Sabtu, 21 Desember 2013

Traffic Jam di Goa Pindul

“Seperti di Jakarta, kemacetan ternyata ada di Goa Pindul, bedanya kalau di Jakarta penuh emosi, disini penuh kesejukan.”


Suasana Pintu Masuk Goa
Terlihat banyak wisatawan dan bus-busnya yang sudah bertengger saat kita tiba di loket. Karena alasan waktu, jadi dari 3 paket wisata yaitu Caving Goa Sriti, River Tubing Sungai Oyo, dan Cave Tubing Goa Pindul, kami hanya pilih satu yaitu Cave Tubing.


Goa Pindul, sebagaimana goa-goa lain, juga punya legenda. Salah satunya yaitu kisah pengembaraan Joko Singlunglung mencari ayahnya yang hilang. Setelah kesana kemari mencari alamat, dia masuk ke salah satu goa. Saat mau masuk pipinya terbentur batu, akhirnya dengan segala filosofinya dia menamai goa itu Goa Pindul yang artinya pipi kebendul (kebentur dalam bahasa jawa).

Dari loket, kita harus menuju goa dengan mobil bak terbuka. Karena penuh, untuk dapat ban pun harus mengantri dulu di pintu keluar goa. Ban yang dipakai yaitu ban dalam (tube) truk berdiameter sekitar 1 meter. Setelah dapat, masih harus berjalan lagi ke pintu masuk goa. Penuh sekali disana, semua mengambang dan berdesakan di permukaan sungai seperti cendol. Wah, kemacetan model baru nih sepertinya.


Walaupun macet, disini rasanya tidak bosan. Karena panasnya matahari kontras dengan air sungai yang sejuk. Warna airnya yang hijau atau spring green ditambah kilauan pendar sinar matahari menambah hijau suasana disana. Tapi ternyata bannya panas, jadi harus beberapa kali di sirami air. Rombongan kita terdiri dari tujuh orang yang dipandu oleh seorang pemandu.

Interior Goa

Kelelawar, Seniman Ornamen Goa
Perlahan kita pun bergerak dan akhirnya masuk ke goa. Goa Pindul ini memiliki 3 zona, yaitu zona terang, zona remang, dan zona gelap abadi. Di zona terang pemandu mulai bercerita mengenai goa. Ada tangga yang menuju rumah yang digunakan untuk ternak burung sriti yang hidup di goa dan menghasilkan air liur seperti burung walet.

Stalagmit dan stalagtit serta hewannya batman, kelelawar, menjadi pemandangan sepanjang goa. Bercak-bercak coklat yang merupakan pipis kelelawar yang menempel di atap goa menjadi ornamen goa. Dan dari situ saya baru tahu kalau kelelawar pipisnya ke atas.

Zona remang dan zona gelap abadi kita nikmati juga. Di zona gelap abadi, sumber cahaya hanya senter pak pemandu dan kilatan blitz kamera pengunjung. Di sini ada stalagmit dan stalagtit yang menyatu membentuk pilar alami. Fenomena alam yang tak terbayangkan ini menempatkan pilar Goa Pindul nomer 4 terbesar di dunia. Waktu pembentukan tetesan air menjadi stalagmit dan stalagtit yaitu 1 cm per 10 tahun. Berapa lama ya sampai bisa menjadi pilar seperti itu ?

Di pengujung pintu, atap  yang berlubang membuat cahaya matahari menerobos menyinari goa, sangat indah. Cahaya yang entah bagaimana menggambarkannya bagai pacaran bidadari atau dewa di film-film. Pintu keluar goa yaitu berupa bendungan dimana kita bisa nyebur dan berenang sekaligus sebagai akhir dari Cave Tubing ini.

Pancaran Cahaya Bidadari
Menurut pemandu, jika ingin puas menikamti goa jangan datang pas hari libur karena suasananya tidak akan seperti ini. Saat itu, di sepanjang goa pengunjung mengular tanpa ada jeda sedikitpun. Jadi tidak bisa sejenak berhenti untuk menikmati goa. Alternatif lain datang jam 7 atau jam 8 pagi.

Kembali ke pos, sambil bersih-bersih badan, nikmatnya wedang jahe yang sebenarnya kurang manis dan pecel plus gorengan menjadi pelengkap suasana penuh kegembiraan. Pengelolaan profesional membuat pengunjung tak akan kapok datang kesini. Tak menunggu lama setelah semua siap kembali, motor mio biru kita pun sudah siap membawa kita meninggalkan Desa Bejiharjo dan Goa Pindul.

~~ Salam Dolan ~~

2 komentar :