Sabtu, 08 Februari 2014

Pluto dan Plateau

“Kok judulnya ngaco? Memang mau bikin apa? | Ya, inilah imajinasi, bisa melesat menuju MACS0647-JD, galaksi terjauh dari Bimasakti, bisa juga menukik ke palung laut terdalam, Mariana, di Pasifik. Kamera hanya sebatas Bumi, imajinasi mencakup semesta bahkan alam gaib.”

Sendiri tetap Eksis
Planet Pluto sepertinya menarik untuk dianalogikan pada kesendirian saya di Dieng Plateau. Walaupun tidak sedalam penjelasan NASA . Setidaknya Pluto itu sama misterius dan anehnya dengan kesendirian saya.

“Sialan lu, bilang sendirian!”

Tersedak granat saya mendengar suara itu. Saya kenal suara itu. Itu teman-teman saya dalam kesendirian, otak kanan dan otak kiri saya. Dengan karakter masing-masing yang tercermin di diri saya. Dalam seni lukis otak kanan itu surealisme dan otak kiri realisme.

“Hai apa kabar kalian ? Hehehe.” Tanyaku sambil mesam-mesem berusaha mengeja kata ‘maaf’.

“Huh, mentang-mentang habis ditikam cinta dan dilempar badai. Jalan-jalan sendiri. Bikin cerita sendiri juga. Gak mau ngajak kami?” Kata otak kanan saya masih saja membuka kenangan itu.

“Iya lu, mau gue bikin gak bisa kerja lagi?!” Otak kiri. Memang agak getir hidupnya, lurus kayak jalan tol. Tidak punya rasa. Tapi, ya, dia juga yang bikin saya bisa cari uang.

“Hehehe, lupa mas-mas.” Saya masih mengeja kata ‘maaf’ yang belum lengkap, baru ‘maa’ dan setengah huruf ‘f’. “Yaudah, yuk ikut!”

Daripada kepanjangan, saya tarik saja meraka langsung ikut. Mencatatkan semua pengalaman saya yang mungkin bisa jadi mahar nikahan saya. “Saya terima nikahnya anu binti/bin (sama saja) anu dengan mas kawin sebuah cerita dibayar tunai.”

Sendiri dan punya nyali pergi sendiri itu anugerah bagi saya (terdiri dari saya, otak kanan dan otak kiri saya). Lihat saja, Arjuna ke Himalaya sendiri, Hanoman ke Alengka sendirian, Nabi Muhammad tadinya juga sendiri, sperma bapak kita ke sel telur ibu kita juga cuma sendiri yang jadi kita.

“Tapi kan kamu bukan ketiganya, apalagi Nabi. Yang terakhir oke lah.”

Ya saya memang bukan ketiganya. Tapi saya punya makna kesendirian sendiri. Toh, mereka juga hanya terduga dan imajinasi.

Hus ngawur koe, Nabi-mu disebut terduga.”

Bukan dari perspektif saya lah. Dari prespektif agama lain kan Tuhan, Nabi dan agama saya cuma dianggap “terduga”. Dulu ada juga “terduga agama” namanya The Beatles dan “terduga rasul”-nya John Lennon.

Salah Satu Teman Saya
Biar saya sendiri menikmati keseksian Dieng Plateau, tapi sebenarnya saya punya teman-teman setia. Di dunia nyata saya selalu ditemani coklat Cha-cha, rokok dan buku. Coklat Cha-cha itu biar seperti Petualangan Sherina. Walaupun sekarang saya lebih menunggun ada film Petualangan Syahrini. Rokok, kawan setia sehabis bekerja. Kalau buku, ya apa lagi selain pembunuh waktu yang efektif, plus mengasah teman-teman dunia aneh saya. Otak kanan dan otak kiri.

“Terima Kasih.” Otak kanan menimpali lembut, selembut puisi cinta Kahlil Gibran.

Sementara otak kiri hanya mengangguk teratur. Seteratur bilangan cacah tapi senaif bilangan biner yang cuma satu dan nol.

Salah satu kenikmatan kesendirian adalah tersebarnya aura kita, atau apalah namanya. Coba saja saat kita jalan rombongan, pasti aura-aura kebersamaan hanya terpancar ke teman-teman rombongan kita. Kalo sendiri mau ke siapa lagi selain ke orang-orang yang ditemui yang malah lebih unik karena punya hidup yang berbeda.

Sendiri juga kita bisa bebas melakukan yang aneh-aneh. Dan karena itulah saya merasa menjadi Planet Pluto. Pluto itu saya anggap kesendirian sebuah planet. Di 2006 dia resmi dikeluarkan dari planet. Naik banding ke tingkat kasasi, akhirnya dia diadili final sebagai dwarf planet atau planet kerdil.

Orbit Pluto (google.com)
Kenapa? Salah satu alasannya karena orbitnya aneh. Orbitnya tidak lingkaran atau elips teratur seperti planet lain. Orbitnya tak beraturan. Pada tahun 1999 malah jarak Pluto ke matahari lebih dekat daripada Neptunus. Hanya gara-gara dia aneh, dia dikeluarkan dari kasta tertinggi kedua di tata surya. Ah, tapi itu kan sains, ilmu yang sama anehnya dengan ilmu sihir.

Otak kiri saya senang sekali pastinya, walaupun hanya ada tatapan setajam Gandewa milik Arjuna.

Otak kanan, dia memang selalu tenang penuh keindahan seperti Semar.

Oke, tapi sendiri itu pilihan. Ikuti panggilan jiwa, mau sendiri atau bersama. Sendiri itu tidak selamanya baik, walaupun aneh juga tidak selamanya buruk. Saya memilih sendiri karena alam Kahyangan Dieng seperti menarik saya untuk menikmatinya dalam kesendirian. Dan tentu saja karena ingin berkencan dengan duo makhluk dalam tengkorak saya.

Saya adalah Pluto dalam dua hari di Dieng. Walaupun Pluto sekarang sudah sendiri tapi namanya tetap tidak akan hilang dari lagu anak-anak yang judulnya “Planet-planetan”. Dan saya yakin Pluto dengan keunikannya masih tersenyum menjalani 248 tahun revolusinya pada orbitnya yang aneh. Senyuman getir, senang, atau dendam? Entahlah.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar