Jumat, 13 Desember 2013

Gunung Api Purba, Gunung tanpa Dingin

“Biasanya saat bermalam di gunung pasti berusaha agar kulit serapat mungkin, tapi disini beda lho !

Pendopo Sebelum MendakiKeletihan sangat terasa setelah berkendara sekitar 6 jam dari ujung utara ke selatan Pulau Jawa. Tapi setelah sampai di kaki gunung, keletihan itu serasa akan segera terobati oleh panorama, mie rebus, dan dingin yang sudah menanti di ujung jalan menanjak. Gunung, lelah dicapainya tapi tempat istirahat terindah.

Semangat yang masih tersisa harus dikobarkan lagi untuk menikmati itu semua. Gunung Api Purba atau Gunung Nglanggeren yang terletak di Desa Nglanggeren, Gunung Kidul, Yogyakarta yang kali ini tanahnya akan saya tancapi dengan keempat sisi frame tenda saya.

Gunung ini cukup mudah dijangkau. Jalanannya mulus dan ada petunjuk arahnya. Gunung ini merupakan bongkahan batu besar yang tersusun sedemikian rupa dan menjulang dengan ketinggian maksimum 700 mdpl. Sebenarnya gunung ini memiliki beberapa nama gunung di dalamnya. Tapi yang terbesar dan tertinggi adalah Gunung Gedhe.

Gunung ini dikelola secara profesional oleh penduduk setempat. Ada pusat informasi, kamar mandi bersih, dan pendopo untuk beristirahat sebelum melanjutkan berjalan ke puncak.

Saat kami kesana sedang ada hajatan rupanya. Katanya sih peresmian masjid, tapi acaranya benar-benar meriah. Umbul-umbul sponsor yaitu Bank Mandiri terpasang sepanjang jalan. Belakangan saya ketahui bahwa pengisi acaranya adalah Didi Kempot. “Sewu kuto uwis tak liwati, Sewu ati tak lakoni…”


Setelah selesai parkir, solat dan membayar uang jalan, langsung kita beranjak mendaki. Gambaran pos saat pertama kali saya naik gunung ternyata benar-benar ada disini. Dulu bayangan saya, pos itu adalah tempat istirahat seperti saung kalau kata orang sunda. Tapi ternyata pos itu hanya lahan kosong untuk camping. Tapi tidak disini, posnya benar-benar ada saungnya. Jadi tak bawa tenda pun bisa bermalam disana.

Jalan SempitJalan berbatu namun tersusun rapi mempermudah pendakian. Namun ada jalan yang melewati celah dua batu yang hanya cukup untuk satu orang. Di beberapa titik cukup nyaman untuk melihat hamparan luas Kota Yogyakarta, ditambah saat itu Batara Surya sedang melambai untuk berpisah.

Ada dua kejadian menarik selama pendakian. Pertama, tidak sengaja melihat biru-biru, langsung saja ambil dan ternyata uang 50ribu. Lumayan, rejeki. Yang kedua secara tidak sengaja bertemu teman SMA saya yang kuliah di UGM. Dia saat itu pakai kaos olahraga SMANSA, langsung saya kenali dari wajahnya yang waktu SMA dihina mirip hero DOTA, Gondar.

Tak berapa lama, kita tiba di puncak. Hamparan bongkahan batu terhampar dari sini. Tanpa lama-lama karena sudah malam juga, saya gelar tenda Eiger Transformer saya (saat menulis kalimat ini saya memberi nama tenda saya, Bumble Bee). Santap malam dengan mie rebus dan telur dadar menjadi momen penghangat sebelum dingin tiba.

Tapi tunggu dulu, sang dingin tidak kunjung tiba padahal sudah jam 9.00. Biasanya jam-jam segitu saya sudah mulai merapatkan kain ke tubuh saya. Ternyata sampai menjelang tidurpun saya tidak merasakan dingin padahal tidak pakai jaket, celana panjang, maupun sleeping bag. Baru kali ini di gunung merasa anget. Atau mungkin saya bersama pacar saya ya ? Hmm, tidak perlu tahu ya kalian !

Tapi malam itu ribut sekali, sepertinya ada makrab atau semacamnya dari mapala atau apa. Sepanjang malam terus ribut dengan logat daerah Indonesia Timur. Menghilangkan kesunyian alam saja, dan terutama mengganggu orang mau istirahat.

Tak banyak keindahan sunrise yang bis diceritakan disini. Matahari tertutup awan dan berada di balik bukit. Jadi, kita berdua hanya sekedar duduk di pinggir jurang sambil minum kopi dan menyaksikan hamparan kontrasnya warna abu-abu batu, hijaunya pohon, dan gradasi awan putih biru dengan sedikit kelabu. Sambil menunggu flysheet Bumble Bee kering, kita habiskan waktu menikmati alam sebelum melanjutkan perjalan di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Hamparan Bebatuan



2 komentar :

  1. Wahh.. Pertualangannya keren, tulisanya juga kereeeeeen.. :)
    Lain kali ajak saya mas, saya juga dari Purwakarta, sulit mencari teman yg sama2 suka backpackering..

    wakorasyid@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah makasi,
      boleh - boleh kapan - kapan ajakin temen hehe

      Hapus