Kamis, 24 Juli 2014

Keroncong Untuk Istriku

“Es teh manis wae sek, Mas,” kataku saat masuk ke warung ini. Sayang kalau aku harus memesan menu utama tapi kamu belum juga datang. Sampai hari dan detik ini, kamu masih belum berubah. Kamu selalu saja datang terlambat. Membuatku selalu menunggu, sampai aku menganggap menunggu adalah salah satu agenda pada setiap kita ketemuan.


Di warung dan meja yang sama, aku selalu menunggumu. Jika mejanya sedang dipakai orang, aku akan duduk di meja sembarang sampai orang itu pergi kemudian aku pindah. Jika kamu sudah datang dan kita sudah mulai makan, kita tidak pernah menghabiskannya sebelum pindah ke meja itu. Meja nomer 4, meja pertama kali aku menunggumu.

Setelah itu selalu saja aku yang datang duluan. Walau aku pernah juga terlambat, tapi tak ada apa-apanya dibandingkan kamu. Terkadang aku merasa lucu, kenapa aku rela menunggu demi bertemu kamu. Padahal sering sekali hanya untuk ngobrol hal-hal yang tidak begitu penting. Walaupun tak jarang juga jadi sesi curhat. Semua emosi di meja itu selalu bisa menghapuskan rasa kesal karena menunggu. Menunggu kamu adalah kegiatan tanpa alasan dan tujuan –bahkan tidak menyenangkan– yang selalu aku lakukan tanpa memikirkan semua itu.

Alasan aku selalu rela menunggu adalah kali pertama aku bertemu kamu. Dan saat itu juga kamu membuatku seolah sedang menunggu seseorang. Padahal saat itu aku tidak kenal bahkan aku tidak tahu ada manusia seindah kamu di bumi ini.


Saat itu aku masih kuliah. Aku makan di warung sate langgananku dan duduk di meja nomer 4 itu. Saat itu aku sendiri dan tidak sedang menunggu siapapun kecuali tongseng dan sate kambing setengah porsi yang sedang dimasak. Alasan aku duduk di meja itu juga bukan karena meja itu spesial. Aku duduk di meja itu agar bisa menghadap keluar dan melihat pemain keroncong. Meja itu memberi akses pandangan full ke para pengamen yang selalu memainkan musik asal Portugis itu. Warung itu memang dikenal dengan “Warung Sate Keroncong” lantaran ada mereka di depan pintu masuknya. Yang syahdu memainkan tembang-tembang berbunyi crong-crong-crong.

“Mejanya ksosng, Mas?” Kalimat tanya pertamamu memecah konsentrasiku menghirup aroma tongseng kambing.

“Kosong… Mbak.” Aku menjawab sambil menatap senyum simetrismu. Manis. Nilai pertama yang aku berikan padamu di pertemuan itu. Saat itu juga aku langsung merasa bahwa aku sedang menunggu seseorang. Dan itu adalah kamu yang tiba-tiba datang. Aneh ya? Itu namanya perasaan.

“Silakan Mbak,” tambahku basa-basi memperpanjang percakapan.

“Makasi, Mas.” Jawabmu datar.

Konsentrasiku pada makanan benar-benar pecah. Kamu duduk manis sambil menunggu pesananmu yang sedang dimasak. Rambutmu digelung ke belakang dan ditahan dengan sumpit Cina seperti sanggul. Terlihat asal tapi menarik. Pikiranku hanya terisi oleh analisa-analisa pada sosokmu saat itu.

“Suka keroncong, Mbak?” Tanyaku saat melihat pandanganmu yang seperti terpesona pada para pemain keroncong. “Serius sekali lihatnya.”

“Eh, iya, aku suka lagu ini.” Jawabmu sambil menoleh ke arahku.

“Sundari Soekotjo, ya? Tembang Kenangan?” Aku berusaha setenang mungkin mengucapakan pertanyaan itu. Dan berusaha tidak sok tahu.

“Iya, Mas. Suka juga?”

Cocok. Batinku saat kamu membalas pertanyaanku dengan pertanyaan lagi.

“Suka aja dengerin RRI yang suka nyetel lagu keroncong kalau malem.” Kalimatku kurangkai sesingkat dan padat mungkin agar terkesan tidak sok akrab. “Dan sering kesini kalau mau liat live.” Kutambah semyum yang biasa disebut mesem.

“Oh, sering kesini ya? Aku baru pertama kesini.” Tergambar sedikit keantusiasan di wajahmu yang hidungnya kecil namun runcing. “Enak makanannya?”

Great. Aku bersorak dalam hati membayangkan obrolan yang akan panjang. “Wah, itu selera. Cobain sendiri aja Mbak kalau pesanannya udah datang.” Kulempar senyum ke matamu yang terlihat mulai “menilaiku”.

Pikiranku tepat. Percakapan kita melebar ke musik. Memanjang ke perkenalan. Dan meluas ke latar belakang kita sampai akhirnya kita mengikrarkan menjadi teman kampus baru karena kamu juga kuliah di kampus yang sama denganku. Sambil menikmati lagu-lagu keroncong, kita menghabiskan makanan kita dan menghabiskan waktu dengan obrolan.

*****

Dengan proses yang rumit dan panjang dan perjalanan yang sangat berliku namun menyenangkan, kita memutuskan bertemu lagi di tempat yang sama beberapa kali. Belum ada arti meja spesial. Tetapi karena alasan awalku tadi dan aku yang selalu datang duluan, aku selalu memilih meja yang sama.

Hari itu kamu datang terlambat cukup parah. Empat puluh menit aku menunggu. Belum ada alat komunikasi seperti sekarang jadi tidak ada yang namanya menanyakan ‘sudah sampai mana?’. Hanya ada es teh dan musik keroncong yang naadanya menahan kekesalan dengan konsisten.

“Maaf, lama.” Kamu datang dan langsung duduk di sebelahku. “Maaf sekali.” Tambahmu setelah kita bertemu pandang.

“Kemana saja, lama sekali?” Tanyaku datar dan dibuat seolah-olah marah dan menyembunyikan perasaan bahwa aku sama sekali tidak kesal menunggu kamu.

“Iya, tadi dosennya korupsi waktu. Maaf ya?”

“Oh, ya sudah, enggak apa-apa.” Jawabku seolah memaklumi walau padahal tidak ada yang perlu dimaklumi karena aku benar-benar sudah maklum pada semua di dirimu.

Alasan itu akan muncul lagi di keterlambatanmu yang lain. DItambah dengan alasan-alasan lain. Ada teman yang mengajak ngobrol, ada tugas yang harus dikerjakan mendadak, susah cari angkutan umum, sampai disuruh menjaga adikmu sampai ibumu pulang adalah contoh-contoh asalan yang mengiringi keterlambatanmu. Alasan yang selalu bisa aku terima. Entah aku ini kenapa, tapi yang jelas aku suka menunggu kamu.

Dengan perjuangan yang sangat besar, akhirnya kita resmi menjadi pasangan asmara. Kita pacaran saat kamu terlambat lagi dan memilih alasan susah mencari angkutan umum karena hujan. Di tengah hujan, otomatis pengamen keroncong tidak ada. Dan tidak ada lagu yang kita bahas dan nikmati bersama. Itulah saat aku menikmati perasaan yang aku sampaikan padamu dan kamu menikmati perasaanku itu juga, ditandai dengan jawaban ‘Iya, kita pacaran’.

*****

Iya, kamu memang sering datang terlambat. Tapi aku juga bukan orang yang selalu konsisten. Pernah aku merasakan bahwa aku harus memilih salah satu dari semua alasanmu itu. Aku mengalami sendiri, saat itu kita bertukar posisi. Kamu diposisi si tepat waktu dan aku menjadi si telat.

Semua gara-gara dosenku yang meminta kuliah tambahan. Entahlah alasannnya apa. Tapi dalam hati aku mengumpat. Sialan. Otomatis janji kita jam tiga sore akan mundur sekitar satu jam. Aku saja yang mundur tepatnya, karena setelah sampai di warung biasa kamu sudah duduk dengan es the yang tersisa setengah gelas.

Oh, jadi balas dendam ya gara-gara aku sering telat. Jadi, gitu sekarang, tidak terima aku sering telat. Pikiran buruk akan tanggapan-tanggapanmu bercokol di pikiranku saat dalam perjalanan. Tapi ternyata itu hanya ketakutan tak beralasan, bisa kalian tebak apa sambutannya?

“Maaf, aku yang telat sekarang,” kataku tersenyum kecut.

“Sudah-sudah, sini duduk. Lagu kesukaan kita belum main kok.” Ternyata semua diluar dugaan. Kamu sama sekali tidak marah karena aku datang telat nyaris satu setengah jam. Semua terlihat dari senyuman di matamu. “Pak, biasa,” sambil kamu memesan menu yang si bapaknya sudah hafal.

“Kok kamu gak marah? Aku telat lama sekali, ada dosen yang…”

“Sudahlah, itu alasanku, jangan ditiru. Toh, aku kira aku yang telat, soalnya aku juga baru datang sepuluh menit yang lalu.” Potongmu langsung memecah tawa kita berdua. Hahaha. Itulah mengapa aku bilang segala macam kekesalan, kebekuan, kemarahan, dan pokoknya segala bentuk emosi negatif, semua akan cair di meja ini. Kami tertawa mentertawakan cinta kami yang mengiringi lagu Tembang Kenangan – Sundari Soekotjo.

*****

Gelas es teh yang kupesan sudah separuhnya kosong. Sengaja aku lambat-lambatkan minumku untuk menunggu kamu yang statusnya sudah menjadi istriku sejak sepuluh tahun lalu. Kulirik jam tanganku, lebih dari dua jam sudah aku menunggu kamu. Ini adalah rekor keterlambatanmu yang paling parah. Bahkan saat ini aku sampai sudah memesan “menu biasa” duluan. Saking lamanya menunggu kamu.

Saat menu tersaji, sontak perasaanku, hatiku, dan jiwaku membeku. Darah seolah berhenti dan nyaliku menciut bahkan untuk sekedar menarik nafas. Gejolak itu semakin menjadi-jadi dan jadi-jadian ketika pengamen keroncong mulai membawakan intro yang sangat aku kenal dari dulu. Gejolak itu kemudian pecah, meledak, dan memuntahkan air dari mataku. Aku mulai menangis saat lirik lagu Tembang Kenangan dimulai.

Kucipta lagu ini
Senandungkan simponi keroncong asli
Disaat kita telah jauh
Berada di perantauan….

Sudah dua jam lebih aku menunggu kamu, hingga saat ini aku sadar, kamu tidak akan pernah datang. Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah lagi berbagi emosi di meja nomer 4 dan menunggu sampai lagu ini selesai.

Sekarang kamu yang sedang menungguku. Dan kali ini penantianmu adalah penantian tidak pasti, karena kamu tidak akan mengijinku cepat-cepat menemuimu. Istriku, kamu pasti juga mendengar lagu keroncong siang ini dimanapun kamu sekarang. Syahdu sekali, sesyahdu tatapan matamu yang tak pernah berubah.


IndraRama

2 komentar :