Rabu, 14 November 2012

Potret Kehidupan di Rangkaian KA-281


Jalur 3 KA-281 tujuan akhir stasiun Jakarta Kota segera diberangkatkan kembali ...

Itulah sepenggal kalimat petugas stasiun kereta api (KA) yang menginstruksikan bahwa kereta segera berangkat. Kalimat-kalimat sejenis itu menjadi sering saya dengar sebulan terakhir ini. Ya, selama sebulan saya bermain (masih tetap istilah untuk bekerja) di Ibu Kota, seminggu sekali saya pulang pergi Jakarta-Purwakarta dan seringnya menggunakan KA-281 atau KA lokal Jakarta Kota - Purwakarta.


KA-281
KA-281 ini saya sebut “kereta rakyat” karena harganya yang relatif murah, hanya 3.000 rupiah, jika dibandingkan dengan bus jurusan Purwakarta yang harganya sekitar 5 kali lipatnya. Namun, tentu harga tidak pernah bohong (kecuali ketipu orang), fasilitas dan lama perjalanannya setimpal dengan harganya. Kereta ini berhenti hampir di semua stasiun yang dilewati yaitu Jakarta Kota - Kemayoran - Ps. Senin - Jatinegara - Bekasi - Tambun - Cikarang -Lemah Abang - Kedung Gedeh - Karawang - Klari - Kosambi - Dawuan - Cikampek - Cibungur - Sadang - Purwakarta  dan itu berdampak pada waktu tempuh yang jadi relatif lama sekitar 2,5 - 4 jam, belum lagi karena kereta ‘kasta bawah’ maka kereta ini harus mengalah jika ada kereta-kereta lain yang mau menyusul. Selain jarak tempuh, fasilitasnya pun begitu, tidak ada batasan penumpang dan nomor tempat duduk membuat penumpang penuh sesak, kotor, pedagang berlalu lalang tanpa henti, dan hawa menjadi panas apalagi untuk bayi pasti tidak betah. Seperti lagunya Alm. Franky and Jane “penumpang penuh bayi-bayi menangis, penjual makanan selalu berteriak .... “ ditambah banyaknya yang merokok menambah kesumpekan suasana. Dari segi fisik kereta sendiri tidak jauh beda dengan kereta ekonomi biasa, namun ada beberapa gerbong dengan bangku plastik, dan fasilitas seperti meja, kamar mandi, blower, bahkan kursi ada beberapa yang rusak.

Tetapi, dibalik semua itu ada segelintir orang yang menggantungkan hidupnya dari kesemrawutan tersebut. Disinilah saya tertarik untuk melihat hal-hal menarik terutama pedagang dan ‘pengusaha’ lainnya yang ada di KA-281. Mulai dari orang-orang kreatif, sotoy, hard worker, dan lain-lain ada di KA-281 yang mungkin tidak ditemui di sarana transportasi lain yang kastanya tinggi.

Pedagang Kreatif dengan Pengeras Suara
Di KA-281 ini ada sekelompok anak muda musisi kereta yang menurut saya kreatif, mereka beranggotakan 5 atau 6 orang dengan alat musik gitar, ketipung, calung, dan yang menarik mereka menggunakan keyboard. Mereka juga tidak asal nyanyi tapi sudah cukup bisa dibilang ‘oke’ dengan adanya paduan backing vocal. Selain mereka ada juga penjual rokok, tissue, permen yang tak kalah kreatif. Dia tidak pernah teriak-teriak menjajakan dagangannya tapi dia menggunakan pengeras suara yang berisi rekaman suara dalam menjajakan dagangannya. Jadi, dia hanya jalan sambil menenteng pengeras suara itu. Keren. hehe. Tapi ada juga musisi-musisi yang sotoy, mereka sepertinya preman-preman yang asal meminta uang saja padahal tidak tahu mereka menyajikan apa.

Pedagang Buah
Dari sisi kreatif, kita beralih ke orang-orang yang memiliki semangat juang tinggi dalam menyambung hidup. Ada seorang kakek-kakek tunanetra yang rela berjalan mondar-mandir di sesaknya kereta demi uang-uang recehan. Beberapa musisi juga ada yang menderita kekurangan fisik, mereka bermodalkan tape dan microphone seperti karaoke. Ada juga penjual buah-buahan dan minuman yang harus membawa beban berat di tengah kereta yang sesak demi menjemput rizki yang yang di telah tetapkan Tuhannya dan tak jarang mereka jadi bulan-bulanan mulut ibu-ibu. Dan terakhir, ada anak-anak usia bermain yang sudah harus bertanggung jawab akan hidupnya sendiri bahkan mungkin hidup keluarganya. Mereka ada yang memberi amplop kosong berharap pada penumpang untuk mengisinya, menemani orang tuanya, dan menjadi tukang sapu demi hidupnya hari itu.

Selain hal-hal diatas, yang lainnya ada juga pedagang mainan yang kadang bikin anak-anak kecil menangis. Karena biasanya dia promosi di depan anak-anak namun disisi lain orang tua si anak itu tidak berminat membelikan, yah, terjadilah pertumpahan air mata disertai teriakan si anak. hehe. Lainnya lagi yaitu para smoker. Diantara para smoker yang ada di dalam KA, ada satu smoker yang ingin saya sorot, dia adalah kondektur KA-281 yang asik-asik merokok di tengah-tengah penumpang usai memeriksa tiket padahal tulisan dilarang merokok jelas sekali di tiap gerbong. Jadi, wajar saja kalau penumpang lain juga ikut-ikutan.hehe

Well, Itulah sepenggal pengamatan saya pada orang-orang dan fasilitas dalam setiap perjalanan mudik saya menggunakan KA Lokal Jakarta - Purwakarta. Dalam setiap alat transportasi pasti ada cerita-cerita tersendiri hanya tinggal bagaimana kita menikmati cerita-cerita tersebut. Selamat Membaca.

Fasilitas Meja Kereta yang Rusak

"Israel" - Istana Sisi Rel Jakarta Ps. Senen

From Train's Window

Sabtu, 13 Oktober 2012

Pasir Putih di Bumi Kartini


Hari minggu 30 September 2012, satu hari setelah saya wisuda dan kebetulan karena masih berada di kota Semarang, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan kembali dalam membangun kekuatan hubungan saya dengan pasangan. Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, perjalanan kali ini adalah perjalanan yang mendadak bahkan sampai keluar dari rumah pukul 10.30 pagipun kami belum tahu mau kemana. Tadinya saya ingin mencoba ke kota Ambarawa dan mengunjungi Rawa Pening, tapi karena pacar saya yang ingin pergi ke arah timur kota Semarang jadi kami pindah haluan dan memutuskan berjalan ke timur (arah Demak, Kudus, Surabaya). Setelah mulai berjalan ke arah timur kota Semarang akhirnya kami memutuskan ke Utara dan mengunjungi kota kelahiran Pahlawan Nasional Ibu Kartini, Jepara. Jepara adalah kota di sisi Utara Kota Demak yang terkenal dengan seni ukir, pantai, dan Kepulauan Karimun Jawanya. Rutenya seperti biasa mengikuti penunjuk arah yang ada di jalan.


Pintu Berukiran Khas Jepara
Untuk menuju Kota Jepara menggunakan sepeda motor kita bisa mengikuti penunjuk arah Kota Demak dari Kota Semarang, mengambil arah Kota Kudus dan nanti akan ada penujuk arah Jepara. Sepanjang perjalanan dihiasi oleh kota-kota dan beberapa sawah-sawah dan memakan waktu sekitar 2- 3 jam. Memasuki Kota Jepara kami memutuskan untuk mengunjungi alah satu pantainya, Pantai Bandengan. Sepanjang perjalanan di dalam Kota Jepara banyak dijumpai bangunan dengan pintu dan kusen berupa ukiran khas Jepara. Berbeda dengan Kota Semarang yang merupakan kota besar yang selalu ramai, Kota Jepara terasa sepi, jarang ada mobil yang berlalu-lalang namun hal itu malah memberikan suasana jalanan yang damai dan asri. Untuk menuju Pantai Bandengan kita bisa mengambil arah jalan R.A. Kartini dari monumen R.A. Kartini, terus saja sekitar 2-3 km maka kita akan memasuki kawasan desa wisata Pantai Bandengan. Dari situ kita tinggal mengikuti jalan sekitar 3-5 km dan akan memasuki pintu masuk Pantai Bandengan.


Objek Perahu Pantai Bandengan
Ironis dengan suasana di Kota Jepara yang sepi, di Pantai Bandengan yang memiliki nama lain Pantai Tirta Samudera malah ramai sekali oleh pengunjung. Berbagai aktifitas liburan dan mencari nafkah yang berhubungan dengan kepantaian ada disana. Suasana Pantai Bandengan sendiri menurut saya menarik, karena walaupun pantai tapi disana terasa sejuk karena ditumbuhi pohon-pohon yang relatif rimbun, sehingga untuk bersantai menggelar tikar disana sangat cocok. Pantai Utara yang tenang menjadikan Pantai Bandengan memiliki banyak permainan air seperti perahu, banana split, jek ski dan lain-lain termasuk menuju Pulau Panjang yang kaya akan flora dan fauna. Pasir putihnya masih cukup bersih untuk dilalui menyusuri bibir pantai. Disana kami  hanya mengabadikan momen-momen liburan dan saya sendiri menyempatkan untuk berenang di pantai yang tenang setenang Kota Jepara itu. Salah satu momen taak terlupakan adalah saya yang saat itu tidak membawa pakaian ganti namun nekat untuk berenang, jadi sepanjang perjalan pulang saya memakai pakaian (terutama bawahan) yang basah. Hehe


Sisi Lain Kawasan Bandengan
Selesai berenang dan berbilas, sebelum pulang kami sempat menuju “sisi lain” pantai yang cukup menarik untuk diabadikan lewat kamera. Tidak tahu ke arah mana, namun tempatnya cukup tenang dari keramaian, tidak ada pasir namun hanya batu-batu laut. Namun, spot lautnya untuk berfoto disana sangat bagus. Setelah puas kami memutuskan pulang dan menyempatkan Solat Ashar di Masjid Agung Demak yang kaya akan sejarah. Layaknya situs bersejarah lainnya, disana banyak juga wisatawan dengan bis-bis yang melakukan kunjungan wisata sejarah ataupun wisata religi di Masjid yang diperkirakan mulai dibangun oleh Raja Kesultanan Demak pertama, Raden Patah pada abad ke-15 Masehi dan pernah menjadi tempat berkumpulnya Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Tanah Air.

Menara Mesjid Agung Demak
Pasir Putih Pantai Bandengan
Sisi Lain Pantai Bandengan



Mungkin Berguna :

Tiket Masuk : Rp 5000/orang menggunakan Motor


Jumat, 05 Oktober 2012

Perjalanan Menuju Pekerjaan Impian

google.com

Kali ini saya akan berkicau sedikit mengenai bagaimana langkah-langkah saya dalam mencari kerja. Sebagai seorang mahasiswa vokasi di sebuah institusi yang menjunjung tinggi moto “cepat mendapat kerja”, pekerjaan adalah tujuan utama setelah dinyatakan lulus. Begitu pula lingkungan keluarga yang secara langsung mendorong saya untuk segera mendapat pekerjaan setelah lulus. Namun, pekerjaan seperti apa yang saya inginkan tidak bisa saya pendam. Itulah yang kemudian cukup mempengaruhi saya untuk berprinsip tidak mencari pekerjaan sembarangan.

Ketika teman-teman saya sudah mulai mencari lowongan pekerjaan di industri-industri, saya yang berstatus mahasiswa tingkat akhir mencoba fokus pada Tugas Akhir saya. Saya mengambil Tugas Akhir memang sesuai dengan passion saya. Programming. Ya, entah kenapa ada ketertarikan yang kuat pada bidang tersebut, walaupun saya mengakui skill saya memang belum memadai. Bekerja hingga larut malam untuk membuat sebuah fungsi menjadi rutinitas tiap hari saya. Tugas akhir bagi saya adalah tugas awal dimana saya mengawali langkah nyata saya dalam dunia programming. Dorongan dan target untuk dapat menyelesaikan tugas akhir tanpa banyak bantuan dari orang lain pun mendorong saya untuk tidak dulu mengambil kesempatan berbagai lowongan kerja yang ada. Itulah yang membuat saya sedikit “tertinggal” dalam mendapat pekerjaan.

Saat ditanya, saya hanya menjawab “Saya pengen kerja di Jakarta”. Namun saya merasa saya berkeinginan kuat untuk mengejar impian saya walaupun harus lebih lama dari orang lain. Saya hanya berusaha berbeda dari orang lain. Saya ingin bekerja karena mimpi buka karena gaji.

Namun dorongan fokus pada TA (Tugas Akhir) membuat waktu sidang saya relatif cepat. Saya dapat sidang sebelum puasa. Setelah itu saya mulai mencari kerja, berbagai posisi saya lamar melalui e-mail dan banyak pula yang berhubungan dengan bidang IT. Namun seperti belum rejeki, saya tak kunjung dapat panggilan. Sampai akhirnya saya mendapat panggilan test kerja di Jakarta di bidang telekomunikasi. Sekalian pulang ke Jawa Barat sayapun menjalani test yang hanya interview, saya merasa ada yang aneh dalam test tersebut dan benar saja pada akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya tidak mengambil pekerjaan itu walaupun diterima . Pulang ke rumah saya masih sering mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, bahkan lewat referensi teman bapak saya, saya mendapat panggilan kerja di pabrik. Namun jiwa saya berkata lain dan saya menolak pekerjaan itu.

Tidak adanya panggilan dari pekerjaan yang saya inginkan membuat prinsip saya perlahan memudar. Saya menurunkan target saya untuk hanya bekerja dimana saja. Sampai sebelum wisuda saya coba mengikuti acara Job Fair dan melamar beberapa. Melihat teman-teman “sepermainan” saya yang sudah bekerja membuat saya makin menurunkan prinsip saya. Tapi jauh dalam hati dan doa saya saya masih berharap pada pekerjaan yang saya impikan. Doa untuk selalu ikhlas menerima pemberian-Nya selalu saya panjatkan. Berusaha selalu berfikir positif tentang apapun yang nantinya saya dapat. Walau sekecil apapun api tekad di hati saya memberikan keyakinan kuat pada tiap doa dan usaha saya bahwa keajaiban bersama orang-orang yang berani.

Dan benar saja, Allah selalu mudah berkehendak. Sebelum wisuda, dengan impian yang hanya tinggal saya yakinkan pada doa saya, saya mendapat rejeki yang tak terduga. Sebuah perusahaan yang saya sendiri sempat lupa kapan melamarnya menelepon saya untuk test untuk bagian PHP Programmer. Betapa senangnya saya saat itu, betapa api tekad yang tadinya hanya sebesar api lilin seolah menjelma menjadi obor olimpiade. Saya berusaha dan belajar untuk menghadapi test tersebut, terus berdoa dan tetap berharap dapat ikhlas untuk segala hasilnya nanti. Pada hari Selasa 2 oktober 2012, dua hari setelah saya menerima ijazah, saya mengikuti test dengan penuh kebahagiaan karena Allah kembali memberi kesempatan pada saya. Seusai test saya berusaha menyerahkan hasilnya kepada-Nya dan hanya berdoa. Dan, segala rasa syukur saya tercurah saat hari Rabu 3 Oktober 2012 saya di telpon dan dikabarkan bahwa saya diterima disana untuk program pelatihan Java Programmer. Sebuah impian yang hadir dari keinginan kuat dan doa yang kuat. Saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa Allah memerintahkan saya untuk mendekatkan diri pada-Nya agar menjadi kebiasaan bagi saya kelak sebelum kemudian Dia menjawab doa saya.

Kamis, 04 Oktober 2012

Solo, The Spirit of Us



Membangkitkan kembali gairah dalam menjalin hubungan adalah hal yang penting demi keawetan suatu hubungan. Apalagi saat sedang dalam masa-masa LDR (Long Distance Relationship), memanfaatkan peluang ketemuan untuk membangun spirit menjadi hal yang wajib. Spirit bisa dibangun dengan melakukan hal-hal yang tidak dapat setiap hari dilakukan. Bagi kami, kami memilih untuk travelling suatu tempat, agar dapat merasakan cinta di setiap jengkal jarak dan waktu yang kami lalui dan mendapat pengalaman baru akan wisata-wisata di bumi pertiwi. Kali ini tujuan kami yaitu Kota Surakarta (Solo), salah satu kota dengan daya tarik berupa warisan budaya yang kental berupa Keraton dan Kain Batik. Setelah browsing dan mencari reverensi nama-nama tempat wisata, kamipun siap menuju Kota Solo dangan tema “The Spirit of Us”. Dengan menggunakan motor kamipun bertolak dari Semarang pukul 06.30 pada Minggu pagi yang cerah, 9 September 2012.


Pom Bensin Jalan Raya Boyolali-Solo
Untuk mencapai Solo kami berjalan ke arah selatan dari Semarang mengikuti plang “Solo/Yogya”. Perjalanan dengan kecepatan relatif sedang memakan waktu sekitar 3 jam melewati beberapa kota yaitu Ungaran, Salatiga, dan Boyolali. Sepanjang perjalanan menurut saya tidak ada pemandangan yang cukup berarti hanya kota dan sawah-sawah. Di Kota Salatiga kami sempat khawatir karena matahari di kota kaki Gunung Merbabu itu tiba-tiba tertutup awan hitam. Kami khawatir karena tidak membawa jas hujan, tapi untung saja memasuki Kota Boyolali matahari kembali menyapa kami. Kami sempat rehat cukup lama di pom bensin jalan raya Boyolali-Solo yang memiliki mushola dan tempat istirahat yang asri sebelum melanjutkan perjalanan.


Kereta Uap Jalan Slamet Riyadi
Setelah rehat kami langsung menuju Solo tanpa ada rehat lagi. Kami memasuki jalan protokol Solo (Jl. Slamet Riyadi) sekitar pukul 09.30. Kesan pertama saya yaitu “Beda”, karena memang saya belum pernah kesana. Jl. Slamet Riyadi merupaka jalan satu arah yang cukup lebar dengan trotoar yang rapi dengan taman-taman kecil nan asri dan tempat duduk bagi para pelancong yang semuanya baru saya temui di Solo The Spirit of Java ini. Di sana juga ada rel kereta di pinggir jalan yang merupakan jalur railbus salah satu transportasi kebanggaan Kota Solo. Saat disana kebetulan sedang ada rombongan yang menyewa kereta api uap yang menjadi bonus pemandangan bagi kami. Sepanjang perjalan kami mulai memilih tujuan wisata kami, dan yang pertama kami putuskan menuju Keraton Surakarta Hadiningrat.


Keraton

Salah satu Kereta Kencana Sultan
Dengan kepercayaan penuh pada plang kamipun masuk ke kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat yang hanya belok kanan dari Monumen Slamet Riyadi. Keraton Surakata sendiri merupakan istana Kesunanan Surakarta yang didirikan oleh Sultan Pakubuwono II pada tahun 1744. Ini merupakan istana terakhir Kerajaan Mataram dan saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram kepada VOC (Belanda). Sebelum memutuskan untuk parkir di Komplek Kemandungan (komplek wisata utama Keraton) kami berkeliling dulu dan ternyata kawasan keraton isinya hanya tembok-tembok tinggi dengan ornamen khas dan patung-patung. Di balik tembok-tembok itu baru berisi rumah-rumah yang menurut saya serumpun (RT atau RW). Kami melewati Alun-alun Lor (Utara) dengan yang terdapat 2 pohon beringin yang dipagari di tengahnya (Dewodaru dan Joyodaru). Setelah berkeliling kami memutuskan untuk parkir dan memasuki kawasan Kemandungan. Sebelumnya kami sempat berfoto di garasi kendaraan Sultan Pakubuwono berupa Kereta Kencana dan mobil-mobil tua. Namun ada satu mobil Suzuki APV yang katanya kendaraan cucu sultan. Disana juga ada 2 orang penjaga yang dapat pula diajak berfoto bersama.

Pekarangan Ruang Utama Keraton
Selesai foto, kami masuk ke museum Keraton. Layaknya museum biasa isinya yaitu peninggalan-peninggalan Keraton kuno seperti senjata, kendaraan, kebudayaan, perkakas, dan surat-surat perjanjian. Kami masuk ke bangunan utama Keraton dengan pekarangan beralas pasir hitam pantai selatan dan deretan pohon sawo kecik yang melambangkan sesuatu yang serba bagus yang jumlahnya 76 buah. Disana pengunjung dilarang menggunkan alas kaki terbuka (sandal). Jika memakai sandal maka harus dilepas. Bangunan utama disana juga dihiasi beberapa patung khas Eropa kuno berupa patung malaikat bersayap dan ornamennya berupa tiang putih bergerigi seperti kuil-kuil yunani kuno. Setelah cukup puas kami bertolak dari Keraton dan mencari suasana alam dengan memutuskan menuju lereng Gunung Lawu (Wisata Tawangmangu).


Tawangmangu

Grojogan Sewu
Untuk mencapai Tawangmangu dari kota Solo kita mengambil jalan dengan arah Surabaya menuju kota Karanganyar. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Menuju gunung merupakan sensasi tersendiri bagi saya, saat Gunung Lawu mulai terlihat, hasrat mendaki saya semakin besar. Setelah melewati medan menanjak dan berkelok kamipun tiba di objek wisata Air Terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu. Tanpa basa basi kami langsung membeli tiket masuk. Kamipun turun menuju lokasi air terjun melalui anak tangga yang banyak dengan beberapa kera di sekitarnya. Disana merupakan tempat bersantai bersama keluarga dan pasangan, hawa gunung yang dingin seolah menjadi kehangatan ditengah canda tawa. Selain air terjun setinggi 81 meter disana terdapat area outbound, arung jeram kecil, dan kolam renang bagi anak-anak. Disana kami berfoto, makan dan mengobrol sambil menikmati gemericik air di bebatuan sungai di bawah air terjun. Selepas solat ashar kami memutuskan pulang dan melewati anak tangga lagi untuk naik. Ternyata jumlah anak tangga dari pintu masuk hingga keluar adalah 1.250 buah (lumayan tinggi juga ya). Kamipun bertolak langsung dari Tawangmangu menuju Semarang dan tiba di Semarang sekitar pukul 08.00 dengan selamat.



Bonus Picture

Alun-alun Lor (Utara)
Menu Makan Siang

Ornamen Yunani Kuno di Keraton Surakarta

Aset Museum (Seni Gamelan Jawa)

Mungkin Berguna

Foto di garasi Keraton : 3.000/orang
Foto dengan penjaga : seikhlasnya
Masuk Museum Keraton : 10.000/orang
Masuk Grojogan Sewu : 6.000/orang



Selasa, 21 Agustus 2012

Tempat Tertinggi Ke 8 di Pulau Jawa


Ini sudah lama ingin saya tulis , tapi karena kesibukan Tugas Akhir jadi saya baru sempet nulis pengalaman saya “muncak” ini.
Kali ini yang saya coba adalah Gunung Sindoro di Wonosobo, Jawa Tengah yang merupakan gunung tertinggi ke-8 di pulau Jawa diatas Gunung Merbabu yang pernah saya taklukan dengan ketinggian 3154 meter diatas permukaan laut (kata penjaga basecamp).
Banyak sekali pengalaman berbeda dan momem-momen menarik selama perjalan, jadi sayang jika tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Pengalaman pertama adalah teman baru, kali ini saya mendaki bersama Adit, Alim (lagi-lagi), dan teman yang baru saya kenal Lilik.

Sedikit info mengenai Gunung Sindoro.

Gunung Sindara, biasa disebut Sindoro, atau juga Sundoro (altitudo 3.150 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung vulkano aktif yang terletak di Jawa TengahIndonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindara terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing.
Kawah yang disertai jurang dapat ditemukan di sisi barat laut ke selatan gunung, dan yang terbesar disebut Kembang. Sebuah kubah lava kecil menempati puncak gunung berapi. Sejarah letusan Gunung Sindara yang telah terjadi sebagian besar berjenis ringan sampai sedang (letusan freatik).
Hutan di kawasan Gunung Sundoro mempunyai bertipe hutan Dipterokarp Bukithutan Dipterokarp Atashutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Antara November 2011 - 30 Maret 2012. Terjadi semburan asap solfatara di beberapa tempat pada dinding dan dasar kawah utama. Aktivitas kegempaan juga mengalami peningkatan sejak bulan November 2011. (Wikipedia)

Perjalan dimulai jam 16.30 dari Banyumanik, kita menunggu bis jurusan purwokerto via wonosobo di depan terminal dan melakukan hal bodoh dengan menolak bis tersebut dan itu membuat kita harus menunggu kira-kira satu jam lagi untuk bis berikutnya. Tapi, dibalik kesulitan pasti ada keindahan, dan itu kita rasakan saat melihat sunset dari pinggir jalan di terminal Banyumanik.
Perjalanan dilanjutkan dengan memakai bus menuju desa Kledung awal jalur pendakian Kledung, di bus isinya hanya tidur karena lelah menunggu sampai ada pengamen yang berisik sekali dengan suara lantang menyanyi yang liriknya “kami mengamen tidak untuk mabuk-mabukan” tapi aromanya ciu (miras khas Solo) ironis sekali.
Tiba di desa kledung sekitar pukul 22.00, dan suasananya sepi sekali tidak ada orang diluar satupun dan yang membuat tambah mencekam adalah ada suara musik gamelan jawa ditengah keheningan desa kaki gunung. Dengan sedikit usaha mencari akhirnya kami menemukan basecamp pendakian. Seperti biasa kami mendaftar dan kami tidak langsung naik , tapi menikmati santap malam di pinggir jalan raya dan ditengah-tengah Gunung Sumbing dan Sindoro, rasanya sungguh nikmat, percayalah.
Selepas solat Isya demi keselamatan, kita mulai pendakian pada pukul 23.30. Trek pertama berupa perkebunan tembakau milik dinas perhutani baru sekitar 1 jam kita mulai memasuki hutan. Vegetasi awal yang kami temui adalah pinus, tanaman khas gunung. Tidak ada kesulitan sebenarnya, namun ada sedikit gangguan mistik yang sempat membuat merinding dan setelah dibahas ternyata hanya suara gesekan ranting pohon. Sampai sekitar pukul 4 pagi kita sudah mencapai titik lelah dan lapar jadi kita memutuskan sejenak melepas lelah sambil menikmati kopi-roti (wedang ora nggenah) dan solat subuh.
Kami lanjutkan jalan dan sepertinya sudah summit attack, dan yang membuat kesal adalah puncak bayangan yang banyak. Karena tertipu dua kali jadi kami memutuskan istirahat, makan dan tidur karena memang ngantuk dan lapar sudah mendera. Sangat terasa sekali berjalan selama 9 jam, belum sampai, dan tertipu. Menu makan kami adalah indomie dicampur sarden dan nasi. Alim mencoba membawa makan baru berserat yaitu agar-agar, namun sayang sekali agar-agarnya tumpah dan hanya tersisa sedikit dan tentu saja jadi bahan lelucon (lelucon agar-agar). Selepas tidur sekitar 45 menit kami lanjut jalan dan ditipu puncak bayangan lagi dua kali dan seharusnya di bagian ini adalah padang edelweis namun sayang sedang tidak mekar. Baru sekitar pukul 10 kita tiba di puncak Sindoro.
Bagi saya pemandangan puncaknya baru karena disana ada kawahnya tidak seperti gunung-gunung yang pernah saya naiki sebelumnya ada kawah mati disana dan juga ada sebuah tanah lapang yang luas dan datar dan saya kira merupakan tempat ngecamp. Pemandangan yang paling jelas adalah Gunung Sumbing, terlihat juga Gunung Merbabu dan Gunung Merapi dibelkangnya. Kami istirahat sejenak di tanah lapang tersebut. Disana ada pendaki warga sekitar Sindoro dan dua orang pendaki yang sedang berfoto-foto. Walaupun tengah hari tapi di puncak rasanya tetap saja dingin.
Sekitar pukul 12 kami memutuskan untuk turun dan berpisah dengan Puncak Sindoro. Untuk turun gunung dirasa tidak terlalu berat, hanya ada insiden sandal adit sebelah kiri masuk ke lubang dan tidak bisa diambil. Lalu dia memutuskan untuk menggunakan sebelah sandal saja sampai akhirnya menemukan sepatu bekas, walau sayang itu sebelah kanan juga tapi tak apalah daripada nyeker. Jadi bisa dibayangkan seorang pendaki dengan alas kaki setengah sandal setengah sepatu dan semuanya kanan. Haha
Selama diperjalan yang kami pikirkan hanya “sego endog” karena memang kami sangat lapar sampai akhirnya sekitar pukul 6 sore kami tiba di basecamp dan benar saja langsung memesan “sego endog” sambil minum teh hangat di rumah warga. Tapi disana ada teror dari anak si penjual, anaknya perempuan masih TK dan ampun nakalnya minta maaf. Kami berempat hampir kalah menghadapi teror anak itu. Tapi kami mengerti kenakalan anak itu hanya karena dia tidak punya teman, ibunya menyiapkan makan bagi pendaki dan ayahnya melakukan pendataan para pendaki, kasian dia.
Selepas isya kami pulang, sambil menunggu bis kami sempat menikmati kopi panas di warung pinggir jalan seperti malam sebelumnya. Kami menunggu bus cukup lama dan sempat tidur di pinggir jalan hingga akhirnya pukul 10an bis Semarang baru lewat dan langsung back to Semarang. Kamipun touchdown pukul 1.00 di terminal Banyumanik.

Mungkin Berguna 
Ongkos : 
Bus Semarang - Wonosobo dan sebaliknya : Rp 18.000,- / orang
Bayar Pendakian : Rp 3.000,- /orang



Peta Jalur Pendakian Gunung Sindoro

Menunggu Bus di Depan Terminal Banyumanik, Semarang

Menu Sarapan (mie-sarden-nasi)

Gunung Sumbing dari Puncak Sindoro

Tanah Lapang di Puncak Sindoro

Berpose di Puncak

Pelaku Teror di Warung "Sego-Endog"

Tidur Saat Menunggu Bus

Rabu, 15 Agustus 2012

Masjid dan Fasilitas


Sudah empat kali saya melaksanakan solat tarawih di masjid depan rumah saya di Purwakarta yaitu masjid Al-kautsar. Masjid ini adalah sebuah masjid kecil yang ada di lingkungan rumah saya. Namun masjid ini adalah masjid yang bisa dibilang dalam masa perkembangan dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti kegiatan sekolah Islam bagi anak-anak di lingkungan sekitar, pengajian-pengajian rutin, pesantren Ramadhan dan lain-lain dalam rangka membekali jamaah dengan berbagai pengetahuan keislaman. Masjid ini juga merupakan masjid independen di antara masjid-masjid di sekitar daerahku dalam artian masjid ini tidak ditunggangi dan digunakan untuk kampanye golongan tertentu karena di daerahku memang terkenal sebagai salah satu basis salah satu partai Islam di Indonesia. Selama empat kali itu pula saya memperhatikan ada hal yang kemudian memunculkan ide untuk saya tulis di blog ini.

Upaya pengembangan selain dari kegiatan-kegiatan juga terlihat dari fasilitas-fasilitas yang terus ditambah seperti hiasan-hiasan, papan pengumuman yang up-to-date, dan yang baru adalah adanya 2 buah pendingin ruangan (AC). Pemasangan AC ini tentunya bermaksud baik demi kenyamanan jamaah dalam beribadah. Tapi ada dua hal yang perlu saya garis bawahi. Pertama masalah daya listrik dari pemasangan AC tersebut. Dulu-dulu sebelum ada AC tersebut saat ada acara ceramah pada malam hari tidak pernah listrik di masjid ini “anjlok”. Tetapi beberapa hari kemarin beberapa kali “anjlok” saat solat tarawih dilaksanakan. Mungkin untuk lebih meningkatkan kenyaman lagi, masalah teknis tersebut harus dapat teratasi dengan baik.

Satu hal lagi yang saya perhatikan adalah adanya budaya baru yaitu budaya menutup pintu bahkan saat solat tarawih sedang berlangsung. Dalam konteks kehidupan modern, memang anjuran Rasulullah untuk tidak menutup pintu masjid agaknya cukup sulit dilakukan dengan alasan keamanan fasilitas-fasilitas yang beragam dan relatif berharga yang terpasang di dalam masjid. Namun hal itu saya rasa tidak berlaku saat solat berlangsung karena malah memberi kesan “ekonomi-eksekutif” dalam beribadah dimana jamaah yang didalam secara eksklusif mendapat AC dan yang di bagian sayap masjid hanya mendapat kipas angin dan angin alam. Sebaiknya saat solat dan jamaah banyak hingga keluar, pintu masjid tetap dibuka agar menyatu antara jamaah yang diluar dengan jamaah yang didalam dan tidak ada sekat berupa pintu dan jendela.

Sekian, semoga penambahan fasilitas di masjid ini tidak menjadikan istilah “kasta” pada seluruh jamaah.

Jumat, 08 Juni 2012

Sendiri di Ibu Kota


Ini adalah kisah perjalan wisata saya sendirian di Kota Jakarta pada tanggal 16 Mei 2012. Tadinya saya hanya bermaksud pulang kampung, namun karena bosan dan berniat mencari ongkos termurah sampai Purwakarta saya memilih naik kereta Tawang Jaya dari Stasiun Semarang Poncol hingga Stasiun Jakarta Pasar Senen. Harga tiketnya relatif murah hanya Rp 33.500,- sudah sampai Jakarta. Keretanya berangkat dari St. Poncol pada pukul 19.00 dan sampai di St. Pasar Senen sekitar pukul 3.00 dini hari.

Sampai di St. Pasar Senen masih sepi karena memang belum subuh, jadi saya memutuskan untuk diam di stasiun sambil men-charge hp karena kebetulan memang low-bat. Saya menunggu sampai subuh lumayan dapat setengah penuh, lalu saya Solat Subuh dulu di masjid Al-Syarif depan St. Pasar Senen plus tidur dulu hingga sekitar pukul 6.30 pagi. Saya mulai berjalan ke destinasi pertama yaitu Kota Tua Jakarta dengan naik metro mini dari terminal dan membayar Rp 2.000,-. Saya turun di depan Museum Bank Indonesia dan mulai berkeliling, ternyata masih sepi dan belum ada kios yang buka apalagi museumnya. Jadi saya putuskan sarapan dulu di bubur ayam Jakarta di dekat Museum Bank Indonesia. Kemudian saya kembali ke Kawasan Taman Fatahillah dan duduk-duduk sambil membaca buku. Baru setelah Museum Sejarah Jakarta buka saya memutuskan untuk masuk, dan saya bareng dengan anak-anak SD.

Museum ini biasa disebut Museum Fatahillah, disini berisi tentang sejarah Kota Jakarta dan benda-benda antik peninggalan sejarah. Yang menarik pertama adalah terdapat Patung Dewa Yunani Hermes yang merupakan dewa pengantar pesan pada mitologi Yunani, dan bentuknya mirip seperti yang digambarkan di Novel Percy Jackon. Yang menarik berikutnya adalah Meriam Si Jagur dengan ‘Jempol Kejepit’ di bagian belakangnya yang merupakan lambang kesuburan, kejayaan, dan kekuatan. Meriam ini merupakan peninggalan Portugis yang digunakan sebagai senjata merebut Selat Malaka. Cukup membayar Rp 2.000,- kita bisa sedikit belajar sejarah Kota Jakarta.

Acara Alone Adventure saya lanjutkan ke Museum Wayang di dekat Museum Fatahillah dengan tiket masuk Rp 2.000,- . Museum Wayang ini isinya yaitu wayang-wayang dari berbagai daerah, seperti Wayang Gatotkaca, Ponokawan, Si Pitung dan lain-lain. Suasananya memang sepi sebagaimana museum di Indonesia pada umumnya dan yang membuat ill feel adalah saat menuju bagian belakang Museum, disana tercium bau masakan yang menyengat dan ternyata memang dapur dari kantin Kota Tua bergabung dengan bangunan Museum, menyedihkan sekali.

Saya pun lanjut ke destinasi selanjutnya, Pelabuhan Sunda Kelapa. Dengan berjalan kaki menuju Utara saya melewati Jembatan Kota Intan yaitu jembatan berusia 4 abad yang dibangun pada tahun 1628 dan dulunya berfungsi menghubungkan Benteng Belanda dan Benteng Inggris. Setelah berjalan sekitar 2 km sayapun sampai di Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan Pelabuhan tertua di Kota Jakarta. Saya tidak masuk ke Pelabuhan karena isinya truk-truk besar pengangkut barang. Di sana saya sempat mengunjungi Galangan VOC karena namanya menarik yang ternyata adalah cafe and resto dan Menara Syahbandar yang merupakan bagian dari Museum Bahari yang dulunya merupakan menara pemantau keluar-masuk kapal di Sunda Kelapa.

Puas di kawasan wisata Kota Tua, saya berniat lanjut ke Monas dan sebelumnya saya makan siang di Alfamart di Kota Tua yang ada corner-nya, harganya wajar seperti Alfamart pada umumnya dan bisa seduh pop-mie. Jadi, bisa jadi rekomendasi untuk wisatawan ‘pas-pasan’. Saya naik busway dari Halte Stasiun Kota dengan tarif Rp. 3.500,- (kemanapun asal tidak keluar dari halte). Saat itu pertama kalinya saya naik Busway *cheers*. Saya turun di Halte Monas, tapi sayang sekali disana hujan deras lalu saya memutuskan tidak jadi ke Monas dan langsung menuju ke Masjid Istiqlal naik Busway lagi.

Saya menuju Halte Harmoni, transit dan naik lagi ke Halte Juanda tepat di depan Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal memiliki bangunan yang bagus dengan tiang-tiang entah stainless atau apa saya tidak tahu, dan arsiteknya adalah seorang Kristen. Selesai Solat Dzuhur kira-kira pukul 14.00 saya kembali menuju St. Pasar Senen untuk menuju Purwakarta via kereta api Ekonomi pukul 17.30. Naik Busway lagi menuju Halte Harmoni dan transit lalu naik ke jurusan Pulo Gadung turun di Halte Senen. Kira-kira pukul 21.00 saya baru touchdown di rumah. Full Lonely Fun Day at Capital City of Jakarta.

Kesimpulannya ongkos murni Semarang Purwakarta saya hanya Rp 38.500, lebih murah dibanding bus Ekonomi Rp 60.000 dan kereta Harina Rp 115.000,- – Rp 140.000,-.

Mungkin Berguna :

Ongkos (dari Semarang)
1.       Kereta Ekonomi Tawang Jaya                   : Rp 33.500,-
2.       Metro mini Pasar Senen – Kota Tua          : Rp 2.000,-
3.       Busway (asal tidak keluar koridor)             : @Rp 3.500,-
4.       Kereta Ekonomi Jakarta -Purwakarta        : Rp 3.000,-
Wisata
1.       Museum Sejarah Jakarta                             : Rp 2.000,-
2.       Museum Wayang                                        : Rp 2.000,-


Cafe Batavia Kota Tua Jakarta

Meriam Si Jagur ('Jempol Kejepit')

7000 pon berat Meriam Si Jagur

Jembatan Kota Intan

Corner Alfamart Kota Tua

Minggu, 03 Juni 2012

Kritik pada ATM B*N


Kritik saya pada mesin ATM sebuah Bank tempat saya menabung (Bank B*N) yaitu pada penyediaan resi transaksi. Mungkin banyak yang tidak peduli atau memperhatikan, tetapi saya melihat ada yang tidak benar dalam penyediaan resi. Di bank tersebut setiap kita menarik uang kita akan diberikan resi yang langsung tercetak secara otomatis pada kertas. Bagitu juga jika kita hanya akan menge-cek saldo. Mungkin hal itu biasa saja, tapi hal itu menjadi salah karena di dalam ruang ATM itu tempat sampah yang disediakan menjadi penuh oleh resi yang oleh beberapa orang lebih memilih untuk membuangnya setelah melihat berapa sisa saldo mereka, contohnya saya. Lalu bagaimana jika ada orang yang mengecek saldo lalu menarik uang sebanyak 2 kali karena keterbatasan jumlah penarikan, maka akan ada 3 resi yang dibuang oleh orang tersebut dalam sekali transaksi. Dan itu hanya akan membuang-buang kertas dan mengotori ruang ATM.

Sebelum menabung di bank tersebut saya memiliki rekening di Bank Ma*d*ri dan menggunkan fasilitas ATM-nya. Di Bank ini seusai mengambil uang atau cek saldo akan diberikan opsi untuk hanya mencetak sisa saldo di layar atau di-print di kertas. Sehingga bagi yang hanya ingin tahu berapa sisanya tidak perlu mengotori ruang ATM tersebut dengan resi yang kemudian dibuang setelah tahu sisa saldonya. 

Sabtu, 26 Mei 2012

Menggapai Nirwana Di Kaki Gunung Ungaran


Candi Gedong Songo adalah objek wisata yang saya dan pasangan saya kunjung pada tanggal 16 Mei 2012 Dengan maksud untuk berwisata yang sedikit “melelahkan” karena harus menyusuri trek menanjak untuk mencapai candi terakhir kami berangkat sekitar pukul 13.00 WIB dari Semarang, Banyumanik dengan sepeda motor.  Melewati daerah wisata Bandungan kami menempuh perjalan hampir tepat 1 jam dengan kecepatan rata-rata 40-50 km/jam . Dan perlu diperhatikan bahwa jalan menuju Candi Gedong Songo diisi dengan tanjakan dan turunan dan pada tanjakan terakhir bisa dibilang sangat tinggi, kamipun harus turun salah satu karena motornya tidak kuat.

Sedikit seraching tentang Gedong Songo, saya akan menuliskan sedikit informasinya.
Candi Gedong Songo yang diyakini sebagai Candi Hindu, memiliki arti sembilan candi dengan lokasi yang paling tinggi adalah candi dengan angka paling besar. Kata Gedong berarti bangunan dan songo berarti sembilan sehingga kurang lebih berarti candi yang berjumlah sembilan. Candi yang terletak di Gunung Ungaran dengan ketinggian 1200 – 1800 meter diatas permukaan laut (Puncak Ungaran = 2050 mdpl) ini pada awalnya disebut Gedong Pitoe (Tujuh) karena pertama kali ditemukan oleh Rafless hanya terdiri dari tujuh candi. Namun kemudian ditemukan dua candi lagi dengan keadaan tidak utuh. Diperkirakan oleh para ahli bahwa candi-candi tersebut telah dibuat semasa dengan Candi Dieng yang dibuat pada kurun waktu abad VII – IX Masehi pada masa Dinasti Syailendra. Hal ini diketahui dari artefak-artefak di sekitar lokasi candi, serta adanya kemiripan-kemiripan fisik antara Candi Gedong Songo dan Candi Dieng.

Setelah touchdown di lokasi, kami masuk dengan membeli tiket masuk Rp 7.500,-/orang + parkir Rp 2.000,-/motor. Memasuki Pintu Masuk langsung terlihat Candi I. Jika Pembaca berminat disana kita bisa trekking menyusuri lokasi menggunkan kuda yang banyak ditawarkan disana. Tapi karena beberapa alasan kuat kami memilih jalan kaki saja. Kami jalan dan hanya lewat pada candi II dan candi III. Saat menuju Candi IV kami melewati pemandian air hangat yang disana ada semburan gas dari tebingnya. Naik lagi kami tiba di Candi IV dan lagi-lagi hanya lewat.

Rencananya pada Candi V yang dekat dengan Candi IV pun kami bermaksud hanya lewat, tapi ternyata disana ada penjual yang bilang “candi terakhir, candi terakhir minumnya mas”. Kami sempat tidak percaya karena itu baru Candi V dan ternyata memang benar sudah tidak ada jalan lagi menuju Candi-Candi selanjutnya. Lokasi di Candi V lebih luas dari Candi I – IV dan terlihat beberapa Bangunan Candi lain disekitarnya yang telah menjadi the ruin tample yang disebut Candi Perwara yang mengapit Candi Induk yang masih utuh. Kami berdiam sejenak sambil menikmati makanan dan take some pictures disana.

Setelah dirasa puas kami turun dan makan Sate Kelinci. Saya penasaran sebenarnya karena belum pernah, tapi ternyata rasanya biasa saja dan seperti daging ayam tekstur daging kelincinya hanya sedikit lebih kenyal. Kami memesan satu porsi sate kelinci dengan harga Rp 12.000,- tanpa nasi atau lontong karena kami sudah membawa nasi sendiri, tapi apa yang terjadi ternyata menu default sate kelinci adalah satu porsi sate kelinci berisi 10 tusuk plus 1 buah lontong sehingga totalnya Rp 15.000,-. Jadi tips saya kalau tidak mau dikasi lontong maka bilangnya pesan sate kelinci tanpa lontong atau nasi. Setelah kenyang dan puas kami landing lagi menuju dunia bawah Semarang.

Karena penasaran kenapa hanya sampai Candi V maka saya coba tanya mbah Google dan saya dapat info bahwa Candi-candi yang telah dipugar oleh Dinas Purbakala, yaitu hanya candi I & II dipugar tahun 1928 – 1929, sedangkan candi III, IV, V dipugar tahun 1977 – 1983 karena sisanya sudah tidak utuh dan hanya terlihat seperti semacam situs.


Mungkin Berguna :

Gedong Songo dari Banyumanik, Semarang

Rute    : Lewat lokasi wisata Bandungan mengikuti penujuk arah Temanggung dan nanti akan ketemu penunjuk arah Gedong Songo

Biaya     :
1.       Ongkos = Bensin +/- 2 liter tergantung motornya (Kami naik Mio)
2.       Tiket Masuk = Rp 7.500,- per orang
3.       Parkir = Rp 2.000,- per motor


Dokumentasi :

Semburan Gas Di Tebing Dekat Pemandian Air Panas


Candi V yang Masih Utuh (Candi Induk)


Candi V Terletak pada Ketinggian 1.308 mdpl


Plang Candi V (Candi Terakhir sebagai Cagar Budaya)


The Ruin Temple (Reruntuhan Candi Perwara) pada Candi V


Sate Kelinci + Lontong

Referensi :