ke pantai sebesar 20 ribu. Tapi dengan starategi jitu (ke kamar mandi dulu, mang !), saya bertanya ke penjaga kamar mandi dan ternyata ada angkot menuju pantai yang cuma 5 ribu, lumayan kan 15 ribu buat makan. Sayapun menuju pantai tepatnya Pantai Karang Hawu yang cukup terkenal di internet dan konon adalah tempat bunuh dirinya Nyi Roro Kidul (secara tragis). Dengan angkot ungu jurusan Terminal Pel. Ratu - Terminal Cisolok yang menyusuri beberapa pantai lain seperti Citepus, Cimaja, Samudera Beach (Ada kamarnya Nyi Roro Kidul) dan lainnya  sampailah saya di Karang Hawu sekitar pukul 15.30. Dan ternyata pantainya paling ramai daripada pantai-pantai yang saya lewati tadi di angkot.

Dengan tujuan mencari pernginapan murah saya langsung menuju posko life guard Karang Hawu. Disana saya berkenalan dengan Kang Adi yang setelah ngobrol-ngobrol akhirnya mengajak saya tidur di warungnya yang buka 24 jam pada hari itu karena long weekend. Sebuah warung beratapkan terpal yang menghadap jalan yang sepanjang malam ramai olah mobil dari arah Pel. Ratu, serta beralaskan trotoar jalan berbalut terpal dan tikar menjadi tempat menginap saya malam itu. Penginapan yang akhirnya saya nikmati karena penuh candaan dan cerita-cerita lingkungan pantai bersama teman-teman Kang Adi yang hampir semuanya penjaga pantai.

Sorenya Pantai Kebon Kelapa Pelabuhan Ratu
Pantai Karang Hawu tergolong kotor menurut saya, letaknya yang tepat disisi jalan raya membuat suasana alami pantainya seakan memudar hanya dari sisi laut yang memiliki semua ciri laut selatan dan Karang Hawunya lah yang menarik. Ombak saat itu menurut Kang Adi tergolong kecil hanya sekitar 1-1,5 meter, namun cocok untuk belajar surfing. Pemandangan ombak yang menabrak karang baru kali ini saya lihat dan terllihat keren dibanding ombak di lautnya. Puas menikmati laut pandangan saya tertuju pada sebuah karang yang menjulang membentuk bukit yang akhirnya saya ketahui adalah yang dinamakan Karang Hawu. Bentuknya seperti tungku yang mungkin sudah agak penyok karena abrasi bertahun-tahun. Di tempat itulah konon katanya Nyi Roro Kidul menceburkan diri lantaran sakit yang tidak kunjung sembuh dan menjadi legenda kemudian menginap di Samudera Beach Hotel. Selesai berkeliling saya pindah ke pantai sebelah untuk bersantai menikmati deru ombak. Pantai Kebon Kelapa namanya, letaknya di balik gunung Karang Hawu. Disana lebih sepi dibanding di Pantai Karang Hawu, namun bagi saya lebih tenang untuk menikmati sore hingga matahari terbenam. Sayangnya sunset-nya ada di balik sebuah bukit jadi tidak kelihatan, ditambah langit mendung saat itu.

Ombak Pantai Karang Hawu yang Menabrak Karang
Paginya Kang Adi yang mau mengantarkan saya ke Java Hidden Paradise membatalkannya karena dia melatih surfing orang Perancis dan belakangan saya ketahui bahwa disana ada tempat latihan dan kursus surfing bernama Wakalaka Surf. Saya banyak bertanya tentang Wakalaka Surf, dan ternyata bos dari Wakalaka Surf adalah orang Perancis begitu juga rata-rata tempat surfing di Pel. Ratu. Alasannya karena papan surf professional harganya mahal yaitu 8 juta untuk yang kecil dan 15 juta untuk yang besar. Ironis, padahal ombak dan lautnya milik Indonesia dan pelatihnya pun orang pribumi. Jam 10 tepat orang-orang prancis itu datang, dan ternyata yang latihan bukan hanya orang dewasa tapi anak-anak umur 6 atau 7 tahunan. Hebat. Kalau di indonesia paling cuma anak-anak pantai yang bisa begitu, orang kota boro-boro boleh sama orang tuanya yang ada takut ini takut itu saja isinya. Kata kang Adi, anak-anak pantai yang baru SD kelas 4an sudah bisa beberapa teknik surfing dan sudah bisa jadi penyelamat yang tenggelam. Saya jadi malu mendengarnya, saya renang saja tidak bisa. hehe

Anak-anak Perancis Latihan Surfing
Setelah puas menonton, hari itu, acara di pantai Karang Hawu saya akhiri dengan menunggu mobil ELF menuju Java Hidden Paradise di warungnya Kang Adi sambil santap siang.


Bersambung ...