Kamis, 15 Mei 2014

Bocah yang Tak Pernah Sekolah

Sekolahmu dimana? Anaknya siapa? Rumahmu dimana? Paling tidak itulah tiga pertanyaan yang paling sering diajukan oleh orang tua temannya sewaktu kecil. Sekarang, saat dia sudah jadi seperti ini, dia baru bisa menjawabnya.

“Adi, kita main yuk!” Ajak bocah itu pada temannya sepulang ia sekolah.

“Ayo, kita main petak umpet lagi,” jawab Adi yang selalu jadi teman main bocah itu.

Setiap hari, bocah itu dan anak-anak lain akan bermain sampai sore. Hanya bermain, tidak ikut sekolah. Orang tua temannya hanya berfikir dia anak kampung sebelah yang tidak disekolahkan orang tuanya.

Setelah sore, saat anak-anak lain yang disuruh ibunya, dia juga pulang. Tapi tidak ada yang tahu rumahnya. Dia berjalan ke arah hutan dan akan menghilang disana. Tanpa jejak.

Hutan itulah rumah sekaligus sekolahnya. Tidak ada manusia, hanya ada hewan dan tumbuhan yang mengajarinya kehidupan.

Dia belajar ketidakserakahan dari singa yang akan berhenti makan setelah kenyang. Keadilan pada pepohonan yang tidak pandang bulu membagikan udara. Perjuangan hidup dari ulat yang akan menjadi kupu-kupu. Kepedulian dari seekor semut. Keluwesan dari air sungai. Perenungan mendalam dari gunung. Dan masih banyak yang lain.

Mereka semua adalah makhluk yang dianggap tak berakal. Tapi dengan rendah hati dia belajar dan sangat menghormati mereka.


Sekarang, di usia dewasanya, saat teman-temannya sibuk di kantor. Dia adalah satu-satunya manusia yang bisa terbang. Melayang di atas semua manusia dan menjadi sumber segalanya. Ia memang tidak pernah sekolah, tapi ilmunya adalah ilmu yang nyata bagi umat manusia. Ilmunya menuntun manusia pada kesufian hidup. Dia, bocah itu, adalah titisan Batara Wisnu.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar