Rabu, 03 September 2014

Jazz Atas Awan, Medengar Musik Menikmati Suasana

Jazz Atas Awan (Twitter : @FestivalDieng)
Dentuman bass yang kental, suara melengking dari tiupan saksofon, suara vokal yang berat, serta suara gitar yang slow mengalun di atas panggung musik bertajuk Jazz Diatas Awan. Lagu Juwita Malam yang dibawakan oleh para musisi dari Bank BPD Jateng mewarnai salah satu rangkaian acara Dieng Culture Festival 2014. Acara yang berlangsung pada malam hari hingga dini hari ini menyuguhkan sebuah acara modern dalam serangkaian acara budaya tradisional. Membuktikan bahwa dalam seni, pembauran antar generasi sangat mungkin terjadi.

Dieng Culture Festival (DCF) merupakan acara tahunan yang diadakan di kawasan Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau). Acara ini berlangsung dua hari yaitu 30-31 Agustus 2014. Acara puncaknya adalah upacara pencukuran rambut gimbal anak-anak Dieng. Di luar dari itu, acara pendukungnya sangat beragam, mulai dari acara budaya tradisional, musik dangdut, musik jazz (Jazz Atas Awan), kompetisi film dan acara-acara yang menyuguhkan suasana kebersamaan seperti menerbangkan lampion dan bakar jagung bersama. Ditambah lokasi yang sangat dingin dan tenda-tenda pengunjung yang berkumpul di camping groud yang telah disediakan, acara yang sudah berlangsung kelima kalinya ini menarik ribuan wisatawan untuk mengikuti rangkaian acaranya atau sekedar menikmati suasana riuh dan indahnya kebersamaan.

Dimulai sekitar pukul 19.30, penonton begitu antusias memadati tanah lapang komplek Candi Arjuna. Berbeda dengan menonton konser musik jazz biasanya, yang terkenal sebagai musiknya orang-orang berjas, Jazz Atas Awan menyuguhkan suasana yang “merakyat”. Penonton tidak duduk di dalam ruangan mewah, tetapi duduk lesehan di atas rumput basah tanah Dieng. Beralas matras atau tidak, semua berbaur mendengar alunan musik dan menikmati suasana alam salah satu dataran tinggi terbesar ini. Hawa dingin dan berkabut tentu tidak cocok untuk menggunakan jas, tapi lebih tepat menggunakan jaket tebal untuk menghalau hawa dingin tersebut.

Lampion (Twitter : @FestivalDieng)
Bersama-sama teman seperjalan, kekasih, atau keluarga, suasana konser musik ini memang layak untuk dinikmati bersama. Duduk bergerombol dan saling bercengkrama, dapat sejenak menghangatkan suasana. Saya sendiri duduk bersama teman-teman yang baru saja berkenalan satu hari. Dari yang tadinya hanya berempat, saat menikmati Jazz Atas Awan rombongan kami jadi sepuluh orang. Semuanya sama, ingin mendengar musik dan menikmati suasana. Suasana pertemanan yang menjadikan malam yang dingin sedikit beranjak.

Ditengah-tengah lagu yang mengalun. Lampion-lampion beterbangan menghias awan menuju entah kemana. Penerbangan lampion juga termasuk dalam rangkaian acara malam itu. Nada-nada lagu jazz seolah terbang bersama merah padam lampion di atas langit. Menggema ke seluruh penjuru dataran tinggi Dieng yang damai. Kontras mewarnai langit yang pekat. Masing-masing penonton yang bertiket Dieng Culture Festival memang mendapat satu lampion untuk diterbangkan pada malam itu. Namun sayangnya penerbangannya tidak ada aba-aba sehingga tidak serentak. Kami bersepuluh membawa delapan lampion, namun hanya dua yang dapat terbang. Yang lain sobek karena udara yang basah karena kabut yang tebal.


Kembang Api (Twitter : @FestivalDieng)
Ditengah riuhnya musik, puluhan mungkin ratusan kembang api berdentum di langit. Awalnya jarang-jarang, namun saat puncaknya, sekitar 30 menit langit yang pekat menjadi lebih berwarna dengan percikan kembang api yang berwarna-warni. Dentuman demi dentuman menarik perhatian penonton untuk melihat ke langit. Malam itu langit Dieng memang sedang dihias. Dengan alunan musik, merah padamnya lampion, dan terakhir iring-iringan cahaya warna-warni kembang api. Jazz Atas Awan - Deing Culture Festival 2014, suasananya mengalun seindah musiknya.

IndraRama
Jakarta, 03 September 2014

Tidak ada komentar :

Posting Komentar