Kamis, 17 Oktober 2013

Menginjak 22, Menginjak Alam

“Tepat di usia 22 tahun pada tanggal 22 September 2013, saya mendapat sapaan fajar yang berbeda dari 21 kali usia saya bertambah. Sang fajar terasa dekat dan hangat menyapu dinginnya malam di Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat”

Perjalan kali ini memang saya pas-paskan dengan ulang tahun saya yang ke-22. Alasannya, karena tanggal 22 September 2013 itu hari Minggu, jadi langsung saja di jadwalkan (aji mumpung). Kali ini, ada yang istimewa karena saya mengajaknya pacar saya naik gunung untuk pertama kali. Saya juga ditemani pula oleh teman saya biasanya, Didot.

Kawah Mas Gunung Papandayan
Perjalan saya dimulai sejak menjemput pacar saya di Stasiun Pasar Senen. Kereta yang tiba pukul 3 pagi mengharuskan saya sudah ada disana sekitar jam 10 malam karena kalau kemalaman takut tidak ada kendaraan umum. Di stasiun sekitar 5 jam, saya ngobrol dengan orang-orang yang juga “menginap” disana. Dua orang berlatar belakang berbeda menjadi teman saya, ada bapak-bapak dokter sekaligus pengusaha dan ada mahasiswa oseanografi UNDIP yang banyak bercerita tentang maritim Nusantara. Jam 3 setelah menyambut kedatangan pacar saya di pintu keluar penumpang, langsung kami menuju kos untuk beristirahat sebelum jalan esok paginya.

Tujuan kami pertama yaitu menuju Garut dari meeting point Terimnal Kampung Rambutan. Pengalaman berdesakan di Jakarta pasti baru dirasakan pacar saya saat kami menuju terminal. Setelah kami berdua sarapan dan Didot sudah datang, kami mencegat bus Jakarta-Garut. Sempat salah naik bus karena ternyata tidak lewat Cipularang, kami berganti bus AC jurusan Garut via Cipularang. Tidak ada yang istimewa saat di bus, hanya kemacetan panjang sekitar 2 jam di Rancaekek, Bandung yang menghambat perjalanan kami. Walau kesorean, kami tetap menuju Cisurupan (desa transit sebelum titik pendakian) dari Terminal Guntur dengan angkot berwarna ungu yang menyetel lagu-lagu dangdut. Kami ketawa-ketawa saat lagunya “Berondong Tua”, karena anak-anak kecil berusia 5 tahunan yang juga penumpang, dengan hapalnya menirukan lagu Siti Badriah itu.


Sekitar pukul 18.00 kami tiba dan disambut oleh tukang ojek yang akan membawa kami ke jalur pendakian. Tawar menawar harga, pas, langsung tancap gas. Malam dingin sambil berkendara rasanya lengkap menusuk tulang-tulang kami. Jalanan yang tadinya aspal mulus sontak berubah jadi jalan berlubang dan berbatu setelah melewati desa terakhir. Sekitar 45 menit kami tiba di pos pendakian. Tawar menawar lagi dengan tukang ojek untuk penjemputan esok saat pulang.

Setelah registrasi, sayang sekali kami tidak dapat ijin mendaki malam itu karena tidak ada yang tahu jalur. Jadi kami memutuskan buka tenda di parkiran mobil (ya, parkiran mobil). Karena merupakan gunung wisata jadi fasilitasnya lengkap seperti warung, toilet, dan mushola. Tidak mau kehilangan suasana alam, kami buka tenda dengan membelakangi parkiran dan menghadap hutan. Tapi, setelah santap malam dengan menu sedikit special, Mie Bakso Sosis, kami dapat “mukjizat”. Ada seorang porter yang menawari kami naik bareng. Langsung saja kami setuju dan memulai pendakian malam itu.

Jalur pendakian melewati kawah-kawah. Itu jalur pendakian dengan pemandangan yang baru pertama saya lihat. Tanpa masuk hutan sama sekali. Hanya masuk hutan mati bekas letusan. Pada malam hari saja pemandangan batuannya sudah menyihir mata, kontras dengan gemerlap lampu Kota Garut yang terlihat indah dari gunung yang berketinggian 2665 mdpl itu. Aroma belerang menyengat di sepanjang perjalanan menuju Pondok Selada, tempat kami akan bermalam. Karena pacar saya baru pertama mendaki, jadi perjalan kami cukup santai dan sering beristirahat. 2-3 jam berjalan akhirnya kami tiba di padang edelweis kemudian pondok selada. Puluhan tenda rupanya sudah berdiri di tanah lapang seluas kira-kira 2 Ha itu. Tanpa banyak mengobrol, kami buka tenda dan bergegas tidur.

Hutan MatiPaginya, hawa dingin semalam yang masih menggigit-gigit kecil menemani kami membuka mata. Membawa bekal cemilan dan minuman secukupnya kami menyambut fajar di pinggir-pinggir jurang di jalur pendakian. Tentu momen itu saya manfaatkan untuk foto berdua bersama pacar saya, dengan sinar matahari yang pendarnya masih sayu. Puas berfoto dan matahari pun sudah tidak malu-malu lagi bersinar, kami melanjutkan trekking ke hutan mati dan Tegal Alun. Hutan mati yang terang ternyata sangat keren, pohon-pohon tanpa daun, batuan putih kusam dan menghiasi partitur Tuhan yang bernada merdu. Kontras dengan hijaunya pohon di tempat yang lebih tinggi dari hutan mati.

Kemudian, kami melanjutkan ke Tegal Alun, kali ini melewati hutan dengan pohon-pohon rindang yang syahdu. Tegal Alun ternyata hamparan tanah lapang dengan alang-alang, bunga edelweis dan cakrawala yang membentang indah. Karena waktu kami tidak memungkinkan ke puncak, maka kami menyudahi perjalan di Tegal Alun dan bergegas turun setelah sarapan dan beres-beres.

Ternyata turunnya lebih sulit. Bukit batu yang terkadang curam membutuhkan langkah yang hati-hati jika tidak mau terpeleset batu yang labil. Saya yakin bagi pacar saya itu jalanan yang tersulit yang pernah dilalui. Hehe. Dengan kepuasan telah sekali lagi menapakkan kaki dan menghirup udara segar di alam Nusantara, kami pun kembali ke kehidupan masing-masing dan menyudahi cerita pendakian di Gunung Papandayan ini.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar