Kamis, 22 Agustus 2013

Sore Sendiri

Segelas kopi , bukan di kedai kopi atau dicafe
Segelas kopi, yang diseduh oleh pedagang keliling
Segleas kopi, dengan galas kemasan air mineral
Segelas kopi, bukan kopi mahal hanya 3000 rupiah
Namun itulah yang aku nikmati sore ini

Di bangku trotoar pinggiran jalan Tugu Monas
Berteman angin sore yang genit
Bercengkrama dengan obrolan mesin kendaraan
dan bersahabat dengan pejalan kaki
Aku nikmati kesendirian sore ini

Andai kau ada di sampingku
Mengisi ruang bangku yang masih kosong
Bercakap bersama tentang apa saja
Dan menikmati sore ini bersamaku
Maka kaulah yang akan menciptakan puisi ini

Hatiku mungkin telah terisi
Namun sore ini, kekosongan ruang disampingku
Mengusik keutuhan hatiku
Dan berbuah kerinduan
Saat suatu hari di bangku ini tidak lagi kosong

Maka aku ingin kaulah yang mengisinya

Si Manis dari Kemayoran

“Pertama dengar, sih, pasti heran, ada ketan kukus pakai kelapa disiram susu kental manis tapi cocoknya dimakan sama tempe goreng yang gurih”


Gunungan GorenganItulah menu andalan sebuah warung di Kemayoran, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Garuda Ujung No. 5 yang sudah ada sejak tahun antara 1958 atau 1960. Sudah lama memang karena pemilik warung ini yang sekarang sudah generasi ketiga. Letaknya cukup mudah dijangkau karena terletak di ujung gang (Jalan Garuda Ujung tertulis di gapura gang itu) yang lagnsung menghadap ke Jalan.

Warungnya tidak sebesar namanya ternyata. Hanya sebuah kedai kecil dengan dapur dan tempat sajinya numplek jadi satu. Ada bangku panjang 2 buah untuk masing-masing 5 orang mengelilingi tempat saji gorengan yang siap santap. Lalu ada 2 kelompok kursi dan meja untuk masing-masing 6 dan 4 orang yang berbentuk seperti pos ronda. Dan 2 bangku tanpa meja untuk masing-masing 5 orang di pinggir jalan masuk gang. Dapur tempat pengukusan si ketan dan penggorengan gorengan terlihat disana. Tungku besar yang selalu menyala untukmengukus ketan terlihat disana.


Tansu Dan Teh PociMenu andalan tentu saja Tansu (Ketan Susu), yaitu ketan kukus dengan parutan kelapa yang disiram susu kental manis yang legit dan manis. Untuk yang tidak suka manis bisa request tanpa susu, kok, jadi tenang saja. Pelengkap tansu ini tentunya gorengan yang ada pisang goreng, tempe goreng garing, dan ubi goreng. Entah tersugesti atau memang enak, paling nikmat justru dimakan dengan tempe goreng yang gurih. Legitnya ketan campur susu meleleh di lidah bersama gurihnya tempe. Semua rasanya memberikan sensasi baru bagi lidah saya. Yummy. Untuk minuman ada teh poci, teh manis biasa dan ada pula kopi tubruk. Saya mencoba teh pocinya nikmat sekali. Bagi sayan makan 2 porsi tansu sudah cukup karena eneg juga jika makannya terlalu banyak karena manisnya susu.

Tidak perlu khawatir soal harga, cukup 3.000 rupiah untuk seporsi tansu, 1.000 rupiah untuk masing-masing gorengan dan 4.000 rupiah untuk teh poci yang bisa untuk 3 orang. Kebersamaan bersama teman-teman nongkrong bisa lebih berasa jika ditemani si manis gurih Tansu Kemayoran yang bisa didatangi 24 jam sehari.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ramadhan Jalan : Berbuka Nomaden 1

“Buka gratis alias takjilan di masjid itu kita jadi ngasi pahala ke orang lain, lho”

Ramadhan kali ini saya benar-benar menjalankan dengan cara agak berbeda. Saya meminimalisir berbuka di kos dengan membeli jajanan sendiri. Saat berbuka saya  ikut berbuka bersama di masjid-masjid yang berbeda. Menu berbukanya pasti berbeda-beda. Dari yang cuma takjil alias jajanan sampai yang makan nasi pun ada.

Saya mulai berbuka keliling pada tanggal 15 Juli 2013. Dari tanggal itu beberapa masjid dengan menu berbukanya sudah saya kunjungi. Satu lagi dan mungkin dampak utama dari berbuka keliling adalah “Hemat”. Hehehe.

15 Juli 2013 - Masjid As-Salam (Gedung Graha XL - Mega Kuningan)

Hari pertama saya buka dengan berbuka di kantor. Tepatnya di masjid Graha XL. Disana dapat gorengan, beng-beng, lontong, kurma dan air putih. Takjilan saja, sih. Tapi yang unik adalah keganasan karyawan yang ikut berbuka. Waktu makanan keluar, bet-bet-bet langsung habis. Makanan disini keluar secara bertahap tapi tidak sampai 3 menit langsung ludes. Sepertinya workload di XL bikin karyawan-karyawan mengganas.

16 Juli 2013 - Masjid Departemen Pendidikan (JL. Gatoto Subroto)

Di sini sama dapat takjil juga, tapi relatif cukup mewah sih. Ada risoles yang isinya paperoni kecil dan mayonaise, ada lontong, gorengannya tahu telor, dan pencuci mulutnya agar-agar. Setelah berjalan jauh dan naik tangga untuk solat di lantai 3 –karena hall utama ada di lantai 3, takjilnya lumayan me-recover energi.

17 Juli 2013 - Masjid Jami As-Salafiah (Warung Buncit)

as-salafiahIni masjid besar dan letaknya di pinggi jalan raya Buncit Indah. Di masjid ini saya pertama dapat makan nasi. Saat masuk di serambi utara sudah disediakan nasi, ayam, dan sayur di atas nampan plastik besar yang diperuntukan untuk 4 orang masing-masing nampannya. Tak lupa air the dan kurmanay. Kesan saya langsunglah senang ­–nggak perlu beli nasi .Hehehe

Disana formatnya makan bareng berempat dalam satu nampan. Tapi namanya saat berpuasa walaupun harus bercampur dengan tangan orang lain tetap saja nikmatnya berbuka itu tiada tara (apalagi gratis).

18 Juli 2013 - Mushola AL - Barkah (Warung Jati Timur)

Mushola Al-BarkahKalau yang ini mushola kecil di dalam gang kecil. Untuk pertama kalinya saya merasa malu ikut berbuka bersama. Karena mushola jadi sepertinya hanya diperuntukan untuk warga sekitar. Pesertanyapun saling mengenal semua dan memakai baju muslim putih-putih dan ada beberapa dengan sorban. Sedangakan saya dan teman saya memakai kaos dan celana jeans. Tapi sudah terlanjur basah, kita singkirkan rasa malu dan ikut menikmati hidangan yang tergolong mewah.

Disana dapat nasi satu piring satu orang dengan lauk yang bermacam-macam. Ada sate ayam, capcay dengan udang dan baso, dan telur bumbu padang. Belum lagi jajanan dan buahnya. Berbuka termewah di masjid ya saat itu. Walaupun malu, tapi toh tidak bakal ketemu lagi kalau tidak dengan sengaja kesana lagi.

19 Juli 2013 - Masjid Raihanul Hamim (Mampang, Tendean)

Masjid Raihanul Hamim
Nah, kalau yang ini yang pertama seru. Dapat nasi, lele, gudangan atau urab dan samabal lengkap dengan teh manis hangat. Yang bikin seru soalnya saya bertiga bersama teman-teman saya dan tempatnya pun tidak membuat sungkan. Walupun agak masuk gang tapi masjidnya besar. Format mayoran berempat dalam satu nampan juga diberlakukan disini. Yang bikin berkesan adalah teh manisnya yang rasanya mantep tenan.







Kamis, 08 Agustus 2013

Kekasih

Kuterawang langit malam ini
Gelap dan angkuh menngolok-olok kerinduanku
Sorot mataku tajam menatang langit dan mencari rembulan
Kala rembulan mengintip dan tersenyum
 ku tau senyumnya adalah senyummu, Kekasih.

Kubalas senyumnya tapi segera langit menarikmu pulang
Putus asa aku berdebat dengan langit yang maha luas
Sampai sejuta air mata turun dari balik keangkuhan langit
Aku tahu itu air matamu rembulan
mengingatkan akan kehangatan yang pernah kita lalui, Kekasih.

Aku tau belum bisa mebalas senyummu
Aku tau belum bisa mendengar tangismu
Aku harap aku buta agar senyummu tak terlihat
Aku harap aku tuli agar tak kudengar lagi tangismu
Tapi aku harap hatiku bisa merasakan senyum dan sejuta air mata ini, Kekasih

Tujuan kita terucap tapi tak terasa
Kita berjalan meraih cita-cita
Tapi tak kita genggam cita-cita
Tetes air mata berhenti tapi rembulan tetap tak ada
Tak kucari lagi rembulan kala angkuhnya langit masih terjaga

Namun kutunggu kau di tempat yang selalu sama
Sampai langit menjadi cerah dan berseri seperti parasmu
Serta jutaan bintang menyinari senyummu
Kelak saat kau muncul, hati dan jiwakulah yang akan menyambutmu, Kekasih

Selasa, 06 Agustus 2013

Ramadhan Jalan : Ada “Candi” di Dalam Masjid

“Masjid Menara Kudus, merupakan hasil asimilasi sosial antara masyarakat Hindu dan Islam yang didirikan oleh Sunan Kudus pada 1549 Masehi”


Menara dan Masjid KudusMenara Kudus merupakan salah satu masjid unik di Indonesia dan ada pada brosur “Pesona Wisata, Belanja, dan Kuliner Jawa Tengah” untuk kategori Historical Building. Keunikannya terutama terletak pada menaranya yang berbentuk sebuah Candi Hindu. Masjid yang disebut juga Masjid Al-Aqsa atau Masjid Al-Manar ini menjadi salah satu bukti dakwah Islam yang dilakukan oleh Sunan Kudus. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1549 Masehi dengan batu pertama yaitu batu Baitul Maqdis dari Palestina dan terletak di Desa Kauman, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Tapi selain menaranya yang banyak di expose, bangunan masjid ini juga kental dengan gabungan antara masjid dan pura. Di bagian luar dan sisi selatan masjid tampak bangunan bertema candi Hindu. Di bangunan utama masjid berbentuk layaknya masjid pada umumnya. Didalam ruang utama masjid ini juga terdapat sebuah candi tepat di tengah-tengah area sholat.

Berangkat bersama pacar saya dari Kota Semarang, kami menyusuri jalan Demak - Kudus. Memasuki Kota kudus kita akan disambut dengan plang “Kudus Kota Kretek” dan sudah ada bangunan dengan ciri khas Hindu. Memang Kota Kudus terkenal dengan industri tembakaunya atau rokok. Perusahaan rokok besar pun salah satunya ada di kota ini. Untuk sampai ke Masjid Menara Kudus, kita mengikuti plang yang mengarah ke “Menara Kudus”. Tapi hati-hati, tidak semua plang di jalan raya benar. Bahkan kita pun sempat nyasar. Jadi lebih baik bertanya ke orang.

Bagian Dalam Masjid dengan "Candi" di TengahnyaKita tiba disana sesaat sebelum solat dzuhur. Kesan pertama kita yaitu kecewa. Kita kecewa karena saat itu menara setinggi 17 meter yang terkenal itu sedang di perbaiki sehingga tertutup rangka bambu semuanya. Selesai solat dzuhur berjamaah, kita berkeliling masjid dan saya sempat mengunjungi makam yang ada di belakang masjid. Komplek pemakaman itu juga tak luput dari perpaduan pura dan masjid. Disana merupakan makam raja-raja dan pangeran-pangeran masa pemerintahan Kudus zaman dulu. Yang paling besar dan banyak dikelilingi orang-orang ziarah adalah makam Sunan Kudus. Makamnya ditutupi kain putih dengan renda seperti kelambu. Pengunjung banyak yang berdoa dan membaca Yasin dan Al-Qur’an disana. Saya juga ikut menghargai dengan membaca Yasin juga.

Di sekitar masjid banyak penjual oleh-oleh khas Kudus, yaitu Jenang. Harga disana pun tidak jauh beda, bahkan ada yang lebih murah, dibandingkan toko oleh-oleh di pusat Kota Kudus. Sebenarnya masih ada destinasi yang ingin kita kunjungi di Kudus, yaitu Museum Kretek. Tapi karena waktu tidak memungkinkan, ya sudah, kita kembali ke Semarang setelah membeli oleh-oleh di Toko Sinar 33 Jalan Sunan Muria No. 33.


Halaman Depan Masjid seperti Pura Hindu




Senin, 05 Agustus 2013

Ramadhan Jalan : 200 Tahun Berbuka dengan Bubur

“Sebuah budaya takjilan turun-temurun yang selalu menyajikan menu yang sama di Masjid Jami Pekojan, Semarang”


Menu Bubur India

Semua berawal saat saya pulang kerja dengan busway. Saat itu ada bapak-bapak membaca koran dan secara tidak sengaja saya membaca salah satu judul artikelnya yaitu “Bubur India Di Masjid Pekojan”. Langsung saya browsing tentang bubur India tersebut dan ternyata Masjid Jami Pekojan letaknya di Semarang tepatnya di daerah Pekojan Kawasan Pasar Johar Jalan Petolongan No. 1. Kebetulan malam itu saya juga akan pergi ke Semarang jadi saya agendakan ke Masjid itu.

Saya bersama pacar saya tercinta langsung menuju Masjid itu menjelang berbuka puasa pada 13 Juli 2013. Jam 5 saya sudah sampai disana. Sudah ada beberapa orang yang menunggu rupanya. Ada juga wartawan dari sebuah radio di Semarang yang sedang meliput. Beberapa mangkok bubur pun sudah disiapkan di mangkok warna-warni di serambi utara masjid lengkap dengan kurma, susu dan air zam-zam.

Saat waktu berbuka tiba, ternyata banyak juga yang ingin berbuka disana jadi banyak yang tidak kebagian. Pacar saya saja tidak kebagian. Kasihan. Hehehe. Saya yang penasaran untungnya kebagian. Ternyata bubur India ini adalah bubur beras biasa dengan aroma serai dan rempah-rempah yang kuat yang mungkin khas India. Bubur ini disajikan dengan kuah sayur labu siam yang kental, rambak (kulit sapi), dan 1/5 potong telur dadar. Rasanya biasa saja tapi cukup untuk membuat perut kenyang juga.

Persiapan Berbuka Bubur IndiaTradisi bubur ini sudah berlangsung sejak tahun 1878. Alkisah ada seorang pedagang dari Gujarat, India yang datang dan menikah di daerah Pekojan. Pedagang lain dari Gujarat mengikuti jejak si orang pertama dan berdatangan kesana. Dengan tujuan syiar agama Islam, mereka membentuk komunitas muslim dan membuat tradisi berbuka dengan menu khas India yaitu bubur India tersebut. Memang daerah sekitar Pasar Johar Semarang terkenal dengan suku bangsa keturunan Arab. Kabarnya tahun-tahun sebelumnya alat masaknya adalah kuali tembaga yang turun-menurun sejak dulu. Tapi tahun ini sudah diganti yang baru, alasannya karena yang lama telah rusak.

Minggu, 04 Agustus 2013

Tuhan Yang Maha Perayu

Malam ini aku rasakan getaran jiwa yang tak biasa
Meledak-ledak namun penuh kesunyian
Di loteng rumah sederhana
Suasananya menghujam dalam ke dasar jiwa

Aku tahu bahwa aku sedang dirayu
Kalian pasti tahu bagaimana rasanya dirayu ?
Tapi rayuan ini yang maha dahsyat
Rayuan dari Tuhan aku rasa

Tuhanku mungkin sedang membawaku menikmati erotisme-Nya
Tercipta berupa desahan firman indah
Namun bukan hanya firman yang tertulis pada kitab
Atau pun firman yang dapat dibaca
Tapi firman yang terpancar dari semua makhluk

Manusia yang tegas membaca
Binatang malam yang lembut bergumam
Dan tumbuhan yang diam menenangkan
Ketiganya bersetubuh menghiasi malam yang merangsang

Aku terbuai oleh rayuan-Mu
Terbuai desahan makhluk-makhluk-Mu yang syahdu
Dan aku jatuh cinta pada cara-Mu merayuku

Kau memang Maha Perayu Wahai Tuhan-Ku,