Sabtu, 22 Juni 2013

Gaulpala di Gunung Burangrang

 “Saya dan teman saya Didot memutuskan menghidupkan lagi Gaulpala di Puncak Burangrang, Bandung. Tentu saja kata gaul disini bermakna cenderung negatif alias bodoh”

Tugu di Puncak BurangrangBerangkat dengan bus Primajasa menuju terminal Leuwi Panjang, kita masih harus melanjutkan perjalanan ke terminal Ledeng dengan bus Damri. Busnya super penuh plus jalanan macet. Jadilah sebelum mendaki kita pemanasan dulu berdiri sekitar 2 jam di bus. Dari Terminal Ledeng naik ke terminal Parongpong dan dilanjut angkot kuning ke Gapura Komando yang menjadi titik awal pendakian. Dari Gapura Komando kita berjalan melawati rumah-rumah penduduk ke Pos Perhutani. Tak terduga di sebuah rumah yang cukup tinggi, tiba-tiba 2 ekor anjing menggonggong tepat di depan muka saat kita lewat. Sepertinya si anjing tahu kalau kita kurus-kurus dan mencium bau tulang.

Kita tiba di pos Perhutani pukul 18.30. Kita bermaksud solat dan meminta izin naik malam ini. Namun karena kita berdua newbie di gunung dengan ketinggian 2.050 mdpl itu, kita tidak diizinkan naik malam itu dan hanya diizinkan buka tenda di pos 1 baru kemudian naik saat subuh. Ya sudah, kita memutuskan ngobrol-ngobrol sebentar dengan bapak-bapak penjaga sebelum ke pos 1. Perlu dicatat fasilitas pos Perhutani ini cukup lengkap. Ada warung kopi, kamar mandi, colokan listrik, mushola dan lahan parkir yang memadai.

Habis isya kita berangkat menuju pos 1 diantar oleh bapak-bapak penjaga pos Perhutani dan 3 mahasiswa yang sedang mencari temannya. Di pos 1 kita memutuskan membuka tenda baru kita. Maksudnya merawanin. Tapi dasar teman saya yang sok pro, waktu dia beli dan disuruh mencoba di tokonya, dia malah bilang ke penjaga tokonya “bisa mas, udah biasa !”. Dia baru mengakuinya sesaat sebelum tenda dikeluarkan dan benar saja saat tenda digelar, cuma diputer-puter tidak tahu mau mulai darimana memasangnya. Hahaha. sampai ahkirnya senter kita satu-satunya mati dan semakin bodohlah kita –ada senter aja tidak bisa apalagi gelap. Tapi untung ketiga mahasiswa tadi melihat kita kesulitan dan akhirnya dibantulah kita. Kalau tidak, mungkin kita tidur saja di pos Perhutani sambil lihat final Liga Champion Dortmund vs Bayern Munchen.

Matahari Pagi di Burangang
Akhirnya tenda baru kita berdiri tapi setelah di lihat-lihat, ternyata pintunya menghadap ke hutan yang sepi. Lah ini maksudnya mau lihat pohon atau gimana ? Setelah semua clear, kita masuk dan mulai memandangi rumah baru kita sambil bertanya-tanya “iki kanggo opo yo ndes ? iki piye carane yo ndes ?”

Masak-masak pun dimulai setelah merapikan barang-barang. Malam itu kita berdua berhasil menghabiskan 9 sachet kopi. Pertama kita masak 3 sachet dengan rantang tanpa pegangan dan kompor parafin. Setelah matang, dan akan diambil, kopipun tumpah kesenggol. Belum putus asa, kita masak lagi 3 sachet. Tapi ternyata posisi kompornya miring jadi cukup kita lihat saja kopinya tumpah sendiri. Dan yang terakhir kita berhasil membawa kopi itu turun dari kompor dan menikmatinya. Kita lalu ambil kesimpulan kalau ini bukan kebodohan, tapi kita bermaksud mengurangi beban tas dari logistik. Ngeles sajalah yang penting.

Acara pendakian baru di mulai jam 3 pagi. Saat bangun dan melihat ke langit, sumpah bulannya bagus sekali di malam waisak itu. Purnama penuh dengan pelangi di sekelilingnya. Perjalanan ke puncak cukup cepat yaitu 2,5 jam dengan trek yang terkadang terjal dan ada jalur sempit dengan jurang di kiri dan kanan ditambah hanya membawa 1 senter. Nyaris tersesat tapi untung segera sadar dan kemudian sampai di puncak jam 5.30. Foto-foto, mengobrol dengan pendaki lain, dan sarapan kita lalukan di puncak yang ditandai oleh tugu setinggi 2 meter itu. Pemandangan di puncak cukup bagus dengan pegunungan yang terhampar di sekelilingnya walau sunrise-nya tidak terlihat karena terhalang Gn. Tangkuban Perahu.

Situ Lembang dari Puncak BurangrangSekitar jam 9 kita turun dan memberi salam “duluan” ke pendaki lain. Tapi saat percabangan terakhir menuju pos Kopasus dan Perhutani kita salah mengambil jalan. Walau sedikit curiga tapi kita lanjut saja dan sampai di sebuah mesjid. Kita bertanya kepada bapak-bapak, ternyata pos Kopasus jauh sekali. 1 jam kita mencari jalan tidak normal dan dirasa terdekat sampai ke pos Kopasus. Sampai disana ternyata sebagian pendaki yang sempat kita salami tadi sudah sampai lebih dulu di pos –jadi merasa bodoh kita. Hahaha. Karena semua kejadian itu kita memutuskan mengubah nama Gaulpala menjadi Pekokpala.

Tapi akhirnya pendakian kali ini ditutup dengan sebuah kepuasan setelah setahun tidak merasakan sunyinya hutan, dinginnya udara dan indahnya puncak.




Kamis, 20 Juni 2013

Beragam Corak di Kota Batik

“Batik (Bersih, Aman, Tentram, Indah dan Komunikatif) adalah moto Kota Pekalongan, Jawa Tengah yang menjadi sebab disebut sebagai Kota Batik”

Kota Pekalongan (selanjutnya disebut Pekalongan) adalah kota di Pantura Jawa Tengah yang merupakan jalur utama Jakarta-Semarang-Surabaya. Pekalongan berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Batang di Timur dan Kabupaten Pekalongan di Barat dan Selatan. Pekalongan terkenal dengan industri batik yang memiliki corak dan warna yang beragam yang disebut batik pesisiran. Batik Pekalongan juga banyak dijual di daerah-daerah yang masih menganut pakem batik keraton seperti Jogja dan Surakarta.

Banyak tempat-tempat yang menjadi “rumah” bagi kain batik pesisir khas Pekalongan. Kampung batik Pesindon dan Kauman –salah dua kampung industri batik di Pekalongan, pasar grosir Sentono –pasar grosir penjualan batik, Museum Batik Nasional dengan koleksi kain batik se-Indonesia-nya, dan yang baru diresmikan tanggal 2 Oktober 2012 yaitu IBC (International Batik Center) yang merupakan pusat penjualan batik bergaya modern tapi tetap ada tawar-menawar.

Saya pastinya mengunjungi Museum Batik Nasional. Letaknya di Jl. Jetayu No. 10 di belakang taman dengan tulisan B-A-T-I-K yang bermotif batik pada masing-masing hurufnya. Disana kita bisa melihat 1.089 koleksi kain batik dari seluruh Indonesia dan alat-alat untuk membatik. Kita juga dapat mengikuti kursus singkat disana, dimana ada yang gratis dan ada yang harus membayar lagi. Selain itu, karena pengunjungnya cukup sepi maka setiap rombongan akan dipandu oleh seorang guide yang akan menjelaskan secara umum isi dari museum. Harga tiket masuk cukup Rp 5.000,-

Museum Batik memiliki 3 ruang pamer dan 1 ruang workshop. Ruang pamer 1 berisi batik-batik pesisiran (Pekalongan, Cirebon dan Lasem) dan beragam alat untuk membuat batik seperti canting, kompor, dan berbagai zat pewarna alami dan sintetis. Batik Pekalongan sendiri menurut mbak-mbak guide-nya memiliki warna dan motif yang paling variatif dibanding yang lain, tetapi motif yang umum adalah yang bernuansa pesisir seperti hewan dan tumbuhan laut. Ragam motif dan warna batik Pekalongan tak lepas dari pengaruh pedagang-pedagang dari Cina, Arab, dan Belanda yang datang ke Indonesia melalui pelabuhan Pekalongan. Motif Batik Pekalongan juga selalu mengikuti zaman, seperti saat zaman pendudukan Jepang di buat batik ‘Jawa Hokokai’ yang motifnya mirip kimono-kimono Jepang. Tapi di ruangan ini yang menarik perhatian saya adalah Batik Khas Cirebon yaitu Mega Mendung yang bermotif awan-awan yang mengisi seluruh kain.

Ruang pamer 2 berisi batik-batik dari luar Jawa Tengah seperti batik dari Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Beragam warna dan motif benar-benar memperkaya kebudayaan Indonesia yang telah diakui UNESCO ini. Batik yang menurut saya menarik adalah batik dari Kalimantan dengan warna kuning-hitam khas dayak

Ruang pamer selanjutnya berisi batik-batik dari Yogya dan Solo. Batik-batik ini merupakan batik original keraton dengan warna yang didominasi coklat, putih dan hitam. Batik-batik yang biasanya hanya dipakai pada acara keraton dan punya makna serta waktu penggunaan masing-masing. Beragam motif terkenal seperti sidomukti, garuda, parang rusak barong dan kawung ada di ruangan ini. Selain itu ada juga batik-batik sumbangan dari tokoh-tokoh nasional seperti batik Pak Habibie dan Bu Ainun serta Pak Mantan Walikota Pekalongan yang saya lupa namanya. Sayangnya di semua ruang pamer tidak boleh memotret sembarangan, walaupun saya boleh masuk tanpa guide tapi tentu saja saya tidak melanggar aturan ini.

Di ruangan workshop kita bisa mencoba membatik, untuk pelatihan dari awal sampai jadi batik kita dikenakan biaya sesuai ukuran kain. Paling mahal Rp 65.000,- dengan durasi waktu 2-3 jam. Tapi yang gratisan juga ada, yaitu hanya membuat pola lalu menempelkan lilin atau malam di garis pinggir pola tersebut dengan canting tentunya.

Setelah “sekolah” singkat batik di Museum Batik Nasional, saya mengunjungi IBC yang terletak di Daerah Wiradesa. Gapuranya berhias canting berukuran 6m dan wajan berdiameter 6m dengan tulisan IBC. Disana berisi kios-kios batik dengan berbagai kualitas dan harga. Kita tinggal pilih saja sesuai selera dan kantong. Batik-batik motif lama sampai batik gaul dan pernak-pernik bermotif batik ada disana. Pokoknya tempatnya batik banget dah! Disana ada pendopo untuk berbagai pagelaran. Dan ketika saya kesana, ada sekelompok ibu-ibu sedang latihan akting. Kadang ada yang tanpa ekspresi aktingnya dan bahkan ada yang meledak-ledak. Lumayan sambil istirahat menonton artis-artis lokal.

Untuk kampung batik Pesindon dan Kauman letaknya tak jauh dari alun-alun kota. Tapi saya tidak sempat kesana karena memang tidak ada niat untuk belanja batik.

Kota Pekalongan memang menjadi salah satu surga pecinta batik di Indonesia. Di sepanjang jalanan kota tersebar toko-toko dan tempat pengrajin batik karena memang industri batik disini banyak dipegang oleh UKM. Keragaman dan kemodernan batiknya juga menjadi ciri khas tersendiri bagi kekayaan budaya Indonesia di mata dunia mewakili batik bergaya pesisiran.


-- Salam Dolan --


Rabu, 12 Juni 2013

Membatik Cinta di Kota Batik


“Bosan menghabiskan waktu di Semarang, saya mencoba ke Kota Batik, Pekalongan.”


Sabtu 18 Mei 2013, saya memutuskan m
engakhiri perjalanan Kereta Tawang Jaya saya di Stasiun Pekalongan. Di Kota Batik ini saya dan pacar saya menghabiskan H-1 13 bulanan kami. Sekitar pukul 6.00 saya di jemput dan menuju ke rumah nenek pacar saya di daerah Kajen, Kabupaten Pekalongan. Perjalanan pagi itu adalah perjalanan melepas kangen setelah 2 bulan terpisah oleh rel kereta yang membentang. Sampai disana saya beristirahat sejenak sambil menikmati secangkir kopi buatannya yang rasanya berkali-kali lebih nikmat sambil bersiap-siap untuk pergi. Suasana rumahnya nyaman karena letaknya di pinggir jalan, ada warung dan halaman yang luas.

Setelah siap, kami berangkat untuk membatik cinta di Kota Batik. Perjalanan yang selalu saya rindukan dengan lingkar lengannya di pinggang sepanjang jalan. Suasana pagi yang cerah mengiringi kami menuju tempat Wisata Keluarga Linggoasri yang letaknya di lereng pegunungan Dieng ke arah selatan Jalan Raya Kajen. Tiba disana ternyata tempatnya sepi dan hanya ada tanah lapang dan gazebo-gazebo tanpa pemandangan yang wah. Jadi kami hanya berfoto sedikit disana.

Puas berfoto, kami “turun gunung” menuju Kota Pekalongan yang penuh warna selaras dengan ciri batik pesisir Pekalongan. Canda tawa dan kadang perdebatan selalu tercipta sepanjang perjalanan, tapi itulah cinta kami yang membuat kami bertahan sejauh ini. Destinasi pertama kami yaitu Museum Batik Nasional di Jl. Jetayu yang memajang koleksi-koleksi batik Nusantara. Disana, segala kewibawaan, keanggunan, dan dan cinta tercurah pada lembaran-lembaran kain batik dengan corak dan maknanya masing-masing. Tidak hanya dari Jawa, batik-batik luar Jawa yang menggambarkan kehidupan juga terpajang disana. Tak mau ketinggalan, kami mencoba mencurahkan segala kesabaran, ketelitian, dan cinta pada selembar kain dengan tulisan “Pradhany”. Dengan kesabaran dan ketelitian kami berhasil menutupi garis-garis tepinya dengan lilin (malam) yang disediakan. Kain itulah yang menggambarkan cinta kami di Kota Pekalongan ini.

Makan bareng pastinya adalah event wajib saat bepergian. Selesai berkeliling di Museum Batik, kami menuju tempat makan di Wiradesa dengan menu ayam panggang khas Pekalongan. Di perjalanan kesana hujan turun, tanpa jas hujan akhirnya kami basah-basahan. Tapi hujan memberikan romantisme sendiri, seolah-olah rintangan dalam mencapai tujuan yang harus kita lalui bersama seperti dalam menjalin hubungan. Menikmati makan siang di kala hujan malah memberikan suasana kehangatan bagi kami. Saat hujan reda dan makanan sudah habis, kami melanjutkan menuju International Batik Center (IBC) untuk berkeliling –tanpa membeli. Di sinilah kami mengukir kenangan dalam beberapa jepretan kamera.

Perjalanan hari itu ditutup dengan makan malam di Warung Sego Megono dan minum Kopi Tahlil di depan gedung PPIP. Kemudian kami pulang. Sepanjang perjalanan kami nyanyi-nyanyi lagu daerah yang kami tidak tahu kenapa dan maksudnya apa bisa tiba-tiba nyanyi-nyanyi.

Esok paginya kami menuju kota Semarang menggunakan bus. Event itulah yang pertama kali kami lakukan, naik bus bareng sekitar 2 jam. Dia tidur bersandar di bahu saya sambil berpegangan tangan, rasanya keindahan momen itu melengkapi perjalanan –membatik cinta– kami sebelum 2 bulan harus terpisah lagi.




Kamis, 23 Mei 2013

Jakarta On the Way


“Jakarta memang memiliki fasilitas umum paling beragam di banding kota-kota lain di Indonesia. Termasuk transportasi umumnya.”

Kemacetan di Jakarta memang belum juga bisa  terpecahkan. Kendaraan pribadi yang mem-bludak, terutama motor-motor yang jumlahnya banyak plus tidak taat aturan lalu lintas, bikin jalanan jadi semerawut terutama saat rush hour. Tapi sebenarnya di Jakarta banyak kendaraan-kendaraan umum yang, dengan kesadaran masyarakat dan perhatian pemerintah, saya yakin bisa mengurangi kemacetan.
Dan bagi saya pribadi naik kendaraan umum itu memberikan “rasa dan warna” tersendiri. Seperti beberapa cerita angkutan umum berikut ini.

Transjakarta Busway
Busway (biasa disebut begitu) adalah transportasi yang mulai beroperasi –koridor 1 Kota - BlokM– pada 25 Januari 2004 di era Pak Sutiyoso yang memiliki jalur dan halte pemberhentian sendiri. Angkutan andalan warga Jakarta ini saya gunakan setiap berangkat ke kantor dan jalan-jalan. Busway “cukup” efektif untuk menghindari kemacetan dan nyaman untuk jalan-jalan di Jakarta. Ongkosnya cukup sekali bayar asalkan tidak keluar dari halte.
Walaupun bisa menghindari kemacetan, saat rush our masalah utamanya yaitu penuh –apalagi jika tidak dari halte pemberangkatan pertama. Selain di bus-nya, di haltenya pun penuh jadi saat ada busway berhenti dan pintu terbuka dorong-dorongan bukan hal yang aneh. Saking penuhnya kadang pintu (belakang) ada yang ditahan penumpangnya jadi tidak terbuka.
Di dalam kepenuhan busway itu, kejadian terjepit pintu saat membuka walaupun menutup pernah saya lihat dan alami sendiri terutama penumpang yang di belakang. Pernah juga ada yang pingsan dan berteriak “astagfirullah astagfirullah” saking sesaknya. Ada lagi kejadian yang teman saya alami, karena saking penuhnya dia tidak bisa keluar di halte tujuan sampai buswaynya jalan lagi dan hampir terjepit pintu, tapi karena marah akhirnya dia ,memaksa dan diturunkan di tengan jalan.
Jalur busway yang masih “kotor” jadi membuat busway sama-sama ikutan macet. Busway yang sudah usang juga kadang menyebabkan masalah saat mogok di tengah-tengah jalur. Saat seperti itu busway lain di belakangnya terpaksa keluar jalur dan nyebur deh, ke lautan kendaraan. Yang paling menyebalkan kalau mogoknya saat jam kantor dan bukannya busway tapi malah kendaraan non-busway yang mogok.

Duo Kopaja dan Metromini

Kedua nama ini sebenarnya adalah nama perusahaan penyedia angkutan –Kopaja (Koperasi Angkutan Jakarta) dan MetroMini. Keduanya hanya berbeda provider, trayek dan warnanya –Kopaja berwarna putih hijau sedangkan MetroMini berwarna orange. Di luar itu semuanya hampir kembar.
Persamaan pertama yaitu ukuran dan kapasitas. Angkutan ini sebenarnya berkapasitas 25 tempat duduk dan beberapa yang berdiri. Tapi saat rush hour apa yang terjadi ? Penumpang sampai bergelatungan di pintu dan itu pun masih saja ditambah oleh kernetnya. “Geser lagi ya geser lagi !” katanya. Tapi selain salah kernetnya, penumpang juga banyak yang memang memaksa masuk. Ada juga kopaja yang sengaja mengurangi jumlah kursi agar kapasitasnya lebih besar. Supirnya yang brutal juga sama. Sering ugal-ugalan, masuk jalur busway, balapan kejar setoran, berhenti sembarangan dan nyetel musik keras-keras. Kalau salah satu atau salah semua hal di atas terjadi dijamin penumpang yang mau turun bakal susah dan tentu membahayakan dan bikin kesal pengemudi lain. Supir juga kadang suka seenaknya mengoper penumpang ke mobil lain. Sudah enak-enak duduk, karena di oper, jadinya berdiri juga.

Tapi, kejadian lucu juga kadang terjadi. “kernet ketinggalan” yang paling sering. Pernah saya naik metromini saat sedang ngetem, lalu setelah jalan beberapa meter si supir memanggil-manggil kernetnya. Menyadari kernetnya tertinggal si supir berhenti dan beberapa saat kemudian datang si kernet sambil ngos-ngosan lalu marah-marah pada si supir. Penumpang sih ketawa-ketawa saja, lumayan sedikit hiburan di suramnya Metromini dan Kopaja. 
Namun selain hal-hal diatas ada juga Kopaja dan Metromini yang baik-baik, contohnya untuk kopaja P-20 ada yang AC dan sudah terintegrasi koridor 6 Busway. Supirnya lebih “berpendidikan” juga.

Bajaj
Pertama kali saya naik bajaj yaitu saat melamar kerja pada bulan puasa 2012. Saya naik bajaj yang berwarna orange yang masih berbahan bakar solar. Naik bajaj sebenarnya sama seperti naik motor berknalpot racing yang asal pasang. Suaranya bising. Tapi saat itu sangat menolong karena membantu saya cari alamat.

Taksi
Naik taksi saat rush our dan macet, parah sekali buat saya. Saya sebelumnya pernah naik taksi dari Warung Jati ke Mega Kuningan saat tidak rush hour dan argonya Rp 28.000. Tapi saat macet jadi Rp 50.000 untuk jarak yang sama. Dan yang lebih parah saat itu saya naik taksi karena buswaynya ada trouble, tapi saat busway sudah benar lewatlah beberapa busway tanpa hambatan, sedangkan saya masih terjebak di tengah-tengah lautan kendaraan. Haduh, naik taksi rasanya tidak lebih nyaman dari naik Kopaja karena sama-sama macet tapi harganya 20 kali lipat lebih mahal.


Namun kesimpulan saya, sekurang apapun transportasi masal di Jakarta, masih lebih baik daripada harus naik kendaraan pribadi dan menambah lagi jumlah kendaraan di Jakarta. Yuk, kita sama-sama sadar dan beralih ke moda transportasi umum yang ada buat mengurangi macetnya Jakarta! J






Senin, 06 Mei 2013

Legend Beach and Java Hidden Paradise (2)

“Alasan saya menunda pulang dari Pel. Ratu sebenarnya karena penasaran akan pantai yang kata Kang Adi bagus dan tak jauh dari Pel. Ratu.”

Pantai Ciantir dari Atas Bukit
Sambil menunggu charging HP dan baterai kamera, saya duduk di warung Kang Adi menunggu kendaraan yang akan membawa saya ke “Java Hidden Paradise” alias Pantai Sawarna yang terletak di Provinsi Banten. Kata penduduk di Pel. Ratu, ini adalah pantai baru dan masih bagus yang belakangan saya ketahui dari pedagang di pantai Sawarna bahwa pantai ini baru ramai pada tahun 2010. Walaupun sebenarnya saya tidak tahu kriteria pantai yang bagus, tapi karena rekomendasi orang-orang pantai maka saya tidak ragu mendatanginya.

Sekitar pukul 12.00 kendaraan yang akan membawa saya datang juga. Kendaraan itu bernama ELF – padahal ELF itu merk mobilnya (Isuzu ELF). ELF yaitu angkutan yang biasanya melayani jalur antar desa yang ukurannya seperti mobil-mobil travel. ELF bisa memuat lebih banyak dari angkot biasa dan seringnya lebih banyak pula dari kapasitasnya. Saat itu saya kira akan suram karena di atas ELF sudah bertengger karung-karung sayuran yang dibawa dari pasar Pel. Ratu, tapi ternyata ELF-nya masih bagus, tidak over capacity dan duduk pun nyaman. Saya pun siap menuju Sawarna yang katanya menempuh 2 jam perjalanan menuju terminal Cisolok dan terus menuju terminal Bayah di Banten.

Perjalanannya seperti naik halilintar di Dufan berjam-jam. Karena jalur yang ditempuh adalah jalur gunung yaitu Gunung Batu maka sudah pasti treknya naik-turun dan berliku. Tapi dibalik itu semua ada sesuatu yang indah juga. Di sisi kiri sering terlihat pemandangan pantai dan laut selatan yang kalau di lihat dari atas terlihat kecil namun luas dan baru kali ini saya lihat alam dengan pakaian seindah itu. Keren... Sekitar pukul 14.00 akhirnya saya diturunkan di jalur menuju Sawarna yaitu pertigaan Cibayawak. Ini adalah satu dari dua jalur menuju Desa Sawarna, yang lainnya adalah jalur Ciawi yang jaraknya lebih dekat dari Pel. Ratu tapi masuk ke Desa Sawarnanya lebih jauh. Dari situ dengan menggunakan ojek saya sampai di Desa Sawarna. Ternyata pantainya terletak di belakang pemukiman penduduk yang disulap menjadi homestay, dan ternyata juga nama pantainya bukan Pantai Sawarna tapi Pantai Ciantir yang letaknya di Desa Sawarna. Setelah lanjut dengan berjalan kaki akhirnya saya sampai di pantainya.

Kesan pertama saya saat tiba di pantainya adalah “panas”, karena saat itu masih sekitar jam 2 siang. Akhirnya saya memutuskan duduk-duduk di warung di sekitar pantai. Di sini warungnya semua terbuat dari bambu dan beratap injuk sehingga menimbulkan kesan alami. Sambil istirahat saya memperhatikan sekeliling, memang dari beberapa pantai yang saya datangi –di Jawa Tengah dan Bali– ini yang paling bagus. Pasirnya putih, sekelilingnya perkebunan, sawah, dan bukit-bukit nan hijau yang kontras dengan pantai yang saat itu gersang ditambah dengan lingkungan yang masih bersih. Ombak khas laut selatan pun tak lupa selalu setia beriringan membasahi pasir yang gersang. Katanya saat ombaknya tinggi yaitu antara bulan Mei sampai Agustus, Pantai Ciantir menjadi salah satu spot surfing bule-bule.

Karang Kembar Tanjung Layar
Matahari pun akhirnya condong dan kegersangan pantai mulai berkurang. Saya pun memutuskan berjalan di pinggir pantai merasakan pasir putihnya dengan buih-buih sisa ombak yang merayap. Sore itu saya berniat menuju Tanjung Layar, salah satu “spot” di Sawarna dan pada pagi harinya saya akan ke Lagoon Pari. Dengan menyusuri pantai ke arah barat saya pun sampai ke Tanjung Layar. Tanjung Layar adalah adalah kumpulan karang-karang yang cukup luas dengan 2 buah karang besar di tengahnya membentuk seperti bukit. Di sana ombak-ombak yang menghantam karang lebih “wah” daripada di Pel. Ratu. Karang-karang membentuk tembok mengelilingi Tanjung Layar sehingga membentuk laguna yang tenang. Saat surut kita bisa melihat beberapa biota laut seperti bintang laut, bulu babi, dan ikan warna-warni yang terjebak di sana.

Karang Kokoh Lagoon Pari
Selain Tanjung Layar, Lagoon Pari adalah tempat berikutnya yang saya datangi keesokan paginya. Tapi sayang, karena tidak tahu jadi kami tidak sampai ke pantainya. Kami hanya sampai di laguna kecil dengan karang-karang yang tak sebesar di Tanjung Layar. Namun saat keindahan terletak di langitnya yang mendung namun ada pelangi sehingga menjadikan pemandangan dengan kontras yang indah.

Bagi saya Sawarna bisa jadi tempat menarik jika ingin dapat pantai bagus dengan laguna-laguna cantik. Penginapan disana pun banyak dan bervariasi, banyak homestay-homestay disana dengan harga bervariasi pula. Tapi untuk yang ber-budget minim dan tidak berombongan banyak, saung-saung di pinggiran pantai milik penjaga warung bisa menjadi alternatif tampat menginap yang murah –saya pastinya memilih yang kedua– atau bikin tenda di pinggir pantai juga tidak dilarang. Namun sayangnya menu makanan laut di pinggir pantainya belum banyak ada, rata-rata hanya ada mie instan dan telor saja. Untuk ikan harus request dan penjualnya akan membelikannya dulu. Ironis juga di laut tapi tidak ada ikan bakar.

Selesai dari Lagoon Pari saya pun kembali menuju Jakarta dengan sebelumnya ke Kota Sukabumi untuk membeli Mochi Lampion di JL. Bhayangkara, Gang Kasuari. Saya kembali naik ELF ke Pel. Ratu. Benar saja yang saya katakan tentang ELF yang over capacity. Ada sekitar 2 kali lipat dari kapasitas penumpang yang diangkut saat itu. Bahkan sampai ada 4 orang yang harus naik di atap mobil. Tapi dari kepenuhan itu ada sedikit rejeki karena saya jadi harus memangku seorang cewe selama perjalanan :p.


Mungkin Berguna :

Rute Pel. Ratu - Sawarna : Jakarta - Bogor - Pel. Ratu - Sawarna

Ongkos-ongkos :
1. Bis Jakarta Bogor : Rp 7.000,-
2. Bis Bogor - Pel. Ratu : Rp 30.000,- (saat itu sedang macet jadi lebih mahal)
3. Angkot Pel. Ratu - Karang Hawu : Rp 5.000,- (jangan naik ojek yang ditawarkan di terminal Pel. Ratu)
4. Elf Karang Hawu - Cibayawak : Rp 20.000,- (kalau turun di Ciawi Rp 15.000 tapi ojeknya tidak tahu)
5. Ojek Cibayawak - Sawarna : Rp 25.000,- (kalau bisa ditawar, pasarannya Rp 20.000,-)
6. Masuk Pantai Ciantir : Rp 5.000,-
7. Penginapan di Ciantir (saung pinggir pantai) : Rp 20.000,-/orang (kalau rombongan beda dan lebih murah)


Semoga Bisa Jadi Referensi, Salam Dolan :)

Kamis, 04 April 2013

Legend Beach and Java Hidden Paradise (1)


Pantai Pelabuhan Ratu ,The Legend Beach, tempat itulah yang kali ini membuat lingkar pengalaman dan pengetahuan akan negeri yang indah ini bertambah. Bermodal adanya long weekend tepat setelah gajian, saya langsung membuat planning bersantai di pinggiran Samudera Hindia di selatan Kota Sukabumi. Sebenarnya saya mengharapkan ada teman yang ikut gabung supaya lebih seru, tapi berhubung tidak ada yang mau dengan alasan mereka masing-masing jadi saya memutuskan pergi sendiri. Sepulang kerja terakhir di minggu terakhir bulan Maret, saya mempersiapkan bawaan. Peralatan tidur di hutan saya bawa untuk jaga-jaga kalau harus tidur di pinggir pantai. Paginya langsung saya cus menuju “Pantainya Nyi Roro Kidul”.

Saya menempuh rute Jakarta-Bogor-Pel. Ratu dengan bus. Walaupun bus Bogor-Pelabuhan Ratu penuh, tanpa AC, dan macet hingga memakan waktu hampir 5 jam dari normalnya yaitu 3 jam tapi semangat saya untuk mengukir cerita tetap teguh walaupun akhirnya kalah juga sama capkenya berdiri di bus yang penuh. Tidurlah saya di lantai bus tanpa memperdulikan sekitar. Sampai di terminal Pel. Ratu rasanya sudah tidak mau saya melanjutkan perjalanan saking bete-nya di dalam bus ditambah ditawari ongkos ojek ke pantai sebesar 20 ribu. Tapi dengan starategi jitu (ke kamar mandi dulu, mang !), saya bertanya ke penjaga kamar mandi dan ternyata ada angkot menuju pantai yang cuma 5 ribu, lumayan kan 15 ribu buat makan. Sayapun menuju pantai tepatnya Pantai Karang Hawu yang cukup terkenal di internet dan konon adalah tempat bunuh dirinya Nyi Roro Kidul (secara tragis). Dengan angkot ungu jurusan Terminal Pel. Ratu - Terminal Cisolok yang menyusuri beberapa pantai lain seperti Citepus, Cimaja, Samudera Beach (Ada kamarnya Nyi Roro Kidul) dan lainnya  sampailah saya di Karang Hawu sekitar pukul 15.30. Dan ternyata pantainya paling ramai daripada pantai-pantai yang saya lewati tadi di angkot.

Dengan tujuan mencari pernginapan murah saya langsung menuju posko life guard Karang Hawu. Disana saya berkenalan dengan Kang Adi yang setelah ngobrol-ngobrol akhirnya mengajak saya tidur di warungnya yang buka 24 jam pada hari itu karena long weekend. Sebuah warung beratapkan terpal yang menghadap jalan yang sepanjang malam ramai olah mobil dari arah Pel. Ratu, serta beralaskan trotoar jalan berbalut terpal dan tikar menjadi tempat menginap saya malam itu. Penginapan yang akhirnya saya nikmati karena penuh candaan dan cerita-cerita lingkungan pantai bersama teman-teman Kang Adi yang hampir semuanya penjaga pantai.

Sorenya Pantai Kebon Kelapa Pelabuhan Ratu
Pantai Karang Hawu tergolong kotor menurut saya, letaknya yang tepat disisi jalan raya membuat suasana alami pantainya seakan memudar hanya dari sisi laut yang memiliki semua ciri laut selatan dan Karang Hawunya lah yang menarik. Ombak saat itu menurut Kang Adi tergolong kecil hanya sekitar 1-1,5 meter, namun cocok untuk belajar surfing. Pemandangan ombak yang menabrak karang baru kali ini saya lihat dan terllihat keren dibanding ombak di lautnya. Puas menikmati laut pandangan saya tertuju pada sebuah karang yang menjulang membentuk bukit yang akhirnya saya ketahui adalah yang dinamakan Karang Hawu. Bentuknya seperti tungku yang mungkin sudah agak penyok karena abrasi bertahun-tahun. Di tempat itulah konon katanya Nyi Roro Kidul menceburkan diri lantaran sakit yang tidak kunjung sembuh dan menjadi legenda kemudian menginap di Samudera Beach Hotel. Selesai berkeliling saya pindah ke pantai sebelah untuk bersantai menikmati deru ombak. Pantai Kebon Kelapa namanya, letaknya di balik gunung Karang Hawu. Disana lebih sepi dibanding di Pantai Karang Hawu, namun bagi saya lebih tenang untuk menikmati sore hingga matahari terbenam. Sayangnya sunset-nya ada di balik sebuah bukit jadi tidak kelihatan, ditambah langit mendung saat itu.

Ombak Pantai Karang Hawu yang Menabrak Karang
Paginya Kang Adi yang mau mengantarkan saya ke Java Hidden Paradise membatalkannya karena dia melatih surfing orang Perancis dan belakangan saya ketahui bahwa disana ada tempat latihan dan kursus surfing bernama Wakalaka Surf. Saya banyak bertanya tentang Wakalaka Surf, dan ternyata bos dari Wakalaka Surf adalah orang Perancis begitu juga rata-rata tempat surfing di Pel. Ratu. Alasannya karena papan surf professional harganya mahal yaitu 8 juta untuk yang kecil dan 15 juta untuk yang besar. Ironis, padahal ombak dan lautnya milik Indonesia dan pelatihnya pun orang pribumi. Jam 10 tepat orang-orang prancis itu datang, dan ternyata yang latihan bukan hanya orang dewasa tapi anak-anak umur 6 atau 7 tahunan. Hebat. Kalau di indonesia paling cuma anak-anak pantai yang bisa begitu, orang kota boro-boro boleh sama orang tuanya yang ada takut ini takut itu saja isinya. Kata kang Adi, anak-anak pantai yang baru SD kelas 4an sudah bisa beberapa teknik surfing dan sudah bisa jadi penyelamat yang tenggelam. Saya jadi malu mendengarnya, saya renang saja tidak bisa. hehe

Anak-anak Perancis Latihan Surfing
Setelah puas menonton, hari itu, acara di pantai Karang Hawu saya akhiri dengan menunggu mobil ELF menuju Java Hidden Paradise di warungnya Kang Adi sambil santap siang.


Bersambung ...