Sabtu, 22 Juni 2013

Gaulpala di Gunung Burangrang

 “Saya dan teman saya Didot memutuskan menghidupkan lagi Gaulpala di Puncak Burangrang, Bandung. Tentu saja kata gaul disini bermakna cenderung negatif alias bodoh”

Tugu di Puncak BurangrangBerangkat dengan bus Primajasa menuju terminal Leuwi Panjang, kita masih harus melanjutkan perjalanan ke terminal Ledeng dengan bus Damri. Busnya super penuh plus jalanan macet. Jadilah sebelum mendaki kita pemanasan dulu berdiri sekitar 2 jam di bus. Dari Terminal Ledeng naik ke terminal Parongpong dan dilanjut angkot kuning ke Gapura Komando yang menjadi titik awal pendakian. Dari Gapura Komando kita berjalan melawati rumah-rumah penduduk ke Pos Perhutani. Tak terduga di sebuah rumah yang cukup tinggi, tiba-tiba 2 ekor anjing menggonggong tepat di depan muka saat kita lewat. Sepertinya si anjing tahu kalau kita kurus-kurus dan mencium bau tulang.

Kita tiba di pos Perhutani pukul 18.30. Kita bermaksud solat dan meminta izin naik malam ini. Namun karena kita berdua newbie di gunung dengan ketinggian 2.050 mdpl itu, kita tidak diizinkan naik malam itu dan hanya diizinkan buka tenda di pos 1 baru kemudian naik saat subuh. Ya sudah, kita memutuskan ngobrol-ngobrol sebentar dengan bapak-bapak penjaga sebelum ke pos 1. Perlu dicatat fasilitas pos Perhutani ini cukup lengkap. Ada warung kopi, kamar mandi, colokan listrik, mushola dan lahan parkir yang memadai.

Habis isya kita berangkat menuju pos 1 diantar oleh bapak-bapak penjaga pos Perhutani dan 3 mahasiswa yang sedang mencari temannya. Di pos 1 kita memutuskan membuka tenda baru kita. Maksudnya merawanin. Tapi dasar teman saya yang sok pro, waktu dia beli dan disuruh mencoba di tokonya, dia malah bilang ke penjaga tokonya “bisa mas, udah biasa !”. Dia baru mengakuinya sesaat sebelum tenda dikeluarkan dan benar saja saat tenda digelar, cuma diputer-puter tidak tahu mau mulai darimana memasangnya. Hahaha. sampai ahkirnya senter kita satu-satunya mati dan semakin bodohlah kita –ada senter aja tidak bisa apalagi gelap. Tapi untung ketiga mahasiswa tadi melihat kita kesulitan dan akhirnya dibantulah kita. Kalau tidak, mungkin kita tidur saja di pos Perhutani sambil lihat final Liga Champion Dortmund vs Bayern Munchen.

Matahari Pagi di Burangang
Akhirnya tenda baru kita berdiri tapi setelah di lihat-lihat, ternyata pintunya menghadap ke hutan yang sepi. Lah ini maksudnya mau lihat pohon atau gimana ? Setelah semua clear, kita masuk dan mulai memandangi rumah baru kita sambil bertanya-tanya “iki kanggo opo yo ndes ? iki piye carane yo ndes ?”

Masak-masak pun dimulai setelah merapikan barang-barang. Malam itu kita berdua berhasil menghabiskan 9 sachet kopi. Pertama kita masak 3 sachet dengan rantang tanpa pegangan dan kompor parafin. Setelah matang, dan akan diambil, kopipun tumpah kesenggol. Belum putus asa, kita masak lagi 3 sachet. Tapi ternyata posisi kompornya miring jadi cukup kita lihat saja kopinya tumpah sendiri. Dan yang terakhir kita berhasil membawa kopi itu turun dari kompor dan menikmatinya. Kita lalu ambil kesimpulan kalau ini bukan kebodohan, tapi kita bermaksud mengurangi beban tas dari logistik. Ngeles sajalah yang penting.

Acara pendakian baru di mulai jam 3 pagi. Saat bangun dan melihat ke langit, sumpah bulannya bagus sekali di malam waisak itu. Purnama penuh dengan pelangi di sekelilingnya. Perjalanan ke puncak cukup cepat yaitu 2,5 jam dengan trek yang terkadang terjal dan ada jalur sempit dengan jurang di kiri dan kanan ditambah hanya membawa 1 senter. Nyaris tersesat tapi untung segera sadar dan kemudian sampai di puncak jam 5.30. Foto-foto, mengobrol dengan pendaki lain, dan sarapan kita lalukan di puncak yang ditandai oleh tugu setinggi 2 meter itu. Pemandangan di puncak cukup bagus dengan pegunungan yang terhampar di sekelilingnya walau sunrise-nya tidak terlihat karena terhalang Gn. Tangkuban Perahu.

Situ Lembang dari Puncak BurangrangSekitar jam 9 kita turun dan memberi salam “duluan” ke pendaki lain. Tapi saat percabangan terakhir menuju pos Kopasus dan Perhutani kita salah mengambil jalan. Walau sedikit curiga tapi kita lanjut saja dan sampai di sebuah mesjid. Kita bertanya kepada bapak-bapak, ternyata pos Kopasus jauh sekali. 1 jam kita mencari jalan tidak normal dan dirasa terdekat sampai ke pos Kopasus. Sampai disana ternyata sebagian pendaki yang sempat kita salami tadi sudah sampai lebih dulu di pos –jadi merasa bodoh kita. Hahaha. Karena semua kejadian itu kita memutuskan mengubah nama Gaulpala menjadi Pekokpala.

Tapi akhirnya pendakian kali ini ditutup dengan sebuah kepuasan setelah setahun tidak merasakan sunyinya hutan, dinginnya udara dan indahnya puncak.




Kamis, 20 Juni 2013

Beragam Corak di Kota Batik

“Batik (Bersih, Aman, Tentram, Indah dan Komunikatif) adalah moto Kota Pekalongan, Jawa Tengah yang menjadi sebab disebut sebagai Kota Batik”

Kota Pekalongan (selanjutnya disebut Pekalongan) adalah kota di Pantura Jawa Tengah yang merupakan jalur utama Jakarta-Semarang-Surabaya. Pekalongan berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Batang di Timur dan Kabupaten Pekalongan di Barat dan Selatan. Pekalongan terkenal dengan industri batik yang memiliki corak dan warna yang beragam yang disebut batik pesisiran. Batik Pekalongan juga banyak dijual di daerah-daerah yang masih menganut pakem batik keraton seperti Jogja dan Surakarta.

Banyak tempat-tempat yang menjadi “rumah” bagi kain batik pesisir khas Pekalongan. Kampung batik Pesindon dan Kauman –salah dua kampung industri batik di Pekalongan, pasar grosir Sentono –pasar grosir penjualan batik, Museum Batik Nasional dengan koleksi kain batik se-Indonesia-nya, dan yang baru diresmikan tanggal 2 Oktober 2012 yaitu IBC (International Batik Center) yang merupakan pusat penjualan batik bergaya modern tapi tetap ada tawar-menawar.

Saya pastinya mengunjungi Museum Batik Nasional. Letaknya di Jl. Jetayu No. 10 di belakang taman dengan tulisan B-A-T-I-K yang bermotif batik pada masing-masing hurufnya. Disana kita bisa melihat 1.089 koleksi kain batik dari seluruh Indonesia dan alat-alat untuk membatik. Kita juga dapat mengikuti kursus singkat disana, dimana ada yang gratis dan ada yang harus membayar lagi. Selain itu, karena pengunjungnya cukup sepi maka setiap rombongan akan dipandu oleh seorang guide yang akan menjelaskan secara umum isi dari museum. Harga tiket masuk cukup Rp 5.000,-

Museum Batik memiliki 3 ruang pamer dan 1 ruang workshop. Ruang pamer 1 berisi batik-batik pesisiran (Pekalongan, Cirebon dan Lasem) dan beragam alat untuk membuat batik seperti canting, kompor, dan berbagai zat pewarna alami dan sintetis. Batik Pekalongan sendiri menurut mbak-mbak guide-nya memiliki warna dan motif yang paling variatif dibanding yang lain, tetapi motif yang umum adalah yang bernuansa pesisir seperti hewan dan tumbuhan laut. Ragam motif dan warna batik Pekalongan tak lepas dari pengaruh pedagang-pedagang dari Cina, Arab, dan Belanda yang datang ke Indonesia melalui pelabuhan Pekalongan. Motif Batik Pekalongan juga selalu mengikuti zaman, seperti saat zaman pendudukan Jepang di buat batik ‘Jawa Hokokai’ yang motifnya mirip kimono-kimono Jepang. Tapi di ruangan ini yang menarik perhatian saya adalah Batik Khas Cirebon yaitu Mega Mendung yang bermotif awan-awan yang mengisi seluruh kain.

Ruang pamer 2 berisi batik-batik dari luar Jawa Tengah seperti batik dari Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Beragam warna dan motif benar-benar memperkaya kebudayaan Indonesia yang telah diakui UNESCO ini. Batik yang menurut saya menarik adalah batik dari Kalimantan dengan warna kuning-hitam khas dayak

Ruang pamer selanjutnya berisi batik-batik dari Yogya dan Solo. Batik-batik ini merupakan batik original keraton dengan warna yang didominasi coklat, putih dan hitam. Batik-batik yang biasanya hanya dipakai pada acara keraton dan punya makna serta waktu penggunaan masing-masing. Beragam motif terkenal seperti sidomukti, garuda, parang rusak barong dan kawung ada di ruangan ini. Selain itu ada juga batik-batik sumbangan dari tokoh-tokoh nasional seperti batik Pak Habibie dan Bu Ainun serta Pak Mantan Walikota Pekalongan yang saya lupa namanya. Sayangnya di semua ruang pamer tidak boleh memotret sembarangan, walaupun saya boleh masuk tanpa guide tapi tentu saja saya tidak melanggar aturan ini.

Di ruangan workshop kita bisa mencoba membatik, untuk pelatihan dari awal sampai jadi batik kita dikenakan biaya sesuai ukuran kain. Paling mahal Rp 65.000,- dengan durasi waktu 2-3 jam. Tapi yang gratisan juga ada, yaitu hanya membuat pola lalu menempelkan lilin atau malam di garis pinggir pola tersebut dengan canting tentunya.

Setelah “sekolah” singkat batik di Museum Batik Nasional, saya mengunjungi IBC yang terletak di Daerah Wiradesa. Gapuranya berhias canting berukuran 6m dan wajan berdiameter 6m dengan tulisan IBC. Disana berisi kios-kios batik dengan berbagai kualitas dan harga. Kita tinggal pilih saja sesuai selera dan kantong. Batik-batik motif lama sampai batik gaul dan pernak-pernik bermotif batik ada disana. Pokoknya tempatnya batik banget dah! Disana ada pendopo untuk berbagai pagelaran. Dan ketika saya kesana, ada sekelompok ibu-ibu sedang latihan akting. Kadang ada yang tanpa ekspresi aktingnya dan bahkan ada yang meledak-ledak. Lumayan sambil istirahat menonton artis-artis lokal.

Untuk kampung batik Pesindon dan Kauman letaknya tak jauh dari alun-alun kota. Tapi saya tidak sempat kesana karena memang tidak ada niat untuk belanja batik.

Kota Pekalongan memang menjadi salah satu surga pecinta batik di Indonesia. Di sepanjang jalanan kota tersebar toko-toko dan tempat pengrajin batik karena memang industri batik disini banyak dipegang oleh UKM. Keragaman dan kemodernan batiknya juga menjadi ciri khas tersendiri bagi kekayaan budaya Indonesia di mata dunia mewakili batik bergaya pesisiran.


-- Salam Dolan --


Rabu, 12 Juni 2013

Membatik Cinta di Kota Batik


“Bosan menghabiskan waktu di Semarang, saya mencoba ke Kota Batik, Pekalongan.”


Sabtu 18 Mei 2013, saya memutuskan m
engakhiri perjalanan Kereta Tawang Jaya saya di Stasiun Pekalongan. Di Kota Batik ini saya dan pacar saya menghabiskan H-1 13 bulanan kami. Sekitar pukul 6.00 saya di jemput dan menuju ke rumah nenek pacar saya di daerah Kajen, Kabupaten Pekalongan. Perjalanan pagi itu adalah perjalanan melepas kangen setelah 2 bulan terpisah oleh rel kereta yang membentang. Sampai disana saya beristirahat sejenak sambil menikmati secangkir kopi buatannya yang rasanya berkali-kali lebih nikmat sambil bersiap-siap untuk pergi. Suasana rumahnya nyaman karena letaknya di pinggir jalan, ada warung dan halaman yang luas.

Setelah siap, kami berangkat untuk membatik cinta di Kota Batik. Perjalanan yang selalu saya rindukan dengan lingkar lengannya di pinggang sepanjang jalan. Suasana pagi yang cerah mengiringi kami menuju tempat Wisata Keluarga Linggoasri yang letaknya di lereng pegunungan Dieng ke arah selatan Jalan Raya Kajen. Tiba disana ternyata tempatnya sepi dan hanya ada tanah lapang dan gazebo-gazebo tanpa pemandangan yang wah. Jadi kami hanya berfoto sedikit disana.

Puas berfoto, kami “turun gunung” menuju Kota Pekalongan yang penuh warna selaras dengan ciri batik pesisir Pekalongan. Canda tawa dan kadang perdebatan selalu tercipta sepanjang perjalanan, tapi itulah cinta kami yang membuat kami bertahan sejauh ini. Destinasi pertama kami yaitu Museum Batik Nasional di Jl. Jetayu yang memajang koleksi-koleksi batik Nusantara. Disana, segala kewibawaan, keanggunan, dan dan cinta tercurah pada lembaran-lembaran kain batik dengan corak dan maknanya masing-masing. Tidak hanya dari Jawa, batik-batik luar Jawa yang menggambarkan kehidupan juga terpajang disana. Tak mau ketinggalan, kami mencoba mencurahkan segala kesabaran, ketelitian, dan cinta pada selembar kain dengan tulisan “Pradhany”. Dengan kesabaran dan ketelitian kami berhasil menutupi garis-garis tepinya dengan lilin (malam) yang disediakan. Kain itulah yang menggambarkan cinta kami di Kota Pekalongan ini.

Makan bareng pastinya adalah event wajib saat bepergian. Selesai berkeliling di Museum Batik, kami menuju tempat makan di Wiradesa dengan menu ayam panggang khas Pekalongan. Di perjalanan kesana hujan turun, tanpa jas hujan akhirnya kami basah-basahan. Tapi hujan memberikan romantisme sendiri, seolah-olah rintangan dalam mencapai tujuan yang harus kita lalui bersama seperti dalam menjalin hubungan. Menikmati makan siang di kala hujan malah memberikan suasana kehangatan bagi kami. Saat hujan reda dan makanan sudah habis, kami melanjutkan menuju International Batik Center (IBC) untuk berkeliling –tanpa membeli. Di sinilah kami mengukir kenangan dalam beberapa jepretan kamera.

Perjalanan hari itu ditutup dengan makan malam di Warung Sego Megono dan minum Kopi Tahlil di depan gedung PPIP. Kemudian kami pulang. Sepanjang perjalanan kami nyanyi-nyanyi lagu daerah yang kami tidak tahu kenapa dan maksudnya apa bisa tiba-tiba nyanyi-nyanyi.

Esok paginya kami menuju kota Semarang menggunakan bus. Event itulah yang pertama kali kami lakukan, naik bus bareng sekitar 2 jam. Dia tidur bersandar di bahu saya sambil berpegangan tangan, rasanya keindahan momen itu melengkapi perjalanan –membatik cinta– kami sebelum 2 bulan harus terpisah lagi.