Sabtu, 20 September 2014

Lampu Jalan

Apakah malam di dunia ini selalu sama? Kata orang-orang begitu. Malam adalah penunjuk separuh hari dengan gelap sebagai cirinya. Bertolak belakang dengan siang yang terang. Malam adalah sisi baik cahaya matahari yang masih mau membagi cahayanya untuk mendandani bulan. Walaupun cahaya bulan entah masih dianggap sebagai cahaya atau tidak. Karena bagi banyak orang bulan hanya benda alam yang fungsinya sudah tidak diperhitungkan lagi. Malam bagi orang kebanyakan adalah saat yang dimana kesunyian dan keheningan meluluhkan semua kelelahan bekerja di siang hari. Menjadikan malam yang selalu sama yaitu malam adalah tentang lelap.

Bagiku malam tak ada bedanya dengan siang. Malam dan gelapnya bukan hanya soal waktu. Malam hanya sebuah kata, dan gelapnya adalah misteri. Misteri hidupku sendiri yang tak pernah dapat aku jelaskan. Kegelapan menjadi kehidupan. Dan kehidupanku adalah kegelapan itu sendiri.

Di kota ini, dari balik kardus di samping kali yang penuh polusi, aku dilahirkan. Bukan dari rahim seorang ibu di rumah sakit bersalin dengan bidan atau dokter kandungan yang sudah mengenalku sebelum aku lahir. Aku lahir dari gelap, aku lahir dari denyut jantung kota yang sedikit kejutan saja akan membuatnya mati kena serangan jantung, orang tuaku adalah debu yang mengusap kegelisahan kota ini, dan kardus ini adalah rahim ibuku.

Senin, 15 September 2014

Budaya Bali tak Pernah Minder

Siapa yang tidak kenal Bali? Ikon pariwisata Indonesia yang bahkan terkadang namanya lebih terkenal daripada Indonesia sendiri. Wisatanya memang menjadi daya tarik kelas satu bagi turis asing yang pergi Indonesia. Wisata alam dan terutama budaya, kesenian dan kearifan lokal yang mistis dan spiritualistik yang melekat erat pada Pulau Bali ini membuktikan perkataan Aristoteles, yaitu Art completes what nature cannot bring to finish. Artinya, Bali memadukan kesenian dan budaya dengan keindahan alamnya untuk menjelma menjadi sempurna untuk menyematkan julukan The Last Paradise. “Bali… Gooooddd..” Begitulah salah satu dialog dari Roman, seorang turis Canada yang diperankan Cak Lontong saat melihat keindahan Pulau Bali.


Roman (Cak Lontong) dan Tour Guide (Akbar)

Tanggal 12-13 September 2014, Indonesia Kita kembali mementaskan pertunjukan budaya bertajuk Roman Made in Bali. Ini merupakan pementasan kedua setelah pada bulan April lalu sukses mementaskan Matinya Sang Maestro. Bahkan pementasan tersebut sampai ditayangkan kembali. Pada lakon Matinya Sang Maestro, cerita yang disuguhkan sangat satir. Dengan balutan kesenian Jawa seperti tari dwimuka oleh Didik Ninik Thowok, kendangan oleh Djaduk Ferianto, dan lawakan khas ludruk Jawa Timur oleh Cak Kartolo, ceritanya berusaha mengkritik perhatian pemerintah pada kehidupan seniman yang idealis mempertahankan tradisi bangsa namun terasa sangat kontradiktif dengan kehidupannya yang miskin dan banyak hutang. Potret seniman-seniman sepeti yang dikatakan salah satu seniman ludruk Jawa Timur: “seniman itu berkesenian karena rasa, kalau berkesenian karena uang namanya penjual seni.”

Rabu, 03 September 2014

Jazz Atas Awan, Medengar Musik Menikmati Suasana

Jazz Atas Awan (Twitter : @FestivalDieng)
Dentuman bass yang kental, suara melengking dari tiupan saksofon, suara vokal yang berat, serta suara gitar yang slow mengalun di atas panggung musik bertajuk Jazz Diatas Awan. Lagu Juwita Malam yang dibawakan oleh para musisi dari Bank BPD Jateng mewarnai salah satu rangkaian acara Dieng Culture Festival 2014. Acara yang berlangsung pada malam hari hingga dini hari ini menyuguhkan sebuah acara modern dalam serangkaian acara budaya tradisional. Membuktikan bahwa dalam seni, pembauran antar generasi sangat mungkin terjadi.

Dieng Culture Festival (DCF) merupakan acara tahunan yang diadakan di kawasan Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau). Acara ini berlangsung dua hari yaitu 30-31 Agustus 2014. Acara puncaknya adalah upacara pencukuran rambut gimbal anak-anak Dieng. Di luar dari itu, acara pendukungnya sangat beragam, mulai dari acara budaya tradisional, musik dangdut, musik jazz (Jazz Atas Awan), kompetisi film dan acara-acara yang menyuguhkan suasana kebersamaan seperti menerbangkan lampion dan bakar jagung bersama. Ditambah lokasi yang sangat dingin dan tenda-tenda pengunjung yang berkumpul di camping groud yang telah disediakan, acara yang sudah berlangsung kelima kalinya ini menarik ribuan wisatawan untuk mengikuti rangkaian acaranya atau sekedar menikmati suasana riuh dan indahnya kebersamaan.