Kamis, 04 Oktober 2012

Solo, The Spirit of Us



Membangkitkan kembali gairah dalam menjalin hubungan adalah hal yang penting demi keawetan suatu hubungan. Apalagi saat sedang dalam masa-masa LDR (Long Distance Relationship), memanfaatkan peluang ketemuan untuk membangun spirit menjadi hal yang wajib. Spirit bisa dibangun dengan melakukan hal-hal yang tidak dapat setiap hari dilakukan. Bagi kami, kami memilih untuk travelling suatu tempat, agar dapat merasakan cinta di setiap jengkal jarak dan waktu yang kami lalui dan mendapat pengalaman baru akan wisata-wisata di bumi pertiwi. Kali ini tujuan kami yaitu Kota Surakarta (Solo), salah satu kota dengan daya tarik berupa warisan budaya yang kental berupa Keraton dan Kain Batik. Setelah browsing dan mencari reverensi nama-nama tempat wisata, kamipun siap menuju Kota Solo dangan tema “The Spirit of Us”. Dengan menggunakan motor kamipun bertolak dari Semarang pukul 06.30 pada Minggu pagi yang cerah, 9 September 2012.


Pom Bensin Jalan Raya Boyolali-Solo
Untuk mencapai Solo kami berjalan ke arah selatan dari Semarang mengikuti plang “Solo/Yogya”. Perjalanan dengan kecepatan relatif sedang memakan waktu sekitar 3 jam melewati beberapa kota yaitu Ungaran, Salatiga, dan Boyolali. Sepanjang perjalanan menurut saya tidak ada pemandangan yang cukup berarti hanya kota dan sawah-sawah. Di Kota Salatiga kami sempat khawatir karena matahari di kota kaki Gunung Merbabu itu tiba-tiba tertutup awan hitam. Kami khawatir karena tidak membawa jas hujan, tapi untung saja memasuki Kota Boyolali matahari kembali menyapa kami. Kami sempat rehat cukup lama di pom bensin jalan raya Boyolali-Solo yang memiliki mushola dan tempat istirahat yang asri sebelum melanjutkan perjalanan.


Kereta Uap Jalan Slamet Riyadi
Setelah rehat kami langsung menuju Solo tanpa ada rehat lagi. Kami memasuki jalan protokol Solo (Jl. Slamet Riyadi) sekitar pukul 09.30. Kesan pertama saya yaitu “Beda”, karena memang saya belum pernah kesana. Jl. Slamet Riyadi merupaka jalan satu arah yang cukup lebar dengan trotoar yang rapi dengan taman-taman kecil nan asri dan tempat duduk bagi para pelancong yang semuanya baru saya temui di Solo The Spirit of Java ini. Di sana juga ada rel kereta di pinggir jalan yang merupakan jalur railbus salah satu transportasi kebanggaan Kota Solo. Saat disana kebetulan sedang ada rombongan yang menyewa kereta api uap yang menjadi bonus pemandangan bagi kami. Sepanjang perjalan kami mulai memilih tujuan wisata kami, dan yang pertama kami putuskan menuju Keraton Surakarta Hadiningrat.


Keraton

Salah satu Kereta Kencana Sultan
Dengan kepercayaan penuh pada plang kamipun masuk ke kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat yang hanya belok kanan dari Monumen Slamet Riyadi. Keraton Surakata sendiri merupakan istana Kesunanan Surakarta yang didirikan oleh Sultan Pakubuwono II pada tahun 1744. Ini merupakan istana terakhir Kerajaan Mataram dan saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram kepada VOC (Belanda). Sebelum memutuskan untuk parkir di Komplek Kemandungan (komplek wisata utama Keraton) kami berkeliling dulu dan ternyata kawasan keraton isinya hanya tembok-tembok tinggi dengan ornamen khas dan patung-patung. Di balik tembok-tembok itu baru berisi rumah-rumah yang menurut saya serumpun (RT atau RW). Kami melewati Alun-alun Lor (Utara) dengan yang terdapat 2 pohon beringin yang dipagari di tengahnya (Dewodaru dan Joyodaru). Setelah berkeliling kami memutuskan untuk parkir dan memasuki kawasan Kemandungan. Sebelumnya kami sempat berfoto di garasi kendaraan Sultan Pakubuwono berupa Kereta Kencana dan mobil-mobil tua. Namun ada satu mobil Suzuki APV yang katanya kendaraan cucu sultan. Disana juga ada 2 orang penjaga yang dapat pula diajak berfoto bersama.

Pekarangan Ruang Utama Keraton
Selesai foto, kami masuk ke museum Keraton. Layaknya museum biasa isinya yaitu peninggalan-peninggalan Keraton kuno seperti senjata, kendaraan, kebudayaan, perkakas, dan surat-surat perjanjian. Kami masuk ke bangunan utama Keraton dengan pekarangan beralas pasir hitam pantai selatan dan deretan pohon sawo kecik yang melambangkan sesuatu yang serba bagus yang jumlahnya 76 buah. Disana pengunjung dilarang menggunkan alas kaki terbuka (sandal). Jika memakai sandal maka harus dilepas. Bangunan utama disana juga dihiasi beberapa patung khas Eropa kuno berupa patung malaikat bersayap dan ornamennya berupa tiang putih bergerigi seperti kuil-kuil yunani kuno. Setelah cukup puas kami bertolak dari Keraton dan mencari suasana alam dengan memutuskan menuju lereng Gunung Lawu (Wisata Tawangmangu).


Tawangmangu

Grojogan Sewu
Untuk mencapai Tawangmangu dari kota Solo kita mengambil jalan dengan arah Surabaya menuju kota Karanganyar. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Menuju gunung merupakan sensasi tersendiri bagi saya, saat Gunung Lawu mulai terlihat, hasrat mendaki saya semakin besar. Setelah melewati medan menanjak dan berkelok kamipun tiba di objek wisata Air Terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu. Tanpa basa basi kami langsung membeli tiket masuk. Kamipun turun menuju lokasi air terjun melalui anak tangga yang banyak dengan beberapa kera di sekitarnya. Disana merupakan tempat bersantai bersama keluarga dan pasangan, hawa gunung yang dingin seolah menjadi kehangatan ditengah canda tawa. Selain air terjun setinggi 81 meter disana terdapat area outbound, arung jeram kecil, dan kolam renang bagi anak-anak. Disana kami berfoto, makan dan mengobrol sambil menikmati gemericik air di bebatuan sungai di bawah air terjun. Selepas solat ashar kami memutuskan pulang dan melewati anak tangga lagi untuk naik. Ternyata jumlah anak tangga dari pintu masuk hingga keluar adalah 1.250 buah (lumayan tinggi juga ya). Kamipun bertolak langsung dari Tawangmangu menuju Semarang dan tiba di Semarang sekitar pukul 08.00 dengan selamat.



Bonus Picture

Alun-alun Lor (Utara)
Menu Makan Siang

Ornamen Yunani Kuno di Keraton Surakarta

Aset Museum (Seni Gamelan Jawa)

Mungkin Berguna

Foto di garasi Keraton : 3.000/orang
Foto dengan penjaga : seikhlasnya
Masuk Museum Keraton : 10.000/orang
Masuk Grojogan Sewu : 6.000/orang



Tidak ada komentar :

Posting Komentar