Selasa, 31 Desember 2013

Terbayarlah Semua Perjuangan, Gunung Gede

“Setelah perjuangan urus mengurus yang panjang, akhirnya semua terbayar manis di puncak Gunung Gede.”


Gunung Gede adalah gunung di Jawa Barat bertipe yang memliki ketinggian 2958 mdpl dengan puncaknya ditandai oleh plang bertuliskan “Puncak Gede 2958 mdpl”. Gunung Gede ini gagah berdiri di tiga kota yaitu Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Terakhir meletus tahun 1957 dan masih tertidur sampai sekarang.

We Are
Bersama Gunung Pangrango, Gunung Gede berada dibawah naungan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) yang berperan sebagai pionir sejarah konservasi Indonesia. Bersama 5 Taman Nasional pertama yang ada di Indonesia, TNGP terus menjaga titipan tuhan yang tak ternilai, alam.

Hutan hujan tropis pegununagn yang ciamik, vegetasi yang beragam dan unik (bahkan katanya ada tanaman yang belum dikenal secara ilmiah), dan satwa-satwa yang diantaranya hampir punah menjadi harta karun milik TNGP. Itulah mengapa izin pendakiannya ketat. Bahkan dari Januari – Maret 2014, pendakian ditutup untuk penyeimbangan ekosistem.

Jam menujukan pukul 2.00, alarm kami masing-masing berdering bersahutan memberi tanda petualangan akan dimulai kembali. Ya, kami memang berniat memburu fajar dari Kandang Badak. Dengan hanya membawa perbekalan secukupnya, kami mulai menuju titik tertinggi Gunung Gede.

“Mini Market” di Atas Gunung

“Fasilitas Gunung Gede tidak hanya untuk pelancong, pendaki yang sudah sampai puncak pun masih diberi failitas itu”


Karena akses yang mudah dari Jakarta ditambah trek yang tidak terlalu sulit dan pengelolaan serta fasiltas yang baik, Gunung Gede Pangrango menjadi gunung foavorit pendaki Jakarta. Tak kurang dari 500 orang biasanya naik kesini saat weekend. banyak juga yang datang sekeluarga (ayah, ibu, anak, kakek, nenek). Bahkan anak perempuan 5 tahun pun turun bareng kami dari puncak. Penerus tongkat estafet pendaki, nih!

Pop Mie dan Fajar
Di tengah perjalanan menuju Kandang Badak, terkadang ada bapak-bapak menawarkan nasi udak dan gorengan. Kami bertanya-tanya juga, apa itu betulan? Dan ternyata setelah sampai Kandang Badak kami baru percaya. Di antara tenda-tenda warna-warni, ada tenda sederhana dari terpal dan kayu yang memajang rentengan kopi, susu, dan tumpukan pop-mie.

Mereka adalah pedagang yang memfasilitasi pendaki sampai puncak. Hmm, sampai segini kah fasilitas Gunung Gede ? “Kopi – kopi, pop-mie, mas !”, kata mereka menjajakan dagangannya.

Pedagang tidak hanya ada di Kandang Badak, di puncak pun banyak pedagang yang menjajakan juga nasi uduk, roti dan gorengan bakwan.

Mall dan Pasar Kaget di Gunung Gede

“Dari Mas Fazri, katanya trek Gunung Gede itu seperti di mall.”


Setelah semua beres dan ijin naik sudah clear. Langkah pertama saya, Didot dan Agung pun dimulai. Jalan cukup ramai, bercampur antara pendaki dan pelancong biasa yang hanya bertujuan ke Curug Cibeureum.

Karena ada tempat wisata itu juga lah yang menyebabkan fasilitas disana lengkap. Ternyata benar kata Mas Fazri, trekknya seperi di “mall”. Jalan batu berundak tersusun sangat rapi. Tanpa usaha keras kecuali mental dan fisik kami hanya mengikuti jalur yang sudah disediakan. Dari pintu masuk sampai Kandang Badak, jalurnya terus seperti itu dipayungi pohon-pohon besar. Dimanja sekali para pendaki.

Telaga Biru dan Orangnya Sama Kerennya :p
Jalur Cibodas memang terkenal karena banyak checkpoint-checkpoint yang bisa dinikmati. Setidaknya ada Telaga Biru, Curug Cibeureum, dan Sungai Air Panas yang bisa disinggahi.

Telaga Biru. Telaga yang selalu berwarna biru karena adanya ganggang biru ini jadi titik pertama yang kami nikmati. Sekitar setengah jam berjalan dengan jarak 1,5 km dari pintu masuk Cibodas, kami membasuh badan di parit kecil yang airnya cukup jernih dan berfoto di Telaga Biru yang terlihat ada ikan berwarna orange berenang bebas.

Senin, 30 Desember 2013

Warung Rock ‘n Roll, Cibodas

“Diantara warung-warung yang pernah saya singgahi sebelum mendaki, ini warung yang paling gaul men!”

Cita Rasa Amrik
Kawasan Cibodas, Puncak merupakan tempat wisata yang cukup digemari warga Jakarta. Disana ada Kebun Raya Cibodas, Air Terjun Cibeureum, dan bagi yang suka trekking tentu saja Gunung Gede-Pangrango bisa jadi tujuan.

Hawanya yang sejuk kontras dengan asap hitam dan udara gersang di Jakarta. Karena merupakan tempat wisata itulah, jadi fasilitasnya cukup lengkap. WC umum, warung oleh-oleh, terminal, dan warung makan berjejer disana. Bahkan ada toko Outdoor Gear bagi yang kurang peralatannya saat mau mendaki.

Karena datang pada dini hari, kami memutuskan mengisi energi sampai pagi sebelum mendaki Gunung Gede. Tanah lapang parkiran wisatawan yang akan ke Curug Cibeureum jadi lapak kami. Sambil menahan dingin, kami memaksakan tidur walau seperti biasa, hanya berganti-ganti posisi tidur saja.

Pagi-paginya, entah karena lelah atau memang baru dibangun semalam saat kami tidur, ternyata di belakang tempat tidur kami adalah warung kopi. Di ujung parkiran tepatnya, nama warungnya “Cave Rhino” yang bergambar Badak. Kami kesana untuk sarapan. Saat pertama masuk, kesan pertama adalah “Rock ‘n Roll, men!”. Bagaimana tidak, denting piano lagu Aerosmith – Crazy mengalun menyambut matahari pagi. Sambil memesan bandrek susu hangat, sambil bersenandung menirukan suara Steve Tyler, vokalis Aerosmith. “I go crazy, crazy, baby, I go crazy”.

Gunung Gede, Usaha Ijinnya Se-Gede Namanya

“Baru mengurus ijin saja kami sudah harus me-reschadule perjalanan sampai dua kali.”

Ya, Gunung Gede memang salah satu gunung yang untuk mendakinya dibutuhkan pengurusan ijin yang cukup ketat karena merupakan kawasan konservasi. Ekosistem alamnya sangat dijaga di bawah nama Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP).

Sudah dari bulan September, saya dan Didot berencana kesana. Saat itu, Didot yang mengurus ijinnya harus menelan kenyataan pahit tidak dapat kuota. Padahal uang sudah ditransfer. Alhasil kami ganti destinasi ke Gunung Papandayan.

Yang kedua 3 minggu setelahnya. Walau belum sempat transfer uang, tapi lagi-lagi kuota jalur Cibodas habis dan karena  jalur Gunung Putri ditutup, hanya ada Selabintana, Sukabumi. Karena jauh dan katanya banyak pacetnya, teman-teman saya yang lain tidak mau ikut. Itulah kedua kalinya kami ditolak Gunung Gede.

Dengan sumpah si Didot yang akan mengganti nama Gunung Gede jadi Gunung Tidak Gede, kami mencoba lagi 2 minggu setelahnya. Dan karena sumpah itu akhirnya Gunung Gede luluh hatinya dan kita dapat kuota naik lewat jalur Cibodas. Horeee !

Untuk pendaftarannya tidak beda dengan pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi. Kita harus registrasi online dengan menyerahkan biodata dan transfer uang pendaftaran untuk dapat bukti pendaftaran yang akan ditukar Simaksi (Surat Ijin Memasuki Kawawan Konservasi).

Selasa, 24 Desember 2013

Kita di Pantai Gunung Kidul

“Di akhir perjalan kita di Gunung Kidul, kita menutupnya dengan mampir ke ikon Gunung Kidul, Pantai.”

Walupun hanya dua pantai yang sempat kita kunjungi, tapi itu sudah cukup membuat saya mengagendakan untuk suatu hari kembali lagi ke Pantai Gunung Kidul dan bertujuan hanya untuk menyusuri pantai. Pantainya keren, man !

Memang jarak pantainya cukup jauh dari kota Wonosari dan dari tempat kita berangkat, Goa Pindul. Tak kurang dari 1 jam untuk mencapai pantai. Terus menyusuri jalanan desa menuju selatan dengan mengikuti plang bertuliskan “Pantai Baron”. Karena lelah dan ngantuk setelah mandi di sungai, konsentrasi berkendara pun agak berkurang. Masjid di pinggir jalan pun jadi tempat kita melepas lelah sejenak.


Kita

Untuk mencapai pantai jalanannya adalah jalanan desa. Akhirnya plang pun berubah di sebuah pertigaan, dari yang tadinya hanya “Pantai Baron”, kali ini sudah di split menjadi “Pantai Sundak” dan “Pantai Baron”. Karena pacar saya sudah pernah ke Pantai Baron, jadilah kita memilih Pantai Sundak.

Hutan-hutan jati menghiasi kanan kiri jalanan menuju Pantai Sundak. Sesekali perkampungan dan sawah-sawah. Penjaja belalang banyak disana, belalang besar berukuran sebesar jari telunjuk orang dewasa digantung-gantung disana. Ada yang masih mentah dan sudah dalam plastik dan berbumbu. Motonya yaitu “Manis, Gurih, Pedas”.

Sabtu, 21 Desember 2013

Traffic Jam di Goa Pindul

“Seperti di Jakarta, kemacetan ternyata ada di Goa Pindul, bedanya kalau di Jakarta penuh emosi, disini penuh kesejukan.”


Suasana Pintu Masuk Goa
Terlihat banyak wisatawan dan bus-busnya yang sudah bertengger saat kita tiba di loket. Karena alasan waktu, jadi dari 3 paket wisata yaitu Caving Goa Sriti, River Tubing Sungai Oyo, dan Cave Tubing Goa Pindul, kami hanya pilih satu yaitu Cave Tubing.


Goa Pindul, sebagaimana goa-goa lain, juga punya legenda. Salah satunya yaitu kisah pengembaraan Joko Singlunglung mencari ayahnya yang hilang. Setelah kesana kemari mencari alamat, dia masuk ke salah satu goa. Saat mau masuk pipinya terbentur batu, akhirnya dengan segala filosofinya dia menamai goa itu Goa Pindul yang artinya pipi kebendul (kebentur dalam bahasa jawa).

Dari loket, kita harus menuju goa dengan mobil bak terbuka. Karena penuh, untuk dapat ban pun harus mengantri dulu di pintu keluar goa. Ban yang dipakai yaitu ban dalam (tube) truk berdiameter sekitar 1 meter. Setelah dapat, masih harus berjalan lagi ke pintu masuk goa. Penuh sekali disana, semua mengambang dan berdesakan di permukaan sungai seperti cendol. Wah, kemacetan model baru nih sepertinya.

Minggu, 15 Desember 2013

Jalan Berfasilitas di Gunung Kidul

“Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera ….”


Lagu ninja Hatori itu sepertinya cocok untuk menggambarkan wisata yang ada di kota bagian selatan Yogyakarta ini. Ada gunung, sungai dan goa, dan pantai yang katanya indah-indah. Tapi kali ini sesuai lagu di atas, setelah turun gunung kita melanjutkan menuju sungai dan goa, di kawasan Goa Pindul.

Dari Nglanggaren kita keluar menyusuri jalan balik yang mulus seperti kulit bintang iklan hand body. Terus mengambil arah Kota Wonosari. Keluar ke jalan utama, motor tiba-tiba agak goyang, ternyata ban belakangnya kempes. Cari-cari, akhirnya dapat juga tambal ban. Di situ ternyata tidak pakai kompresor, jadi, bapak-bapak berusia senja mengkonversi tenaganya menjadi angin demi keselamatan dan kenyamanan kita di jalan.

Peta Wisata Gunung Kidul

Menyusuri jalan ke Goa Pindul benar-benar menyenangkan, kanan kiri hutan kayu putihnya seakan memfilter sinar dan panas matahari menuju bumi. Kawasan hutan disana adalah kawasan konservasi dan wisata milik pemerintah provinsi Yogyakarta dengan adanya Tahura (Taman Hutan Raya) yang diresmikan pada Desember 2012 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Seajuh ini saya mengapresiasi pemanfaatan dan pengelolaan kawasan wisata yang sangat baik di Gunung Kidul ini.

Tujuan kita kali ini adalah ingin mencoba cave tubing di Goa Pindul. Cave tubing sebenarnya seperti body rafting, tapi karena sungainya mengalir di dalam goa, jadi dimanipulasi namanya jadi cave tubing.

Jumat, 13 Desember 2013

Gunung Api Purba, Gunung tanpa Dingin

“Biasanya saat bermalam di gunung pasti berusaha agar kulit serapat mungkin, tapi disini beda lho !

Pendopo Sebelum MendakiKeletihan sangat terasa setelah berkendara sekitar 6 jam dari ujung utara ke selatan Pulau Jawa. Tapi setelah sampai di kaki gunung, keletihan itu serasa akan segera terobati oleh panorama, mie rebus, dan dingin yang sudah menanti di ujung jalan menanjak. Gunung, lelah dicapainya tapi tempat istirahat terindah.

Semangat yang masih tersisa harus dikobarkan lagi untuk menikmati itu semua. Gunung Api Purba atau Gunung Nglanggeren yang terletak di Desa Nglanggeren, Gunung Kidul, Yogyakarta yang kali ini tanahnya akan saya tancapi dengan keempat sisi frame tenda saya.

Gunung ini cukup mudah dijangkau. Jalanannya mulus dan ada petunjuk arahnya. Gunung ini merupakan bongkahan batu besar yang tersusun sedemikian rupa dan menjulang dengan ketinggian maksimum 700 mdpl. Sebenarnya gunung ini memiliki beberapa nama gunung di dalamnya. Tapi yang terbesar dan tertinggi adalah Gunung Gedhe.

Gunung ini dikelola secara profesional oleh penduduk setempat. Ada pusat informasi, kamar mandi bersih, dan pendopo untuk beristirahat sebelum melanjutkan berjalan ke puncak.

Saat kami kesana sedang ada hajatan rupanya. Katanya sih peresmian masjid, tapi acaranya benar-benar meriah. Umbul-umbul sponsor yaitu Bank Mandiri terpasang sepanjang jalan. Belakangan saya ketahui bahwa pengisi acaranya adalah Didi Kempot. “Sewu kuto uwis tak liwati, Sewu ati tak lakoni…”

Sabtu, 07 Desember 2013

Banyak Jalan ke Yogya, Bersamamu

“Karena bosan setiap ke Yogya pakai motor dari Semarang selalu lewat Magelang, saya pun memutuskan mencoba rute lain.”

Kaka AdeSetalah kereta Tawang Jaya mengakhiri perjalannya di Stasiun Semarang Poncol, pengalaman baru menuju ujung selatan Kota Yogjakarta dari ujung utara Kota Semarang pun segera dimulai.  Perbekalan disiapkan untuk pelengkap menu makan malam, 3 butir telur kamu masak menjadi special untuk dibawa. Packing terakhir dengan membagi barang bawaan saya lakukan di rumah pacar saya. Terakhir, rain cover hijau dan kuning, kita balutkan ke tas ransel kita masing-masing. Pamitan, starter motor, kemudian melaju dan memulai cerita yang selalu akan menguatkan lagi hubungan kita.

Seperti biasa, motor matic biru menjadi saksi cerita kita di perjalan. Motor yang menemani dari tanggal awal kita memutuskan bersama. Melaju menuju Kota Ungaran yang jalannya sedang diperbaiki belum mampu menahan laju kita. Karena agak mengantuk, kita singgah sebentar untuk mengisi energi dan tak lupa si matic biru. Disana pula kita akhirnya memutuskan untuk mengambil rute berbeda menuju Yogja tepatnya menuju daerah Gunung Kidul, Wonosari. Kita memilih jalur Salatiga – Boyolali – Klaten – Yogja. Dengan modal informasi teman dan plang penujuk arah, Kita pun yakin mencoba jalur tersebut.

Sejuknya jalanan kota di kaki gunung Merbabu, Salatiga, mengiringi perjalanan kita. Memasuki jalan raya Salatiga-Boyolali, kita harus bersaing denga bus-bus besar yang menuju arah Solo. Karena hanya bermodal kata “via Klaten”, maka saat ada plang “Klaten” langsung saja kita ambil jalan itu. Ternyata jalanan menuju Klaten bukan jalan besar, lebih mirip jalan desa yang sempit dan hanya cukup untuk 1 mobil masing-masing lajurnya. Baru ingat ternyata teman saya bilang kita baru ambil jalan Klaten setelah sampai kota Sukoharjo. Terlajur basah, kita tempuh saja jalanan desa itu yang belakangan saya tahu namanya Jatinom.

Rabu, 13 November 2013

Museum dan Mesum

“Mirip-mirip sih kedua kata itu, tapi bukan kemiripan katanya yang disoroti, melainkan bagaimana bisa museum menyediakan “fasilitas” mesum ?”


Miniatur GedungTidak ada niat untuk menjatuhkan sama sekali, tapi memang ini yang saya lihat ketika saya berkunjung ke Museum Bank Mandiri, masih di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat dan masih dalam misi keliling museum di Jakarta. Museum ini berisi sejarah dari salah satu Bank Swasta yang terkenal di Indonesia saat ini, yaitu Bank Mandiri. Saya juga pernah jadi nasabah disini karena ATM-nya ting telecek (ada dimana-mana).

Karena hanya bermaksud berkeliling dan sekedar melihat-lihat, jadi saya tidak terlalu membaca penjelasan dari tiap-tiap yang dipajang. Untuk dapat akses masuk, saya cukup membayar 5000 rupiah (harga normal museum di Jakarta). Kalau nasabahnya gratis, lho, dengan menunjukan kartu ATM.

Di belakang loket adalah ruangan luas tanpa sekat dimana terpajang peralatan perbankan dari masa ke masa. Mulai dari sebelah kiri, ada mesin hitung manual (sempoa), mesin potong, mesin ketik, dan foto copy. Terus bergeser ke arah kanan, semakin modern peralatannya karena sudah dipajang peralatan bebasis komputer. Yang saya heran kenapa dipajang juga motherboard, hardisk, RAM dan lain-lain.

Selain peralatan ada juga pegawai-pegawai yang dikutuk menjadi patung lilin. Hehehe. Dengan berbagai pose dan mimik wajah, mereka seakan melayani pengunjung. Ada juga foto-foto dan maket gedung ini serta patung Dewa Hermes. Dewa perdagangan dalam mitologi Yunani.

Minggu, 10 November 2013

Sejarah Perkembangan Sang Ibu Kota

“Bangunan sentral di kawasan Kota Tua, Jakarta yang letaknya di areal Taman Fatahillah ini mencatat perkembangan kota pelabuhan yang sekarang menjelma menjadi kota metropolitan, Jakarta”


Bangunan Museum Sejarah JakartaJelajah museum kali ini saya menyambangi museum yang banyak orang salah dalam menyebutkan namanya. Seperti halnya Museum Gajah yang sebenarnya adalah Museum Nasional, museum ini pun nama aslinya adalah Museum Sejarah Jakarta. Tapi, museum yang terletak di Jalan Fatahillah ini lebih dikenal dengan nama Museum Fatahillah. Ternyata disamping karena letaknya, penamaan tersebut untuk mengenang pemberi nama Jayakarta yang tadinya Sunda Kelapa yaitu Pangeran Fatahillah dari kerajaan Demak tahun 1526.

Museum yang menempati bangunan bergaya neo-klasik ini dulunya adalah kantor balai kota Batavia pada masa kolonial Belanda lengkap dengan penjara bawah tanahnya. Dari luar, tampak kesan bangunan klasik khas Belanda yang pembangunannya dimulai tahun 1620, dengan kubah yang ada arah mata angin di ujung atapnya dan serambi di kedua sisinya. Sekarang bangunan ini diperuntukan sebagai ruang pamer pada lantai 1 dan 2, dan ada taman, kantor administrasi, dan kantin di bagian belakangnya.

Melewati gerbang sejarah (baca : pintu masuk), kita langsung disambut penjaga loket. Dengan membayar tidak lebih dari 5000 rupiah kita sudah mendapat ijin menembus zaman -zaman perkembangan Jakarta.Untuk mendapatkan informasi yang lebih efisien sebaiknya kita mengikuti peta yang sudah menujukan nomor ruangan yang diurutkan berdasarkan zaman. Di lantai 1, kita bisa mulai dengan memasuki ruangan sebelah kanan dari loket. Disana ada informasi mengenai Jakarta, foto gubernur (baru sampai Bang Yos) dan ada warung rokok pinggir jalan. Tapi sayang, tidak dijelaskan mengapa warung pojok dan becak dipajang disana.

Kamis, 17 Oktober 2013

Menginjak 22, Menginjak Alam

“Tepat di usia 22 tahun pada tanggal 22 September 2013, saya mendapat sapaan fajar yang berbeda dari 21 kali usia saya bertambah. Sang fajar terasa dekat dan hangat menyapu dinginnya malam di Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat”

Perjalan kali ini memang saya pas-paskan dengan ulang tahun saya yang ke-22. Alasannya, karena tanggal 22 September 2013 itu hari Minggu, jadi langsung saja di jadwalkan (aji mumpung). Kali ini, ada yang istimewa karena saya mengajaknya pacar saya naik gunung untuk pertama kali. Saya juga ditemani pula oleh teman saya biasanya, Didot.

Kawah Mas Gunung Papandayan
Perjalan saya dimulai sejak menjemput pacar saya di Stasiun Pasar Senen. Kereta yang tiba pukul 3 pagi mengharuskan saya sudah ada disana sekitar jam 10 malam karena kalau kemalaman takut tidak ada kendaraan umum. Di stasiun sekitar 5 jam, saya ngobrol dengan orang-orang yang juga “menginap” disana. Dua orang berlatar belakang berbeda menjadi teman saya, ada bapak-bapak dokter sekaligus pengusaha dan ada mahasiswa oseanografi UNDIP yang banyak bercerita tentang maritim Nusantara. Jam 3 setelah menyambut kedatangan pacar saya di pintu keluar penumpang, langsung kami menuju kos untuk beristirahat sebelum jalan esok paginya.

Tujuan kami pertama yaitu menuju Garut dari meeting point Terimnal Kampung Rambutan. Pengalaman berdesakan di Jakarta pasti baru dirasakan pacar saya saat kami menuju terminal. Setelah kami berdua sarapan dan Didot sudah datang, kami mencegat bus Jakarta-Garut. Sempat salah naik bus karena ternyata tidak lewat Cipularang, kami berganti bus AC jurusan Garut via Cipularang. Tidak ada yang istimewa saat di bus, hanya kemacetan panjang sekitar 2 jam di Rancaekek, Bandung yang menghambat perjalanan kami. Walau kesorean, kami tetap menuju Cisurupan (desa transit sebelum titik pendakian) dari Terminal Guntur dengan angkot berwarna ungu yang menyetel lagu-lagu dangdut. Kami ketawa-ketawa saat lagunya “Berondong Tua”, karena anak-anak kecil berusia 5 tahunan yang juga penumpang, dengan hapalnya menirukan lagu Siti Badriah itu.

Rabu, 09 Oktober 2013

Isinya Kuno Kemasannya pun Kuno

“Sebenarnya ini karena memang konsep museumnya yang kuno atau karena tidak ada perhatian buat pembenahan”


BimaSaya tidak tahu padahal wayang merupakan warisan budaya (walaupun bukan asli) yang penuh dengan falsafah hidup. Tapi kenapa wadahnya tidak dibuat menyatu dengan perkembangan zaman. Padahal budaya itu kan sesuatu yang bergerak, jadi terus berkembang tanpa mengurangi nilai historis dan kekhasannya. Ya, Museum Wayang (MW) di kawasan Kota Tua Jakarta Barat yang mamajang (hanya memajang) berbagai wayang (boneka). Selain wayang-wayang dari Indonesia, MW juga memajang boneka-boneka India, Cina, Eropa dan ada ondel-ondel juga. Boneka-boneka disini hanya ditaruh di dalam etalase kaca dengan sedikit penjelasan yang tidak terarah dan tidak tertata rapi.

MW terdiri dari 2 lantai dimana lantai pertama adalah ticketing dengan beberapa wayang golek. Di lantai satu hanya ada satu lorong dan di ujung lorong ada tangga kayu menuju lantai 2. Di pengujung tangga ada lukisan kaca bergambar perang Baratayuda namun tanpa penjelasan apa-apa. Jadi hanya sedikit yang menyimpulkan itu.

Lantai 2 memajang beragam wayang. Ada cerita singkat yang menggambarkan kelahiran Gatotkaca yang merupakan putra Bima dengan Ratu Raksasa, Dewi Arimbi. Ceritanya bersambung pada masing-masing etalase tapi hanya diurutkan berdasarkan nomer dan kita tidak dibawa hanyut merasakannya karena etalasenya pun tidak disusun berurutan. Selain itu ada cerita lepas dengan adegan-adegannya, tapi sayangnya tidak dijelaskan dimana posisi tokoh. Jadi kita tidak tahu mana Arjuna, mana Durna, dan mana Abimanyu pada cerita pembunuhan Abimanyu yang menyulut kemarahan sang ayah Arjuna. Dan pada ujung lantai 2 ada beragam boneka dari luar negeri, kaligrafi bergambar, dan topeng-topeng dari beragam daerah di Indonesia. Ada juga satu set gamelan.

Padahal wayang jika digali maknanya dan disajikan dengan apik bisa menambah pengetahuan tentang kearifan, budi pekerti dan sifat satria para tokoh wayang seperti yang digambarkan oleh tokoh-tokoh pandawa 6 (Pandawa 5 plus 1 sulung Pandawa Adipati Karna). Sayangnya belum tersaji baik di Museum Wayang ini, sehingga keluar dari sana tidak ada sesuatu yang benar-benar menempel selain kusamnya lantai Museum.

Pertunjukan Wayang Kulit

Tapi 1 hal yang menarik, disana rutin ada pertunjukan wayang setiap hari Minggu di ruang pertunjukan dekat souvenir shop dan pintu keluar. Tentu itu wajib adanya karena wayang sejatinya adalah seni pentas. Tapi yang menjadi pertanyaan kenapa tidak ada wayang orang yang dipajang disana ya ? Hehehe






Rabu, 02 Oktober 2013

Yang Bagus Ternyata Malah Gratis

“Mungkin karena sokongan dana langsung dari satu-satunya lembaga yang berwenang mencetak uang di Indonesia, ya, jadinya gratis”


Logo BI dari masa ke masaMuseum Bank Indonesia. Pertama masuk museum ini saya pikir suasana museumnya sama seperti museum lain yang hanya memajang, ya, hanya memajang. Apalagi tiket masuknya gratis, saya jadi makin underestimate. Tapi perasaan itu berubah seketika setelah melewati pintu keluar dan kunjungan usai. Jadi semakin merasa beruntung telah di “apung-apungkan” dalam sejarah perbankan dan perdagangan Tanah Air.

Museum yang tidak hanya memajang salah satunya ya disini. Pertama, dari segi fasilitas, bagi yang benar-benar ingin mencari info tentang isi museum. Pengunjung tidak perlu cape-cape membaca karena ada APE (Alat Pemandu Elektronik) yang bisa digunakan untuk mendengarkan informasi lebih lengkap dari benda pajangan sesuai kode yang ada. Ada juga ruangan bioskop kecil berkapasitas sekitar 50an orang. Tapi saya tidak tahu kapan saja movie itu berfungsi selayaknya bioskop di mall-mall.

Ruang pamer pertama berisi timeline perkembangan perdagangan dan perbankan Indonesia dan pembentukan De Javache Bank yang belakangan melahirkan satu-satunya Bank pencetak Rupiah yaitu Bank Indonesia. Kemasannya begitu apik di setiap periode. Ada 6 periode yang dimulai dari penjualan rempah-rempah yang konon harganya setara emas pada zaman dulu, sampai setelah reformasi.

Sabtu, 28 September 2013

Harta Karun di Belakang Pantat Gajah

“Berkunjung ke museum pasti kita akan disuguhi ‘harta karun’, tak terkecuali ke Museum Nasional Republik Indonesia.”


Bagian Dalam Museum NasionalMuseum ini letaknya di dekat Monas, terlihat jelas dengan patung gajahnya di halaman depan. Karena patung gajah yang mencolok itu maka museum ini dikenal juga dengan Museum Gajah. Patung gajah itu adalah pemberian Raja Chulalongkorn dari Thailand pada tahun 1871 dan terbuat dari perunggu. Gampang sekali sebenarnya buat sampai ke museum ini. Cukup naik busway dan turun di depan hatle Monas sudah sampai di depan museum ini.

Dulu waktu SMP (2004) saya pernah kesini saat study tour. Tapi dulu selain belum suka jalan-jalan yang ‘belajar-belajar’, bangunan yang tua dan gelap pun bikin kesan tidak nyaman, dan dulu, sih, pikirannya bangunannya angker. Tapi sekarang ternyata sama saja. Di hall utama depan pintu masuk ternyata masih seperti dulu. Tapi sekarang rasanya lain kalau melihat bangunan tua seperti itu, rasanya berasa flashback ke tempo dulu dengan bangunan Eropa kuno yang klasik. Tapi kontras dengan bangunan tua di hall utama, di sebelah utara ternyata ada ruang pamer yang modern. Saya cukup terkejut juga pas masuk. Gedungnya pakai keramik berkesan mewah, dindingnya kaca, tidak gelap, dan ada eskalator dan lift untuk lantai Ground sampai lantai 4, jauh dari kesan tua dan kuno. Serambi ini mulai dibangun pada 1996.

Museum tentunya adalah tempat menyimpan barang-barang yang bernilai tinggi. Disini juga tentunya. Berbagai benda kuno baik warisan asli atau yang ditemukan di seluruh wilayah Nusantara terpajang sejumlah sekitar 141.000 buah di museum yang merupakan museum terbesar se-Asia Tenggara ini.

Wayang Kulit (Ruang Etnografi Jawa)Di ruang utama yang klasik ketika masuk, patung-patung arca dan prasati peninggalan masa Hindu-Budha yang akan menyambut kita. Arca-arca ini ada patung Budha, dewa Wisnu dan yang mencolok adalah patung Bhairawa setinggi 414 cm yang merupakan manifestasi Awalokiteswara (Tuan yang melihat ke bawah). Namun, sebagian arca ini menjadi hanya berharga seperti batu biasa karena tidak ada penjelasan yang lengkap. Masuk lebih dalam ada etnografi (masyarakat dan budaya) seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Nah, ke serambi kanan kita akan beralih dari kesan kuno ke kesan mall (modern). Disini terdapat 4 lantai yang berisi koleksi yang berbeda pengelompokannya di setiap lantai. Berturut-turut dari lantai dasar adalah Manusia dan Lingkungan yang terdiri dari kehidupan manusia Indonesia dari zaman prasejarah dengan diorama-diorama yang apik. Naik ke atas yaitu Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang terdiri dari peralatan zaman batu hingga Perahu Pinisi dan pesawat terbangnya Pak Habibie (semua miniatur, ya). Di lantai berikutnya yaitu Organisasi Sosial yang berisi rumah adat, budaya-budaya masyarakat, dan kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat Indonesia seperti kelompok Bahari dan Petani.

Mewahnya Ruang PamerDi lantai 4 berisi kramik-kramik yang ditemukan di Indonesia. Ada kramik yang merupakan hadiah dan ada kramik yang ditemukan di perairan Indonesia dari kapal-kapal dagang (terutama Cina) yang apes dan karam di Indonesia. Disini mungkin salah satu letak harta karun. Karena pastinya kramik-kramik ini tak ternilai harganya. Satu pesan, disini dilarang memotret, mungkin karena kalau terpublikasi bisa menarik para “bajak laut” semacam Jack Sparrow untuk kesini. Tapi besar dan lengkapnya Museum Nasional kurang dibarengi dengan fasilitas audio visual yang interaktif, jadi tidak ada sesuatu yang bisa menuntun kita merasakan “Day at the Museum” selain kita harus melihat dan membaca sendiri.

~ Salam Dolan ~

Kamis, 22 Agustus 2013

Sore Sendiri

Segelas kopi , bukan di kedai kopi atau dicafe
Segelas kopi, yang diseduh oleh pedagang keliling
Segleas kopi, dengan galas kemasan air mineral
Segelas kopi, bukan kopi mahal hanya 3000 rupiah
Namun itulah yang aku nikmati sore ini

Di bangku trotoar pinggiran jalan Tugu Monas
Berteman angin sore yang genit
Bercengkrama dengan obrolan mesin kendaraan
dan bersahabat dengan pejalan kaki
Aku nikmati kesendirian sore ini

Andai kau ada di sampingku
Mengisi ruang bangku yang masih kosong
Bercakap bersama tentang apa saja
Dan menikmati sore ini bersamaku
Maka kaulah yang akan menciptakan puisi ini

Hatiku mungkin telah terisi
Namun sore ini, kekosongan ruang disampingku
Mengusik keutuhan hatiku
Dan berbuah kerinduan
Saat suatu hari di bangku ini tidak lagi kosong

Maka aku ingin kaulah yang mengisinya

Si Manis dari Kemayoran

“Pertama dengar, sih, pasti heran, ada ketan kukus pakai kelapa disiram susu kental manis tapi cocoknya dimakan sama tempe goreng yang gurih”


Gunungan GorenganItulah menu andalan sebuah warung di Kemayoran, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Garuda Ujung No. 5 yang sudah ada sejak tahun antara 1958 atau 1960. Sudah lama memang karena pemilik warung ini yang sekarang sudah generasi ketiga. Letaknya cukup mudah dijangkau karena terletak di ujung gang (Jalan Garuda Ujung tertulis di gapura gang itu) yang lagnsung menghadap ke Jalan.

Warungnya tidak sebesar namanya ternyata. Hanya sebuah kedai kecil dengan dapur dan tempat sajinya numplek jadi satu. Ada bangku panjang 2 buah untuk masing-masing 5 orang mengelilingi tempat saji gorengan yang siap santap. Lalu ada 2 kelompok kursi dan meja untuk masing-masing 6 dan 4 orang yang berbentuk seperti pos ronda. Dan 2 bangku tanpa meja untuk masing-masing 5 orang di pinggir jalan masuk gang. Dapur tempat pengukusan si ketan dan penggorengan gorengan terlihat disana. Tungku besar yang selalu menyala untukmengukus ketan terlihat disana.


Tansu Dan Teh PociMenu andalan tentu saja Tansu (Ketan Susu), yaitu ketan kukus dengan parutan kelapa yang disiram susu kental manis yang legit dan manis. Untuk yang tidak suka manis bisa request tanpa susu, kok, jadi tenang saja. Pelengkap tansu ini tentunya gorengan yang ada pisang goreng, tempe goreng garing, dan ubi goreng. Entah tersugesti atau memang enak, paling nikmat justru dimakan dengan tempe goreng yang gurih. Legitnya ketan campur susu meleleh di lidah bersama gurihnya tempe. Semua rasanya memberikan sensasi baru bagi lidah saya. Yummy. Untuk minuman ada teh poci, teh manis biasa dan ada pula kopi tubruk. Saya mencoba teh pocinya nikmat sekali. Bagi sayan makan 2 porsi tansu sudah cukup karena eneg juga jika makannya terlalu banyak karena manisnya susu.

Tidak perlu khawatir soal harga, cukup 3.000 rupiah untuk seporsi tansu, 1.000 rupiah untuk masing-masing gorengan dan 4.000 rupiah untuk teh poci yang bisa untuk 3 orang. Kebersamaan bersama teman-teman nongkrong bisa lebih berasa jika ditemani si manis gurih Tansu Kemayoran yang bisa didatangi 24 jam sehari.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ramadhan Jalan : Berbuka Nomaden 1

“Buka gratis alias takjilan di masjid itu kita jadi ngasi pahala ke orang lain, lho”

Ramadhan kali ini saya benar-benar menjalankan dengan cara agak berbeda. Saya meminimalisir berbuka di kos dengan membeli jajanan sendiri. Saat berbuka saya  ikut berbuka bersama di masjid-masjid yang berbeda. Menu berbukanya pasti berbeda-beda. Dari yang cuma takjil alias jajanan sampai yang makan nasi pun ada.

Saya mulai berbuka keliling pada tanggal 15 Juli 2013. Dari tanggal itu beberapa masjid dengan menu berbukanya sudah saya kunjungi. Satu lagi dan mungkin dampak utama dari berbuka keliling adalah “Hemat”. Hehehe.

15 Juli 2013 - Masjid As-Salam (Gedung Graha XL - Mega Kuningan)

Hari pertama saya buka dengan berbuka di kantor. Tepatnya di masjid Graha XL. Disana dapat gorengan, beng-beng, lontong, kurma dan air putih. Takjilan saja, sih. Tapi yang unik adalah keganasan karyawan yang ikut berbuka. Waktu makanan keluar, bet-bet-bet langsung habis. Makanan disini keluar secara bertahap tapi tidak sampai 3 menit langsung ludes. Sepertinya workload di XL bikin karyawan-karyawan mengganas.

16 Juli 2013 - Masjid Departemen Pendidikan (JL. Gatoto Subroto)

Di sini sama dapat takjil juga, tapi relatif cukup mewah sih. Ada risoles yang isinya paperoni kecil dan mayonaise, ada lontong, gorengannya tahu telor, dan pencuci mulutnya agar-agar. Setelah berjalan jauh dan naik tangga untuk solat di lantai 3 –karena hall utama ada di lantai 3, takjilnya lumayan me-recover energi.

17 Juli 2013 - Masjid Jami As-Salafiah (Warung Buncit)

as-salafiahIni masjid besar dan letaknya di pinggi jalan raya Buncit Indah. Di masjid ini saya pertama dapat makan nasi. Saat masuk di serambi utara sudah disediakan nasi, ayam, dan sayur di atas nampan plastik besar yang diperuntukan untuk 4 orang masing-masing nampannya. Tak lupa air the dan kurmanay. Kesan saya langsunglah senang ­–nggak perlu beli nasi .Hehehe

Disana formatnya makan bareng berempat dalam satu nampan. Tapi namanya saat berpuasa walaupun harus bercampur dengan tangan orang lain tetap saja nikmatnya berbuka itu tiada tara (apalagi gratis).

18 Juli 2013 - Mushola AL - Barkah (Warung Jati Timur)

Mushola Al-BarkahKalau yang ini mushola kecil di dalam gang kecil. Untuk pertama kalinya saya merasa malu ikut berbuka bersama. Karena mushola jadi sepertinya hanya diperuntukan untuk warga sekitar. Pesertanyapun saling mengenal semua dan memakai baju muslim putih-putih dan ada beberapa dengan sorban. Sedangakan saya dan teman saya memakai kaos dan celana jeans. Tapi sudah terlanjur basah, kita singkirkan rasa malu dan ikut menikmati hidangan yang tergolong mewah.

Disana dapat nasi satu piring satu orang dengan lauk yang bermacam-macam. Ada sate ayam, capcay dengan udang dan baso, dan telur bumbu padang. Belum lagi jajanan dan buahnya. Berbuka termewah di masjid ya saat itu. Walaupun malu, tapi toh tidak bakal ketemu lagi kalau tidak dengan sengaja kesana lagi.

19 Juli 2013 - Masjid Raihanul Hamim (Mampang, Tendean)

Masjid Raihanul Hamim
Nah, kalau yang ini yang pertama seru. Dapat nasi, lele, gudangan atau urab dan samabal lengkap dengan teh manis hangat. Yang bikin seru soalnya saya bertiga bersama teman-teman saya dan tempatnya pun tidak membuat sungkan. Walupun agak masuk gang tapi masjidnya besar. Format mayoran berempat dalam satu nampan juga diberlakukan disini. Yang bikin berkesan adalah teh manisnya yang rasanya mantep tenan.







Kamis, 08 Agustus 2013

Kekasih

Kuterawang langit malam ini
Gelap dan angkuh menngolok-olok kerinduanku
Sorot mataku tajam menatang langit dan mencari rembulan
Kala rembulan mengintip dan tersenyum
 ku tau senyumnya adalah senyummu, Kekasih.

Kubalas senyumnya tapi segera langit menarikmu pulang
Putus asa aku berdebat dengan langit yang maha luas
Sampai sejuta air mata turun dari balik keangkuhan langit
Aku tahu itu air matamu rembulan
mengingatkan akan kehangatan yang pernah kita lalui, Kekasih.

Aku tau belum bisa mebalas senyummu
Aku tau belum bisa mendengar tangismu
Aku harap aku buta agar senyummu tak terlihat
Aku harap aku tuli agar tak kudengar lagi tangismu
Tapi aku harap hatiku bisa merasakan senyum dan sejuta air mata ini, Kekasih

Tujuan kita terucap tapi tak terasa
Kita berjalan meraih cita-cita
Tapi tak kita genggam cita-cita
Tetes air mata berhenti tapi rembulan tetap tak ada
Tak kucari lagi rembulan kala angkuhnya langit masih terjaga

Namun kutunggu kau di tempat yang selalu sama
Sampai langit menjadi cerah dan berseri seperti parasmu
Serta jutaan bintang menyinari senyummu
Kelak saat kau muncul, hati dan jiwakulah yang akan menyambutmu, Kekasih

Selasa, 06 Agustus 2013

Ramadhan Jalan : Ada “Candi” di Dalam Masjid

“Masjid Menara Kudus, merupakan hasil asimilasi sosial antara masyarakat Hindu dan Islam yang didirikan oleh Sunan Kudus pada 1549 Masehi”


Menara dan Masjid KudusMenara Kudus merupakan salah satu masjid unik di Indonesia dan ada pada brosur “Pesona Wisata, Belanja, dan Kuliner Jawa Tengah” untuk kategori Historical Building. Keunikannya terutama terletak pada menaranya yang berbentuk sebuah Candi Hindu. Masjid yang disebut juga Masjid Al-Aqsa atau Masjid Al-Manar ini menjadi salah satu bukti dakwah Islam yang dilakukan oleh Sunan Kudus. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1549 Masehi dengan batu pertama yaitu batu Baitul Maqdis dari Palestina dan terletak di Desa Kauman, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Tapi selain menaranya yang banyak di expose, bangunan masjid ini juga kental dengan gabungan antara masjid dan pura. Di bagian luar dan sisi selatan masjid tampak bangunan bertema candi Hindu. Di bangunan utama masjid berbentuk layaknya masjid pada umumnya. Didalam ruang utama masjid ini juga terdapat sebuah candi tepat di tengah-tengah area sholat.

Berangkat bersama pacar saya dari Kota Semarang, kami menyusuri jalan Demak - Kudus. Memasuki Kota kudus kita akan disambut dengan plang “Kudus Kota Kretek” dan sudah ada bangunan dengan ciri khas Hindu. Memang Kota Kudus terkenal dengan industri tembakaunya atau rokok. Perusahaan rokok besar pun salah satunya ada di kota ini. Untuk sampai ke Masjid Menara Kudus, kita mengikuti plang yang mengarah ke “Menara Kudus”. Tapi hati-hati, tidak semua plang di jalan raya benar. Bahkan kita pun sempat nyasar. Jadi lebih baik bertanya ke orang.

Bagian Dalam Masjid dengan "Candi" di TengahnyaKita tiba disana sesaat sebelum solat dzuhur. Kesan pertama kita yaitu kecewa. Kita kecewa karena saat itu menara setinggi 17 meter yang terkenal itu sedang di perbaiki sehingga tertutup rangka bambu semuanya. Selesai solat dzuhur berjamaah, kita berkeliling masjid dan saya sempat mengunjungi makam yang ada di belakang masjid. Komplek pemakaman itu juga tak luput dari perpaduan pura dan masjid. Disana merupakan makam raja-raja dan pangeran-pangeran masa pemerintahan Kudus zaman dulu. Yang paling besar dan banyak dikelilingi orang-orang ziarah adalah makam Sunan Kudus. Makamnya ditutupi kain putih dengan renda seperti kelambu. Pengunjung banyak yang berdoa dan membaca Yasin dan Al-Qur’an disana. Saya juga ikut menghargai dengan membaca Yasin juga.

Di sekitar masjid banyak penjual oleh-oleh khas Kudus, yaitu Jenang. Harga disana pun tidak jauh beda, bahkan ada yang lebih murah, dibandingkan toko oleh-oleh di pusat Kota Kudus. Sebenarnya masih ada destinasi yang ingin kita kunjungi di Kudus, yaitu Museum Kretek. Tapi karena waktu tidak memungkinkan, ya sudah, kita kembali ke Semarang setelah membeli oleh-oleh di Toko Sinar 33 Jalan Sunan Muria No. 33.


Halaman Depan Masjid seperti Pura Hindu




Senin, 05 Agustus 2013

Ramadhan Jalan : 200 Tahun Berbuka dengan Bubur

“Sebuah budaya takjilan turun-temurun yang selalu menyajikan menu yang sama di Masjid Jami Pekojan, Semarang”


Menu Bubur India

Semua berawal saat saya pulang kerja dengan busway. Saat itu ada bapak-bapak membaca koran dan secara tidak sengaja saya membaca salah satu judul artikelnya yaitu “Bubur India Di Masjid Pekojan”. Langsung saya browsing tentang bubur India tersebut dan ternyata Masjid Jami Pekojan letaknya di Semarang tepatnya di daerah Pekojan Kawasan Pasar Johar Jalan Petolongan No. 1. Kebetulan malam itu saya juga akan pergi ke Semarang jadi saya agendakan ke Masjid itu.

Saya bersama pacar saya tercinta langsung menuju Masjid itu menjelang berbuka puasa pada 13 Juli 2013. Jam 5 saya sudah sampai disana. Sudah ada beberapa orang yang menunggu rupanya. Ada juga wartawan dari sebuah radio di Semarang yang sedang meliput. Beberapa mangkok bubur pun sudah disiapkan di mangkok warna-warni di serambi utara masjid lengkap dengan kurma, susu dan air zam-zam.

Saat waktu berbuka tiba, ternyata banyak juga yang ingin berbuka disana jadi banyak yang tidak kebagian. Pacar saya saja tidak kebagian. Kasihan. Hehehe. Saya yang penasaran untungnya kebagian. Ternyata bubur India ini adalah bubur beras biasa dengan aroma serai dan rempah-rempah yang kuat yang mungkin khas India. Bubur ini disajikan dengan kuah sayur labu siam yang kental, rambak (kulit sapi), dan 1/5 potong telur dadar. Rasanya biasa saja tapi cukup untuk membuat perut kenyang juga.

Persiapan Berbuka Bubur IndiaTradisi bubur ini sudah berlangsung sejak tahun 1878. Alkisah ada seorang pedagang dari Gujarat, India yang datang dan menikah di daerah Pekojan. Pedagang lain dari Gujarat mengikuti jejak si orang pertama dan berdatangan kesana. Dengan tujuan syiar agama Islam, mereka membentuk komunitas muslim dan membuat tradisi berbuka dengan menu khas India yaitu bubur India tersebut. Memang daerah sekitar Pasar Johar Semarang terkenal dengan suku bangsa keturunan Arab. Kabarnya tahun-tahun sebelumnya alat masaknya adalah kuali tembaga yang turun-menurun sejak dulu. Tapi tahun ini sudah diganti yang baru, alasannya karena yang lama telah rusak.

Minggu, 04 Agustus 2013

Tuhan Yang Maha Perayu

Malam ini aku rasakan getaran jiwa yang tak biasa
Meledak-ledak namun penuh kesunyian
Di loteng rumah sederhana
Suasananya menghujam dalam ke dasar jiwa

Aku tahu bahwa aku sedang dirayu
Kalian pasti tahu bagaimana rasanya dirayu ?
Tapi rayuan ini yang maha dahsyat
Rayuan dari Tuhan aku rasa

Tuhanku mungkin sedang membawaku menikmati erotisme-Nya
Tercipta berupa desahan firman indah
Namun bukan hanya firman yang tertulis pada kitab
Atau pun firman yang dapat dibaca
Tapi firman yang terpancar dari semua makhluk

Manusia yang tegas membaca
Binatang malam yang lembut bergumam
Dan tumbuhan yang diam menenangkan
Ketiganya bersetubuh menghiasi malam yang merangsang

Aku terbuai oleh rayuan-Mu
Terbuai desahan makhluk-makhluk-Mu yang syahdu
Dan aku jatuh cinta pada cara-Mu merayuku

Kau memang Maha Perayu Wahai Tuhan-Ku,